Posted in

AKU DISURUH MAKAN DI HALAMAN BELAKANG OLEH IBU MERTUAKU SEPERTI PEMBANTU — PADA HARI PERINGATAN KEMATIAN KAKEK KELUARGA MEREKA, AKU MENUTUP GERBANG DAN MEMBIARKAN SELURUH KELUARGA SUAMIKU MENUNGGU DI LUAR

AKU DISURUH MAKAN DI HALAMAN BELAKANG OLEH IBU MERTUAKU SEPERTI PEMBANTU — PADA HARI PERINGATAN KEMATIAN KAKEK KELUARGA MEREKA, AKU MENUTUP GERBANG DAN MEMBIARKAN SELURUH KELUARGA SUAMIKU MENUNGGU DI LUAR

Pada hari pertama aku tinggal di rumah keluarga suamiku di Quezon City, ibu mertuaku menunjuk halaman belakang lalu berkata dingin:

“Menantu perempuan baru tidak boleh makan bersama tamu.”

“Makanlah di dapur bersama para pembantu.”

Aku hanya mengangguk pelan.

Selama tiga hari aku memasak untuk delapan orang di rumah itu, tapi setiap waktu makan, aku selalu duduk sendirian di halaman belakang, di samping wastafel.

Sampai akhirnya tiba hari peringatan kematian kakek suamiku.

Aku bangun pukul empat pagi untuk menyiapkan dua puluh hidangan.

Dan tepat pukul sebelas siang…

aku menutup gerbang rumah.

Semua kunci kumasukkan ke dalam tas.

Lalu aku menarik koperku dan berdiri di tengah halaman depan.

Ibu mertuaku hampir kehilangan suara karena terus memukul pintu.

Sementara aku hanya tersenyum sambil memandangnya dari balik gerbang besi.

“Ma…”

“Bukannya menantu baru tidak boleh duduk di meja makan?”

“Kalau begitu, silakan kalian masuk dan makan sendiri.”

“Lia, cepat sedikit!”

Suara nyaring Nyonya Estrella menggema dari ruang tamu sampai dapur.

Di luar, matahari Manila terasa menyengat.

Baru pukul sepuluh pagi, tapi panas dari jendela sudah terasa seperti api yang masuk ke dapur kecil di belakang rumah dua lantai di Quezon City itu.

Sudah tiga jam aku berdiri di depan wastafel.

Tanganku bau ikan dan udang.

Punggung bajuku basah oleh keringat.

Hari itu adalah hari peringatan untuk kakek suamiku.

Hampir dua puluh anggota keluarga besar Ramos datang.

Dan sejak pukul lima pagi sampai sekarang, hanya aku yang bekerja di dapur.

Nyonya Estrella masuk, melirik kare-kare yang sedang mendidih, lalu mengernyit.

“Sausnya terlalu kental.”

“Berapa kali Mama bilang kecilkan apinya?”

Aku bahkan belum sempat menjawab saat dia membanting tutup panci.

“Perempuan zaman sekarang cuma tahu berdandan.”

“Masak saja tidak becus.”

Aku menunduk dan terus mengiris bawang.

Aku tidak menjawab.

Nyonya Estrella memang suka merasa sedang mengajari orang.

Terutama kalau ada keluarga lain yang melihat.

Begitu kembali ke ruang tamu, suaranya langsung berubah manis.

“Silakan duduk saja, makanannya sebentar lagi siap.”

“Menantu baru saya agak lambat.”

“Maklum ya.”

Tawa dan obrolan langsung terdengar dari ruang tamu.

Sementara aku berdiri sendirian di dapur.

Keringat menetes di punggungku.

Tak lama kemudian suamiku, Daniel, masuk.

Dia memakai polo putih, rambut rapi, dan masih memegang ponsel sambil membalas urusan kerja.

Dia melihat meja penuh makanan lalu mengangguk.

“Wah, banyak juga yang kamu masak hari ini.”

Aku meletakkan piring lumpia.

“Bisa bantu aku bawa makanan keluar?”

Dia langsung ragu.

“Eh…”

“Di luar banyak orang tua…”

“Kalau Mama lihat aku di dapur, nanti dia marah lagi.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Dari pagi aku berdiri terus.”

“Aku belum makan sama sekali.”

Daniel menghela napas seolah dia yang paling susah.

“Bertahan dulu ya, sayang.”

“Ini hari peringatan.”

“Jangan mempermalukan Mama.”

Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu selama tiga bulan pernikahan kami.

Jangan mempermalukan Mama.

Jangan membantah Mama.

Jangan bikin keluarga jadi canggung.

Jangan sampai orang bilang menantu keluarga Ramos tidak sopan.

Selalu begitu.

Selalu aku yang harus mengalah.

Daniel menunduk lalu mencium rambutku cepat.

Seperti kewajiban saja.

“Aku keluar dulu urus tamu.”

Lalu dia pergi.

Aku tetap berdiri di dapur.

Di luar, lagu karaoke lama terdengar keras.

Seluruh rumah dipenuhi aroma parfum, bir, dan makanan.

Pukul sebelas siang.

Akhirnya dua puluh hidangan selesai dihidangkan.

Lechon kawali.

Adobo.

Kare-kare.

Sinigang.

Pancit.

Lumpia.

Semuanya aku yang memasak.

Baru saja aku melepas apron ketika Nyonya Estrella tiba-tiba berbicara di depan seluruh keluarga besar.

“Lia.”

“Nanti kamu makan di dapur saja.”

Meja makan langsung hening beberapa detik.

Tita Mila tertawa kecil.

“Sampai sekarang masih pakai aturan itu?”

Nyonya Estrella langsung menjawab:

“Begitulah tradisi keluarga Ramos.”

“Menantu baru yang belum setahun tinggal di rumah tidak boleh duduk di meja saat hari peringatan keluarga.”

“Atau kalian mau leluhur marah?”

Beberapa orang mengangguk.

Beberapa memandangku dengan iba.

Tapi tidak ada yang membelaku.

Daniel duduk dekat ujung meja.

Dia memegang gelas air dan menghindari tatapanku.

Aku langsung mengerti.

Dia tidak akan bicara.

Seperti biasa.

Nyonya Estrella menunjuk halaman belakang.

“Masih ada sisa makanan di dapur.”

“Ambil saja di sana.”

“Dan selama tamu belum selesai makan, jangan bolak-balik ke sini.”

Aku diam.

Begitu sunyi sampai suara kipas angin terdengar jelas.

Lalu aku tersenyum.

“Baik.”

“Aku mengerti.”

Aku berbalik dan masuk ke dapur.

Begitu pintu tertutup, aku langsung mendengar bisikan di belakang.

“Anaknya baik sekali.”

“Kalau orang lain mungkin sudah pergi dari tadi.”

“Pintar menyesuaikan diri.”

Aku masuk ke dapur.

Menutup pintu.

Dan senyumku langsung hilang.

Aku menunduk lalu membuka laci di bawah wastafel.

Aku mengambil kunci yang kusembunyikan semalam.

Kunci pintu utama.

Kunci gerbang.

Kunci garasi.

Semuanya ada padaku.

Aku berdiri diam beberapa detik.

Lalu mengambil ponsel dan melihat jam.

11:07.

Di ruang tamu, seluruh keluarga mulai minum dan tertawa.

Tidak ada yang tahu…

bahwa orang yang memasak untuk mereka sejak subuh…

sedang berdiri di dapur dengan tatapan dingin.

Aku membuka aplikasi banking.

Saldo lebih dari ₱800.000 muncul di layar.

Cukup untuk menyewa apartemen baru.

Cukup untuk meninggalkan pernikahan ini.

Cukup untuk pergi tanpa menoleh lagi.

Aku mematikan layar.

Menarik napas panjang.

Lalu melepas apronku.

Pukul 11:15.

Terdengar teriakan Nyonya Estrella:

“Lia!”

“Bawakan es batu lagi!”

Aku tidak menjawab.

Pukul 11:20.

Daniel mulai menelepon.

Ponselku terus bergetar di atas meja.

Aku memandang nama “My Husband 

❤️

” di layar.

Lalu menolak panggilannya.

Aku menarik koper abu-abuku dari bawah tangga.

Pakaian dan dokumen sudah kususun di dalamnya sejak semalam.

Aku menyeret koper melewati ruang tamu.

Suara roda koper membuat seluruh meja makan menoleh.

Daniel yang pertama berdiri.

“Lia?”

Nyonya Estrella mengernyit.

“Kamu mau apa?”

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan lurus ke pintu utama.

Membukanya.

Keluar.

Dan setelah itu…

“BRAK!”

Aku menarik gerbang besi hingga tertutup keras.

Suara gembok terdengar dingin di depan rumah.

Semua orang di dalam langsung panik.

“Hei!”

“Lia!”

“Apa yang kamu lakukan?!”

Nyonya Estrella berlari dan memukul pintu.

Daniel ikut menyusul.

“Sayang! Tolong buka dulu!”

Aku berdiri di luar gerbang.

Satu tangan memegang koper.

Tangan lainnya memegang kumpulan kunci.

Matahari menyengat di kompleks perumahan yang sunyi di Manila.

Beberapa tetangga mulai mengintip dari jendela.

Aku menatap ibu mertuaku langsung dari balik pagar besi.

Lalu tersenyum tipis.

“Ma.”

“Aku ingat sekali aturan keluarga ini.”

“Menantu tidak boleh duduk di meja makan.”

“Jadi mulai sekarang…”

“aku juga tidak perlu masuk ke rumah itu lagi.”

Wajah Nyonya Estrella langsung pucat.

“Kamu sudah gila?!”

“Masih ada tamu di sini!”

“Mau bikin seluruh keluarga menertawakan kami?!”

Aku menunduk melihat kunci di tanganku.

Lalu…

perlahan aku melemparkannya ke tempat sampah di luar gerbang.

“Kalau begitu, silakan ambil sendiri makanannya.”

Di balik pintu kaca…

seluruh keluarga Ramos membeku menatapku.

Dan Daniel…

berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah sepucat kertas saat layar ponselku tiba-tiba menyala karena sebuah pesan baru.

Pengirimnya:

“Apartemen di Makati sudah siap untukmu.”

Pesan itu datang dari sahabat lamaku yang memiliki agen properti di Makati. Tanpa membalas pesan itu, aku langsung memesan taksi online melalui ponselku.

“Lia! Lia! Kembali kamu! Jangan jadi menantu durhaka!” jerit Nyonya Estrella, suaranya naik satu oktav, memecah kesunyian kompleks perumahan di Quezon City itu. Wajahnya yang tadi penuh bedak kini memerah padam karena menahan malu dan amarah. “Daniel! Cepat dobrak gerbangnya! Panggil satpam kompleks! Sialan, berani-beraninya dia mempermalukan kita di depan semua kerabat!”

Daniel berlari ke arah gerbang besi, mencengkeram teralisnya dengan wajah frustrasi. “Lia! Jangan kekanak-kanakan! Ini hari peringatan kematian Kakek! Kamu bisa memprotes masalah meja makan nanti setelah semua tamu pulang, tapi jangan sekarang! Tolong hargai aku sebagai suamimu!”

Aku menatap Daniel, pria yang kunikahi tiga bulan lalu dengan harapan dia bisa menjadi pelindungku. Nyatanya, dia hanyalah seorang anak mama yang penakut, yang membiarkan istrinya diperlakukan seperti pelayan rendahan demi menjaga apa yang mereka sebut “kedamaian keluarga”.

“Hargai kamu, Daniel?” tanyaku, suaraku terdengar sangat tenang, berbanding terbalik dengan kepanikan di seberang gerbang. “Selama tiga bulan ini, apakah kamu pernah sekalipun menghargaiku sebagai istrimu? Saat ibumu menyuruhku makan di dekat wastafel halaman belakang bersama kecoak, di mana suaramu? Saat sepupumu mengejek masakkanku kurang garam, di mana pembelaanmu?”

Daniel tertegun, bibirnya bergetar namun tidak ada kata yang keluar.

Di belakang mereka, para tamu—Tita Mila dan kerabat keluarga Ramos lainnya—mulai berbisik-bisik di teras. Beberapa dari mereka memandang Nyonya Estrella dengan tatapan menghakimi. Tradisi kuno yang selalu dibanggakan ibu mertuaku untuk menindas menantu baru, kini justru menjadi senjata yang menampar wajahnya sendiri di depan umum.

Sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan gerbang. Taksi pesonanku telah tiba.

Aku membalikkan badan, memegang pegangan koperku dengan mantap, bersiap untuk melangkah pergi dari neraka berkedok pernikahan ini.

“Lia Salvador!” teriak Nyonya Estrella, suaranya kini terdengar gemetar, menyadari bahwa tak ada satu pun dari mereka yang bisa keluar dari rumah karena gerbang luar digembok rapat, dan kunci cadangan ada di dalam laci kamar yang kuncinya juga telah kubuang. “Kalau kamu melangkah masuk ke taksi itu, jangan pernah harap bisa kembali ke rumah ini lagi! Aku akan menyuruh Daniel menceraikanmu!”

Aku menghentikan langkahku sejenak. Tanpa berbalik, aku menoleh sedikit ke arah mereka dan tersenyum sinis.

“Memang itu yang kuharapkan, Nyonya Estrella,” kataku lantang agar seluruh kerabat mereka mendengarnya. “Surat cerai akan dikirimkan oleh pengacaraku ke rumah ini besok pagi. Selamat menikmati dua puluh hidangan yang kumasak. Anggap saja itu makanan perpisahan gratis dariku.”

“Lia! Jangan pergi, Lia!” Daniel berteriak panik, mencoba menggapai-gapai tangannya melewati celah gerbang besi, namun jarak kami sudah terlalu jauh.

Sopir taksi turun dan membantuku memasukkan koper ke dalam bagasi. Aku segera masuk ke kursi belakang dan menutup pintunya dengan rapat. Saat mobil mulai melaju meninggalkan kawasan Quezon City, aku menatap kaca spion. Di sana, keluarga Ramos tampak sekecil semut, terkurung di dalam rumah mereka sendiri yang megah namun pengap oleh keangkuhan.

Aku bersandar pada kursi taksi yang empuk, meremas ponselku yang kini sudah kuubah ke mode jangan ganggu. Panggilan dari Daniel yang masuk bertubi-tubi langsung lenyap.

Menjelang sore, mobil memasuki kawasan elit Makati. Gedung-gedung pencakar langit yang modern menjulang tinggi, menyambut kebebasanku yang baru. Saat aku melangkah masuk ke dalam apartemen baruku yang luas dan menghadap langsung ke arah matahari terbenam Manila, aku mengembuskan napas lega yang sudah kutahan selama tiga bulan terakhir.

Aku tidak lagi berdiri di dapur yang panas. Aku tidak lagi memegang pisau dan bawang dengan tangan yang gemetar karena lelah.

Malam itu, aku duduk sendirian di meja makan kayu yang elegan di ruang tengah apartemenku, menikmati keheningan yang mewah sambil menyantap makanan yang kupesan dari restoran bintang lima. Aku makan di meja makan, sebagai ratu atas hidupku sendiri, tanpa perlu izin dari siapa pun—terutama dari keluarga yang kini harus kelaparan di balik gerbang yang terkunci.