Posted in

Aku datang untuk kontrol kehamilan… lalu melihat suamiku berlari masuk ke ruang IGD sambil menggendong selingkuhannya di pelukannya, berteriak, “Dokter! Tolong cepat! Istri saya kesakitan!” Aku memaksa tersenyum, mengusap perutku, lalu berjalan pergi… tetapi di dalam pikiranku, aku sudah mulai merencanakan bagaimana membuat mereka berdua “bahagia.”

Aku datang untuk kontrol kehamilan… lalu melihat suamiku berlari masuk ke ruang IGD sambil menggendong selingkuhannya di pelukannya, berteriak, “Dokter! Tolong cepat! Istri saya kesakitan!” Aku memaksa tersenyum, mengusap perutku, lalu berjalan pergi… tetapi di dalam pikiranku, aku sudah mulai merencanakan bagaimana membuat mereka berdua “bahagia.”

Aku tidak akan pernah melupakan hari itu—hari ketika aku melihat wajah asli pria yang sudah hidup bersamaku selama tiga tahun.

Saat itu aku sedang hamil tujuh bulan. Perutku sudah sangat besar, tetapi karena kondisi tubuhku lemah, dokter menyarankan aku kontrol setiap minggu. Hari itu aku pergi ke rumah sakit sendirian. Suamiku, Rafael, berkata ia sibuk dan tidak bisa menemaniku. Aku sudah terbiasa, karena sejak aku hamil, dia hampir tidak pernah lagi peduli padaku. Pesan seperti “Sudah makan?” atau “Kamu nggak apa-apa?” perlahan menghilang. Sebaliknya, dia mulai sering pulang tengah malam dengan alasan perjalanan bisnis. Meski begitu, aku tetap percaya dia bekerja siang malam demi keluarga kami.

Aku hamil, lelah, dan sangat merindukan perhatiannya.

Namun aku memilih diam.

Aku pikir setelah bayi kami lahir, dia akan berubah.

Hari itu, setelah selesai kontrol, aku duduk di lorong rumah sakit. Perlahan kuusap perutku dan berbisik pada anakku:

“Sayang… tetap sehat ya. Tinggal beberapa bulan lagi, keluarga kita akan bahagia.”

Tetapi tepat pada saat itu, sebuah suara keras dari arah ruang IGD membuatku terkejut.

Seorang pria berlari masuk sambil menggendong wanita hamil dan berteriak:

“Dokter! Cepat! Istri saya kesakitan sekali!”

Wajah pria itu terasa begitu familiar.

Dan dalam satu detik, hatiku hancur berkeping-keping.

Pria itu…

adalah suamiku sendiri, Rafael.

Ia menggendong wanita muda itu—wanita yang pernah kulihat di beberapa foto di ponselnya. Aku pernah bertanya siapa dia, dan Rafael hanya menjawab santai, “Namanya Rose, cuma rekan kerja. Jangan khawatir.”

Namun sekarang, “rekan kerja” itu meringis kesakitan dengan wajah pucat sambil berbisik:

“Rafael… sakit sekali… suamiku…”

Aku hanya berdiri mematung.

Semua suara di sekitarku seolah menghilang.

Yang bisa kudengar hanya detak jantungku sendiri dan rasa mati rasa yang menjalar ke seluruh tubuhku.

Seorang perawat mendorong stretcher mendekat. Rafael dengan hati-hati membaringkan wanita itu di atasnya dan, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, langsung mengikuti mereka masuk.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Saat air mata pertama jatuh, aku justru tertawa pelan—tawa paling dingin dan pahit yang pernah keluar dari mulutku.

Bertahun-tahun cinta.

Begitu banyak pengorbanan.

Dan pada akhirnya, inilah yang kudapatkan:

Aku datang sendirian untuk kontrol kehamilan sambil memegangi perutku…

sementara suamiku memanggil wanita lain sebagai istrinya.

Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin rumah sakit memenuhi paru-paruku. Kubiarkan air mata itu mengering dengan sendirinya di pipi. Perlahan, aku berdiri, membenarkan posisi tas rajut di bahuku, lalu berjalan melewati pintu kaca IGD tanpa menoleh lagi.

Di dalam pikiranku, skenario perceraian biasa yang penuh air mata dan drama langsung kuhapus. Itu terlalu klise. Dan terlalu mudah untuk pengkhianat seperti mereka. Mereka ingin menjadi sepasang suami istri? Aku akan memberikan panggungnya.

Langkah pertamaku dimulai sore itu juga. Aku tidak pulang ke rumah kami, melainkan menyewa taksi menuju kantor firma hukum milik pamanku, seorang pengacara korporat paling disegani di Jakarta.

Langkah Pertama: Memotong Akar Pohon

“Aline? Ada apa dengan wajahmu? Dan kenapa kamu ke sini sendirian dengan perut besar begitu?” Paman kaget saat aku melangkah masuk ke ruang kerjanya.

Aku tidak menangis. Aku hanya meletakkan ponselku di mejanya. Di dalamnya sudah ada rekaman video singkat yang sempat kuambil secara sembunyi-sembunyi di IGD tadi—Rafael yang panik berteriak “Istri saya kesakitan!” sambil memegangi tangan Rose.

“Paman, aku ingin mencabut seluruh hak pengelolaan Rafael di perusahaan peninggalan Papa. Dan aku ingin semua aset atas namaku dikunci total malam ini juga,” kataku, suaraku terdengar begitu tenang hingga membuat pamanku merinding.

Rafael menduduki jabatan Direktur Utama di perusahaan kosmetik milik almarhum ayahku semata-mata karena dia adalah suamiku. Rumah mewah yang dia tempati, mobil sport yang dia kendarai, bahkan kartu kredit yang kemungkinan besar ia gunakan untuk membiayai kehamilan Rose—semuanya bersumber dari rekening pribatuku.

“Aset perusahaan bisa dialihkan dalam waktu 24 jam karena semua saham mayoritas mutlak milikmu, Aline. Tapi bagaimana dengan rumah?” tanya Paman.

“Biarkan dia di sana dulu bersama Rose. Aku ingin mereka merasa di atas angin sebelum semuanya runtuh,” jawabku sambil tersenyum tipis.

Langkah Kedua: Sambutan Hangat untuk “Istri” Baru

Malam harinya, Rafael baru pulang pukul sebelas malam. Wajahnya tampak luar biasa lelah, namun ada binar kelegaaan di matanya. Aku tahu dari orang kepercayaanku di rumah sakit bahwa Rose mengalami gejala kontraksi palsu akibat stres, dan kandungannya yang baru berjalan empat bulan dinyatakan aman.

“Aline? Kamu belum tidur?” tanya Rafael, tampak sedikit terkejut melihatku duduk di ruang tengah yang remang-remang sambil melipat baju bayi.

“Belum, Mas. Menunggumu,” kataku lembut, memamerkan senyuman paling manis yang pernah kuberikan padanya. “Bagaimana kerjaan di kantor? Sangat sibuk?”

“Ah… iya. Banyak proyek luar kota yang harus kuurus. Maaf ya, tadi siang tidak bisa menemanimu kontrol,” katanya sambil mengecup puncak kepalaku—sebuah kecupan palsu yang kini terasa seperti racun di kulitku.

“Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti,” aku mendongak, menatap matanya dengan penuh binar kerinduan yang sengaja kubuat-buat. “Oh ya, Mas. Aku baru saja mentransfer bonus kuartalan perusahaan ke rekening pribadimu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah bekerja keras.”

Mata Rafael langsung berbinar serakah. “Benarkah? Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik.”

Dia tidak tahu, uang yang kutransfer itu adalah umpan terakhir. Jumlahnya cukup besar untuk membuat seseorang menjadi jemawa, namun sudah ditandai oleh tim auditor baruku sebagai ‘dana talangan pribadi’ yang harus dikembalikan seketika jika dia dicopot dari jabatannya.

Langkah Ketiga: Panggung Sandiwara Dimulai

Dua minggu berlalu dengan ketenangan yang mencekam. Aku bersikap layaknya istri yang sangat penurut dan lemah. Aku bahkan sengaja mengeluh sering sakit kepala dan ingin menghabiskan sisa dua bulan kehamilanku di rumah peristirahatan ibuku di Bandung agar bisa beristirahat total.

Rafael tentu saja menyambut ide itu dengan sukacita yang nyaris tidak bisa dia sembunyikan. Baginya, kepergianku ke Bandung adalah lampu hijau untuk membawa Rose masuk ke rumah kami di Jakarta.

Tepat tiga hari setelah aku berada di Bandung, orang kepercayaanku mengirimkan foto: Rose sudah pindah ke rumah utamaku, duduk di sofa favoritku, dan mengenakan salah satu daster sutra milikku.

Aku melihat foto itu sambil mengelus perutku yang kini memasuki usia delapan bulan. “Lihat, Sayang. Mereka sudah masuk ke dalam jebakan,” bisikku pada bayiku.

Hari yang kunantikan akhirnya tiba saat usia kandunganku menyentuh sembilan bulan, tepat seminggu sebelum jadwal operasi sesarku.

Pagi itu, sebuah kurir ekspres mengetuk pintu rumah mewah di Jakarta. Rose yang membukanya, mengira itu adalah paket belanjaan mewahnya yang biasa. Namun, yang dia terima adalah selembar surat somasi resmi dari pengadilan dan surat pemecatan mutlak untuk Rafael.

Di saat yang sama, seluruh fasilitas kartu kredit Rafael diblokir. Mobil mewah yang terparkir di garasi ditarik oleh pihak leasing karena kepemilikannya terikat atas nama perusahaan keluargaku.

Panik, Rafael mencoba menghubungi nomor ponselku, namun nomornya sudah dialihkan langsung ke ruang sidang pamanku.

Epilog

Hari persidangan perdana sekaligus pembacaan putusan pemecatan Rafael bertepatan dengan hari kedua setelah aku melahirkan putri kecilku yang cantik.

Aku menghadiri sengketa aset itu melalui panggilan video dari ruang VIP rumah sakit, menggendong bayiku yang sehat dalam pelukan. Di layar monitor, aku bisa melihat wajah Rafael yang berantakan. Tidak ada lagi setelan jas mahal Armani. Wajahnya kuyu, rambutnya acak-akan, dan dia tampak menua sepuluh tahun.

Tanpa jabatan, tanpa aset, dan dengan tumpukan utang dana talangan yang harus dia kembalikan ke perusahaanku dalam waktu 30 hari, Rafael resmi dinyatakan bangkrut secara finansial.

Di sebelahnya, Rose duduk dengan wajah pucat, terus-menerus menangis hancur. Dia baru menyadari bahwa pria yang dia rebut bukanlah seorang miliarder, melainkan seorang pria yang seluruh harga dirinya dibeli oleh uang istrinya. Tanpa uangku, Rafael tidak bisa membiayai rumah sakit mahalnya, tidak bisa membelikan tas branded-nya, bahkan tidak bisa membayar sewa kontrakan petak tempat mereka terpaksa tinggal sekarang.

Sebelum sambungan video diputus, Rafael berteriak ke arah kamera, air matanya luruh memohon ampun. “Aline! Tolong aku, Aline! Aku ayah dari anakmu! Aku khilaf, Rose yang merayuku! Tolong cabut gugatannya!”

Aku hanya menatap layar dengan senyuman paling tenang, senyuman yang sama seperti saat aku berdiri di depan IGD hari itu.

“Kamu benar, Rafael. Kamu adalah ayah dari anakku. Karena itu, aku membiarkanmu tetap hidup untuk melihat bagaimana anak ini akan tumbuh besar, kaya, dan bahagia… tanpa pernah tahu bahwa ayahnya adalah seorang pengemis yang tinggal di pinggiran kota.”

Klik.

Layar mati. Aku menunduk, mencium pipi bayi perempuanku yang tertidur pulas. Mereka menginginkan kebahagiaan bersama? Sekarang mereka mendapatkannya—kebahagiaan dalam kemiskinan dan saling menyalahkan seumur hidup mereka.