AKU DIPAKSA HIDUP DENGAN BONUS AKHIR TAHUN SEBESAR RP290 JUTA, TAPI MALAM ITU AKU MENDENGAR SEBUAH PANGGILAN TELEPON YANG MENGHANCURKAN TUJUH TAHUN PERNIKAHANKU — DAN WANITA DI SEBERANG TELEPON ITU BUKAN IBU MERTUAKU… MELAINKAN ORANG YANG TAK PERNAH KUSANGKA**
Pada akhir tahun, aku menerima bonus sebesar **Rp290 juta**.
Namun saat pulang ke rumah, aku hanya mengatakan kepada suamiku bahwa aku menerima bonus sebesar **Rp17 juta**.
Bukan karena aku pelit.
Melainkan karena selama tujuh tahun pernikahan kami, ada satu hal yang sudah kupelajari dengan sangat baik.
Setiap kali keluarga suamiku mengetahui bahwa aku memiliki uang, tidak lama kemudian pasti akan ada yang datang meminjam.
Kadang adik laki-lakinya yang ingin membuka usaha kecil.
Kadang bibinya yang membutuhkan biaya pengobatan.
Kadang sepupunya yang kehilangan pekerjaan dan membutuhkan modal.
Alasannya selalu sama.
— Hanya pinjam sebentar.
Namun tidak satu pun dari mereka yang pernah mengembalikan uang itu.
Selama tujuh tahun, jumlah uang yang kupinjamkan sudah cukup untuk membeli sebuah rumah kecil.
Dan apa balasannya?
Kalimat-kalimat yang terus berulang.
— Kita keluarga.
— Kamu terlalu perhitungan.
— Nanti juga bisa cari uang lagi.
Karena itulah, kali ini aku memilih menyimpan rahasia.
Begitu menerima bonus, aku langsung memindahkan sebagian besar uang itu ke rekening terpisah.
Itulah pertama kalinya aku menyisihkan uang untuk diriku sendiri.
Kupikir aku sudah cukup berhati-hati.
Sampai malam itu tiba.
…
Aku dan suamiku makan malam di sebuah restoran keluarga.
Aku memperhatikan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Dia begitu baik sepanjang malam.
Terus-menerus mengambilkan makanan untukku.
Terus-menerus memujiku atas kerja keras di kantor.
Dan yang paling aneh, dia sendiri yang mengusulkan agar kami berlibur akhir pekan depan.
Aku merasa heran.
Karena pria ini terkenal sangat hemat.
Bahkan pada ulang tahunku tahun lalu, hadiah yang diberikannya hanyalah kue diskon.
Namun malam ini, dia seperti orang yang berbeda.
Di tengah makan malam, ponselnya berdering.
Dia melihat layar.
Ekspresinya langsung berubah.
Lalu dia berdiri.
— Sebentar, aku harus menelepon seseorang.
Aku mengangguk.
Namun lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Dia belum juga kembali.
Perasaan tidak enak mulai merayap ke dalam dadaku.
Aku berdiri lalu berjalan menuju lorong.
Dari kejauhan, aku melihatnya berdiri di dekat pintu darurat.
Suaranya pelan.
Tetapi cukup jelas untuk menangkap beberapa kalimat.
— Jangan khawatir.
— Dia sudah menerima bonusnya.
— Aku akan mendapatkan uang itu juga.
Tubuhku langsung terasa dingin.
Siapa yang dia maksud?
Aku hendak mendekat.
Namun sebelum sempat bergerak, dia kembali berkata:
— Tinggal sedikit lagi.
— Setelah rumah yang atas namanya berhasil dialihkan, kita tidak perlu berpura-pura lagi.
Seolah ada air es yang disiramkan ke kepalaku.
Berpura-pura?
Berpura-pura apa?
Berpura-pura menjadi suamiku?
Jantungku berdetak begitu kencang.
Aku bersandar ke dinding.
Dari seberang telepon terdengar tawa seorang wanita.
Suara itu sangat familiar.
Terlalu familiar.
Begitu familiar hingga aku hampir tidak percaya.
Wanita itu tertawa lalu berkata:
— Aku sudah menunggu selama tujuh tahun.
— Aku bisa menunggu beberapa minggu lagi.
— Yang penting pada akhirnya semuanya menjadi milik kita.
Saat mendengar suara itu…
Ponselku terlepas dari genggaman.
Jatuh keras ke lantai.
Karena wanita itu…
Bukan orang asing.
Bukan rekan kerja.
Bukan pula teman lama.
Melainkan seseorang yang selama bertahun-tahun kupanggil kakak.
Seseorang yang sering datang ke rumah kami.
Seseorang yang memelukku dan berkata bahwa kami sudah seperti saudara kandung.
Seseorang yang sangat kupercaya.
Suamiku langsung menoleh saat mendengar suara benda jatuh.
Mata kami bertemu.
Dan wajahnya seketika pucat.
Sementara aku…
Hanya berdiri diam.
Menatap pria yang telah kucintai selama tujuh tahun.
Lalu perlahan aku mengangkat ponselku.
Karena tanpa dia sadari…
Aplikasi perekam di ponselku telah merekam seluruh percakapan mereka.
Namun hal yang paling mengerikan…
Bukan isi pembicaraan itu.
Melainkan nama yang kulihat di layar ponselnya.
Nama yang seharusnya tidak pernah muncul.
Nama seseorang yang sudah lama dinyatakan hilang.
Dan orang itulah…
Yang sedang berbicara dengannya saat ini.
Aku menatap nama itu.
Rasanya darah berhenti mengalir di tubuhku.
Sementara suamiku berjalan cepat ke arahku untuk merebut ponselku.
Aku hanya menatapnya dan bertanya:

— Jika dia masih hidup…
— Lalu siapa orang yang meninggal waktu itu?
Dalam sekejap.
Warna wajahnya benar-benar berubah
Suamiku membeku. Langkahnya terhenti tepat dua meter di depanku. Tangannya yang terulur untuk merebut ponselku perlahan turun, gemetar hebat. Di koridor restoran yang sepi itu, keheningan mendadak terasa mencekik.
Nama yang berkedip di layar ponselnya—yang sempat kulihat sebelum layarnya menggelap—adalah Citra.
Kakak kandungku sendiri.
Lima tahun lalu, sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol menghanguskan sebuah mobil hingga tak bersisa. Polisi menemukan barang-barang Citra, dan sebuah jenazah yang telah rusak parah diidentifikasi sebagai dirinya. Kami sekeluarga menangis histeris. Aku bahkan mendampingi suamiku yang ikut memeluk peti matinya dengan air mata yang tampak begitu tulus.
Tapi malam ini, suara yang keluar dari speaker ponsel itu tidak salah lagi adalah suara Citra. Dan nama kontak di ponsel suamiku tertulis: “Citra-ku”.
“K-kamu salah dengar,” bisik suamiku, suaranya serak, mencoba mendekat dengan senyum yang dipaksakan. “Itu… itu rekan bisnisku. Namanya kebetulan sama.”
“Jangan bohong, Mas!” bentakku, air mata akhirnya tumpah, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membakar dada. “Aku merekam semuanya. Aku mendengar suaranya. Tujuh tahun, Mas… Tujuh tahun aku menghidupi keluargamu, dan ternyata selama lima tahun ini kamu menyembunyikan fakta bahwa kakakku masih hidup? Dan kalian berencana merampas rumah atas namaku?!”
Begitu kedoknya terbuka, ekspresi memelas di wajah suamiku mendadak hilang. Berganti dengan tatapan dingin yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun pernikahan kami. Dia menegakkan tubuhnya, mendengus sinis.
“Kalau kamu sudah tahu, baguslah,” ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lagipula, rumah ini dibeli dengan uang yang seharusnya menjadi hak Citra. Sebelum dia ‘menghilang’, kamulah yang merebut posisinya di perusahaan hingga dia stres dan memilih pergi bersamaku!”
Aku ternganga. Warisan dan posisi di perusahaan keluarga dulu memang jatuh kepadaku karena Citra terbukti melakukan penggelapan dana. Ternyata, kelicikannya tidak pernah mati. Dia memalsukan kematiannya, menggunakan identitas orang lain (yang entah siapa korban malang di peti mati lima tahun lalu), dan memanfaatkan suamiku untuk menguras hartaku dari dalam.
“Bonus Rp290 juta itu…” Masih dengan sisa-sisa kelicikannya, suamiku menatap saku bajuku. “Berikan padaku. Setidaknya itu bisa mempercepat proses perceraian kita tanpa aku harus menyentuh rumahmu.”
Aku menghapus air mataku secara kasar. Rasa sakit itu mendadak hilang, digantikan oleh keberanian yang dingin. Aku tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat suamiku mengerutkan kening heran.
“Kamu mau uang Rp290 juta itu?” kataku sambil mengangkat ponselku yang masih menyala, menampilkan indikator bahwa rekaman suara tadi telah otomatis tersinkronisasi ke cloud storage keluarga. “Ambil saja di kantor polisi.”
“Apa maksudmu?!”
“Kalian tidak hanya berencana menipuku, Mas. Kalian terlibat dalam pemalsuan identitas, konspirasi kriminal, dan siapa tahu… pembunuhan berencana terkait jenazah lima tahun lalu.” Aku melangkah mundur, menjauh darinya. “Aku hanya mengatakan padamu bonusku Rp17 juta, karena sisanya sudah kugunakan sore tadi untuk membayar pengacara terbaik dan detektif swasta karena aku curiga dengan gerak-gerikmu seminggu ini. Dan rekaman malam ini? Ini adalah paku terakhir di peti mati kalian berdua.”
Wajah suamiku seketika berubah menjadi seputih kertas. Dia baru menyadari bahwa wanita yang dia remehkan selama tujuh tahun ini bukanlah mangsa yang lemah.
“Jangan lakukan ini, kita bisa bicarakan baik-baik!” serunya panik, mencoba mengejarku.
Namun terlambat. Dua orang pria berbadan tegap—detektif swasta yang memang sudah kuupah untuk mengawasiku malam ini—langsung muncul dari balik pintu restoran, menghadang langkah suamiku dengan tegas.
Aku berbalik, berjalan keluar dari restoran itu tanpa menoleh lagi.
Malam itu, tujuh tahun pernikahanku hancur berkeping-keping. Namun di atas puing-puing pengkhianatan itu, aku berdiri tegak. Dengan Rp273 juta tersisa di rekening rahasiaku, kebenaran di tanganku, dan seluruh bukti kejahatan mereka yang siap kuserahkan ke pihak berwajib besok pagi, aku tahu… ini bukanlah akhir dariku.
Ini adalah awal dari pembalasan duniaku, dan akhir dari permainan menjijikkan mereka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.