Posted in

Aku berpura-pura bangkrut untuk menguji calon istriku, tapi H-7 pernikahan, keluarga istriku malah mengganti calon mempelai wanita dengan kakaknya yang perawan tua, dengan berat hati akupun ….

Aku berpura-pura bangkrut untuk menguji calon istriku, tapi H-7 pernikahan, keluarga istriku malah mengganti calon mempelai wanita dengan kakaknya yang perawan tua, dengan berat hati akupun ….

“Mas, ini bekalnya dibawa.” Alina menyodorkan kotak bekal, bahkan dia sempat berlari kecil hanya untuk mengejarku yang sudah berada di depan teras.

“Tidak usah repot-repot, Lin. Aku bisa sarapan di kan—maksudku, di pabrik.” Hampir saja aku keceplosan.

“Nggak repot, Mas. Jangan beli terus, sayang uangnya. Lebih baik ditabung,” ujar Alina dengan tulus. Perangai wanita ini sangat berbeda jauh dengan adiknya.

“Terima kasih ya, Lin.”

“Halah… sok-sokan kasih bekal, paling isinya cuma tahu tempe. Laki-laki yang kerja di pabrik mana bisa kasih nafkah banyak buat kebutuhan dapur!” Widya yang baru saja keluar dengan seragam batiknya mengejek.

“Jaga sopan santunmu pada kakakmu, Wid!” peringatku tak bisa menahan kesal, tapi dia malah terkekeh.

“Apa sih? Ikut campur banget. Memang setiap hari begini, kok. Kurang sopan apa aku sama dia? Kalau aku nggak sopan, sudah dari dulu aku mengusir wanita nggak menguntungkan ini!” balasnya sembari memakai arloji pemberianku dua bulan lalu.

“Sudah, jangan ribut. Mas, kamu berangkat saja ya, takut kesiangan,” kata Alina lembut.

Walau masih emosi, aku hanya bisa menurut. Setelah menyalami Alina, aku menyambar motor butut yang sengaja kubeli beberapa minggu lalu. Semua ini kulakukan agar mereka percaya bahwa aku benar-benar lelaki tak berpunya.

Namun saat hendak menyalakan motor, sebuah mobil keluaran lama berhenti tepat di hadapan kami. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Raka, kekasih baru Widya.

Ya, semudah itu dia menemukan lelaki baru. Padahal dulu dia sangat bucin padaku, tapi setelah aku berpura-pura bangkrut, sikapnya benar-benar berubah drastis. Sebenarnya aku sangat sedih mengingat aku sempat jatuh cinta pada Widya. Tapi kenyataannya, dia sama saja dengan wanita-wanita matre yang selama ini kutemui.

“Sayang… telat satu menit, ih!” Widya mengomel manja. Dulu aku sangat suka mendengarnya, tapi entah kenapa sekarang malah terdengar menjijikkan.

“Maaf, Sayang. Tadi aku beli sarapan dulu buat kamu, nih! Roti mahal di seberang rumah sakit, kesukaanmu.”

“Ya ampun, so sweet banget sih. Tuh, cari calon suami itu begini, Mbak Alin! Bukannya yang hanya bisa kasih kesengsaraan!” sindirnya.

“Mas Reza? Mau berangkat? Kenapa nggak dibawa BMW-nya?” tanya Raka seolah menyindir.

“Ya mana mampu dia beli bensinnya, Sayang. Hahaha. Ayo, aku takut kesiangan!” Widya berujar dengan enteng, lalu keduanya masuk ke dalam mobil yang harganya bahkan tak sampai setengah dari harga mobilku.

“Mas? Mas Reza?”

“O-oh, ya? Kenapa, Lin?” jawabku setelah terpaku memandangi mobil yang melaju meninggalkan pekarangan rumah.

“Jangan diambil hati. Lain kali kalau ada mereka, Mas langsung pergi saja.”

Aku tersenyum, “Iya. Makasih ya, Lin.”

“Hati-hati, Mas. Bekalnya jangan lupa dimakan,” pesannya dengan senyuman yang sangat damai.

“Sampai kapan Bapak mau menyamar jadi orang susah begini?” tanya Erwin saat aku membuka seragam pabrik di ruangan pribadiku.

“Sampai aku jenuh saja, Win.”

“Tapi Pak, saya nggak mau Bapak diinjak-injak oleh wanita tidak tahu diri itu! Saya nggak bisa bayangkan bagaimana Pak Reza tidur tanpa AC.”

“Kamu ini, sudah seperti ibuku saja ya,” aku terkekeh. “Tidak perlu khawatir, aku sedang menikmati permainan peran ini.”

“Baik, Pak. Tapi saya harap Bapak segera mengakhirinya.”

“Oke, oke. Mana sarapan hari ini?” tanyaku.

“Sedang dibawakan oleh Sekretaris Nina, Pak. Tunggu dua menit lagi,” katanya.

Aku terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu yang masih berada di dalam ransel bututku. Cepat-cepat aku mengeluarkannya.

“Kasih ini ke sekuriti di depan, ya.”

“Apa ini, Pak?”

“Bekal dari wanita itu.”

“Maksudnya, Bu Alin?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Tunggu sebentar!” ucapku, menarik kembali kotak bekal itu.

Aroma makanan yang jarang sekali kucium langsung menguar. Di dalamnya memang bukan sepotong steak mewah atau fried chicken hotel bintang lima. Tapi entah kenapa, nasi goreng tanpa kecap ini terasa sangat menggugah selera.

“Lho, Pak? Kenapa dimakan? Bukannya untuk sekuriti? Kalau Bapak keracunan bagaimana?” tanya Erwin panik.

Aku tidak menyahut. Masakan ini benar-benar mengingatkanku pada seseorang.

“Erwin, carikan kalung berlian paling mewah dan elegan yang cocok dipakai wanita umur dua puluh sembilan tahun!”

“Lho, kok malah kalung, Pak?”

“Cepat!” perintahku dengan nada tinggi hingga membuat lelaki berdasi itu tergagap.

Selepas Erwin pergi, aku kembali menikmati hidangan sederhana itu dengan lahap….

Berikut adalah kelanjutan sekaligus penutup (ending) yang memuaskan dan penuh kejutan untuk cerita Anda:

Akhir Cerita: Kejutan di Hari Pernikahan

Nasi goreng buatan Alina habis tanpa sisa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mencicipi makanan koki bintang lima, aku merasakan kehangatan yang tulus dari sebuah masakan. Alina memasaknya dengan cinta, bukan karena mengharapkan timbal balik materi. Saat itu juga, hatiku mantap. Ujian ini telah usai, dan aku tahu siapa wanita yang pantas menjadi ratu di hidupku.

Satu minggu berlalu begitu cepat. H-1 pernikahan, suasana di rumah Alina dan Widya tampak sibuk. Aku sengaja datang malam-malam dengan motor bututku, membawa sebuah kotak beludru merah kecil di saku jaket lusuhku.

Di ruang tamu, ibunya Alina dan Widya menyambutku dengan wajah masam, sementara Widya sibuk bermain ponsel baru—yang kuduga dibelikan oleh Raka. Alina sendiri sedang sibuk di dapur, menyiapkan teh hangat untukku.

“Reza, besok pernikahan kalian. Tapi ingat ya, karena kamu sekarang miskin dan cuma buruh pabrik, jangan harap ada resepsi mewah. Cukup akad nikah di masjid depan gang!” ketus Ibu mertuaku.

“Iya, Ibu. Saya mengerti,” jawabku tenang.

“Dan satu lagi,” potong Widya sambil melirikku sinis. “Jangan panggil aku istri besok. Aku bersyukur banget Ibu sama Bapak mutusin buat nukar pengantinnya. Untung ada Mbak Alina yang mau menampung laki-laki bangkrut kayak kamu. Kasihan Mbak Alin, perawan tua dapetnya serabutan pabrik. Cocok deh, sama-sama nggak laku! Hahaha!”

Aku menahan diri untuk tidak tersenyum. “Terima kasih, Widya, karena sudah melepaskan aku.”

Tepat saat itu, Alina keluar membawa nampan berisi teh. Aku berdiri, menghampirinya, lalu mengeluarkan kotak beludru merah dari saku jaket. Di hadapan ibu dan adiknya yang memandang remeh, aku membuka kotak itu.

Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian D-Flawless 3 karat berkilau indah di bawah temaram lampu ruang tamu. Desainnya sangat anggun, sangat cocok dengan leher jenjang Alina.

“Lin, ini untukmu. Dipakai besok saat akad nikah, ya?” ujarku lembut.

Widya yang melihat itu langsung terbahak-bahak sampai batuk. “Ya ampun, Reza! Kamu beli mainan di pasar malam mana itu? Berkilau banget kayak kaca! Hahaha, kasihan Mbak Alina dikasih barang imitasi!”

Ibunya juga mencibir, “Sudahlah, Alina, simpan saja mainan itu. Besok pakai kerudung yang rapat biar lehermu tidak gatal-gatal kena besi murahan.”

Alina tidak memedulikan ucapan mereka. Matanya berkaca-kaca menatap kalung itu. “Ini indah sekali, Mas. Terima kasih banyak. Aku akan memakainya besok.”

Aku tersenyum penuh arti. Tunggulah sampai besok, kalian akan tahu harga “mainan” ini.

Hari pernikahan pun tiba.

Pagi itu, masjid di depan gang tampak sepi. Hanya ada penghulu, beberapa saksi dari RT setempat, keluarga Alina, dan beberapa kerabat dekat. Raka juga hadir di sana, duduk di samping Widya dengan gaya angkuh memakai setelan jas murahan yang dipaksakan agar terlihat kaya.

Alina tampil sangat cantik dan anggun dengan kebaya putih sederhana, mengenakan kalung berlian dariku yang berkilau luar biasa di bawah sinar matahari pagi.

“Mana calon pengantin prianya? Jam segini belum datang. Naik motor bututnya mogok ya? Hahaha,” bisik Raka pada Widya, yang disambut tawa cekikikan dari tunangannya itu.

Tepat pukul 08.00 WIB, suara deru mesin mobil-mobil mewah terdengar mendekat. Bukan hanya satu, melainkan iring-iringan sepuluh mobil mewah hitam—mulai dari Mercedes-Benz, Alphard, hingga sebuah Rolls-Royce Phantom di barisan paling depan.

Iring-iringan itu berhenti tepat di depan masjid. Semua orang di dalam masjid, termasuk keluarga Alina, Widya, dan Raka, langsung melongo dan berhamburan keluar untuk melihat siapa yang datang.

Pintu Rolls-Royce terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal turun terlebih dahulu—dia adalah Erwin, asisten pribadiku. Erwin berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu penumpang belakang dengan sangat hormat.

Aku turun dari mobil itu.

Tidak ada lagi jaket lusuh, motor butut, atau wajah kuyu. Aku memakai setelan tuksedo pengantin berwarna putih rancangan desainer ternama, rambutku tertata rapi, memancarkan aura wibawa seorang CEO yang sesungguhnya. Di belakangku, puluhan pengawal berbadan tegap berdiri menjaga jarak.

“Selamat pagi, Pak Reza,” sapa Erwin dengan suara lantang yang terdengar oleh semua orang.

Widya, ibunya, dan Raka berdiri mematung seperti patung batu. Mulut mereka terbuka lebar, mata mereka hampir keluar dari kelopaknya.

“Re… Reza? Kamu…” Widya terbata-bata, menunjukku dengan jari yang gemetar hebat. “Bagaimana bisa… mobil-mobil ini…”

Aku berjalan melewati Widya dan Raka tanpa memandang mereka sedikit pun. Langkahku mantap menuju Alina yang berdiri di ambang pintu masjid dengan tatapan tidak percaya, namun tidak ada ketakutan di matanya—hanya ada ketulusan yang murni.

Aku meraih tangan Alina, menggenggamnya erat. “Maaf membuatmu menunggu, Lin. Dan maaf karena aku harus mengujimu dengan kepura-puraan ini.”

“Mas… jadi kamu…” Alina berbisik lirih.

Erwin maju selangkah dan berbicara dengan tegas kepada semua orang yang hadir. “Perkenalkan, ini adalah Bapak Reza Pratama, pemilik tunggal Pratama Group, perusahaan manufaktur dan properti terbesar di kota ini. Kabar kebangkrutan yang beredar kemarin adalah bagian dari rencana internal perusahaan kami.”

Deg!

Wajah Widya seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Dia menatap Raka, lalu menatapku, dan akhirnya menatap kalung berlian di leher Alina yang kini berkilau seratus kali lebih terang dari sebelumnya.

“Nggak… nggak mungkin! Dia cuma buruh pabrik!” teriak Widya histeris. “Mas Reza! Kamu bercanda kan? Kamu pura-pura kaya kan sekarang?!”

Aku berbalik perlahan, menatap Widya dengan pandangan dingin yang membuat nyalinya ciut.

“Aku tidak pernah bangkrut, Widya. Aku hanya ingin mencari istri yang mau menemaniku dari titik terendah. Dan terima kasih kepada keputusan keluargamu yang telah menukar pengantinnya. Karena keserakahanmu, aku justru dipertemukan dengan berlian yang sesungguhnya—kakakmu, Alina.”

“Mas Reza! Aku khilaf, Mas! Aku masih cinta sama kamu! Harusnya aku yang berdiri di situ, bukan Mbak Alina!” Widya menjerit, mencoba berlari memelukku, namun tubuhnya langsung dihadang dengan kasar oleh dua pengawal pribadiku.

Raka yang ketakutan setengah mati melihat puluhan pengawal bertubuh kekar langsung mundur perlahan, meninggalkan Widya yang menangis histeris di tanah. Ibunya Alina terduduk lemas di lantai masjid, menyadari bahwa dia baru saja membuang menantu triliuner demi lelaki biasa yang hanya bermodal mobil tua.

Aku mengabaikan drama murahan mereka. Aku menuntun Alina masuk ke dalam masjid, menghadap penghulu yang sudah siap.

“Ayo, Lin. Kita mulai ibadah terpanjang kita,” bisikku lembut.

Alina tersenyum, air mata haru menetes di pipinya. “Iya, Mas.”

Hari itu, di hadapan saksi dan Tuhan, aku mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Alina resmi menjadi istriku. Dan setelah akad nikah selesai, aku membawa istriku pergi dari tempat itu menggunakan Rolls-Royce, meninggalkan Widya dan ibunya yang meratapi nasib buruk akibat keserakahan mereka sendiri di atas tanah berdebu.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.