Aku bekerja di perantauan selama tiga tahun dan menabung setiap rupiah demi mewujudkan janji yang pernah kubangun bersama kekasihku. Pada hari kepulanganku, aku tidak memberi tahu siapa pun. Aku ingin memberinya kejutan. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa akulah yang akan paling terkejut pada hari itu.
**1**
Sore terakhir di penghujung tahun.
Hujan turun deras di seluruh kota.
Aku menarik koper kecilku saat keluar dari bandara. Dadaku dipenuhi rasa bahagia dan antusias.
Tiga tahun.
Lebih dari seribu hari.
Aku menghitung setiap harinya sambil menunggu saat bisa kembali pulang.
Aku tidak menelepon Miguel.
Aku juga tidak mengirim pesan.
Aku ingin melihat ekspresinya saat aku tiba-tiba muncul di hadapannya.
Mobil yang kupesan baru saja datang ketika seorang gadis muda berlari menghampiriku.
Rambutnya basah kuyup.
Wajahnya pucat karena kedinginan.
— Kak, maaf. Sudah lama sekali saya mencari kendaraan. Bolehkah saya ikut menumpang sebentar?
Aku menatap hujan yang turun semakin deras.
Tahun Baru sudah dekat.
Semua orang sedang terburu-buru pulang.
Aku mengangguk.
— Tentu.
Wajahnya langsung berbinar.
Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Begitu duduk di dalam mobil, ia segera menelepon seseorang.
— Aku sudah dapat kendaraan.
Suaranya terdengar manja.
— Jangan khawatir lagi ya.
Seorang pria menjawab dari seberang telepon.
— Aku sudah menunggumu.
— Begitu sampai, langsung telepon aku.
Aku tersenyum kecil.
Mungkin kami sama.
Sama-sama tidak sabar bertemu orang yang kami cintai.
Sopir bertanya:
— Mau ke mana, Nak?
Gadis itu menyebutkan alamat tujuannya.
Tanpa sengaja aku menoleh.
Itu adalah tempat yang sama dengan tempat tinggal Miguel.
Sopir tertawa.
— Wah, beruntung sekali.
— Ternyata kalian berdua menuju tempat yang sama?
Gadis itu menjawab dengan ceria.
— Sepertinya begitu, Pak.
Lalu ia menoleh kepadaku.
— Kak, mau mengunjungi keluarga atau pacar?
Aku tersenyum.
— Pacarku.
Wajahnya semakin berseri.
— Aku juga.
**2**
Sepanjang perjalanan, ia banyak bercerita.
Tentang pekerjaannya.
Tentang kehidupannya.
Dan terutama tentang pacarnya.
— Dia beberapa tahun lebih tua dariku.
— Awalnya aku kira dia orang yang sangat galak.
— Tapi ternyata dia baik sekali.
— Kalau aku melakukan kesalahan, dia selalu membantuku dengan sabar.
— Waktu aku sakit, dia menjagaku semalaman.
— Kalau aku sedih, dia rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemaniku.
Setiap kali membicarakan kekasihnya, matanya berbinar-binar.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak teringat pada Miguel.
Saat aku baru pindah ke luar negeri.
Dia meneleponku setiap hari.
Sesibuk apa pun dirinya.
Bahkan pernah suatu kali aku dirawat di rumah sakit karena kelelahan.
Dia tetap terjaga sepanjang malam melalui panggilan video.
Matanya merah karena kurang tidur.
Karena dia tidak bisa berada di sisiku secara langsung.
Aku tersenyum mengenang semua itu.
Mungkin memang seperti itulah cinta.
Hanya dengan memikirkan orang itu saja, hati sudah terasa bahagia.
Mobil berhenti di depan kompleks apartemen.
Gadis itu turun lebih dulu.
Aku mengikuti sambil menarik koper.
Namun baru beberapa langkah berjalan, aku tiba-tiba berhenti.
Seorang pria berdiri di bawah kanopi dekat pintu masuk.
Ia memegang payung.
Wajahnya yang begitu kukenal diterangi cahaya lampu kuning.
Miguel.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku hampir memanggil namanya.
Tetapi sebelum sempat bersuara, gadis itu berlari ke arahnya.
— Sayang!
Ia langsung memeluk pria itu.
Miguel tersenyum.
Senyuman yang selama tiga tahun ini selalu kurindukan.
Dengan lembut ia menyeka tetesan hujan di rambut gadis itu.
Lalu menariknya lebih dekat.
— Kenapa tidak menunggu aku menjemputmu?
Suaranya penuh kasih sayang.
Aku membeku.
Koper yang kupegang terlepas dari tangan.
Terjatuh keras ke lantai.
Namun mereka tidak mendengarnya.
Karena pada saat itu…
Aku sudah tidak ada lagi di dunia Miguel.
Satu-satunya orang yang bisa ia lihat hanyalah wanita di hadapannya.
**3**
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Hujan terus turun.
Orang-orang di sekitar semakin sedikit.
Sementara aku seolah membeku di tempat.
Tiga tahun menunggu.
Tiga tahun merindukan.
Tiga tahun bekerja tanpa henti.
Apakah ini balasan untuk semua pengorbananku?
Aku ingin menghampiri mereka.
Aku ingin bertanya.
Aku ingin mendengar penjelasannya.
Tetapi kakiku tidak bisa bergerak.
Pada saat itulah ponselku bergetar.
Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Aku tahu siapa dirimu.”
Darahku seakan berhenti mengalir.
Pesan lain masuk.
“Jangan terlalu terkejut.”
“Aku sudah lama mengenalmu.”
Aku menoleh ke arah gadis itu.
Ia berdiri di samping Miguel.
Tetapi tatapannya tertuju tepat kepadaku.
Ada senyum aneh di sudut bibirnya.
Ponselku kembali bergetar.
Sebuah foto dikirimkan.
Aku membukanya.
Dan pada saat melihat isinya…
Aku merasa tidak bisa bernapas.
Itu adalah tangkapan layar sebuah percakapan.
Pengirim pesan dalam gambar itu…
Adalah Miguel.
Namun bukan itu yang paling membuatku terpaku.
Melainkan tanggalnya.
Tanggal yang tertera di tangkapan layar itu…
Adalah hari yang sama ketika Miguel berlutut di depan kamera dan berkata:
— Tunggu aku dua tahun lagi.
— Aku berjanji akan menikahimu.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu pesan terakhir masuk.
“Menurutku…”
“Sebaiknya kamu melihat ini dulu sebelum menemuinya.”
Ada sebuah video panjang yang dilampirkan.

Dengan jari-jari yang gemetar, aku menekan tombol putar.
Video itu mulai berjalan.
Dan baru beberapa detik berlalu…
Dunia yang selama ini kubangun perlahan runtuh seketika.
4
Video itu memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat familier—kamar tidur Miguel.
Di dalam video, Miguel sedang duduk di meja kerjanya, berbicara di depan laptop dengan ekspresi penuh kerinduan. Suaranya terdengar jelas dari speaker ponselku: “Tentu saja aku merindukanmu, Sayang. Bekerjalah dengan baik di sana. Aku akan setia menunggumu pulang.”
Itu adalah rekaman panggilan video kami dua tahun lalu.
Namun, kamera video ini tidak merekam layar laptop, melainkan direkam secara sembunyi-sembunyi dari sudut ranjang Miguel. Detik berikutnya, kamera bergeser. Gadis muda yang tadi menumpang mobilku sedang duduk di atas ranjang Miguel, mengenakan salah satu kemeja pria itu. Ia menyaksikan Miguel membohongiku secara langsung dengan senyuman kemenangan yang dingin.
Begitu panggilan video kami terputus, Miguel berbalik, menghampiri gadis itu, lalu memeluknya.
“Dia benar-benar percaya,” bisik Miguel di dalam video sambil tertawa kecil. “Biarkan dia terus mengirimkan uang tabungannya setiap bulan. Begitu uangnya cukup untuk uang muka rumah atas namaku, aku akan mencampakkannya.”
Ponsel di tanganku terasa sedingin es. Tiga tahun merantau, menghemat setiap sen, makan mie instan di kamar kos yang sempit, dan mengirimkan hampir seluruh gajiku ke rekening bersama yang kini disalahgunakan oleh Miguel. Semua pengorbananku berubah menjadi lelucon paling menjijikkan di tangan mereka.
Aku mendongak. Di seberang sana, di bawah kanopi apartemen, gadis itu masih menatapku. Ia melepaskan pelukan Miguel sebentar, lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
Sebuah pesan baru masuk:
“Kenalkan, namaku Bella. Aku sepupu dari pemilik apartemen tempat Miguel menyewa. Aku tahu tentangmu karena dia selalu memamerkan ‘kebodohanmu’ padaku. Tapi dia salah menilai aku, Kak. Dia pikir aku mau menjadi simpanannya selamanya. Aku mengirimkan ini karena aku butuh bantuanmu untuk menghancurkannya.”
5
Aku menarik napas panjang. Rasa sakit yang sempat melumpuhkan kakiku kini menguap, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan kalkulatif. Aku memungut gagang koperku, menegakkan bahu, lalu melangkah maju ke arah mereka.
Ketika langkahku mendekat, Miguel akhirnya menyadari kehadiranku. Wajahnya yang semula penuh tawa langsung berubah pucat pasi. Matanya membelalak tak percaya, seolah-olah melihat hantu.
“V-Valerie…?” suaranya bergetar hebat. “Kamu… sejak kapan kamu kembali?”
Dengan panik, Miguel langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Bella dan mencoba melangkah mendekatiku. “Val, ini tidak seperti yang kamu lihat. Bella ini… dia cuma—”
“Bella adalah selingkuhanmu selama dua tahun terakhir,” potongku dengan suara yang teramat tenang, namun sanggup menghentikan kata-kata di tenggorokannya.
Aku menatap Bella. Gadis itu tidak terlihat terkejut. Ia justru melangkah mundur, melipat tangan di dada, dan menatap Miguel dengan pandangan menghina.
“Valerie, dengarkan aku dulu!” Miguel mencoba meraih tanganku, tetapi aku mundur satu langkah. “Aku bisa jelaskan semuanya. Aku mencintaimu, aku bersumpah!”
“Kamu mencintai uang kirimanku, Miguel,” kataku sambil mengeluarkan ponsel dan mengarahkan layar yang masih menampilkan potongan video menjijikkan itu tepat di depan wajahnya. “Dan kamu pikir aku bodoh.”
Wajah Miguel seketika kehilangan seluruh warna darahnya. “Dari… dari mana kamu mendapatkan itu?”
“Itu tidak penting,” jawabku datar. “Yang penting adalah, setengah jam yang lalu, saat aku berada di dalam mobil, aku sudah menghubungi pihak bank untuk membekukan rekening bersama kita atas dugaan penipuan. Semua bukti transfer dari luar negeri selama tiga tahun ini ada padaku, lengkap dengan tujuan penggunaannya yang palsu.”
Miguel tersedak ludahnya sendiri. “Val, jangan lakukan itu! Uang itu… uang itu sudah kugunakan untuk memesan unit apartemen atas namaku! Kalau kamu bekukan, aku akan dituntut atas gagal bayar!”
“Itu urusanmu, bukan urusanku,” ujarku sambil tersenyum tipis.
6
Bella melangkah maju, lalu menyerahkan sebuah kunci fisik dan selembar surat pemutusan hubungan sewa kepada Miguel.
“Dan satu hal lagi, Miguel,” ucap Bella dengan nada manis yang mematikan. “Pamanku sudah melihat video ini. Dia tidak sudi apartemennya disewa oleh pria penipu bajingan sepertimu. Kamu punya waktu sampai besok pagi untuk mengosongkan tempat ini.”
Miguel memandang kami berdua dengan tatapan kosong, lututnya gemetar hingga ia terduduk di lantai koridor yang basah. Payung yang dipegangnya terlepas, membiarkan tubuhnya mulai terkena tampias air hujan. Pria yang selama tiga tahun ini kupuja sebagai masa depanku, kini hanyalah sosok menyedihkan yang hancur karena keserakahannya sendiri.
Aku membalikkan badan, menarik koper kecilku kembali menuju jalan raya tanpa menoleh lagi sedikit pun.
Hujan di penghujung tahun masih turun dengan deras, membasuh seluruh sisa-sisa rindu dan cinta buta yang pernah kumiliki untuknya. Aku kehilangan tiga tahun waktuku, tetapi malam ini, aku menyelamatkan sisa seluruh hidupku.
Tahun baru akan tiba beberapa jam lagi, dan untuk pertama kalinya, aku menyambutnya dengan lembaran yang benar-benar bersih.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.