**IBU MERTUA NAIK KE KAMAR SAMBIL MEMBAWA PUKULAN UNTUK MENGHAJAR MENANTUNYA YANG MASIH BERBARING HINGGA JAM SEPULUH PAGI… TAPI SAAT IA MENARIK SELIMUT DAN MELIHAT APA YANG ADA DI BAWAHNYA, PUKULAN ITU LANGSUNG TERLEPAS DARI TANGANNYA.**
Sejak subuh, Bu Maria sudah sibuk membersihkan rumah.
Ia menyapu halaman lebih dulu.
Lalu dapur.
Setelah itu membereskan piring bekas pesta pernikahan semalam, kerak minyak di kompor, gelas-gelas kotor, dan nasi yang menempel di lantai.
Menjelang pukul sepuluh pagi, pinggangnya nyaris tak bisa digerakkan karena kelelahan.
Sementara di lantai atas, di kamar pengantin baru, tak terdengar suara apa pun.
“Menantu! Mariana! Turun dan masak sekarang!” teriaknya dengan suara serak karena lelah.
Tak ada jawaban.
Ia memanggil lagi.
Lebih keras.
Lebih tajam.
“Mariana! Sudah cukup manja-manjanya! Ini sudah siang!”
Tetap sunyi.
Kesunyian itu justru membuat amarahnya semakin membara.
Di rumah ini, kata-katanya adalah hukum.
Ia membesarkan putranya, Carlos, dengan disiplin keras.
Dan baginya, menantu yang baik tidak bermalas-malasan di tempat tidur sampai siang sementara ibu mertua bekerja sendirian di bawah.
Ia meraih sepotong kayu di dekat dapur lalu menaiki tangga perlahan sambil menahan nyeri di lututnya.
Sepanjang menaiki tangga, ia terus menggerutu.
“Baru masuk keluarga sudah berani melawan… jangan coba-coba cari masalah denganku…”
Saat tiba di lorong atas, ia melihat pintu kamar sedikit terbuka.
Ia semakin kesal.
Pintu didorongnya keras.
Namun begitu masuk…
Bu Maria langsung merasa ada yang aneh.
Bau di dalam kamar itu bukan aroma parfum pengantin baru.
Bukan pula aroma bunga.
Melainkan bau keringat pekat… bercampur aroma logam seperti karat.
Tirai masih tertutup.
Cahaya matahari hanya masuk sedikit.
Di sana, Mariana terlihat berbaring diam di bawah selimut.
Tidak bergerak sama sekali.
“Bangun kamu! Jangan pura-pura tidur!” bentak Bu Maria sambil mendekat dengan kayu di tangan.
Tak ada jawaban.
Tak ada gerakan.
Tak ada suara.
Saat itulah rasa dingin mulai merayap di tengkuknya.
Perlahan ia mendekat.
Masih ada amarah, ya.
Tapi kini rasa takut mulai memenuhi dadanya.
Dengan sekali tarikan kasar, ia membuka selimut itu.
Dan kayu di tangannya langsung jatuh ke lantai.
Mariana tidak sedang tidur.
Tubuh wanita muda itu meringkuk di sudut ranjang, masih mengenakan gaun pengantin yang kini robek dan kusut. Riasannya berantakan, bibirnya pecah, dan di kedua pergelangan tangannya ada lebam seperti bekas ikatan kuat.
Seprai putih di bawahnya dipenuhi noda darah.
Di samping bantal tergeletak ponsel milik Carlos yang layarnya masih menyala.
Ada satu pesan belum terbaca.
Dari kontak bernama: IBU.
Namun Bu Maria tahu… ia tidak pernah mengirim pesan itu.
Mariana perlahan mengangkat kepala.
Matanya bengkak karena terlalu lama menangis.
Bibirnya gemetar.
Lalu dengan suara nyaris berbisik, sambil menatap bukan ke arah ibu mertuanya… melainkan ke lemari besar di ujung kamar, ia berkata:
“Tolong… jangan bersuara…”
Jantung Bu Maria terasa berhenti berdetak.
Karena tepat setelah itu…
dari dalam lemari…
terdengar satu ketukan pelan.
Tok.
Lalu suara lemah dan penuh ketakutan milik putranya sendiri, Carlos:

“Bu… tolong… jangan buka…”
Apa yang sebenarnya dikurung Mariana di dalam lemari itu?
Kenapa Carlos memohon agar ibunya tidak membukanya?
Dan apa yang sesungguhnya terjadi di kamar itu pada malam pertama pernikahan mereka?
Babak Lanjutan: Tabir Malam Pertama
Kayu di lantai berguling pelan, memecah kesunyian yang mencekam. Bu Maria terpaku. Lututnya yang tadi nyeri karena kelelahan, kini mendadak lemas bukan main.
Suara di dalam lemari itu jelas suara Carlos—putra kebanggaannya yang semalam tampak gagah di pelaminan. Namun, nada suaranya sama sekali tidak mencerminkan seorang pria dewasa. Itu adalah suara rengekan anak kecil yang ketakutan setengah mati.
“Mariana… apa… apa yang terjadi?” bisik Bu Maria, suaranya bergetar hebat. Amarahnya menguap, digantikan oleh kengerian yang pekat.
Mariana tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak mundur hingga punggungnya membentur sandaran ranjang, memeluk lututnya yang gemetar. Matanya yang sembap terus menatap nanar ke arah lemari kayu besar di sudut kamar.
Perlahan, Bu Maria melangkah mendekati ranjang, matanya tertuju pada ponsel Carlos yang tergeletak di atas seprai bernoda darah. Jantungnya berdegup kencang saat ia memungut ponsel itu. Layarnya masih menyala, menampilkan sebuah ruang obrolan.
Pesan teratas dikirim oleh kontak bernama “IBU”. Namun, saat Bu Maria melihat foto profil dan nomornya, itu bukan nomor miliknya.
Itu adalah nomor ibu kandung Carlos yang sebenarnya—wanita yang dikabarkan telah meninggal dunia belasan tahun lalu akibat “kecelakaan”, wanita yang posisinya digantikan oleh Bu Maria sebagai ibu tiri Carlos sejak anak itu berusia sepuluh tahun.
Isi pesan itu dikirim semalam, tepat jam dua dini hari:
“Carlos, malam ini genap 15 tahun kamu membantu ibu tirimu melenyapkanku di rumah ini. Jangan harap kamu bisa hidup bahagia dengan wanita lain di atas penderitaanku. Aku datang untuk menjemputmu.”
Bu Maria merasakan seluruh darahnya naik ke kepala. Rahasia tergelap yang ia kubur bersama Carlos belasan tahun lalu… bagaimana mungkin Mariana bisa tahu? Atau lebih buruk lagi… siapa yang mengirim pesan itu?
Misteri di Balik Lemari
Tok. Tok. Tok.
Ketukan dari dalam lemari kembali terdengar, kali ini lebih cepat dan tidak sabaran.
“Bu… tolong… dia di sini… dia menahanku…” suara Carlos terdengar semakin tersedak, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencengkeram lehernya.
“Carlos!” Bu Maria tidak bisa menahan diri lagi. Naluri seorang ibu—sekaligus rasa takut rahasianya terbongkar—membuatnya berlari menerjang lemari besar itu.
Ia mencengkeram pegangan pintu lemari dan menariknya dengan satu sentakan kuat.
Kreeek…
Pintu lemari terbuka lebar.
Bu Maria tersentak mundur, tangannya membekap mulut menahan teriakan.
Carlos ada di sana. Tubuhnya meringkuk di bagian bawah lemari, di antara tumpukan baju gantung. Namun, kondisinya mengerikan. Wajahnya penuh cakaran, dan tangannya sendiri memegang pecahan kaca cermin lemari yang retak. Di samping Carlos, sebuah perangkat rekaman suara tua milik mendiang ibu kandungnya sedang berputar, memutar ulang suara tangisan dan rintihan minta tolong yang sengaja disetel dengan volume rendah.
Namun, bukan itu yang membuat Bu Maria ketakutan setengah mati.
Di dinding bagian dalam lemari, terdapat goresan darah segar berbentuk tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan tangan mendiang istri pertama suaminya: “GILIRANMU, MARIA.”
Kenyataan Pahit yang Sesungguhnya
Mariana, yang sejak tadi membisu di atas ranjang, akhirnya berbicara dengan suara parau yang dingin.
“Carlos… dia bukan pria seperti yang Ibu kira,” kata Mariana, air matanya menetes melewati luka di pipinya. “Semalam, setelah pesta selesai, dia mabuk. Dia berubah menjadi monster. Dia mengikatku, memukuliku, dan memaksaku mendengarkan semua pengakuan dosanya… tentang apa yang kalian berdua lakukan pada ibu kandungnya di rumah ini.”
Mariana menatap Bu Maria dengan pandangan penuh penghinaan dan rasa ngeri.
“Dia menceritakan semuanya padaku sambil menyiksaku, Bu. Dia bilang, setiap kali dia melihat wanita di rumah ini, dia melihat ibunya yang tersiksa. Ponsel itu… aku yang mengubah nama kontaknya menjadi ‘IBU’ saat dia tidak sadar, dan aku yang menyetel rekaman suara ibunya yang kutemukan di gudang bawah tanah untuk memancingnya masuk ke dalam lemari itu.”
Carlos di dalam lemari mulai meracau, matanya kosong, jiwanya tampak sudah runtuh akibat rasa bersalah dan ketakutan histeris yang menumpuk selama belasan tahun, dipicu oleh kegilaannya sendiri semalam. “Dia datang, Bu… Ibu kandungku datang…” bisik Carlos pelan, sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kehabisan darah dari luka di tangannya sendiri.
Akhir dari Sebuah Topeng
Bu Maria jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Pukulan kayu yang ia bawa tadi kini terasa seperti lelucon. Ia berniat naik ke atas untuk memberi pelajaran pada menantunya yang dianggap “malas”, tanpa tahu bahwa di kamar ini, dosa masa lalunya telah bangkit dan menghancurkan putranya sendiri.
Mariana dengan sisa kekuatannya turun dari ranjang. Dengan gaun pengantin yang hancur dan tubuh yang penuh lebam, ia berjalan melewati Bu Maria tanpa rasa takut lagi.
“Aku sudah menelepon polisi dan ambulans sebelum Ibu masuk ke kamar ini,” ujar Mariana pelan di ambang pintu. “Bukan hanya untuk melaporkan penganiayaan yang dilakukan Carlos kepadaku… tapi juga untuk membuka kembali kasus kematian ibu kandungnya lima belas tahun lalu.”
Mariana pergi meninggalkan lorong atas, sementara Bu Maria hanya bisa terpaku di depan lemari yang terbuka. Di dalam kegelapan kamar itu, ia menyadari satu hal: keadilan mungkin berjalan lambat, tetapi ia selalu tahu jalan untuk pulang, tepat di hari yang paling tidak terduga.