Ini salah satu tetangga yang suka kepo. Tapi kekepoannya ini bisa dimanfaatkan. Biasanya manusia yang begini banyak tahu urusan orang lain efek kepo tingkat tinggi.
Jika aku kesulitan mencari informasi tentang Alya dari dalam rumah Mas Alka, maka yang pertama aku cari tahu adalah orang-orang di sekitar rumah.
“Nengokin rumah di kota, Bu,” jawabku sambil merapikan celana training, baju olah raga dan jilbab lebar milik Alya yang kukenakan. Cuma muka mungilku saja yang kelihatan, serta telapak tangan. Kaki pakai sepatu.
Mbak Andin menyuruhku belanja. Selembar uang yang dia berikan masih tersimpan rapi di kantong celanaku, katanya itu adalah uang yang dia pinta dari Mas Alka.
Aku disuruh jalan kaki saja. Katanya warung tidak jauh. Cuma jarak dua ratus meter dari rumah.
“Bu… bu siapa namanya ya? Duh payah nyebutnya.” Aku pura-pura mengingat-ingat.
“Anung. Saya Bu Anung.”
“Ah ya, Bu Anung, bukan saya mau buka aib, tapi ini hanya sharing saja. Kalau menurut ibu, hubunganku dengan keluarga Mas Alka itu gimana?” Aku mengawasi setiap ekspresi Bu Anung.
“Tumben kamu mau nimbrung gini sama ibu, biasanya mah kamu nggak suka gabung sama ibu-ibu, ngomong juga seperlunya aja. Keluar rumah juga cuma buat belanja ke warung ujung jalan sana, di tegur juga jawabnya sekata dua kata.”
Aku tersenyum menanggapi. Aku juga tahu Alya itu sangat tertutup, pendiam dan tidak suka keramaian. Apa lagi ngerumpi sama ibu ibu rempong begini, mana mungkin dia mau.
“Nih ya, menurut ibu, kamu itu kelihatan nggak bahagia tinggal di rumah itu. Murung terus. Ibu tuh rada gedeg sama yang namanya si Andin itu loh.”
“Kenapa mesti gedeg?”
“Mm… anu…” Bu Anung menggantung kalimatnya.
“Inget kan, pas kamu belanja di tukang sayur keliling, bisa-bisanya si Andin ngomong sewot ke kamu, ngatain kamu kelamaan belanja sama Mamang tukang sayur di depan banyak orang. Ya wajarlah lama, bayarnya aja ngantri.” Bu Anung bicara panjang lebar setelah sepersekian detik menggantung kalimat itu.
“Bu Anung sering ya melihat hubungan buruk antara aku dan keluarga Mas Alka? Aku jadi malu.”
“Cuma si Andin itu sih yang suka sewot sama kamu. Kalau yang lainnya ibu nggak lihat. Lagian, kenapa si Andin mesti balik ke rumah itu setelah dia cerai dari suaminya? Bikin banyak drama. Di pengajian juga dia paling demen bikin masalah. Nyebelin mulutnya.”
Ternyata Mbak Andin sudah terkenal dengan tabiat jeleknya.
“Tapi kamu beruntung, si Alka yang berandalan itu terlihat sangat meratukanmu,” imbuh Bu Anung membuatku mengernyit heran.
Meratukan?
Hei, sejak kemarin pria itu sangat dingin kepadaku, bagaimana bisa dibilang meratukan?
Tadi malam, pria itu tidur di sampingku, satu kasur. Dia tidak mendekat kepadaku, tidak memeluk, tidak merangkul, tidak pula menggenggam tangan seperti pasangan suami istri muda yang bahagia.
Aku tidak nyenyak, soalnya baru pertama kali tidur bersampingan dengan lelaki, antara gugup dan takut.
Bantal guling kutaruh di tengah, jangan sampai bersentuhan. Kami bukan pasangan suami istri. Pokoknya aku harus menjamin lelaki itu tidak menyentuhku.
Paginya, Mas Alka sudah tidak ada di samping saat aku terjaga.
Aku lalu berpamitan pada Bu Anung, mau ke warung. Obrolan tidak akan ada putusnya jika dilanjutkan terus.
Warung pertama kutemukan setelah berjalan kurang lebih dua ratus meter. Warung yang lumayan besar dan lengkap, menjual sayur dan lauk mentah juga.
Aku membeli telur, ikan nila, dan sayuran. Pemilik warung terkejut saat melihatku. Mukanya langsung gugup.
Aneh!!!
Uang kembalian yang dia ambil dari laci sampai terjatuh dari tangan sebelum akhirnya dipungut dan diberikan kepadaku.

“Makasih, Bu.”
“Tt tumben manggil ‘bu’.” Pemilik warung berusaha bicara meski suaranya bergetar.
Aduh, salah panggil. Jadi panggil apa?
Seorang ibu muda sedang memilih sayuran, dia menyapaku. “Hai Al, kamu dicari-cari sama Bu Sengleh, katanya kamu kabur karena nggak mau bayar hutang hp yang heboh pas rewang di rumah Bu Sengleh itu, loh.”
Aku kaget. Jadi benar Alya berhutang? Di tengah kehidupan Alka yang serba berkecukupan, dia berhutang? Seberapa banyak Alka menafkahi Alya sampai Alya harus berhutang?
“Alya!!”
Suara keras mengejutkan.
Sebelum sempat aku menoleh, rambut di dalam jilbabku sudah ditarik, sangat kuat. Kepalaku mendongak menahan tarikan. Pedih.
“Rupanya kau di sini. Bayar hutangmu, Blok! Enak aja kabur dan sekarang balik ke sini seolah nggak ada salah.”
Tangan lain mencengkeram lenganku, menyeret keluar dari warung.
Tangan lain lagi memukuliku sebelum sempat aku menyeimbangkan diri.
Tiga orang mengeroyokku. Kaki dan tangan mereka berjibaku menghujamku. Tubuhku terjerembab. Kejadian begitu cepat, aku tidak sempat berkelit.
Berkali-kali melawan namun kalah telak. Tiga lawan satu, bagaimana aku tak kalah? Apa lagi aku tanpa persiapan. Mereka menyerang secara dadakan sambil terus mengumpatiku.
Pemilik warung berteriak-teriak meminta tolong.
Warga berkumpul, mereka melerai. Memisahkan tiga perempuan luknut itu dariku.
Tapi terlambat. Aku sudah babak belur, terduduk di tanah, jilbab acak-acakan. Mengenaskan.
Tak kusangka nasibku akan seapes ini.
“Manusia sok alim ini ngutang sama aku dan nggak bayar. Dia malah kabur. Sekarang balik ke sini seolah nggak ada dosa!” Perempuan berambut keriting berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk mukaku. Badannya gempal, pakai kaos putih ketat, membuat lemaknya menonjol ke sana sini.
Dia perempuan paling heboh yang mengani-aya aku.
Awas kamu! Mukamu kutandai.
“Sudah! Tidak perlu ada yang membela diri. Selesaikan di kantor desa, biar pak lurah yang menangani!” Lelaki tua berkemeja batik menengahi.
Aku dibantu berdiri oleh warga.
Seseorang membantu merapikan jilbab di kepalaku.
Tiga perempuan yang menyerangku tadi, digiring oleh warga.
Aku mengambil kesempatan, melayangkan kepalan tinju ke caruk leher si gempal hingga badan wanita itu terhuyung maju. Tersandung. Lalu tersungkur ke tanah.
Mampus!
Warga sontak menahan lenganku, dilarang maju lagi.
Sebagian warga menahan badan si gempal yang emosinya terpancing hendak menyerangku kembali.
“Cuih! Udahlah ngutang, nggak tau diri!” Si gempal emosi, meludah ke arahku.