Posted in

TUNANGANKU MENGUNCI ANAKKU YANG BERUSIA ENAM TAHUN DI KAMAR MANDI GELAP SA HARI PERNIKAHAN KAMI DI SEBUAH FARM. DIA MENGIRA AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGETAHUINYA. TAPI SAAT AKU MENDOBRAK PINTU ITU DAN MEMBACA SURAT YANG DIGENGGAM ANAKKU, AKU MENGHENTIKAN SELURUH PESTA DAN MEMBUAT KEPUTUSAN YANG MENGHANCURKAN SEMUA MIMPINYA.

Pernikahan Sempurna di Pedesaan

Namaku Elias, tiga puluh lima tahun. Sebagai pemilik hacienda dan kebun anggur terkenal, aku memutuskan mengadakan pernikahanku di tanah milikku sendiri. Aku seorang duda, dan seluruh duniaku hanya berputar pada putri semata wayangku, Luna, yang baru berusia enam tahun.

Tunanganku bernama Stella. Wanita cantik asal Manila. Di depanku, Stella selalu bersikap manis pada Luna. Dia sering membelikan mainan dan berjanji kami akan menjadi keluarga yang utuh. Karena ingin anakku memiliki sosok ibu lagi, aku melamarnya.

Pernikahan kami sangat mewah. Farm dipenuhi lampu, bunga, dan tamu-tamu kaya. Aku bahkan sudah membayangkan Luna menjadi flower girl dan berjalan di depan Stella menuju altar.

Namun saat musik mulai dimainkan dan Stella berjalan di aisle, aku sadar Luna tidak ada.

“Sayang, Luna di mana?” bisikku saat Stella tiba di altar.

Stella tersenyum lembut.

“Sayang, tadi dia bilang sakit perut, jadi istirahat dulu di kamarnya sama pengasuhnya. Biarkan dia tidur dulu ya? Ini hari spesial kita.”

Awalnya aku percaya.

Upacara terus berjalan hingga resepsi megah di taman dimulai.

Tapi sebagai ayah, hatiku tidak tenang.

Luna biasanya selalu menempel padaku, apalagi saat banyak orang karena dia pemalu.

Aku izin sebentar dari Stella untuk memeriksa putriku di rumah utama hacienda.

Saat sampai di kamar Luna… dia tidak ada.

Aku mencari pengasuhnya, tapi wanita itu berkata Stella sudah memberinya libur sejak pagi karena katanya akan banyak tamu.

Dadaku langsung sesak.

Farm kami sangat luas.

Hari sudah malam.

Di mana anakku?!

Aku mengambil senter dan mulai mencari ke bagian-bagian lama hacienda, jauh dari pesta yang ramai. Sampai akhirnya aku melewati gudang tua dekat kandang kuda. Di sana ada kamar mandi kecil yang sudah lama tidak dipakai karena lampunya rusak dan ventilasinya buruk.

Dan di pintunya…

ada gembok besar.

Lalu dari dalam…

aku mendengar isak tangis kecil yang serak.

“Papa… Papa, tolong…”

“LUNA?!”

Aku langsung berlari ke pintu.

Aku mengambil batu besar dan menghantam gembok karatan itu sekuat tenaga.

BLAAAG!

Pintu langsung terbuka.

Dan pemandangan yang kulihat dalam cahaya senterku terasa seperti pisau yang menusuk tenggorokanku.

Anakku, Luna…

meringkuk di sudut kamar mandi yang dingin dan kotor.

Gaun flower girl-nya yang indah kini penuh lumpur.

Tubuh kecilnya gemetar karena takut dan kedinginan.

Wajahnya basah oleh air mata dan keringat.

Saat melihatku…

dia langsung memelukku erat sambil menangis histeris.

“Papa… aku takut…”

Aku hampir hancur saat itu juga.

Tapi kemudian aku melihat sesuatu di tangannya.

Selembar kertas kecil yang kusut.

“Apa ini, Sayang?” tanyaku dengan suara gemetar.

Luna menangis sambil menyerahkan surat itu.

Katanya…

“Tante Stella kasih ini… terus dia kunci Luna di sini…”

Tanganku mulai dingin saat membuka surat tersebut.

Tulisan tangan Stella sangat jelas.

“Anak itu akan menghancurkan hidup kita.”

“Aku tidak mau membesarkan anak orang lain.”

“Setelah menikah, kirim saja dia ke boarding school.”

“Kalau perlu, biar dia takut supaya berhenti menempel padamu.”

Dunia terasa berhenti berputar.

Wanita yang baru saja kunikahi…

ternyata membenci anakku selama ini.

Aku mengangkat Luna dalam pelukanku.

Lalu berjalan kembali menuju pesta.

Saat itu musik masih bermain.

Para tamu masih tertawa.

Dan Stella sedang menikmati perhatian semua orang sebagai “pengantin sempurna”.

Sampai aku naik ke panggung sambil menggendong Luna.

Semua langsung diam.

Stella tersenyum kaku.

“Sayang? Kenapa—”

Aku mengambil mikrofon.

Dan berkata dengan suara dingin:

“Pesta selesai.”

Seluruh tamu membeku.

Aku mengangkat surat Stella tinggi-tinggi.

Lalu berkata:

“Wanita ini mengunci putriku di kamar mandi gelap pada hari pernikahan kami.”

Suasana langsung kacau.

Wajah Stella seketika pucat.

“Elias, dengar dulu—”

“Diam.”

Aku menyerahkan surat itu kepada ibuku.

Lalu kepada beberapa tamu penting.

Satu per satu wajah mereka berubah.

Ada yang marah.

Ada yang jijik.

Ada yang langsung meninggalkan pesta.

Stella mulai menangis.

“Please… aku cuma takut kehilangan kamu…”

Aku menatapnya tanpa belas kasihan.

Lalu mengatakan keputusan yang menghancurkan seluruh hidupnya:

“Mulai malam ini, pernikahan ini batal.”

“Dan mulai besok, semua aksesmu ke hacienda, rekening, dan bisnis kami… ditutup.”

Dia langsung jatuh berlutut.

“Tolong jangan lakukan ini…”

Tapi aku hanya memeluk Luna lebih erat.

Karena saat itu aku sadar satu hal:

Wanita yang mampu menyakiti anak kecil demi ambisinya…

tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami.

Aku menatap Stella yang bersimpuh di atas hamparan kelopak bunga mawar yang tadinya kusiapkan untuk menyambut masa depan kami. Gaun putih mahalnya kini terseret di tanah, sama kotornya dengan hatinya.

“Elias, tolong… aku melakukannya karena aku mencintaimu! Aku hanya ingin waktu berdua denganmu tanpa gangguan siapa pun!” teriaknya histeris di depan ratusan pasang mata tamu undangan.

Aku tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan luka. “Cinta tidak dibangun di atas air mata seorang anak yatim piatu, Stella. Kamu bukan mencintaiku, kamu mencintai hartaku dan status yang kuberikan padamu.”

Aku memberi isyarat kepada kepala keamananku. “Bawa dia keluar dari propertiku. Sekarang. Jangan biarkan dia membawa apa pun kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya.”

“TIDAK! Elias! Kita sudah menandatangani dokumen pernikahan!” jeritnya saat petugas menyeretnya menjauh dari panggung.

Aku mengeluarkan dokumen pernikahan kami yang baru saja ditandatangani beberapa jam lalu di hadapan catatan sipil. Di depan matanya, dan di depan seluruh tamu, aku merobek kertas itu menjadi serpihan kecil.

“Dokumen ini belum didaftarkan secara resmi ke kantor pusat. Bagiku, kertas ini sampah. Dan besok, pengacaraku akan memastikan bahwa secara hukum, namamu tidak akan pernah bersanding dengan namaku.”

Stella berteriak memanggil namaku hingga suaranya menghilang di kegelapan gerbang hacienda. Para tamu mulai membubarkan diri dalam keheningan yang mencekam, meninggalkan dekorasi mewah yang kini terasa seperti monumen kebohongan.

Aku membawa Luna masuk ke dalam rumah utama, menjauh dari hiruk-pikuk sisa pesta. Aku mendudukkannya di kursi favorit mendiang ibunya dan membersihkan wajahnya dengan handuk hangat.

“Papa… apa kita akan sendirian lagi?” bisiknya lirih, suaranya masih bergetar.

Aku berlutut di hadapannya, menggenggam tangan kecilnya, dan mencium keningnya lama.

“Kita tidak sendirian, Luna. Kita punya satu sama lain. Dan Papa berjanji, tidak akan pernah ada lagi orang yang bisa menyakitimu, meski itu berarti Papa tidak akan pernah menikah lagi.”

Malam itu, di bawah langit pedesaan yang luas, aku menyadari bahwa kegagalan pernikahan ini bukanlah sebuah tragedi. Itu adalah sebuah penyelamatan. Aku hampir saja membawa monster ke dalam rumahku, tapi Tuhan menggunakan tangan kecil putriku untuk membukakan mataku.

Hacienda kembali sunyi, tapi untuk pertama kalinya, kesunyian itu terasa aman. Aku mematikan lampu pesta satu per satu, membiarkan kegelapan menyelimuti kebun anggurku, karena cahaya yang paling terang kini ada di dalam pelukanku—putriku, duniaku yang sebenarnya.