Posted in

PRIA YANG AKAN MENIKAHIKU MEMAKSAKU MENGGUGURKAN ANAK KAMI DEMI MENYELAMATKAN WANITA LAIN**

PRIA YANG AKAN MENIKAHIKU MEMAKSAKU MENGGUGURKAN ANAK KAMI DEMI MENYELAMATKAN WANITA LAIN**

**Aku menghilang diam-diam pada suatu malam yang diguyur hujan. Tiga tahun kemudian, dia berlutut di depan sebuah taman kanak-kanak saat melihat seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengannya.**

Tiga bulan sebelum pernikahan.

Aku berada di sebuah klinik kandungan.

Dokter tersenyum sambil meletakkan foto USG di atas meja.

— Selamat. Bayi Anda sehat.

Aku menatap sosok kecil yang bergerak di layar.

Air mataku langsung mengalir karena kebahagiaan yang tak tertahankan.

Aku segera menelepon pria yang akan menjadi suamiku.

Pria yang telah kucintai selama enam tahun.

Pria yang berjanji memberiku rumah.

Sebuah keluarga.

Kehidupan yang tenang dan bahagia.

Namun telepon itu berdering lama.

Tidak ada jawaban.

Malam harinya.

Dia pulang sangat larut.

Aku berlari ke pintu sambil memegang foto USG.

— Aku hamil.

Aku menatapnya sambil tersenyum.

— Kita akan punya anak.

Tetapi…

Dia hanya berdiri di sana.

Tak ada sedikit pun kebahagiaan di wajahnya.

Sebaliknya.

Wajahnya justru memucat.

Jantungku langsung berdegup kencang.

— Ada apa?

tanyaku.

Dia menatap foto USG itu.

Lalu menatapku.

Lama sekali sebelum akhirnya berbicara.

— Anak itu tidak boleh lahir.

Seolah pendengaranku hilang.

— Apa?

— Gugurkan dia.

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.

— Kenapa?

Dia membalikkan badan.

— Karena aku akan menikah.

Aku membeku.

Butuh beberapa detik sebelum aku bisa menemukan suaraku kembali.

— Bukankah kita yang akan menikah?

Dia tersenyum pahit.

Senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya.

— Bukan denganmu.

— Dengan wanita lain.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa terduduk di lantai.

Yang kuingat hanyalah pikiranku benar-benar kosong.

Enam tahun cinta.

Tiga tahun bertunangan.

Aku pikir aku mengenalnya sepenuhnya.

Ternyata aku salah.

Dari mulutnya sendiri.

Aku mengetahui kenyataan yang kejam.

Keluarganya berada di ambang kebangkrutan.

Bisnis mereka terlilit utang.

Dan untuk menyelamatkan semuanya.

Dia harus menikahi putri dari keluarga yang sangat kaya.

Pernikahan demi uang.

Pernikahan yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Dan aku.

Bersama anak kami yang berada di dalam kandunganku.

Adalah penghalang terbesar.

Hari-hari berikutnya.

Aku seperti jiwa yang berjalan tanpa arah.

Sementara dia sibuk mempersiapkan pernikahannya.

Aku melihat berita.

Foto-foto mereka bersama.

Ribuan ucapan selamat.

Bahkan cincin yang dulu dia pasangkan di jariku.

Kini berada di tangan wanita lain.

Sampai suatu malam.

Tanpa sengaja aku mendengar percakapannya dengan ibunya.

Aku berdiri di luar ruang kerja.

Dan mendengar setiap kata dengan jelas.

— Dia masih menolak menggugurkan anak itu.

— Bagaimana kalau dia melahirkan?

Suaranya terdengar dingin.

— Tidak boleh.

— Anak itu tidak boleh muncul ke dunia.

— Keluarga calon istriku tidak akan menerimanya.

— Aku sudah berbicara dengan rumah sakit.

— Bawa saja dia ke sana.

Tubuhku gemetar.

Ibunya bertanya:

— Bagaimana kalau dia menolak?

Dia terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab.

— Paksa dia.

Hanya satu kata.

Tetapi cukup untuk menghancurkan seluruh duniaku.

Malam itu.

Aku berkemas.

Hanya beberapa pakaian.

Sedikit tabungan.

Dan buku catatan lama peninggalan ibuku.

Di luar.

Hujan turun sangat deras.

Aku berdiri di depan mansion itu.

Menatap rumah yang pernah kuanggap sebagai tempat pulang.

Lalu.

Perlahan aku meletakkan cincin pertunangan di anak tangga.

Dan berbalik.

Berjalan menjauh di tengah hujan.

Tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Tiga tahun kemudian.

Sebuah kota kecil di tepi pantai.

Sore hari.

Aku berdiri di depan taman kanak-kanak.

Menunggu anakku pulang.

Bel berbunyi.

Anak-anak berhamburan keluar.

Seorang bocah laki-laki berlari ke arahku.

— Mommy!

Aku tersenyum dan memeluknya.

— Bagaimana harimu?

— Bu Guru memujiku!

— Aku juga menggambar hari ini!

ceritanya dengan riang.

Pada saat itu.

Sebuah mobil hitam mewah berhenti di pinggir jalan.

Pintunya terbuka.

Seorang pria turun.

Memakai setelan jas hitam.

Tinggi.

Tampan.

Namun ada jejak kelelahan di wajahnya.

Aku langsung mengenalinya.

Pria yang pernah kucintai.

Pria yang ingin menghilangkan nyawa anaknya sendiri.

Dia juga melihatku.

Dan langsung terdiam.

Tetapi bukan aku yang terus dia tatap.

Melainkan anak kecil yang berdiri di sampingku.

Anakku menoleh.

Sinar matahari menyentuh wajahnya.

Matanya.

Hidungnya.

Alisnya.

Bahkan cara berdirinya.

Hampir merupakan salinan sempurna dari pria itu.

Seperti bayangan di cermin.

Tas kerjanya jatuh dari tangannya.

Wajahnya memucat.

Dia melangkah perlahan mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Matanya tak pernah lepas dari anak itu.

Suaranya bergetar.

— Umurnya berapa?

Aku menggenggam tangan anakku lebih erat.

Aku tidak menjawab.

Namun anak itu dengan polos mengangkat tiga jari.

— Aku sudah tiga tahun.

Pria itu seolah kehilangan keseimbangan.

Tiga tahun.

Tepat tiga tahun.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Pada saat itu.

Seorang wanita turun dari mobil lain.

Memakai gaun desainer.

Dipenuhi perhiasan mahal.

Saat melihat anak itu.

Wajahnya langsung berubah.

Dia buru-buru mendekat.

Lalu memegang lengan pria tersebut.

— Tidak mungkin…

— Ini tidak mungkin…

Dia menatap anak itu seolah melihat hantu.

Karena hanya dia yang mengetahui.

Tiga tahun yang lalu.

Dialah yang diam-diam mengirim orang untuk mencariku.

Dialah yang membayar untuk menghapus semua jejak keberadaanku.

Dan dialah juga.

Yang berbohong bahwa…

Bayi dalam kandunganku telah meninggal.

Namun sekarang.

Anak itu berdiri di sini.

Hidup.

Sehat.

Dan tumbuh dengan baik.

Tiba-tiba anakku menarik ujung bajuku.

Lalu menunjuk ke arah wanita itu.

Dengan suara pelan dia berkata:

— Mommy…

— Itu wanita yang itu, ya?

Seluruh tubuhku membeku.

Begitu juga wanita tersebut.

Karena…

Ini adalah pertama kalinya dia melihat anak itu.

Mustahil anakku mengenalinya.

Kecuali…

Dia pernah melihat wanita itu sebelumnya.

Dan hanya ada satu kesempatan hal itu bisa terjadi.

Pada malam ketika aku hampir kehilangan nyawa.

Saat usia kandunganku delapan bulan.

Dan pengemudi yang melarikan diri setelah kecelakaan itu…

Aku tidak pernah melihat wajahnya.

Sampai detik ini.

Suasana di depan taman kanak-kanak itu mendadak sunyi, sedingin es.

Pernyataan polos anakku memecah keheningan, bagaikan petir di siang bolong.

“Mommy, itu wanita yang menabrak kita waktu hujan besar dulu, kan? Wajahnya ada di dalam mobil merah…” suara anakku berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga kami semua.

Anak kecil memiliki ingatan visual yang luar biasa, terutama pada trauma mendalam yang hampir merenggut nyawanya di dalam kandungan.

Pria itu menoleh lambat-lambat ke arah istrinya. Wajahnya yang semula pucat kini dipenuhi kengerian yang mendalam.

“Apa maksudnya ini, Clarissa?” suaranya bergetar, rendah dan berbahaya.

“T-tidak! Dia bohong! Anak kecil tahu apa?!” wanita itu berteriak histeris, melangkah mundur hingga menabrak pintu mobil mewahnya. Perhiasan mahalnya berdenting, terdengar memuakkan.

Kebenaran yang Terungkap

Segala teka-teki yang terkunci selama tiga tahun akhirnya runtuh berkeping-keping.

Malam itu, saat kandunganku berusia delapan bulan di kota pelarian ini, sebuah mobil tanpa pelat nomor menghantamku di pinggiran jalan yang sepi. Aku selamat berkat mukjizat, dan terpaksa melahirkan bayiku secara prematur.

Aku mengira itu tabrak lari biasa.

Ternyata, itu adalah upaya pembunuhan berencana.

Pria itu mencengkeram bahu istrinya dengan kasar. “Kamu bilang dia keguguran! Kamu bilang anakku sudah mati saat kamu mengirim orang untuk mencarinya! Dan ternyata… kamu sendiri yang mencoba membunuh mereka?!”

“Aku melakukannya demi kita!” wanita itu berteriak histeris, rahasia besarnya terbongkar di tempat terbuka. “Jika wanita jalang ini melahirkan anakmu, reputasi keluarga kita hancur! Pernikahan kita akan jadi lelucon! Aku menyelamatkan bisnis keluargamu!”

Mendengar kata-kata itu, cengkeraman pria itu terlepas. Seluruh dunianya runtuh. Pernikahan ratusan miliar yang dia bela dengan membuang darah dagingnya sendiri, ternyata dibangun di atas darah dan rencana pembunuhan.

Penyesalan yang Terlambat

Dia menatapku dengan mata yang dipenuhi air mata penyesalan. Pria yang dulu memaksaku menggugurkan kandungan demi uang, kini melihat seluruh hidupnya hancur oleh uang yang sama.

Bruk.

Lututnya menghantam aspal. Dia berlutut di depan taman kanak-kanak, tepat di hadapan anak yang dulu ingin dia lenyapkan dari dunia.

“Maafkan aku… Demi Tuhan, maafkan aku…” bisiknya sambil terisak, mencoba meraih ujung sepatu anakku dengan tangan yang gemetar.

Namun, anakku langsung bersembunyi di belakang tubuhku, memeluk kakiku dengan erat karena ketakutan.

Aku menatap pria yang bersimpuh di tanah itu tanpa rasa benci, tanpa rasa marah. Hanya ada rasa asing yang hambar. Enam tahun cinta kami telah mati total di malam aku berjalan menembus hujan tiga tahun lalu.

“Berdiri,” kataku dengan suara datar dan dingin. “Jangan kotori mata anakku dengan air mata palsumu.”

Akhir dari Sebuah Ilusi

Dari kejauhan, sirine mobil polisi mulai terdengar mendekat. Aku tidak pernah menutup kasus tabrak lari tiga tahun lalu; polisi hanya kekurangan bukti dan saksi mata. Hari ini, dengan histeria wanita itu dan pengakuan polos anakku, keadilan menemukan jalannya sendiri.

Wanita kaya itu langsung lemas saat beberapa petugas polisi yang sengaja kuhubungi lewat ponsel di saku jaketku sejak melihat mobil mereka, mulai berdatangan mengepung tempat itu.

Pria itu mendongak, menatapku dengan tatapan memohon yang amat menyedihkan. “Bisakah kita mulai dari awal? Aku akan meninggalkan wanita ini, aku akan meninggalkan kekayaanku…”

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman pembebasan yang murni.

“Tiga tahun lalu, aku kehilangan segalanya dalam semalam. Tapi hari ini, aku memiliki seluruh duniaku di dalam pelukanku,” kataku sambil menggandeng erat tangan kecil anakku.

“Sedangkan kamu? Kamu baru saja memulai nerakamu.”

Aku berbalik, berjalan menjauh tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Membiarkan mereka berdua tenggelam dalam kehancuran, skandal, dan penyesalan seumur hidup. Di bawah sinar matahari sore yang hangat, aku dan anakku melangkah maju menuju masa depan yang bersih dari masa lalu mereka yang kotor.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.