Posted in

 Aku Bekerja di Luar Negeri Selama Enam Bulan, dan Terus Menunggunya

 Aku Bekerja di Luar Negeri Selama Enam Bulan, dan Terus Menunggunya

Namun satu panggilan tak terduga menghancurkan semuanya…

Dalam acara tahunan kantor kami, semua orang berkumpul di pantai pribadi untuk bermain “Truth or Dare.”

Aku sebenarnya tidak suka permainan seperti ini, tapi sialnya aku mendapatkan kartu yang kalah.

Hukumannya sederhana:

Telepon orang pertama yang muncul di kontakmu dan ucapkan, “Aku kangen kamu.”

Seluruh ruangan langsung riuh.

Aku tidak punya pilihan selain membuka ponselku.

Dan saat melihat nama di layar, aku terdiam sesaat.

Marco.

Tunangan yang sudah kucintai selama tiga tahun.

Dia baru saja kembali ke Filipina setelah hampir enam bulan bekerja di luar negeri.

Kami bahkan belum sempat bertemu lagi.

Karena dorongan teman-teman, aku menekan tombol panggil.

Baru dua kali dering, panggilan tersambung.

Tapi bukan suara Marco yang kudengar.

Seorang gadis muda berbicara.

— Dia masih ganti baju.

Suaranya manis, bahkan terdengar seperti tertawa kecil.

— Siapa kamu?

Ruangan langsung hening.

Rekan kerjaku yang dekat denganku mendengar semuanya.

Aku menggenggam ponsel erat.

— Kamu siapa?

Dia tertawa.

— Aku? Aku di sini bersamanya.

Lalu dengan sengaja ia menurunkan suaranya.

— Marco, ada yang telepon kamu.

Dan panggilan langsung diputus.

Tanpa penjelasan.

Tanpa satu kata pun.

Aku terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum kepada teman-temanku yang mulai cemas.

— Mungkin dia lagi ada tamu.

Aku pura-pura.

Tapi malam itu, aku menerima pesan dari akun media sosial Marco.

“Ate, jangan salah paham.”

“Aku hanya numpang menginap karena hujan deras.”

Disertai foto.

Kemeja Marco tergantung di kursi.

Dan di bawahnya, sepasang sandal pink.

Aku menatapnya lama.

Lalu tersenyum pahit.

Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.

Seolah sengaja ingin membuatku marah.

Aku tidak membalas.

Namun keesokan harinya, dia mengirim pesan lagi.

Kali ini foto sarapan.

Dua piring.

Dua cangkir kopi.

Dan jam tangan yang kuberikan padanya tahun lalu.

Caption-nya lebih menyakitkan:

— Dia bilang kita punya selera yang sama.

Aku langsung mengambil screenshot semua itu.

Dan mengirimkannya ke grup keluarga kedua belah pihak.

Disertai satu kalimat:

— Sepertinya sudah ada kursi kosong di pernikahan ini.

Tidak sampai lima menit.

Teleponku berdering bertubi-tubi.

Marco.

Aku tidak menjawab.

Dia menelepon lagi.

Sepuluh kali.

Dua puluh kali.

Tiga puluh kali.

Pesan masuk bertubi-tubi.

— Apa yang kamu lakukan?

— Dia anak teman dekat keluarga kami.

— Dia baru datang, jadi sementara tinggal di sini.

— Jangan besar-besarkan masalah ini.

Aku tertawa membaca semuanya.

Tidak satu pun permintaan maaf.

Hanya pembenaran.

Sore harinya, ibuku menelepon.

Nada suaranya kesal.

— Apa yang kamu lakukan di grup chat itu?

— Mereka hanya membantu gadis yang sedang kesulitan.

Aku terdiam.

Bahkan ibuku pun percaya mereka.

Malamnya, ibu Marco mengirim pesan.

Dia mengundang makan malam keluarga untuk “menyelesaikan kesalahpahaman.”

Aku setuju.

Karena aku juga ingin melihat sampai sejauh mana sandiwara ini akan berjalan.

Dua hari kemudian.

Aku datang lebih awal ke restoran.

Dari kejauhan, aku melihat Marco.

Dan di sebelahnya… gadis itu.

Dia memakai gaun putih.

Tangannya menggenggam lengan Marco dengan sangat natural.

Seolah mereka pasangan sungguhan.

Yang lebih mengejutkan adalah reaksi keluarganya.

Ibu Marco tersenyum dan berbicara akrab dengannya.

Ayahnya bahkan melayaninya dengan ramah.

Beberapa kerabat memanggilnya “anak yang baik.”

Sedangkan aku…

Calon menantu mereka…

Diperlakukan seperti orang asing.

Makan malam baru saja dimulai.

Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan kotak beludru.

Diletakkan di meja.

— Saya minta maaf.

Ia menunduk.

— Saya tidak seharusnya membuat kakak salah paham.

Lalu ia membuka kotak itu.

Sebuah cincin berlian.

Aku langsung mengenalinya.

Itu cincin pertunanganku.

Seluruh meja terdiam.

Darahku terasa membeku.

Ia tersenyum lembut.

— Marco hanya menitipkannya pada saya karena dia takut kehilangan.

— Dan saya pikir…

— Lebih baik dikembalikan ke pemilik sebenarnya.

Aku menatap Marco.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Ekspresinya berubah.

Karena cincin itu…

Tiga bulan lalu aku diam-diam mengukir sesuatu di dalamnya.

Sebuah pesan yang hanya aku yang tahu.

Namun saat cahaya mengenai bagian dalam cincin itu…

Aku melihatnya.

Pesan itu sudah hilang.

Diganti dengan nama lain.

Nama gadis yang duduk di sebelah Marco.

Pelan-pelan aku mengangkat kepala.

Belum ada yang menyadari apa pun.

Kecuali Marco.

Wajahnya langsung pucat.

Aku mengeluarkan ponsel.

Membuka foto yang baru saja dikirim seseorang lima menit lalu.

Di foto itu…

Marco berlutut.

Di hadapannya gadis yang sama.

Dan tanggal foto itu…

Tiga hari yang lalu.

Aku menarik napas panjang, menatap layar ponselku yang memancarkan cahaya dingin di tengah remang restoran mewah itu. Ruangan yang semula dipenuhi obrolan hangat bernada sandiwara dari keluarga Marco mendadak hening ketika aku meletakkan ponselku tepat di tengah meja, bersanding dengan kotak beludru berisi cincin yang telah dikhianati.

“Apa ini, Marco?” suaraku tidak melengking, tidak juga gemetar. Nada suaraku begitu datar hingga membuat semua orang di meja makan itu menahan napas.

Ibu Marco, yang sejak tadi sibuk mengambilkan lauk untuk gadis bergaun putih itu, langsung mengerutkan kening. “Elena, tolonglah. Jangan mulai lagi. Kami berkumpul di sini untuk meluruskan kesalahpahaman, bukan untuk melihatmu membuat drama baru.”

“Drama?” Aku terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat dingin di telinga mereka. Aku memutar layar ponselku agar menghadap ke arah ayah dan ibu Marco. “Silakan lihat sendiri. Apakah ini yang kalian sebut sebagai ‘membantu anak teman dekat keluarga yang sedang kesulitan’?”

Foto di layar menampilkan Marco, tunanganku yang katanya baru kembali dari luar negeri, sedang berlutut di sebuah taman atap kondominium mewah. Di hadapannya, gadis bergaun putih yang malam ini duduk di sebelahnya—gadis yang berpura-pura polos mengembalikan cincinku—sedang tersenyum lebar sambil memamerkan jemarinya. Tanggal digital di sudut foto itu tercetak dengan sangat jelas: tiga hari yang lalu. Saat aku masih menghitung hari menanti kepulangannya.

Wajah ayah Marco seketika mengeras. Ibu Marco ternganga, kehilangan kata-kata.

Sementara gadis di sebelah Marco langsung menarik tangannya dari lengan pria itu, wajahnya yang semula memelas kini memucat karena panik. “Kak… itu, itu tidak seperti yang Kakak pikirkan—”

“Diam,” potongku sambil menatapnya tajam. “Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan sejak hari pertama kamu mengangkat teleponku dengan suara desahan manjamu. Berhenti berakting seolah-olah kamu adalah korban di sini.”

Bagian 2: Altar yang Sudah Kujual

Aku beralih menatap Marco. Pria yang selama tiga tahun ini kupikir akan menjadi pelindung hidupku, kini tampak begitu kecil dan pengecut. Rahangnya bergetar, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

“Elena… maafkan aku,” bisik Marco, suaranya nyaris tidak keluar. “Aku… aku khilaf selama di luar negeri. Dia menyusulku ke sana, dan aku—”

“Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, Marco,” aku mengambil cincin di dalam kotak beludru itu, menimangnya sebentar di bawah lampu kristal restoran, memperlihatkan ukiran nama baru di dalamnya yang dengan teganya menggantikan pesan cintaku. “Cincin ini dibeli menggunakan uang tabungan bersama kita. Setengah dari nilai berlian ini adalah keringatku selama enam bulan menunggumu di sini.”

Aku melemparkan cincin itu tepat ke dalam mangkuk sup panas di depan Marco. Bunyi kecipak airnya membuat ibunya tersentak mundur.

“Dan untuk kalian semua,” aku berdiri, menatap satu per satu anggota keluarga Marco yang selama ini selalu kuposisikan sebagai orang tuaku sendiri. “Terima kasih atas makan malam perpisahan yang sangat mengesankan ini. Terima kasih telah menunjukkan bahwa darah memang lebih kental daripada moral.”

Ibuku, yang duduk di ujung meja, mencoba memegang tanganku dengan wajah panik. “Elena, pikirkan baik-baik. Undangan pernikahan sudah dicetak, gedung di Manila sudah dipesan—”

“Ibu,” aku melepaskan cengkeraman tangannya dengan lembut namun tegas. “Gedung itu dipesan atas namaku dan menggunakan kartu kreditku. Dan asal Ibu tahu, kemarin sore, setelah aku menerima foto dua cangkir kopi itu, aku sudah membatalkan seluruh reservasi pernikahan kami.”

Seluruh meja kembali riuh oleh kepanikan. Ibu Marco langsung berdiri. “Apa?! Kamu membatalkannya sepihak?! Bagaimana dengan deposit kami?!”

“Uang deposit kalian hangus sebagai biaya ganti rugi karena anakmu telah merusak tiga tahun hidupku,” kataku sambil menyampirkan tas kantorku ke bahu. “Dan satu hal lagi, Marco. Apartemen tempat gadis ini ‘numpang menginap karena hujan deras’ adalah apartemen atas nama kontrakku. Petugas keamanan gedung sudah membawa surat pengosongan unit sore ini. Barang-barangmu sudah ditumpuk di lobi.”

Bagian 3: Langkah Pertama Menuju Kebebasan

Marco langsung berdiri, mencoba mengejarku. “Elena! Jangan keterlaluan! Di mana aku harus tinggal malam ini?!”

Aku berhenti di ambang pintu restoran, berbalik untuk terakhir kalinya, menatapnya dengan tatapan paling dingin yang pernah kumiliki.

“Tinggallah di mana saja sesukamu, Marco. Di jalanan, di hotel murah, atau di rumah teman dekat keluargamu yang terhormat ini. Kamu bukan lagi urusanku.”

Aku melangkah keluar dari restoran itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Di luar, udara malam Manila terasa begitu segar, jauh berbeda dengan kehangatan palsu yang mengurungku di dalam ruangan tadi.

Ponselku kembali bergetar di dalam saku. Kali ini bukan panggilan dari keluarga besar, melainkan sebuah notifikasi email dari pihak maskapai penerbangan.

“Aplikasi mutasi kerja Anda ke kantor cabang Singapura telah disetujui. Penerbangan Anda dijadwalkan pada tanggal 1 Juli.”

Aku tersenyum lepas, air mata yang sempat tertahan di sudut mataku akhirnya jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Enam bulan aku bekerja keras dan menunggunya dengan setia, hanya untuk dihadiahi pengkhianatan yang rapi. Namun malam ini, satu panggilan darurat dan satu foto kiriman orang asing telah merobek topeng mereka, menyelamatkanku dari pernikahan neraka yang hampir kumasuki.

Aku melangkah menuju mobilku, siap memulai lembaran baru yang bersih, meninggalkan Marco dan cincin palsunya membusuk di masa lalu.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.