Saat Kami Memenangkan Jackpot Lotto Rp21 Miliar, Teman Sekamarku Hanya Memberiku Rp6.000 dan Mengatakan Tiket Itu Miliknya—Namun Saat Patung Santo Niño di Meja Ku Retak, Akulah Orang Pertama yang Mundur
Ketika aku mengetahui bahwa tiket lotto yang kubeli bersama teman sekamarku memenangkan jackpot sebesar Rp21 miliar, aku hampir terbang pulang ke asrama.
Kupikir dia akan memelukku.
Kupikir kami akan menangis bahagia bersama.
Namun Clarisse hanya tersenyum tipis, mentransfer Rp6.000 ke dompet digitalku, lalu berkata dengan dingin:
“Bestie, ide beli tiket itu kan dariku. Aku sudah mengembalikan uang kontribusimu. Jadi kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan hadiah ini.”
Aku tertawa karena terlalu marah.
Namun sebelum sempat berteriak, terdengar suara retakan keras dari meja belajarku.
Krak.
Saat menoleh, aku melihat patung kecil Santo Niño warisan nenekku telah retak.
Salah satu tangannya patah.
Dan pada saat itu, seluruh tubuhku langsung terasa dingin.
“Clarisse! Kita menang! Kita menang!”
Aku berteriak sambil hampir menabrak pintu asrama karena terlalu terburu-buru. Punggungku masih basah oleh keringat, dan tanganku gemetar saat menggenggam ponsel.
Baru saja tadi aku berada di warung dekat kampus untuk membeli mi instan ketika mendengar beberapa orang membicarakan nomor pemenang lotto.
Aku bahkan sempat bercanda pada diriku sendiri.
“Bagaimana kalau ternyata tiket kita yang menang?”
Aku membuka foto tiket yang sempat kuambil saat kami membelinya.
Satu per satu nomor itu kuperiksa.
Suara di sekitarku seakan menghilang.
Seolah seluruh udara dalam dadaku tersedot habis.
Sama.
Persis sama.
Tiket yang kubeli bersama Clarisse di gerai lotto kecil dekat kampus ternyata memenangkan jackpot.
Rp21 miliar.
Aku tidak lahir dari keluarga kaya.
Ayahku seorang sopir becak motor di kampung.
Ibuku berjualan kue tradisional setiap pagi.
Setiap uang yang mereka kirim untukku adalah hasil kerja keras, kurang tidur, bahkan kadang hasil pinjaman.
Karena itu, saat berlari kembali ke asrama, hanya satu hal yang ada dalam pikiranku.
Ayah bisa membeli kendaraan sendiri.
Ibu tidak perlu lagi berjualan di bawah terik matahari.
Aku tidak perlu lagi menghemat lauk, berjalan kaki demi menghemat ongkos, atau berpura-pura kenyang saat uang habis.
Saat membuka pintu kamar, aku melihat Clarisse duduk santai di ranjangnya sambil memainkan ponsel.
Di sana juga ada dua teman sekamar kami yang lain: Mylene yang sedang belajar dan Bea yang sedang merapikan seragam.
“Clarisse!” Aku menghampirinya dan memeluknya. “Tiket itu! Kita menang!”
Namun dia tidak langsung bergerak.
Tubuhnya terasa kaku.
Perlahan dia mendorongku menjauh.
“Aku tahu,” katanya.
Aku berkedip. “Kamu sudah tahu?”
Dia tersenyum, tetapi senyuman itu tidak sampai ke matanya.
“Sudah sejak tadi.”
“Kenapa kamu tidak meneleponku?”
Dia tidak menjawab.
Sebaliknya, dia menekan sesuatu di ponselnya.
Beberapa detik kemudian, ponselku berbunyi.
Transfer masuk: Rp6.000 dari Clarisse M.
Aku menatap layar.
“Apa ini?”
Dia menghela napas panjang, seolah-olah dialah yang lelah menjelaskan.
“Bestie, ingat ya. Waktu kita beli tiket itu, aku yang mengajak. Aku yang punya ide. Aku yang memilih tempat membeli tiket. Kalau bukan karena aku, kamu juga tidak akan beli.”
Aku mengangguk pelan, masih bingung.
“Iya, tapi aku yang memilih nomor.”
“Persis,” jawabnya cepat. “Tapi uang pertama yang keluar itu uangku. Kamu cuma ikut patungan. Kamu kasih Rp6.000 karena ikut gabung. Jadi sekarang aku kembalikan.”
Aku menatap wajahnya.
Wajah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa malu.
“Clarisse,” kataku sambil menahan emosi, “maksudmu kamu membeli bagianku dari Rp21 miliar hanya dengan Rp6.000?”
Alisnya terangkat.
“Aku tidak membeli apa-apa. Aku cuma mengembalikan kontribusimu. Seharusnya kamu malah berterima kasih karena aku tidak melupakannya.”
Mylene sampai menjatuhkan bukunya.
“Clarisse, itu tidak benar,” katanya pelan. “Kalian membeli tiket itu bersama.”
Clarisse langsung menoleh tajam.
“Itu bukan urusanmu.”
Mylene langsung diam.
Sementara Bea hanya menatap kami dengan gugup.
Tanganku mengepal.
“Aku bukan orang bodoh, Clarisse. Seluruh asrama tahu kita membeli tiket itu bersama.”
Dia berdiri.
Aroma parfum mahal yang selalu dibanggakannya memenuhi ruangan.
Wajah yang dulu terlihat ramah kini terasa setajam pisau.
“Jangan pura-pura jadi korban, Lara. Memang kamu miskin, tapi bukan berarti kamu berhak merebut keberuntungan orang lain.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Miskin.
Tiga huruf yang sudah sering kutelan sejak kecil.
Namun mendengarnya dari seseorang yang kuanggap sahabat ternyata jauh lebih menyakitkan.
“Merebut?” Aku tertawa getir. “Itu uang patunganku. Aku yang memilih nomornya. Kamu hanya memegang tiketnya karena waktu itu kamu yang membawa dompet.”
“Persis,” jawabnya. “Aku yang memegang tiket. Jadi aku yang punya hak.”
Jantungku berdetak semakin keras.
Aku sudah siap merebut tiket itu dan memperjuangkan hakku.
Namun saat itulah aku mendengar suara itu.
Krak.
Tidak keras.
Tetapi jelas.
Seperti tulang yang patah di dalam ruangan yang sunyi.
Kami semua menoleh bersamaan.
Di meja kecilku, di samping rosario lama milik ibu, berdiri patung Santo Niño yang diwariskan nenekku.
Patung kayu kecil dengan jubah merah dan mahkota emas.
Sejak merantau ke kota, aku selalu membawanya.
Nenek pernah berkata bahwa patung itu bukan pembawa keberuntungan.
Melainkan pengingat bahwa selalu ada yang menjagaku.
Namun sekarang, retakan besar muncul di tubuhnya.
Dan di atas meja, tangan kecil yang patah tergeletak begitu saja.
Kemarahan dalam diriku mendadak menghilang.
Digantikan rasa dingin yang merayap dari tengkuk hingga ujung kaki.
Aku teringat suara nenek.
“Kalau patung suci pecah tanpa sebab, jangan berebut berkat. Kadang yang datang bukan berkat. Kadang itu jebakan.”
Aku mendekati meja dengan tangan gemetar.
Tak ada yang menyentuh patung itu.
Tak ada angin.
Tak ada benda yang jatuh.
Tetapi patung itu retak.
Aku menoleh ke arah Clarisse.
Dia mengernyit.
“Drama apa lagi sekarang?”
Aku menelan ludah.
“Clarisse,” kataku pelan, “jangan ambil uang itu.”
Dia langsung tertawa.
“Oh, jadi sekarang karena kamu tidak bisa mendapatkannya, kamu bilang itu sial?”
“Aku tidak bercanda.” Suaraku hampir berbisik. “Buang tiket itu. Bakar. Jangan diklaim.”
Bea sempat tertawa kecil, namun langsung terdiam saat melihat wajahku.
Sementara Mylene mulai pucat.
“Lara…” bisiknya. “Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Di keluargaku ada pesan dari nenek. Jika patung suci terluka sebelum uang itu datang, maka kekayaan itu menuntut nyawa sebagai gantinya.”
Mata Clarisse membelalak.
Lalu dia tertawa lebih keras.
“Luar biasa. Karena tidak dapat uangnya, sekarang kamu mengutukku?”
“Bukan!” teriakku. “Aku sedang berusaha menyelamatkanmu!”
Dia mendekat, mengeluarkan tiket lotto dari dompetnya, lalu mengangkatnya di depan wajahku.
“Kamu lihat ini? Ini hidup baruku. Apartemen mewah. Mobil. Liburan. Bisnis. Aku tidak akan takut hanya karena patung kayu tua milikmu.”
“Clarisse, tolong—”
Tawanya memotong perkataanku.
“Mulai hari ini, kamu bukan lagi orang yang selevel denganku.”
Lalu dia mencium tiket itu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet.
Sebelum keluar dari kamar asrama, dia menoleh kepadaku dan tersenyum.
“Besok pagi, aku akan mengambil uangku.”
Setelah pintu tertutup, aku berlutut di depan patung Santo Niño yang retak.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang membuat napasku semakin tertahan.
Di bawah tangan patung yang patah, terselip secarik kertas kecil berwarna kecokelatan karena usia.
Tulisan tangan nenekku.

Aku membukanya.
Hanya ada satu kalimat:
“Jika uang datang bersama darah, jangan pernah menyentuhnya—karena orang pertama yang menerimanya akan menjadi orang pertama yang diambil.”
Berikut adalah kelanjutan dan akhir dari cerita tersebut:
Tanganku gemetar hebat saat membaca tulisan tangan nenek. Surat itu seolah ditulis khusus untuk hari ini, memperingatkan cucunya dari balik kubur. Di sampingku, Mylene dan Bea berdiri terpaku. Wajah mereka sepucat kain kafan setelah membaca kalimat di kertas kuno itu.
“Lara… apa yang harus kita lakukan?” bisik Bea dengan suara bergetar.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadaku. Kemarahan atas pengkhianatan Clarisse lenyap sepenuhnya, digantikan oleh rasa ngeri yang dingin. Aku membungkus patung Santo Niño yang retak beserta patahan tangannya dengan kain bersih, lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Aku pergi,” kataku pelan. “Aku tidak akan menginap di sini malam ini.”
“Kamu mau ke mana?” Mylene menahan lenganku, matanya memancarkan ketakutan. “Bagaimana dengan Clarisse?”
“Aku sudah memperingatkannya. Dia memilih uang itu,” jawabku sambil melepaskan genggamannya dengan lembut. “Aku tidak ingin berada di dekat siapa pun yang menyentuh tiket itu.”
Malam itu, aku tidur di rumah kos sepupuku di pinggiran kota. Sepanjang malam, tidurku tidak tenang. Aku bermimpi melihat Clarisse berdiri di atas tumpukan uang kertas yang perlahan berubah menjadi genangan darah kental, sementara sosok bayangan hitam besar berdiri di belakangnya.
Keesokan paginya, badai melanda kota. Hujan turun begitu deras disertai petir yang menyambar-nyambar. Ponselku bergetar tanpa henti sejak pukul delapan pagi. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Mylene dan Bea, serta beberapa pesan di grup obrolan asrama.
Dengan jantung berdebar, aku membuka pesan dari Mylene.
Mylene: Lara! Kamu di mana?! Clarisse… Clarisse kecelakaan!
Darahku seolah berhenti mengalir. Aku langsung menelepon Mylene.
“Mylene! Apa yang terjadi?!” seruku begitu panggilan tersambung.
Suara Mylene terdengar histeris di seberang sana, terputus-putus oleh tangisan. “Tadi pagi… Clarisse bersikeras pergi ke kantor pusat lotto meskipun hujan badai. Dia menyewa taksi online. Di persimpangan dekat kampus, sebuah truk kontainer blong remnya karena jalanan licin. Truk itu menghantam sisi kiri taksi… tepat di tempat Clarisse duduk.”
“Bagaimana keadaannya?” tanyaku, meski jauh di dalam lubuk hatiku, aku sudah tahu jawabannya.
“Dia… dia meninggal di tempat, Lara. Sopirnya selamat dengan luka ringan, tapi Clarisse…” Mylene terisak hebat. “Polisi bilang, saat mereka mengevakuasi jenazahnya, tangan kiri Clarisse hancur… dan di dalam tasnya, dompet tempat dia menyimpan tiket itu terbakar karena korsleting sistem listrik mobil yang meledak. Tiket Rp21 miliar itu hangus total. Tidak ada yang tersisa.”
Tangan kiri yang hancur. Seketika aku teringat tangan patung Santo Niño milikku yang patah di sebelah kiri.
Satu minggu setelah pemakaman Clarisse, aku kembali ke kamar asrama untuk mengemas barang-barangku. Kamar itu terasa begitu sepi dan mencekam. Mylene dan Bea sudah lebih dulu pindah karena trauma.
Aku duduk di meja belajarku, menatap tempat di mana patung Santo Niño dulu berdiri. Uang Rp6.000 yang ditransfer Clarisse masih ada di dompet digital-ku. Aku menggunakannya untuk membeli beberapa tangkai bunga krisan putih, lalu meletakkannya di atas meja sebagai tanda perpisahan untuk mantan sahabatku.
Aku tidak pernah menyesali uang Rp21 miliar yang hilang itu. Uang itu memang tidak pernah ditakdirkan untuk membawa kebahagiaan. Jika malam itu aku bersikap serakah, memaki Clarisse, dan ikut berebut tiket bersamanya, mungkin akulah yang akan berada di dalam taksi maut itu.
Hari ini, aku pulang ke kampung halaman dengan bus ekonomi. Memang tidak ada mobil mewah, tidak ada apartemen, dan ayahku masih harus menarik becak motornya. Namun, saat aku turun dari bus dan melihat ayah serta ibuku melambai sambil tersenyum sehat di gerbang rumah, aku tahu aku telah memenangkan jackpot yang sesungguhnya:
Kehidupan dan keselamatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.