Posted in

“Aku Dipaksa Menikah dengan Seorang Miliarder yang Dikenal Sebagai Pria Paling Buruk Rupa dan Paling Gemuk di Negara Ini Demi Membayar Utang Keluarga Kami yang Mencapai Miliaran Rupiah Indonesia.

“Aku Dipaksa Menikah dengan Seorang Miliarder yang Dikenal Sebagai Pria Paling Buruk Rupa dan Paling Gemuk di Negara Ini Demi Membayar Utang Keluarga Kami yang Mencapai Miliaran Rupiah Indonesia. Semua Orang Menertawakanku Karena Katanya Aku Menjadi Istri ‘Babi’. Tetapi yang Tidak Mereka Ketahui, Pria yang Diam-Diam Kuhormati dan Kucintai di Balik Penampilannya Itu Hanyalah Berpura-Pura… Dan Saat Ia Melepas ‘Fat Suit’-nya di Depan Semua Orang, Orang-Orang yang Menghina Kami Seolah Kehilangan Napas.”

Perjanjian dengan Sang Monster

Namaku Celine, dua puluh tiga tahun.

Ketika perusahaan ayahku bangkrut akibat kebiasaan berjudi ibu tiriku, Dona Agatha, keluarga kami tenggelam dalam utang miliaran rupiah Indonesia. Demi menyelamatkan keluarga dari penjara, mereka menjodohkanku dengan satu-satunya orang yang mampu melunasi semua itu—Tuan Gabriel Lorenzo.

Gabriel adalah miliarder terkaya dan paling berkuasa di Asia, tetapi ia hampir tidak pernah muncul di depan publik. Menurut rumor yang beredar, berat badannya mencapai tiga ratus pon, wajahnya penuh jerawat, sulit berjalan karena kegemukan, dan memiliki rupa yang sangat buruk.

“Bagus untukmu, Celine,” ejek adik tiriku, Mia, sambil tertawa ketika aku mengenakan gaun pengantin. “Siapa yang mau menikahi babi raksasa seperti itu? Kalau bukan karena utang keluarga kita, mungkin dia sudah membusuk sendirian! Bersiaplah memeluk lipatan lemaknya setiap malam!”

Aku menangis diam-diam.

Aku tidak punya pilihan selain menerima takdirku. Jika ini harga untuk menyelamatkan nyawa ayahku yang sedang sakit, aku akan menanggungnya.

Hati di Balik Tubuh Besar

Pernikahan kami digelar secara sederhana dan tertutup.

Saat Gabriel pertama kali muncul, tubuhnya hampir tidak muat di dalam tuxedo besar yang dikenakannya. Perutnya sangat besar, dagunya bertumpuk-tumpuk, dan ia berjalan lambat sambil bertumpu pada tongkat. Wajahnya tampak gelap dan sakit-sakitan.

Mia dan Dona Agatha memandangnya dengan jijik.

Namun ketika mata kami bertemu, aku melihat sepasang mata cokelat gelap yang sangat dalam, dengan kilau aneh yang sama sekali tidak cocok dengan penampilannya.

Pada bulan pertama kami tinggal bersama di mansion besarnya, Gabriel tampaknya mengira aku akan merasa jijik padanya seperti orang lain.

Tetapi aku tidak melakukannya.

Setiap malam, aku membantunya berjalan menuju tempat tidur. Aku menyiapkan makanan sehat untuknya. Aku membersihkan keringatnya tanpa rasa jijik ataupun keluhan.

“Mengapa kau melakukan semua ini, Celine?” tanyanya suatu malam. Suaranya sangat dalam dan berat, jauh dari suara yang kau bayangkan dari seorang pria gemuk dan sakit-sakitan. “Apa kau tidak jijik padaku? Aku hanya membayar keluargamu.”

“Kau suamiku, Gabriel,” jawabku lembut sambil menyeka dahinya dengan handuk bersih. “Nilai seseorang tidak ditentukan oleh berat badan atau wajahnya. Kau orang baik karena telah menyelamatkan keluargaku. Dan sebagai istrimu, aku akan merawat dan menghormatimu dengan sepenuh hati.”

Aku melihat keterkejutan di matanya.

Ia menatapku lama sekali, dan untuk pertama kalinya, aku melihat senyum tulus muncul di wajahnya.

Penghinaan dari Orang-Orang Serakah

Tibalah hari perayaan besar ulang tahun Lorenzo Empire.

Acara itu digelar di hotel mewah dan dihadiri para pebisnis terkenal, termasuk ibu tiriku Dona Agatha dan Mia, yang terus menikmati uang Gabriel…

“Aku dipaksa menikah dengan seorang miliarder yang dikenal sebagai pria paling buruk rupa dan paling gemuk di negara ini demi membayar utang keluarga kami yang mencapai miliaran rupiah Indonesia. Semua orang menertawakanku karena katanya aku menjadi istri ‘babi’. Tetapi yang tidak mereka ketahui, pria yang diam-diam kuhormati dan kucintai di balik penampilannya itu hanyalah berpura-pura… dan saat ia melepas ‘fat suit’-nya di depan semua orang, orang-orang yang menghina kami seolah kehilangan napas.”

Panggung Sandiwara

Dona Agatha dan Mia melangkah mendekati kami dengan segelas sampanye di tangan mereka. Pandangan mereka memindai tubuh besar Gabriel dengan kilat jijik yang sama sekali tidak disembunyikan. Di sekeliling kami, para sosialita dan pengusaha papan atas saling berbisik, menatapku dengan tatapan kasihan yang bercampur ejekan.

“Aduh, Celine… Ibu sungguh prihatin melihatmu,” ujar Dona Agatha dengan nada dibuat-buat, namun matanya berkilat puas. “Kamu sekurus ini, apa tidak takut tertimpa suamimu saat tidur? Untung saja uangnya banyak, jadi penderitaanmu agak sepadan.”

Mia tertawa cekikikan, menutup mulutnya dengan jemari yang dipenuhi perhiasan mahal hasil dari uang bulanan yang diberikan Gabriel. “Betul kata Ibu, Kak. Tapi tetap saja, kalau aku yang jadi Kak Celine, aku pasti tidak akan kuat selera makan setiap kali melihat wajah suamimu ini. Menikahi babi raksasa demi uang… menjijikkan sekali.”

Bisikan-bisikan miring dari tamu lain mulai terdengar semakin jelas. Gabriel di sampingku hanya diam, tubuh besarnya tampak sedikit bergetar, dan ia bertumpu semakin berat pada tongkat jalannya. Mereka mengira dia terluka karena dihina.

Tetapi aku tahu betul… getaran itu bukan karena dia terluka, melainkan karena dia sedang menahan tawa.

Aku melangkah maju, menghalangi pandangan Mia dari suamiku. “Jaga bicaramu, Mia. Pria yang kamu sebut ‘babi’ ini adalah pria yang telah menyelamatkan keluargamu dari jerat penjara. Tanpa sepeser pun uang darinya, kamu dan Ibu mungkin sudah menggelandang di jalanan sekarang.”

“Halah, sombong sekali kamu, Celine!” bentak Dona Agatha, suaranya sengaja dikeraskan agar memancing perhatian seisi ballroom. “Dia melakukan itu karena tidak ada wanita normal yang mau dengan monster buruk rupa sepertinya! Dia beruntung bisa membeli putri dari keluarga kami!”

Detik-Detik Kebenaran

Suasana ballroom mendadak sunyi senyap. Semua mata kini tertuju pada ketegangan di sudut ruangan ini.

Tepat pada saat itulah, Gabriel melepaskan tongkat jalannya. Tongkat itu jatuh ke lantai marmer dengan bunyi dentangan yang keras, membuat Dona Agatha dan Mia terlonjak kaget.

“Permainan ini sudah cukup menghibur, tapi kurasa waktunya sudah habis,” suara Gabriel bergema. Namun anehnya, suara itu tidak lagi terdengar berat dan tersedat-sedat seperti biasanya. Suara itu begitu bariton, jernih, dan penuh dengan otoritas yang mematikan.

Di depan mata ratusan pasang mata yang terbelalak, Gabriel mengulurkan tangannya ke bagian belakang lehernya. Ia menarik sebuah ritsleting tersembunyi yang sangat tipis di balik kerah kemeja khususnya.

Sreeet.

Pakaian tebal berukuran raksasa itu perlahan terbuka. Gabriel merobek lapisan silikon tebal bermutu tinggi—sebuah fat suit bernilai miliaran yang dirancang khusus oleh ahli prostetik Hollywood—dan melangkah keluar dari lapisan penyamaran tersebut.

Seisi ruangan seketika menahan napas. Beberapa wanita bahkan menjatuhkan gelas sampanye mereka hingga pecah berantakan di lantai.

Pria yang berdiri di hadapan mereka bukanlah monster seberat tiga ratus pon dengan wajah rusak.

Ia adalah seorang pria dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima sentimeter, bertubuh atletis dengan dada bidang dan rahang yang kokoh. Wajahnya yang bersih dari jerawat prostetik menonjolkan fitur wajah yang begitu sempurna, ketampanan aristokrat yang tajam dengan sepasang mata cokelat gelap yang berkilat dingin. Sempurna. Tanpa cela sedikit pun.

Kehilangan Napas

“T-tidak mungkin… G-Gabriel?!” Mia memekik, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya. Wajahnya memucat, tangannya gemetar hebat hingga sampanyenya tumpah mengotori gaun mahalnya. “K-kamu… kamu tampan?!”

Dona Agatha melangkah mundur hingga menabrak meja di belakangnya. “Ini… ini sihir! Siapa kamu sebenarnya?!”

Gabriel membetulkan manset kemeja putihnya yang kini melekat sempurna di tubuh kekarnya. Ia menatap ibu dan adik tiriku dengan pandangan seolah mereka hanyalah hama yang menjijikkan.

“Selama lima tahun terakhir, banyak orang mendekatiku, berpura-pura mencintaiku hanya demi memperebutkan takhta Lorenzo Empire. Karena itulah aku menciptakan identitas ini,” kata Gabriel dingin, suaranya mengintimidasi seisi ruangan. “Aku ingin melihat siapa yang bertahan saat aku berada di titik paling buruk.”

Gabriel kemudian berbalik ke arahku. Tatapan matanya yang semula sedingin es seketika mencair, berubah menjadi kelembutan yang teramat dalam. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, merengkuh pinggangku, dan menarikku mendekat ke dadanya.

“Dan dalam penyamaranku yang paling menjijikkan, aku menemukan satu-satunya permata yang tulus. Wanita yang merawatku, menghormatiku, dan mencintaiku tanpa peduli bagaimana rupaku,” bisik Gabriel, lalu mengecup keningku di depan semua orang.

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Aku sudah tahu rahasia ini sejak minggu kedua pernikahan kami secara tidak sengaja, namun aku memilih tetap diam dan merawatnya karena aku terlanjur jatuh cinta pada jiwanya, bukan topengnya.

Akhir dari Keserakahan

Gabriel kembali menatap Dona Agatha dan Mia yang kini tampak seperti orang bodoh yang kehilangan napas karena penyesalan yang teramat sangat. Mia menatapku dengan mata yang penuh dengan rasa iri, kedengkian, dan kehancuran yang luar biasa. Dia baru saja menyadari bahwa dia telah membuang kesempatan untuk memiliki pria paling sempurna di negara ini.

“Sekretaris Wijaya,” panggil Gabriel tegas.

Seorang pria berjas rapi segera maju dari barisan kerumunan. “Ya, Tuan Besar?”

“Mulai malam ini, cabut seluruh fasilitas, kartu kredit, dan tunjangan bulanan untuk keluarga Caldwell. Tagih seluruh utang judi Nyonya Agatha yang telah kulunasi, beserta bunganya secara hukum. Jika dalam waktu dua puluh empat jam mereka tidak bisa membayar…” Gabriel menjeda kalimatnya, tersenyum kejam. “…sita rumah mereka dan jebloskan mereka ke penjara.”

“Baik, Tuan.”

“Gabriel! Tidak! Celine, tolong Ibu, Celine! Kami ini keluargamu!” jerit Dona Agatha histeris, mencoba maju namun langsung diadang oleh empat pengawal berbadan tegap.

Mia menangis meraung-raung, meratapi kebodohannya yang telah menghina pria yang kini menjadi impian setiap wanita di ruangan itu. Mereka diseret keluar dari ballroom mewah itu dengan cara yang paling memalukan, diiringi pandangan sinis dari para tamu undangan.

Gabriel menatapku, memberikan senyuman paling menawan yang pernah kulihat seumur hidupku. “Sekarang, tidak akan ada lagi orang yang berani menghasut atau menghinamu, Nyonya Lorenzo. Mari kita mulai lembaran baru kita yang sesungguhnya.”

Aku menggandeng lengannya dengan erat, melangkah dengan kepala tegak. Di atas panggung yang penuh dengan kepalsuan ini, aku telah memenangkan cinta sejati yang paling berharga.