Joshua baru saja pulang dari kantor. Bahkan ia tidak melirikku sedikit pun. Ia langsung berjalan menuju ruang kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat.
Aku menahan diri.
Aku memasakkan semangkuk sup hangat agar tubuhnya sedikit lebih segar setelah seharian bekerja. Aku membawa mangkuk itu ke depan ruang kerjanya dan mengetuk pintu perlahan.
Namun sebelum sempat berbicara, terdengar bentakan keras dari dalam.
“Jangan ganggu aku dulu! Pergi!”
Aku terdiam.
Perlahan kuturunkan tanganku.
Saat itulah ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari asisten pribadi Joshua. Di dalamnya terdapat sebuah video singkat.
Ketika video itu diputar…
Duniaku seolah runtuh.
Di sebuah ruang VIP rumah sakit, Joshua sedang berlutut di samping ranjang seorang wanita yang wajahnya pucat dan tubuhnya lemah. Ia menggenggam erat tangan wanita itu.
Air mata memenuhi mata Joshua.
Selama lima tahun bersama, belum pernah sekali pun aku melihatnya menangis sedalam itu.
“Bianca… aku janji akan mengabulkan semua keinginanmu. Apa pun akan kulakukan. Tolong bertahanlah,” ucap Joshua dengan suara bergetar.
Wanita itu—Bianca, cinta pertama sekaligus sahabat masa kecil Joshua yang kukira sudah lama menjadi masa lalu—tersenyum tipis.
Ia menyerahkan secarik kertas kecil kepada Joshua.
Sebuah **daftar keinginan terakhir** sebelum ia meninggal.
Aku memperbesar tampilan layar.
Keinginan pertama:
**【Jagalah Joshua untukku. Pastikan dia selalu bahagia.】**
Keinginan kedua:
**【Temani aku melihat matahari terbenam di tepi pantai untuk terakhir kalinya.】**
Keinginan ketiga:
**【Aku ingin kita menikah di depan makamku, agar bahkan setelah aku tiada, aku tetap bisa menjadi istrimu.】**
Tubuhku langsung membeku.
Dadaku terasa seperti ditusuk berkali-kali.
Aku menutup video itu.
Tanpa berpikir panjang, kuangkat mangkuk sup yang telah susah payah kumasak dan langsung kubuang ke wastafel.
Bersamaan dengan kuah hangat yang mengalir ke saluran pembuangan…
Luruh pula lima tahun cinta, perhatian, dan kesabaranku.
—
Keesokan paginya, aku mengemas semua barang-barangku.
Sebelum meninggalkan apartemen kami, aku mengirim satu pesan singkat kepada Joshua.
**”Aku memutuskan mengakhiri hubungan kita. Selamat untukmu dan cinta pertamamu. Semoga kalian bahagia selamanya.”**
Begitu tiba di lobi, aku langsung menaiki taksi.
Namun sebelum mobil melaju, aku melihat Joshua berlari keluar dari gerbang kompleks.
Ia hanya memakai sandal.
Tanpa jaket, meski angin pagi sangat dingin.
Ia hampir terjatuh saat mengejar taksi yang kutumpangi.
Dari kaca spion, kulihat wajahnya dipenuhi ketakutan dan penyesalan.
Sopir taksi melirikku.
“Bu… apa saya berhenti? Sepertinya suami Ibu sedang mengejar.”
Aku memejamkan mata kuat-kuat agar air mata tidak jatuh.
“Tidak usah, Pak. Tolong jalan saja.”
—
Sepanjang perjalanan, ponselku terus bergetar.
Joshua menelepon lebih dari sepuluh kali.
Tak satu pun kujawab.
Akhirnya ia mengirim pesan suara.
“Vangie… tolong dengarkan penjelasanku. Tidak seperti yang kamu pikirkan…” suaranya pecah. “Bianca sudah sekarat. Aku hanya ingin membantu mewujudkan keinginan terakhirnya supaya dia bisa pergi dengan tenang. Tolong… jangan cemburu pada orang yang sebentar lagi meninggal…”
Aku tertawa pahit.
Lalu menghapus pesan itu.
Dan memblokir semua nomor teleponnya.
—
Lima tahun kami saling mengenal.
Tiga tahun hidup bersama.
Namun tidak sekali pun Joshua pernah mengatakan bahwa ia memiliki sahabat masa kecil sekaligus cinta pertama bernama Bianca.
Semuanya berubah tiga bulan lalu.
Ia semakin sering lembur.
Setiap pulang selalu mengurung diri di ruang kerja.
Saat kutanya ada masalah apa, jawabannya selalu sama.
“Sedang sibuk proyek baru.”
Minggu lalu ia bahkan mengatakan harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama dua minggu.
Ketika membantunya menyiapkan jas, aku merasakan sesuatu di saku dalamnya.
Sebuah foto wanita berbaju putih dengan senyum yang sangat manis.
Di balik foto tertulis tinta merah:
**”Untuk Josh, satu-satunya cintaku.”**
Saat kutanya siapa wanita itu…
Wajah Joshua langsung pucat.
Ia buru-buru merebut foto itu.
“Hanya teman masa kecil. Kami sudah lama tidak bertemu. Baru bertemu lagi, jadi sekadar foto kenang-kenangan.”
Ia terdengar santai.
Tetapi jemarinya gemetar hebat ketika memasukkan dompet kembali ke sakunya.
Dan sekarang…
Aku mengetahui semua kebenaran justru dari asistennya.
—
Aku tiba di apartemen kecil yang baru kusewa.
Saat sedang merapikan pakaian, ponselku kembali berdering.
Kali ini ibu Joshua yang menelepon.
Aku ragu, tetapi akhirnya mengangkatnya.
“Vangie… kalian bertengkar?” tanyanya cemas. “Josh sekarang di rumah sakit. Tolong datanglah.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Ada apa dengannya?”
“Tadi dia terus mengejarmu sampai terjatuh di jalan. Lututnya robek dan terluka cukup parah. Nak… kenapa kamu tega meninggalkannya begitu saja?”
Aku menarik napas panjang.
“Tante… ada banyak hal yang Tante belum tahu. Biarkan Joshua sendiri yang menjelaskan.”
Aku mengakhiri panggilan.
Aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura tidak melihat.
Karena selain tiga permintaan yang kulihat di video…
Masih ada dua permintaan lagi.
Keinginan keempat:
**【Datanglah ke makamku setiap ulang tahunku dan bawakan bunga kesukaanku.】**
Keinginan kelima:
**【Kalau ada kehidupan berikutnya, semoga kita tetap berjodoh, Joshua.】**
Betapa egoisnya.
Kalau benar Bianca mencintai Joshua…
Mengapa ia justru mengikat masa depan pria itu dengan permintaan-permintaan semacam itu?
Dan mengapa Joshua rela menghancurkan hubungan kami hanya karena rasa bersalahnya?
—
Hujan turun semakin deras.
Saat aku menatap keluar jendela, sebuah nomor tak dikenal menelepon.
Aku mengangkatnya.
Terdengar suara perempuan yang sangat lemah.
“Halo… apakah ini Vangie? Aku Bianca.”
“Ada perlu apa?”
“Aku tahu kamu membenciku… aku tahu aku sudah merebut Josh darimu…” katanya sambil terbatuk. “Tapi tolong… waktuku tidak lama lagi. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidup bersama orang yang paling kucintai. Tolong… kembalikan Joshua kepadaku.”
Dadaku sesak.
“Bianca, Joshua bukan milikku untuk dikembalikan kepadamu. Kalau dia ingin menjadi pahlawan dalam hidupmu, silakan pergi. Tapi jangan memintaku berdiri diam melihat kalian menghancurkan hidupku.”
Belum sempat kututup telepon…
Terdengar suara Joshua dari kejauhan.
“Bianca! Jangan bicara lagi! Itu membuat kondisimu memburuk! Vangie! Vangie! Tolong jangan sakiti dia!”
Saat itulah aku benar-benar mengerti…
Siapa orang yang paling penting baginya.
Aku langsung memutus sambungan.
Lalu mematikan ponselku.
—
Keesokan paginya hujan masih turun tanpa henti.
Aku terbangun karena suara ketukan di pintu.
Saat mengintip melalui lubang pintu…
Joshua berdiri di luar.
Tubuhnya basah kuyup.
Menggigil kedinginan.
Wajahnya pucat seperti mayat.
“Vangie… aku tahu kamu di dalam…” bisiknya sambil menyandarkan dahinya ke pintu.
“Tolong buka… aku siap menjelaskan semuanya… kumohon…”

Aku hanya menatap pintu itu.
Tetap diam.
Bagaimana mungkin kubukakan pintu…
Jika pria yang berdiri di baliknya sebenarnya sudah lama bukan milikku lagi?
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita Anda dalam bahasa Indonesia yang menyentuh, tegas, dan memberikan kepuasan emosional atas ketegasan sikap Vangie:
Keputusan Akhir: Membuka Pintu untuk Penutupan
Suara ketukan itu perlahan berubah menjadi ketukan lemah, sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Terdengar suara tubuh yang merosot, bersandar pada pintu kayu apartemenku.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sisa-sisa sesak di dadaku. Aku tidak ingin melarikan diri lagi. Aku ingin menghadapi kehancuran ini dengan kepala tegak, lalu menutup bukunya rapat-rapat.
Perlahan, kuputar kunci pintu dan menarik gagangnya.
Cklek.
Joshua hampir terjatuh ke belakang jika ia tidak segera menahan tubuhnya dengan tangannya yang gemetar. Ia mendongak, matanya yang merah dan sembap menatapku dengan binar harapan yang rapuh.
“Vangie…” suaranya serak, hampir habis. Ia mencoba berdiri, memegang lututnya yang terbalut perban basah dan kotor. “Kamu… kamu akhirnya mau mendengarkanku.”
Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh jemariku. Namun, aku melangkah mundur satu jengkal, menghindari sentuhannya seolah ia adalah wabah penyakit.
“Jangan sentuh aku, Josh,” kataku, datar tanpa emosi. “Aku membuka pintu bukan untuk menerimamu kembali. Aku membuka pintu agar kamu berhenti membuat kegaduhan di depan tempat tinggalku.”
“Vangie, kumohon…” Joshua menunduk, air matanya menetes di lantai koridor. “Bianca sedang sekarat. Kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia hanya punya waktu beberapa minggu lagi. Pernikahan itu… itu hanya sandiwara di depan makamnya nanti, hanya untuk menenangkannya sebelum dia pergi. Itu tidak sah secara hukum! Kamu tetap satu-satunya istriku di dunia nyata!”
Aku menatap pria di hadapanku ini. Pria yang dulu sangat kucintai, kini terlihat begitu menyedihkan dan… bodoh.
“Apakah kamu mendengar dirimu sendiri, Joshua?” tanyaku dengan senyum getir.
“Kamu bersedia mengucapkan sumpah pernikahan di depan kuburan wanita lain, berjanji untuk setia pada hantu masa lalumu, dan kamu berpikir aku akan berdiri di sini menunggumu pulang dengan status sebagai ‘istri dunia nyata’?”
“Aku melakukan ini demi kemanusiaan, Vangie! Dia tidak punya siapa-siapa lagi!” potong Joshua, mencoba membela diri dengan moralitasnya yang cacat.
“Lalu siapa yang berdiri demi aku saat kamu membentakku demi dia?” suaraku meninggi untuk pertama kalinya. “Siapa yang memikirkan perasaanku saat kamu menyimpan fotonya di dalam jas pernikahan kita? Kamu mengorbankan kewarasan dan kebahagiaan istrimu yang masih hidup demi memuaskan rasa bersalahmu pada wanita yang sekarat.”
Aku merogoh saku jaketku, mengeluarkan selembar kertas yang sudah kutandatangani pagi ini. Surat Gugatan Cerai.
Aku menjatuhkannya tepat di atas lantai basah di depan kakinya.
“Pergilah, Josh. Nikahi dia di depan makamnya, di atas awan, atau di mana pun yang kalian inginkan. Mulai detik ini, aku membebaskanmu dari status sebagai suamiku.”
Satu Bulan Kemudian: Pernikahan di Atas Kuburan
Hujan turun rintik-rintik di pemakaman umum Menteng.
Bianca akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dua minggu setelah kejadian itu. Dan hari ini, tepat di hari pemakamannya, Joshua menepati janji gilanya.
Ia berdiri di depan gundukan tanah basah yang bertabur bunga melati. Joshua mengenakan setelan jas hitam formal—jas yang sama dengan yang ia kenakan saat meminangku tiga tahun lalu. Di jarinya, melingkar sebuah cincin pernikahan baru.
Beberapa kerabat yang hadir menatapnya dengan pandangan iba bercampur ngeri. Menikah dengan batu nisan adalah sebuah kegilaan yang tak masuk akal.
Setelah semua pelayat pergi meninggalkan area pemakaman, Joshua berlutut di samping nisan Bianca. Ia menyentuh marmer dingin itu, mencoba mencari kehangatan atau rasa lega yang ia dambakan selama ini setelah berhasil “menebus dosa” masa lalunya.
Namun, yang ia rasakan hanyalah kekosongan.
Angin dingin berembus, menerpa wajahnya. Ia menatap cincin di jarinya, lalu menatap nisan dingin di hadapannya.
Siapa yang akan menyambutnya pulang nanti malam? Bukan Bianca. Bianca sudah berada di dalam tanah, menyatu dengan bumi.
Siapa yang akan memasakkannya sup hangat saat ia lelah bekerja? Bukan Bianca.
Detik itu, kesadaran menghantam Joshua seperti godam yang berat.
Demi memuaskan ego dan rasa bersalahnya pada seorang wanita yang sudah tiada, ia telah membuang satu-satunya wanita hidup yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Ia telah menukar kehangatan rumah tangga yang nyata dengan sebuah batu nisan dingin yang akan mengikatnya dalam rasa bersalah seumur hidup.
Joshua merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menekan nomor teleponku yang sudah ia hapus dari daftar blokir melalui bantuan operator.
“Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif atau berada di luar jangkauan…”
Joshua jatuh terduduk di atas tanah makam yang berlumpur. Ia menangis meraung-raung, memeluk nisan batu itu bukan karena rindu pada Bianca, melainkan karena ia menyadari bahwa ia baru saja kehilangan dunianya yang sesungguhnya.
Lembaran Baru di Ujung Dunia
Di belahan bumi yang lain, di sebuah kafe kecil di sudut kota Paris, aroma cokelat hangat dan panggangan roti memenuhi udara.
Aku duduk di dekat jendela, menatap rintik hujan yang membasahi jalanan berbatu. Di atas meja, terdapat sebuah laptop yang menampilkan proyek desain interior terbaruku yang baru saja disetujui oleh firma arsitektur lokal.
Ponselku berdenting. Sebuah pesan dari ibuku di Indonesia.
“Vangie, Joshua baru saja menyelesaikan ‘pernikahan’ itu di makam Bianca. Dia terlihat seperti mayat hidup sekarang. Dia terus menanyakan kabarmu pada Ibu. Apakah kamu ingin Ibu menyampaikan sesuatu padanya?”
Aku menatap pesan itu selama beberapa detik. Tidak ada lagi debaran jantung yang menyakitkan. Tidak ada lagi rasa benci. Hanya ada rasa datar yang melegakan.
Aku mengetik balasan singkat:
“Tidak perlu, Bu. Tolong sampaikan saja padanya: Selamat menempuh hidup baru dengan pilihannya. Aku sudah pulang ke hidupku sendiri.”
Aku mematikan layar ponsel, menyesap cokelat hangatku, dan tersenyum menatap jalanan Paris yang indah. Bagiku, sup hangat yang kubuang hari itu adalah akhir dari masa laluku. Dan hari ini, aku sedang menikmati hidangan baru yang kupilih sendiri, tanpa ada rasa bersalah milik orang lain yang harus kupikul.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.