SEORANG ANAK KECIL MEMBERIKANKU ₱10.000 UNTUK BERPURA-PURA MENJADI IBUNYA SELAMA SATU MALAM…
Tetapi ketika pengusaha paling berkuasa di Cebu datang ke toko rotiku, saat itulah aku sadar bahwa aku ternyata sudah terseret ke dalam rahasia keluarga mereka.
Anak kecil itu datang beberapa menit sebelum toko roti tutup.
Di luar, hujan turun deras di Cebu. Lampu-lampu neon di Colon hampir tak terlihat karena derasnya air yang mengalir di kaca jendela.
Aku sedang membersihkan meja kasir ketika mendengar suara lonceng pintu berbunyi pelan.
— Kak…
Suaranya lirih.
Saat aku mengangkat kepala, kulihat seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Seragam sekolah mahalnya basah kuyup, rambutnya berantakan tertiup angin, dan sepatu putihnya penuh lumpur.
Tapi itu bukan hal pertama yang menarik perhatianku.
Melainkan wajahnya.
Wajah seorang anak yang sudah terlalu lama berpura-pura kuat.
Perlahan, dia meletakkan segepok uang tebal di atas meja.
— Semua ini untuk Kakak… bolehkah Kakak berpura-pura jadi ibu saya malam ini?
Aku terpaku.
Namaku Mira Santos.
Usiaku dua puluh lima tahun.
Aku punya toko roti kecil di Lahug pada pagi hari, lalu mengantar bunga pada malam hari demi melunasi utang yang ditinggalkan ayahku setelah kabur bersama wanita lain.
Aku tidak punya hubungan apa pun dengan orang-orang kaya.
Sampai malam itu.
Perlahan aku mendorong kembali uang itu.
— Kamu tersesat?
Dia menggeleng.
— Di mana keluargamu?
Dia menunduk menatap sepatunya.
— Daddy sibuk.
— Ibumu?
Anak itu langsung diam.
Beberapa detik kemudian, dia menjawab pelan.
— Sudah meninggal.
Dadaku langsung terasa sesak.
Di luar bakery, sebuah Toyota Alphard hitam perlahan melintas di depan toko kami untuk ketiga kalinya.
Aku melihat anak itu langsung mengalihkan pandangannya.
Saat itulah aku mulai merasa khawatir.
— Siapa namamu?
— Noah.
— Dan kenapa kamu ingin aku berpura-pura jadi ibumu?
Bibirnya gemetar.
— Karena malam ini Family Night di sekolah… semua teman saya datang sama mommy mereka.
Dadaku mendadak terasa berat.
Lalu dia menambahkan dengan suara kecil:
— Saya cuma ingin merasakan jadi normal sekali saja.
Ada kata-kata yang terdengar sederhana…
tetapi langsung menghantam luka terdalam seseorang.
Aku teringat saat wisuda kelas enamku. Semua anak ditemani orang tua di auditorium, sementara aku duduk sendirian karena ibuku lembur di hotel.
Aku tidak pernah lupa rasanya.
Aku menarik napas panjang.
— Cuma satu malam?
Wajahnya langsung berbinar.
— Iya!
— Dan aku tidak akan menerima uangmu.
— Tapi saya mau bayar.
Aku tertawa kecil.
— Baiklah. Bayar saja dengan satu senyum yang tulus.
Dia sempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat betapa tampannya dia saat bahagia.
Seperti matahari setelah badai panjang.
Tiga puluh menit kemudian, kami sudah berdiri di depan Brighton Academy — salah satu sekolah paling mahal di Cebu.
Aku langsung merasa tidak cocok berada di sana.
Mobil-mobil mewah berjejer.
Para ibu mengenakan gaun desainer dan perhiasan berkilau di bawah lampu.
Sementara aku…
hanya memakai gaun krem lama dari toko thrift dan heels kusam.
Saat aku dan Noah masuk ke aula sambil bergandengan tangan, orang-orang langsung menoleh.
Aku mendengar bisik-bisik.
— Itu anak keluarga Villareal, kan?
— Siapa perempuan itu?
— Bukannya Adrian Villareal tidak pernah membiarkan wanita mendekati anaknya?
Noah menggenggam tanganku semakin erat.
Sebelum aku sempat bicara, seorang wanita dengan gaun satin merah mendekati kami.
Riasannya tegas dan tatapannya tajam.
Di sampingnya ada seorang anak perempuan yang tersenyum mengejek ke arah Noah.
— Wah, keajaiban. Malam ini kamu datang dengan seseorang?
Noah langsung menunduk.
Dan saat itu aku mengerti.
Ini bukan pertama kalinya dia dipermalukan.
Wanita itu menatapku dari atas sampai bawah.
— Kamu pengasuh barunya?
Aku tersenyum sopan.
— Bukan. Saya yang menemaninya malam ini.
Alis wanita itu terangkat.
— Serius? Katanya ayahnya sangat ketat soal perempuan.
— Mungkin malam ini dia sedang lebih baik hati.
Beberapa orang di sekitar kami tertawa kecil.
Wajah wanita itu langsung berubah.
— Kamu tahu di mana kamu berada?
Aku tetap tersenyum sambil membetulkan kerah Noah.
— Yang saya tahu, malam ini untuk anak-anak. Bukan untuk membuat seorang anak merasa dirinya tidak berharga.
Suasana langsung hening.
Noah menatapku seolah tidak percaya.
Dan tepat pada saat itu—
semua lampu aula tiba-tiba padam.
Orang-orang mulai panik.
Lalu sebuah spotlight menyala ke arah panggung.
Kepala sekolah muncul dengan wajah gugup.
— Please settle down… Chairman Adrian Villareal sudah tiba.
Seluruh aula langsung sunyi.
Pintu besar di belakang perlahan terbuka.
Dan seorang pria masuk.
Mengenakan setelan hitam.
Wajah dingin.
Dan aura yang mampu membuat seluruh ruangan diam bahkan tanpa sepatah kata.
Para staf sekolah langsung menunduk saat dia berjalan melewati mereka.
Seolah udara di sekitar berubah hanya karena kedatangannya.
Noah berbisik pelan:
— Daddy…
Aku menoleh ke arahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajah anak itu.
Pria itu berhenti di tengah aula.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti padaku.
Dan saat mata kami bertemu…
ada sesuatu yang berubah di ekspresinya.
Bukan lagi dingin.
Melainkan seperti seseorang yang baru saja melihat hal mustahil.
Dia berjalan cepat menuju kami.
Suara langkah sepatunya menjadi satu-satunya bunyi di aula yang sunyi.
Wanita yang tadi menghina kami langsung menyingkir.
Noah menggenggam tanganku semakin erat.
Sementara aku…
jantungku mendadak berdegup sangat cepat.
Pria itu berhenti tepat di depanku.
Kami begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma hujan di jasnya.
Lalu perlahan dia mengeluarkan sebuah foto lama dari dompetnya.
— Siapa namamu? — tanyanya pelan.
— Mira.
Tangannya langsung mencengkeram foto itu lebih erat.

Aku bahkan belum mengerti apa yang sedang terjadi…
ketika Noah menarik pelan lengan bajuku.
— Kak Mira… wajah Kakak mirip sekali dengan Mommy saya.
Pria itu—Adrian Villareal—menatapku seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh dan dibangun kembali dalam hitungan detik. Tangannya yang memegang foto tua itu tampak bergetar samar, sebuah pemandangan yang pasti mustahil bagi siapa pun di Cebu yang mengenalnya sebagai pengusaha bertangan besi.
“Siapa namamu?” suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menuntut jawaban mutlak.
“Mira Santos,” jawabku, berusaha menahan gemetar di suaraku sendiri. “Saya hanya… saya hanya menemani Noah malam ini.”
Adrian tidak mendengarkanku. Pandangannya beralih dari wajahku ke foto di tangannya, lalu kembali lagi padaku. Dengan gerakan perlahan, dia membalikkan foto itu ke arahku.
Jantungku rasanya berhenti berdetak.
Di dalam foto itu, seorang wanita mengenakan gaun putih polos sedang tertawa di bawah pohon rindang. Wajahnya, matanya, bahkan struktur rahangnya… itu adalah aku. Satu-satunya perbedaan adalah gaya rambutnya yang lebih klasik dan sebuah kalung liontin berbentuk daun semanggi yang melingkar di lehernya.
“Elena…” gumam Adrian, matanya melembut untuk sesaat sebelum kembali mengeras oleh kecurigaan yang pekat. “Siapa yang mengirimmu kemari? Berapa banyak mereka membayarmu untuk meniru mendiang istriku?”
“Daddy, no!” Noah tiba-tiba melangkah ke depan, merentangkan kedua tangan kecilnya untuk melindungiku. “Kak Mira tidak tahu apa-apa! Noah yang memintanya! Noah yang memberikan uang demi dia mau berpura-pura jadi Mommy!”
Mendengar itu, kilatan amarah di mata Adrian mereda, digantikan oleh rasa terkejut yang mendalam. Dia berlutut di hadapan putranya, mencengkeram lembut bahu Noah. “Noah… apa yang kamu lakukan?”
“Noah cuma mau merasa normal, Dad,” air mata yang sejak tadi ditahan anak itu akhirnya tumpah. “Noah lelah ditertawakan. Dan saat Noah melihat Kak Mira di toko roti, Kak Mira tersenyum… persis seperti foto Mommy yang selalu Daddy sembunyikan.”
Suasana aula Brighton Academy malam itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Ratusan mata penonton menyaksikan drama keluarga paling berkuasa di kota ini. Adrian berdiri tegak kembali, auranya kembali dingin dan tak tersentuh. Dia menatapku tajam.
“Ikut aku. Kita bicara di tempat yang lebih pribadi,” perintahnya tanpa bantahan.
Tiga puluh menit kemudian, aku mendapati diriku duduk di dalam mobil Toyota Alphard hitam yang sempat kukira mengintai Noah tadi. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu mencekam. Noah sudah tertidur pulas di kursi tengah karena kelelahan, sementara aku duduk di belakang bersama Adrian.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Nona Santos,” Adrian membuka suara tanpa menoleh ke arahku. “Kamu berpikir ini adalah kebetulan yang manis. Tapi di duniaku, tidak ada yang namanya kebetulan.”
“Saya benar-benar tidak tahu apa-apa, Tuan Villareal,” kataku defensif. “Saya punya toko roti kecil di Lahug, dan malam ini anak Anda datang dalam keadaan basah kuyup. Saya hanya tidak tega melihat seorang anak sendirian di malam keluarga.”
Adrian menghela napas berat, lalu melemparkan sebuah berkas tipis ke pangkuanku.
“Istriku, Elena, tidak meninggal karena sakit atau kecelakaan seperti yang diberitakan media,” ucapnya, suaranya terdengar sangat lelah. “Dia menghilang lima tahun lalu setelah melahirkan Noah, tepat ketika musuh bisnisku mencoba menghancurkan keluargaku. Sebelum dia hilang, dia menyembunyikan sebuah rahasia besar—kunci akses ke seluruh aset gelap yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan kerajaan bisnis Villareal.”
Aku menelan ludah, membuka berkas itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada data pribadiku. Nama, tanggal lahir, bahkan detail utang almarhum ayahku.
“Ayahmu, Ernesto Santos,” lanjut Adrian, kini menatapku lurus-lurus. “Dia bukan kabur dengan wanita lain, Mira. Dia adalah mantan kepala keamanan di rumahku. Dialah orang terakhir yang bersama Elena sebelum istriku menghilang.”
Duniaku mendadak berputar. Ayahku? Pria yang kukira pengecut yang meninggalkan ibuku dan aku demi wanita lain, ternyata terlibat dalam pusaran konspirasi keluarga terkaya di Cebu?
“Foto yang kamu lihat tadi… itu diambil oleh ayahmu,” kata Adrian lagi. “Dan kemiripan wajahmu dengan Elena? Itu bukan kebetulan biologis. Elena adalah kakak tirimu dari pernikahan pertama ibumu yang dirahasiakan.”
Kata-katanya menghantamku seperti godam. Jadi, Noah adalah keponakanku? Dan wanita di foto itu adalah kakak perempuanku yang tidak pernah kuketahui keberadaannya?
“Seseorang sengaja menuntun Noah ke tokomu malam ini, Mira. Seseorang ingin aku menemukanmu,” Adrian mendekatkan wajahnya, matanya memicing tajam namun ada kilat keputusasaan di sana. “Musuh-musuhku berpikir kamu memegang kunci yang ditinggalkan ayahmu. Malam ini, dengan muncul di Brighton Academy, kamu resmi menjadi target.”
Aku memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Cebu yang temaram di balik sisa-sisa air hujan. Niatku malam ini hanya ingin memberikan kebahagiaan sederhana bagi seorang anak kecil yang kesepian.
Namun sekarang, uang ₱10.000 yang ditawarkan Noah terasa seperti tiket masuk ke dalam permainan hidup dan mati yang tidak pernah kuinginkan.
“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanyaku, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku.
Adrian menatap putranya yang terlelap, lalu beralih padaku. Untuk pertama kalinya, aku melihat secercah rasa hormat di matanya yang dingin.
“Tetaplah berada di dekat Noah. Berpura-puralah menjadi ibunya, bukan hanya untuk satu malam, tapi sampai aku menemukan siapa yang menjebak kita,” ucap Adrian tegas. “Ini bukan lagi soal sandiwara sekolah, Mira. Ini tentang bertahan hidup.”