SUAMIKU MEMAKSAKU MINUM OBAT PENGHAPUS INGATAN AGAR IA BISA MENIKAHI CINTA PERTAMANYA**
Ia menyodorkan sebuah pil putih kecil ke telapak tanganku. Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun keraguan.
“Minumlah ini, Vianne,” bisik Ethan. “Tiga hari lagi, kamu akan melupakan aku.”
Aku menatap pil di telapak tanganku, lalu tersenyum pahit dalam hati. Yang tidak ia ketahui… obat ini dikembangkan di laboratorium tempat aku menjadi peneliti utama. Dan begitu aku benar-benar meminumnya, tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang mampu memulihkan ingatanku.
Obat ini tidak memiliki penawar.
Begitu ingatan itu terhapus, semuanya akan hilang untuk selamanya.
“Vianne, tiga hari lagi, pernikahanku dengan Chloe juga akan selesai,” lanjut Ethan, seolah sedang berusaha menenangkan rasa bersalahnya sendiri. “Setelah kamu minum obat ini, kamu tidak akan mengingat rasa sakit apa pun. Setelah semuanya selesai, kita mulai lagi dari awal. Kita akan menikah lagi.”
Aku menatap matanya. Pria yang kucintai selama lima tahun. Pria yang demi dirinya aku rela mengorbankan karier dan kesehatanku.
Tanpa ragu, aku memasukkan pil itu ke dalam mulut dan menelannya tepat di hadapannya.
Tiga hari lagi, aku akan terbang ke **Geneva, Swiss**, untuk memulai kehidupan baru.
Sementara itu, ketika ia berdiri di altar bersama cinta pertamanya, barulah ia akan bertanya dengan hati dipenuhi ketakutan:
*”Siapa… siapa sebenarnya peneliti utama yang menciptakan obat itu?”*
—
Kami baru saja keluar dari kantor catatan sipil setelah menandatangani surat-surat perceraian.
Ethan melirik jam tangan mewahnya.
“Masih ada dua jam sebelum obat itu mulai bekerja di otakmu.”
Nada suaranya tenang. Seolah yang sedang kami bicarakan hanyalah jadwal pekerjaan biasa, bukan penghapusan lima tahun kehidupan pernikahan kami.
“Dalam tiga hari ke depan, kamu akan perlahan melupakan semua tentangku. Setelah pernikahanku dengan Chloe selesai, aku akan memberimu penawarnya. Semua yang terjadi selama tiga hari ini juga akan terhapus, jadi kamu tidak akan merasakan kesedihan sedikit pun.”
Ia memegang bahuku. Jemarinya perlahan mengusap rambutku—sentuhan yang dulu selalu membuat jantungku berdebar.
“Perceraian ini hanya sementara, Vianne. Setelah semuanya selesai, kita akan kembali seperti dulu. Dari awal sampai sekarang, hanya kamu satu-satunya istri sahku.”
Aku tetap diam.
Aku ingin tertawa, tetapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokanku.
Memulai lagi?
Menikah lagi?
Ethan… apa kamu tidak tahu bahwa obat yang kauberikan itu tidak memiliki penawar?
Obat ini adalah **neuro-inhibitor eksperimental** yang kukembangkan saat bekerja di **Geneva Pharmacology Institute**, sebelum aku memutuskan kembali ke Indonesia demi dirinya.
Obat itu tidak menyebabkan amnesia secara tiba-tiba.
Selama tiga hari, obat itu akan menghapus sedikit demi sedikit setiap emosi, wajah, dan nama dari orang yang paling berarti bagi pasien.
Dan begitu semuanya hilang…
Tidak akan pernah bisa kembali.
“Benarkah kamu tidak akan menyesal, Ethan?” tanyaku pelan.
Ia mengalihkan pandangan.
“Vianne, kamu tahu kondisi Chloe sangat parah. Dia sudah menungguku selama sepuluh tahun. Satu-satunya impiannya sebelum meninggal adalah merasakan menikah denganku secara terhormat. Aku tidak sanggup menolaknya.”
“Kamu pintar dan selalu pengertian. Aku tahu kamu pasti bisa memahami seseorang yang sedang sakit parah. Setelah semuanya selesai, kita akan kembali seperti semula. Tidak ada yang berubah.”
Aku menarik napas panjang, berusaha menahan air mata.
Aku teringat dua tahun pertama pernikahan kami.
Demi membantunya mendapatkan hak paten startup teknologinya dari para investor yang licik, aku ikut menghadiri jamuan bisnis dan terus minum alkohol sampai akhirnya mengalami tukak lambung yang parah.
Malam ketika aku dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans, Ethan menangis di samping tempat tidurku.
Saat itu aku sempat bercanda.
“Bagaimana kalau nanti saat tua aku terkena Alzheimer dan melupakanmu?”
Matanya langsung memerah.
Ia menggenggam wajahku dan menciumku dengan penuh kepanikan.
“Kalau kamu sampai melupakanku… aku akan gila, Vianne.”
Namun sekarang…
Begitu mengetahui mantan kekasihnya, Chloe, mengidap kanker, justru dialah yang mengajukan perceraian.
Dialah yang menyerahkan obat penghapus ingatan kepadaku demi memberikan Chloe sebuah “pernikahan yang bersih dan sempurna”, tanpa bayang-bayang seorang istri sah di masa lalunya.
Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat.
Rasa sakit yang tajam, seolah jutaan jarum menusuk pelipisku.
Aku memegangi dahiku dan sedikit terhuyung.
Ethan segera menangkap tubuhku.
Keningnya berkerut.
“Apa ada yang sakit? Kalau kamu masih mengkhawatirkan harta kita, aku bisa menyerahkan pengelolaan seluruh asetku kepadamu selama kamu memulihkan diri.”
Aku berdiri tegak kembali, lalu menatapnya dengan bingung.
“Harta?”
“Dan… siapa kamu sebenarnya?”
Tubuh Ethan langsung membeku.
Matanya membelalak, sementara ketakutan perlahan muncul di wajahnya.
“Vianne… barusan saja kita menandatangani surat cerai. Kamu tidak ingat?”
“Surat cerai?”
Aku menatap map merah di tanganku yang berisi dokumen perceraian kami.
Efek obat itu…
Sudah mulai bekerja.
Kenangan pertama yang dihapus adalah momen di kantor catatan sipil, saat kami mengakhiri pernikahan kami.
Ethan segera mengambil map itu dari tanganku.
Suaranya berubah lembut.
“Vianne, aku sepupumu. Beberapa hari ini kondisi badanmu kurang baik, jadi pikiranmu agak kacau. Biar aku saja yang menyimpan dokumen penting ini.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.

Aku tidak berniat membongkar kebohongannya.
Kalau memang kamu ingin memainkan sandiwara ini, Ethan…
Baiklah.
Aku akan ikut bermain sampai akhir.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita Anda dalam bahasa Indonesia yang dramatis, dingin, dan penuh dengan kepuasan pembalasan (revenge):
Aku mengangguk pelan, berpura-pura memercayai kebohongannya. “Oh… sepupu. Pantas saja wajahmu terasa tidak asing.”
Ethan mengembuskan napas lega yang terdengar sangat menyedihkan. Ia menuntunku masuk ke dalam mobil, mengantarku pulang ke apartemen kecil yang sengaja ia sewa untuk “masa pemulihanku”. Sepanjang jalan, ia terus menggenggam tanganku, seolah-olah ia adalah pelindungku.
Ia tidak tahu, sentuhannya kini tak lagi membuat jantungku berdebar. Sentuhan itu hanya terasa seperti angin lalu. Kosong.
Hari Kedua: Pengikisan Emosi
Efek obat itu bekerja dengan presisi yang mengerikan—persis seperti formula yang kurancang di Geneva.
Pagi hari di hari kedua, Ethan datang membawakan bubur hangat kesukaanku. Ketika ia menyuapiku, setitik air mata jatuh dari matanya. Mungkin ia merasa bersalah, atau mungkin ia mulai menyadari kegilaan dari keputusannya.
“Vianne, maafkan aku,” bisiknya lirih. “Hanya tinggal dua hari lagi. Setelah Chloe pergi dengan tenang, aku akan memberikan penawarnya. Kita akan membangun kenangan baru yang lebih indah.”
Aku menatapnya datar. Aku mengingat namanya: Ethan. Aku mengingat statusnya: Mantan suamiku. Tetapi, rasa cinta yang dulu membakar dadaku, rasa sakit hati karena dikhianati, dan kehangatan dari kenangan lima tahun kami… semuanya telah menguap.
Aku melihatnya bukan lagi sebagai pria yang kupuja, melainkan hanya sebagai orang asing yang lewat di hidupku.
“Kenapa kamu menangis, Ethan?” tanyaku, suaraku terdengar sangat asing bahkan di telingaku sendiri. Dingin dan tanpa emosi.
Ethan tersentak. Ia menyadari perubahan tatapanku. Tidak ada lagi binar cinta, tidak ada lagi kemarahan. Hanya ada kekosongan yang tak berdasar.
“Vianne… kamu masih mencintaiku, kan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Aku hanya tersenyum tipis, tanpa menjawab.
Hari Ketiga: Penghapusan Sempurna
Hari ini adalah hari pernikahan Ethan dan Chloe.
Pagi-pagi sekali, aku terbangun dengan kepala yang terasa sangat ringan. Seperti selembar kertas putih yang baru saja disetrika. Bersih.
Aku berjalan ke cermin. Aku melihat wajahku sendiri. Vianne.
Aku membuka laci meja rias, mengambil tiket pesawat satu arah menuju Geneva, Swiss, yang akan berangkat dalam empat jam ke depan. Di samping tiket itu, ada sebuah paspor dan surat kontrak kerja kembali dari Geneva Pharmacology Institute.
Aku melihat foto seorang pria di ponselku yang tertinggal. Wajahnya tampan, tetapi otakku gagal mengenali siapa dia. Di bawah fotonya, ada kontak bernama “Ethan”.
Aku menekan tombol hapus kontak. Lalu, aku memformat ulang ponselku ke setelan pabrik.
Aku menyeret koperku keluar dari apartemen, menutup pintu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Bagiku, tempat ini hanyalah sebuah halte singgah sementara. Aku tidak memiliki masa lalu di sini.
Di Altar Pernikahan: Awal dari Kegilaan Ethan
Di sebuah gereja megah yang didekorasi dengan bunga-bunga putih, Ethan berdiri mengenakan setelan jas terbaiknya. Di hadapannya, Chloe yang tampak pucat namun tersenyum bahagia mengenakan gaun pengantin.
Pendeta mulai membacakan sumpah pernikahan.
Namun, fokus Ethan terpecah. Ponsel di saku jasnya bergetar. Sebuah email masuk dari asisten pribadinya yang ditugaskan untuk mengawasi apartemenku dan mengurus “penawar” obat itu.
Ethan diam-diam membuka email tersebut demi menenangkan kecemasannya. Namun, begitu membaca isinya, seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir.
Kepada: Ethan
Pak Ethan, Nyonya Vianne sudah pergi ke bandara menuju Swiss satu jam yang lalu. Kami juga baru saja menerima laporan analisis laboratorium mengenai pil putih yang Anda berikan kepada Nyonya.
Obat itu adalah Zero-Mem, neuro-inhibitor eksperimental yang diproduksi terbatas di Swiss. Obat itu TIDAK MEMILIKI PENAWAR. Siapa pun yang meminumnya akan kehilangan ingatan secara permanen dan tidak akan bisa dipulihkan oleh medis apa pun.
Dan satu hal lagi… Peneliti utama sekaligus pemilik hak paten tunggal dari formula obat ini adalah istri Anda sendiri, Dr. Vianne Alexander.
Tangan Ethan gemetar hebat. Ponselnya terjatuh ke lantai marmer, menimbulkan suara benturan yang keras di tengah keheningan gereja.
“Ethan? Ada apa?” tanya Chloe dengan cemas, memegang tangan Ethan yang tiba-tiba sedingin es.
Ethan tidak mendengar suara Chloe. Kepalanya berdengung hebat. Kalimat-kalimat dari email itu berputar di otaknya seperti badai.
Tidak memiliki penawar… Vianne adalah penciptanya… Vianne pergi ke Swiss…
Seketika, ingatan Ethan mundur ke beberapa tahun lalu, saat ia menangis di rumah sakit dan berkata: “Kalau kamu sampai melupakanku… aku akan gila, Vianne.”
Dan sekarang, ia sendiri yang telah menyodorkan racun itu ke tangan istrinya. Ia sendiri yang memaksanya meminumnya.
“Vianne…” bisik Ethan, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia berbalik, mengabaikan Chloe yang berteriak memanggil namanya, mengabaikan para tamu undangan yang terperangah. Ethan berlari kesetanan keluar dari gereja, air mata penyesalan yang terlambat mulai membanjiri wajahnya.
Ia masuk ke mobilnya, mengemudi dengan kecepatan penuh menuju bandara, berharap bisa mengejar pesawat ke Swiss. Mulutnya terus meracau, memanggil nama wanita yang telah ia hancurkan.
Di Atas Langit Menuju Geneva
Pesawat berguncang pelan saat lepas landas, menembus awan-awan putih yang berarak di langit Jakarta.
Aku memakai headphone-ku, menatap keluar jendela melihat daratan yang perlahan mengecil.
Seorang pramugari berjalan mendekat dan tersenyum ramah. “Apakah Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?”
Aku membalas senyumannya dengan tulus—sebuah senyuman yang bebas, ringan, tanpa beban masa lalu yang menyesakkan dada.
“Tidak, terima kasih,” jawabku lembut. “Aku hanya sedang menikmati perjalanan pulang.”
Di belakangku, kota itu tertinggal bersama seorang pria yang kini harus menjalani sisa hidupnya dalam siksaan penyesalan terbesar—mencintai bayang-bayang seorang wanita yang bahkan tidak akan pernah mengingat namanya lagi sampai akhir hayatnya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.