AKU HANYA MEMAKAI SAMPo MILIK PACARKU YANG KUKIRA ORANG BIASA, TAPI AKU MALAH MEMBONGKAR TARUHAN LIMA TAHUN PARA ORANG-ORANG KAYA—DAN TERNYATA WANITA YANG DULU MENGHANCURKAN HIDUPKU ADALAH DALANG DI BALIK SEMUANYA**
Suatu malam, aku hanya salah memakai sampo milik pacarku.
Keesokan paginya, rambutku yang biasanya kering dan kusut berubah seperti rambut di iklan sampo—lembut, berkilau, harum, dan jatuh sempurna seperti rambut gadis-gadis dari keluarga konglomerat.
Awalnya kupikir itu hanya kebetulan.
Sampai akhirnya aku tahu bahwa sebotol sampo itu bahkan tidak bisa dibeli di toko mana pun.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku merasa, mungkin pria yang sudah kucintai selama lima tahun bukanlah pria yang selama ini kukenal.
Namaku **Mikaela Ramos**, 27 tahun, seorang staf akuntansi di sebuah kantor kecil di Jakarta.
Pacarku bernama **Gabriel “Gab” Monteverde**.
Selama lima tahun kami tinggal di sebuah apartemen sederhana di kawasan Tebet. Tidak mewah, tapi cukup untuk kami. Ada kipas angin yang sudah rusak, rice cooker tua, meja makan yang selalu bergoyang, dan sofa bed yang kadang lebih keras daripada lantai.
Setiap kali kami membahas masa depan, Gab selalu berkata,
“Maaf ya, Mika. Aku belum punya tabungan. Aku belum bisa memberimu kehidupan yang layak.”
Setiap mendengar itu, aku selalu menggenggam tangannya.

“Aku mencintaimu bukan karena uangmu.”
Dan aku benar-benar percaya pada kata-kataku sendiri.
Kalau kakiku kedinginan saat malam, dialah yang menyelimutiku. Kalau aku lembur, dia menungguku di depan kantor meski hujan deras. Kalau uang sedang pas-pasan, dia memasak nasi goreng telur lalu menyebutnya “makan malam spesial.”
Karena itulah, malam itu saat sampoku habis, aku memakai sampo miliknya.
Botolnya putih polos. Tidak ada logo merek yang mencolok. Tidak ada label harga. Wanginya bersih dan mahal, tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Keesokan pagi, saat sedang menyisir rambut, aku terdiam.
Rambutku yang biasanya kering tiba-tiba menjadi sangat lembut. Rasanya seperti baru menjalani perawatan mahal di salon.
Aku bahkan tertawa sendiri.
Aku memotret botol itu lalu mencoba mencarinya lewat fitur pencarian gambar.
Tidak ada.
Aku mencarinya di Tokopedia.
Tidak ada.
Shopee.
Tidak ada.
TikTok Shop.
Tetap tidak ada.
Google pun tidak menemukan apa pun.
Seolah-olah sampo itu memang tidak pernah ada di dunia.
Saat Gab pulang, dia masih memakai kaus putih favoritnya yang sudah kusam. Kerahnya mulai menguning, ada bulu-bulu kain di bahunya, dan lubang kecil di bagian bawah.
Aku pun bercanda.
“Eh,” kataku sambil mengangkat botol sampo itu. “Ini sampo orang kaya, ya? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya pewaris keluarga konglomerat yang pura-pura miskin buat ngetes aku?”
Dia menatapku.
Diam.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Aku berkedip.
Lalu tertawa keras.
“Serius? Oke deh. Aku suka uang, suka cowok ganteng, dan juga suka hidup enak. Jadi kalau kamu memang kaya dan lagi ngetes aku, nikahin aku sekarang juga.”
Kupikir dia akan ikut tertawa.
Ternyata tidak.
Tatapannya berubah dingin.
“Kamu pikir semudah itu masuk ke keluargaku?”
Tubuhku langsung membeku.
“Gab…?”
Belum sempat aku berkata apa-apa lagi, terdengar suara tawa dari ponselnya yang ternyata sedang berada di mode speaker.
Beberapa suara pria dan wanita memenuhi ruang tamu kecil kami.
“Bro, baru tahu kamu kaya langsung minta nikah!”
“Cepat juga ya. Belum lihat rumah mewah saja sudah siap jadi Nyonya Monteverde.”
“Hahaha, Gab… kayaknya kamu menang taruhan.”
Seorang pria tertawa keras.
“Hadiah lamaran senilai **Rp100 juta** saja masih lebih murah dibanding tas yang dulu kamu belikan buat Celine Riego.”
Begitu nama itu terdengar, dunia seolah berhenti berputar.
**Celine Riego.**
Wanita itu.
Orang yang memimpin perundungan terhadapku saat SMA.
Orang yang membuatku takut datang ke sekolah.
Orang yang menjadikan kemiskinan, rambutku, pakaianku, bahkan seluruh hidupku sebagai bahan hinaan.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu terdengar suara seorang wanita dari sambungan telepon.
“Gabriel, apa yang mereka bicarakan?”
Aku mengenali suara itu.
Celine.
“Bukankah kita sepakat? Kamu cuma bantu aku memberi pelajaran pada dia. Bikin dia merasa sekecil apa pun usahanya, dia tetap cuma mainan orang-orang seperti kita.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatap Gab.
Dia sama sekali tidak terlihat terkejut.
Tidak juga merasa bersalah.
Dia mengusap air mata yang tanpa kusadari sudah mengalir di pipiku.
“Kamu berisik sekali, Celine,” katanya dingin. “Memangnya kamu siapa sampai bisa menyuruhku?”
“Gabriel, kamu gila? Kamu benar-benar mau menikahinya?”
Gab tersenyum tipis.
“Memangnya aku mau menikahimu?”
Seketika sambungan itu hening.
Lalu Gab berkata pelan,
“Aku bukan anjingmu, Celine. Tidak semua yang kamu inginkan akan kuturuti.”
Dia langsung memutus panggilan.
Ruang tamu mendadak sunyi.
Dia menatapku seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa kamu menangis?”
Aku tak mampu menjawab.
“Harusnya kamu senang. Ternyata pacarmu orang kaya.”
Lalu dia berjalan ke dapur.
“Mau makan nasi goreng? Aku masak.”
Seolah semuanya normal.
Seolah lima tahun hubungan kami bukan bagian dari permainan kejam yang dirancang oleh orang-orang yang dulu pernah menghancurkan hidupku.
Dia memakai celemek lamanya, menyalakan kompor, mengambil telur, bawang putih, dan bawang merah.
Aku berdiri di belakangnya sambil menahan napas.
“Kamu nggak capek?” tanyaku.
Tangannya berhenti.
“Apa?”
“Lima tahun berpura-pura di depanku. Kamu nggak capek?”
Dia tidak menjawab.
Hanya suara exhaust fan yang terdengar.
Aku mematikannya.
Keheningan langsung terasa semakin berat.
Aku memegang lengannya dan memaksanya menatapku.
“Kamu nggak mau jelasin apa pun?”
Dia menatapku sesaat.
“Aku sudah bilang.”
“Kamu belum bilang kenapa kamu melakukan semua ini.”
“Celine cuma teman masa kecilku. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku tertawa hambar.
“Teman masa kecil? Gab, aku dengar semuanya. Dia bilang kamu melakukan ini untuk memberiku pelajaran.”
Dia menghela napas, seolah akulah yang merepotkan.
“Mika, bukannya semua itu sudah lewat? Aku ada di sini. Aku memilihmu. Apa lagi yang kamu mau?”
“Kebenaran.”
Wajahnya langsung mengeras.
“Kebenaran? Baik. Ya, semuanya memang berawal dari taruhan. Ya, aku kenal Celine. Ya, aku tahu apa yang dulu terjadi di antara kalian. Tapi kita sudah bersama lima tahun. Apa itu masih belum cukup?”
“Tidak.”
Dia menatapku seperti tidak percaya mendengar jawaban itu.
“Kita tidak akan menikah,” kataku tegas.
Dia malah tersenyum sinis.
“Cuma gara-gara lelucon?”
“Lima tahun bukan lelucon.”
“Dulu kamu bilang mencintaiku walaupun aku miskin,” katanya dingin. “Sekarang setelah tahu aku kaya, malah nggak mau. Sebenarnya maumu apa, Mika?”
“Ini bukan soal uang.”
Tiba-tiba dia melempar mangkuk keramik yang dipegangnya ke dinding.
**PRAANG!**
Pecah berkeping-keping.
Aku mundur karena serpihan keramik beterbangan ke lantai. Lenganku terasa perih, tapi dadaku jauh lebih sakit.
Dia berdiri di sana dengan napas berat.
“Dulu waktu kamu kira aku miskin, kamu terus bicara soal rumah, pernikahan, masa depan. Sekarang aku bisa memberikan semuanya, tiba-tiba kamu merasa paling benar?”
“Mikaela,” panggilnya menggunakan nama lengkapku.
Belum sempat aku menjawab, layar ponselnya kembali menyala.
Sebuah pesan video dari **Celine** muncul.
Di layar, wajahnya terlihat jelas sambil tersenyum sinis.
“Gab… perlu aku unggah videonya? Biar seluruh Indonesia lihat bagaimana mantan siswi penerima beasiswa itu menangis setelah tahu kalau selama ini dia cuma dijadikan mainan.”
Aku menatap layar ponsel Gab yang masih menyala. Di sana, wajah Celine Riego tampak begitu puas, seolah dia baru saja memenangkan trofi terbesar dalam hidupnya.
“Mantan siswi penerima beasiswa.” Kata-kata itu bergaung di kepalaku, memicu memori kelam masa SMA saat Celine dan gengnya merundungku habis-habisan hanya karena aku miskin, karena seragamku kusam, dan karena rambutku kering tak terawat.
Gab melirik ponselnya, lalu menatapku. Alih-alih panik, tatapannya justru kembali tenang, dingin, dan penuh kalkulasi. Seorang Monteverde asli yang selama lima tahun ini bersembunyi di balik topeng pria ramah penyuka nasi goreng telur.
“Jangan dengerin dia, Mika. Aku bisa urus Celine dalam semalam,” kata Gab, suaranya melembut, tapi terdengar mengerikan di telingaku. “Hapus air matamu. Kita pindah dari apartemen busuk ini besok. Kamu mau rumah di Pondok Indah? Mobil baru? Aku kasih semuanya. Tapi tolong, berhenti bersikap kekanak-kanakan.”
Kekanak-kanakan.
Lima tahun hidupku yang tulus dihargai sebagai sebuah “sikap kekanak-kanakan”.
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di dadaku mendadak mati rasa, digantikan oleh sebentuk keberanian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku menatap serpihan mangkuk yang hancur di lantai, lalu beralih menatap botol sampo putih polos di atas meja—pemicu dari runtuhnya seluruh kebohonganku.
Aku tersenyum tipis. Sangat tipis hingga membuat Gab mengernyitkan dahi.
“Kamu benar, Gab. Aku selalu mendambakan masa depan bersama kamu,” kataku, suaraku tak lagi bergetar. “Tapi masa depan yang kuinginkan adalah dengan Gabriel si pria miskin yang bekerja keras, bukan dengan monster egois yang menjadikan hidupku taruhan.”
Aku melangkah mundur, meraih ponselku sendiri, dompet, dan tas kerjaku.
“Mikaela, jangan melangkah keluar dari pintu itu,” ancam Gab, suaranya merendah penuh peringatan. “Kalau kamu pergi, kamu nggak akan punya apa-apa lagi. Kamu mau balik jadi Mikaela yang miskin dan menyedihkan?”
“Aku lebih baik miskin dan punya harga diri, daripada tinggal di istana yang dibangun dari penghinaan,” balasku lantang.
Sebelum aku memutar kenop pintu, ponsel Gab kembali berdering. Bukan pesan, melainkan panggilan video dari nomor tak dikenal. Gab mengerutkan kening lalu mengangkatnya.
Layar itu menampilkan wajah seorang pria paruh baya berpakaian jas rapi—pengacara utama keluarga Monteverde.
“Tuan Muda Gabriel,” suara pengacara itu terdengar panik. “Kontrak taruhan lima tahun yang Anda buat dengan Riego Group… seseorang baru saja membocorkannya ke dewan komisaris Monteverde Holdings. Saham kita anjlok lima persen dalam satu jam terakhir karena isu manipulasi dan perundungan. Ketua—kakek Anda—marah besar. Beliau membatalkan hak waris Anda per menit ini sampai skandal ini mereda.”
Wajah Gab seketika pucat pasi. “Apa? Siapa yang membocorkannya?!”
Aku berbalik di ambang pintu, mengangkat ponselku sendiri yang layarnya menampilkan email terkirim ke divisi Whistleblower Monteverde Holdings dan beberapa media bisnis utama di Jakarta. Sebagai staf akuntansi, aku tahu persis bagaimana cara melacak aliran dana aneh—termasuk rekening bank atas nama Gabriel yang selama ini mengirimkan “dana taruhan bulanan” ke rekening bersama geng Celine. Aku sudah menyelidikinya lewat laptop Gab yang terbuka saat dia mandi tadi malam, tepat setelah aku curiga tentang sampo itu.
“Celine pikir dia memegang kartu as dengan video itu,” kataku tenang. “Tapi dia lupa, dunia orang kaya dikendalikan oleh reputasi saham, bukan video tangisan seorang staf akuntansi.”
Gab menatapku dengan mata membelalak, syok melihat wanita yang selama ini dia anggap lemah ternyata baru saja menghancurkan dinasti finansialnya.
“Mika… kamu…”
“Selamat tinggal, Gabriel. Nikmati nasi gorengmu. Sendirian.”
Aku melangkah keluar dari apartemen itu, menutup pintu dengan dentuman keras yang mengakhiri lima tahun ilusi bodoh dalam hidupku.
Tiga Bulan Kemudian
Udara pagi di kawasan Sudirman terasa segar. Aku berjalan memasuki gedung kantorku yang baru—sebuah perusahaan audit asing yang memberikan gaji tiga kali lipat dari kantor lamaku.
Rambutku? Hari ini rambutku dikuncir kuda dengan rapi. Tidak seberkilau saat memakai sampo rahasia milik keluarga Monteverde, tapi ini rambut asliku. Kering atau lembut, ini adalah diriku yang mandiri.
Dari berita yang kubaca minggu lalu, Riego Group milik keluarga Celine terpaksa melakukan merger karena boikot publik setelah skandal taruhan itu viral. Celine kini kehilangan status sosialnya dan kabarnya harus pindah ke luar negeri untuk menghindari rundungan balik dari netizen. Sementara Gabriel? Kakeknya benar-benar memotong seluruh asetnya. Dia kini benar-benar menjadi pria miskin di apartemen Tebet itu—bukan lagi sebagai penyamaran, melainkan sebagai hukuman.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing. “Mika, aku minta maaf. Aku rindu nasi goreng buatanmu.”
Aku menatap layar itu sejenak, tersenyum tanpa beban, lalu menekan tombol Block.
Aku melangkah masuk ke dalam lift dengan kepala tegak. Taruhan mereka mungkin berjalan selama lima tahun, tapi hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai hari ini.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.