AKU PIKIR SUAMIKU PERGI KE BALI UNTUK “MENYELAMATKAN KRISIS PERUSAHAAN.”
SAMPAI ANAKKU YANG BERUSIA EMPAT TAHUN TANPA SENGAJA MELAKUKAN VIDEO CALL DARI SEBUAH VILA PANTAI MEWAH…
DAN WANITA YANG MEMAKAI JUBAH MANDI SUAMIKU ADALAH SEPUPUKU SENDIRI.
Namaku Daniela Reyes.
Usiaku tiga puluh dua tahun.
Aku tinggal di Jakarta bersama suamiku, Marcus Villanueva, dan putri kami yang berusia empat tahun, Chloe.
Di mata semua orang, kami adalah keluarga sempurna.
Marcus adalah CEO muda dari jaringan resort mewah terkenal di Indonesia.
Sementara aku hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tinggal di rumah untuk mengurus anak.
Yang tidak diketahui kebanyakan orang…
uang yang digunakan Marcus untuk membangun resort pertamanya dulu berasal langsung dari keluargaku.
Ayahku dulu adalah pemegang saham besar di Reyes Holdings, salah satu perusahaan pariwisata terbesar di Indonesia.
Ketika beliau meninggal, diam-diam aku menjual saham milikku sendiri demi membantu Marcus mewujudkan impiannya.
Aku tidak pernah menyesalinya.
Karena aku benar-benar mencintainya.
Sampai akhirnya semuanya mulai berubah.
Sudah hampir tiga bulan Marcus bolak-balik ke Bali karena katanya ada krisis keuangan di cabang baru mereka.
Bahkan ada minggu-minggu di mana dia terbang ke sana sampai empat kali.
Setiap kali aku mencoba video call, dia selalu menolaknya.
— Aku lagi meeting.
— Sinyal di sini jelek.
— Tidur dulu ya, sayang.
Aku berusaha percaya.
Sampai sore itu.
Aku sedang online meeting dengan kepala sekolah preschool Chloe ketika iPad anakku tiba-tiba berdering.
Aku tersenyum dan langsung mengangkatnya.
Tapi saat kamera menyala…
rasanya jantungku berhenti berdetak.
Chloe duduk di kursi santai putih di samping infinity pool.
Di belakangnya berdiri vila pantai yang luar biasa mewah.
Suara ombak terdengar sangat jelas.
— Mommy lihat! Rumah Daddy besar banget!
Dadaku langsung terasa sesak.
— Chloe… kalian di mana?
Dengan riang anakku memutar kamera.
Dan pada detik itulah…
aku melihat Marcus.
Dia berdiri di balkon.
Tanpa baju.
Dan ada bekas lipstik merah terang di lehernya.
Seorang wanita mendekat dari belakang lalu memeluk pinggangnya.
Rambut panjang.
Manikur warna nude.
Dan gelang berlian kupu-kupu yang kuberikan untuk ulang tahunnya tahun lalu.
Vanessa.
Sepupuku sendiri.
Hampir saja ponselku jatuh karena syok.
Telingaku berdenging.
Tapi Chloe masih berbicara polos:
— Daddy bilang nanti kita tinggal di sini sama Tante Vanessa!
Tubuhku langsung terasa dingin.
Vanessa adalah satu-satunya sepupu yang kuanggap seperti saudara kandung sendiri.
Saat dia kehilangan pekerjaan di Surabaya, akulah yang membiarkannya tinggal di penthouse-ku hampir setahun penuh.
Aku juga yang memasukkannya bekerja di perusahaan Marcus.
Tapi ternyata…
Dengan tangan gemetar aku mematikan panggilan itu.
Sepuluh menit kemudian, notifikasi bank masuk.
Rp4.100.000.000
PEARL COAST PRIVATE VILLA – BALI
Catatan pembayaran:
“Pembayaran uang muka untuk acara pernikahan di tepi pantai.”
Pernikahan?
Aku hanya menatap layar.
Rasanya darahku membeku.
Lalu…
perlahan aku membuka laptop lama perusahaan peninggalan ayahku.
Aku masuk ke sistem pemegang saham Villanueva Resorts.
Dan di bawah tulisan “Transfer Otoritas Eksekutif”…
tertera nama Vanessa Reyes di samping nama Marcus.
Tanggal efektif:
Tiga hari dari sekarang.
Aku tertawa.
Tawa dingin dan pahit yang bahkan tidak kukenali.
Jadi mereka bukan hanya selingkuh di belakangku.
Mereka juga berencana merebut perusahaan yang dibangun keluargaku untuk Marcus.
Malam itu aku tidak menangis.
Aku hanya diam-diam menelepon pengacara lama keluarga kami.
Setelah itu aku memesan tiket ke Bali menggunakan nama lain.
Keesokan paginya.
Aku berdiri di depan Pearl Coast Villa sementara cahaya matahari menyilaukan memantul di laut.
Seluruh tempat dipenuhi bunga putih.
Para staf sibuk mempersiapkan pesta pertunangan.
Dari kejauhan aku mendengar tawa Vanessa.
— Aku mau panggungnya menghadap laut. Aku ingin semua orang tahu kalau sekarang akulah Mrs. Villanueva yang sebenarnya.
Marcus memeluk pinggangnya.
— Tinggal beberapa hari lagi. Daniela akan kehilangan semuanya.
Aku berdiri di balik deretan pohon kelapa tinggi.

Diam.
Dingin.
Sambil memperhatikan mereka berdua.
Lalu perlahan aku mengeluarkan ponselku.
Dan menelepon seseorang.
— Mulai sekarang.
Pada detik yang sama…
layar LED raksasa di tengah venue tiba-tiba menyala.
Dan video rahasia yang baru saja dikirim tim investigasi pribadiku…
mulai diputar di depan semua tamu.
Layar LED raksasa berukuran 6×4 meter di tengah venue tepi pantai itu tiba-tiba berkedip terang. Musik romantis instrumental yang tadinya mengalun lembut, mendadak mati dan digantikan oleh suara desahan serta obrolan intim yang menggema lewat pelantang suara berdaya besar.
Semua kru dekorasi, staf resor, serta beberapa tamu undangan VIP dari kalangan sosialita Bali yang sudah datang lebih awal seketika menghentikan aktivitas mereka. Pandangan semua orang terpaku pada layar.
Di sana, terpampang video dengan kualitas high-definition. Bukan video romantis biasa, melainkan rekaman kamera tersembunyi di dalam kamar utama vila tersebut. Terlihat jelas Marcus dan Vanessa sedang menghitung tumpukan dokumen audit, diselingi kemesraan yang menjijikkan. Suara mereka terdengar sangat jernih:
“Kalau Daniela menolak menandatangani surat cerai dan pelepasan aset, kita pakai saja dokumen palsu ini. Hak asuh Chloe juga akan jatuh ke tangan kita. Perempuan bodoh itu tidak punya uang lagi setelah saham Reyes Holdings-nya habis kuperas,” ujar suara Marcus di dalam video, tertawa meremehkan.
Wajah Vanessa di dalam rekaman itu tersenyum licik. “Tentu saja, Sayang. Biarkan dia membusuk di Jakarta tanpa sepeser pun. Lagipula, semua resort ini sekarang atas namaku.”
Suasana di Pearl Coast Villa mendadak hening seperti kuburan.
Vanessa yang tadinya sedang tertawa manja di pelukan Marcus langsung membeku. Gelas sampanye di tangannya jatuh, pecah berantakan di atas lantai kayu dermaga. Wajahnya yang penuh riasan mahal mendadak berubah pucat pasi, sekuning kain kafan.
“M-Marcus… apa-apaan itu?! Matikan! CEPAT MATIKAN!” jerit Vanessa histeris, suaranya melengking panik ke arah operator beralih fungsi.
Marcus terbelalak, urat-urat di pelipisnya menonjol karena terkejut dan murka. “Siapa yang menyalakan itu?! Sialan, matikan dayanya sekarang!” teriaknya pada para staf yang kini menatap mereka dengan pandangan jijik dan berbisik-bisik.
“Tidak ada yang bisa mematikannya, Marcus. Sistemnya sudah kukunci dari server pusat Jakarta.”
Suara langkah kakiku yang tegas terdengar di atas lantai kayu, memecah kepanikan mereka. Aku melangkah keluar dari balik bayangan pohon kelapa. Aku mengenakan kacamata hitam, gaun linen putih yang elegan, dan menggandeng tangan Chloe yang tampak ceria. Di belakangku, tampak Pak kurniawan, pengacara senior mendiang ayahku, diikuti oleh empat orang pria berseragam dinas dari Direktorat Jenderal Pajak dan Kepolisian Daerah Bali.
“Daniela?!” Marcus mundur satu langkah, matanya hampir melompat keluar dari rongganya. “K-kamu… sejak kapan kamu di sini?!”
“Mommy!” Chloe melepaskan genggamanku dan berlari kecil menghampiriku. “Look! Tante Vanessa pakai baju tidur Daddy!”
Aku mengusap kepala Chloe lembut, lalu menatap lurus ke arah sepasang pengkhianat di hadapanku. Aku menurunkan sedikit kacamata hitamku, memperlihatkan tatapan mataku yang sedingin es.
“Hai, Vanessa. Bagaimana rasanya memakai jubah mandi suamiku? Apakah senyaman penthouse-ku yang kau tumpangi secara gratis selama satu tahun?” tanyaku dengan nada bicara yang teramat tenang—ketenangan yang justru membuat bulu kuduk semua orang merinding.
Vanessa gemetar hebat, tangannya yang memakai gelang berlian kupu-kupu pemberianku mencoba menutupi wajahnya dari sorotan kamera ponsel para tamu yang mulai merekam kejadian ini. “Daniela, ini… ini semua salah paham! Aku bisa jelaskan—”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Sepupu,” aku memotong kalimatnya dengan tajam.
Aku menoleh pada Pak Kurniawan, yang langsung membuka koper kulitnya dan mengeluarkan beberapa dokumen resmi berlogo garuda.
“Marcus Villanueva,” Pak Kurniawan angkat bicara dengan suara baritonnya yang berwibawa. “Klien saya, Ibu Daniela Reyes, hari ini resmi mengajukan gugatan cerai atas dasar perzinaan dan kekerasan psikis. Namun, itu baru pembuka.”
Pak Kurniawan menyerahkan lembaran dokumen berikutnya kepada petugas pajak di sebelahnya.
“Tiga jam yang lalu, seluruh aset Villanueva Resorts telah dibekukan oleh negara. Mengapa? Karena modal awal yang Anda gunakan untuk membangun resort ini statusnya adalah ‘Utang Piutang Pribadi’ beragun aset saham milik keluarga Reyes, bukan hibah. Dan mengenai dokumen ‘Transfer Otoritas Eksekutif’ atas nama Vanessa Reyes yang kalian buat…”
Aku melangkah maju, merampas dokumen pernikahan pantai yang ada di meja depan Vanessa, lalu merobeknya menjadi dua bagian tepat di depan wajahnya.
“…Dokumen itu tidak sah. Karena tanda tangan komisaris utama di dalam sistem perusahaan masih mutlak milikku. Dan pagi ini, aku sudah mencopotmu dari jabatan CEO, Marcus. Kamu dipecat dari perusahaan yang kubangun dengan uang ayahku.”
“Daniela! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!” Marcus berteriak frustrasi, mencoba merangsek maju untuk mencengkeram bahuku. “Aku yang membesarkan nama resort ini! Tanpa aku, tempat ini bukan apa-apa!”
Namun sebelum tangannya menyentuhku, dua petugas polisi langsung menghadangnya dengan tegas.
“Saudara Marcus Villanueva dan Saudari Vanessa Reyes,” ujar salah satu penyidik kepolisian. “Kalian berdua juga dilaporkan atas dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen otentik korporasi, penggelapan dana perusahaan sebesar Rp12 miliar untuk kepentingan pribadi, serta konspirasi penipuan aset perwalian anak di bawah umur.”
KLIK.
Dua pasang borgol besi yang dingin berbunyi serentak, mengunci pergelangan tangan Marcus dan juga tangan Vanessa yang masih memakai gelang kupu-kupu emas milikku.
“Daniela! Tolong aku! Aku sepupumu! Kita ini keluarga!” jerit Vanessa, air matanya merusak riasan pengantinnya yang mahal. Dia berlutut di atas lantai kayu, menangis meraung-raung saat polisi mulai menyeretnya menjauh dari area venue.
Marcus tidak lagi bersuara. Alih-alih melawan, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk. Harga dirinya sebagai CEO muda yang agung runtuh total dalam waktu kurang dari lima belas menit di depan kolega bisnisnya sendiri.
Aku menatap mereka berdua yang diseret menembus kerumunan orang, tanpa ada rasa kasihan sedikit pun di hatiku. Rasa cinta yang kupelihara selama bertahun-tahun telah mati total sejak sore kemarin.
Aku berbalik, menggendong Chloe di pelukanku, lalu menatap ke arah laut lepas Bali yang biru dan tenang.
“Mommy, kita mau ke mana?” tanya Chloe polos sambil memeluk leherku.
Aku tersenyum manis, mencium pipinya yang gembul. “Kita mau pulang ke rumah kita sendiri, Sayang. Rumah yang bersih dari orang-orang jahat.”
Tiga hari dari sekarang, namaku akan kembali bertengger sebagai pemilik tunggal Reyes-Villanueva Holdings. Pesta pertunangan mereka yang mewah hari ini berubah menjadi pengantar resmi menuju sel tahanan. Mereka ingin menyingkirkanku dan mengambil segalanya? Silakan nikmati sisa hidup mereka di balik jeruji besi, meratapi kebodohan karena telah mengusik seorang Daniela Reyes.