PUKUL 03.12 PAGI, ANAKKU YANG BARU BERUSIA ENAM TAHUN MEMBANGUNKANKU DAN MELARANGKU MENYALAKAN LAMPU—LALU TERDENGAR KETUKAN DI PINTU DENGAN POLA YANG PERSIS SAMA SEPERTI SUAMIKU YANG SUDAH MENINGGAL SETAHUN LALU**
Pukul 03.12 dini hari, tiba-tiba putraku, **Nico**, terbangun.
Dia tidak menangis.
Dia juga tidak memanggil, “Mama,” seperti biasanya saat mimpi buruk.
Dia hanya duduk di atas tempat tidur, matanya membelalak, menatap lurus ke arah pintu kamar kami.
Awalnya kupikir dia hanya sedang bermimpi.
Sampai aku merasakan tangan kecilnya menggenggam erat pergelangan tanganku.
“Mama…”
Suaranya nyaris seperti embusan angin.
“Jangan nyalakan lampunya.”
Tubuhku langsung merinding.
Nico baru berusia enam tahun. Anak yang ceria, usil, sangat menyukai dinosaurus dan sup udang asam pedas. Bahkan kalau jatuh di taman bermain pun dia jarang menangis.
Tapi malam itu, wajahnya benar-benar berbeda.
Pucat.
Keningnya dipenuhi keringat.
Bibirnya gemetar.
“Nico?” bisikku. “Kamu mimpi buruk?”
Dia langsung menggeleng.
“Jangan bicara keras-keras,” katanya pelan.
Saat itulah aku benar-benar sadar.
Seluruh kamar gelap gulita.
Bukan gelap biasa.
Rasanya seperti seluruh dunia dipadamkan.
AC berhenti menyala.
Suara dengung kulkas dari luar kamar menghilang.
Bahkan lampu kecil pada router Wi-Fi di samping tempat tidur juga mati.
Aku mengambil ponselku.
**03.12 AM.**
Baterainya masih ada.
Tetapi tidak ada sinyal.
Wi-Fi juga hilang.
“Listrik padam?” gumamku.
Nico langsung menempelkan jarinya ke bibir.
“Ssst…”
Tatapannya tetap mengarah ke pintu kamar.
Meski tak ada suara apa pun, entah kenapa aku merasa ada seseorang berdiri di balik pintu itu.
Kami tinggal di lantai 21 sebuah apartemen di Jakarta.
Biasanya, bahkan dini hari pun masih terdengar suara lift, kendaraan dari jalan raya, anjing menggonggong, atau air mengalir di pipa.
Namun malam ini…
Tidak ada apa-apa.
Seolah hanya kami berdua yang masih hidup di seluruh gedung.
Nico menggenggam tanganku lebih erat.
“Mama… kita harus pergi sekarang.”
Aku berkedip.
“Pergi? Sekarang?”
Dia mengangguk.
“Jangan lewat pintu utama.”
“Hah?”
“Jangan naik lift. Jangan pakai senter. Bawa KTP, uang, HP, dan air minum saja. Jangan bawa koper.”
Aku hanya bisa menatap anakku.
Itu bukan cara bicara anak kecil.
Seolah ada orang dewasa yang berbicara melalui dirinya.
“Nico… siapa yang bilang begitu?”
Dia tidak menjawab.
Dia menelan ludah, lalu berbisik,

“Papa.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Suamiku, **Gabriel**, sudah meninggal setahun yang lalu.
Dia bekerja sebagai teknisi listrik di gedung apartemen tempat kami tinggal.
Suatu malam pihak pengelola menghubunginya karena ada pemeriksaan darurat di ruang panel listrik bawah tanah.
Dia tidak pernah pulang lagi.
Laporan resmi menyebutkan bahwa itu hanyalah kecelakaan.
Katanya dia terpeleset di tangga servis yang gelap.
Tidak ada saksi.
Aku sudah berusaha menerima kenyataan itu.
Berusaha menjalani hidup demi Nico.
Namun sekarang, di kamar yang gelap ini, anakku mengatakan bahwa ayahnya telah memperingatkannya.
“Nico…” kataku pelan sambil menahan gemetar. “Papa sudah meninggal.”
Air mata Nico langsung mengalir.
“Aku tahu.”
Aku semakin ketakutan.
Aku segera bangun.
Kukumpulkan akta kelahiran Nico, KTP, buku tabungan, sedikit uang tunai, power bank, dan sebotol kecil air minum.
Karena terburu-buru, aku bahkan tidak sadar memakai dua sandal yang berbeda—satu sepatu olahraga dan satu sandal rumah.
Saat hendak menggantinya, Nico menarik lenganku.
“Kita sudah tidak punya waktu.”
Kami berjalan perlahan menuju pintu kamar.
Namun dia tidak langsung membukanya.
Dia lebih dulu menempelkan telinganya ke daun pintu.
Aku sampai menahan napas.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu dia menoleh kepadaku.
“Mama…”
“Ada seseorang di ruang tamu.”
Lututku hampir lemas.
Aku sama sekali tidak mendengar suara apa pun.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada gesekan.
Tidak ada napas.
Namun ekspresi Nico mengatakan bahwa dia tidak sedang berbohong.
Aku memegang bahunya.
“Siapa?”
Dia tidak sempat menjawab.
Tiba-tiba…
Dari luar unit apartemen kami terdengar suara ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga kali.
Pelan.
Teratur.
Sangat familiar.
Tenggorokanku langsung kering.
Itu adalah cara Gabriel mengetuk pintu.
Saat masih hidup, setiap pulang kerja dia selalu mengetuk tiga kali sebelum membuka pintu dengan kunci, agar aku tidak kaget.
Tok.
Tok.
Tok.
Nico langsung mundur dan memelukku erat.
“Mama…” bisiknya dengan tubuh gemetar.
“Jangan dibuka.”
Lalu terdengar suara dari balik pintu.
“Mara…”
Seluruh tubuhku membeku.
Itu suara Gabriel.
“Mara… ini aku. Bukakan pintunya.”
Aku memegang dadaku.
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Mustahil.
Sudah setahun aku rutin mengunjungi makamnya.
Sudah setahun pakaian-pakaiannya kusimpan di dalam kotak karena aku belum sanggup membuangnya.
Sudah setahun aku mengatakan kepada Nico bahwa ayahnya kini berada di surga.
Namun suara di balik pintu itu…
Benar-benar suara Gabriel.
Perlahan aku mendekati lubang intip pintu.
Nico mencoba menarikku, tetapi aku tidak mampu menahan rasa penasaranku.
Aku mengintip.
Dan di balik lingkaran kecil peephole itu…
Aku melihat seorang pria berdiri tepat di depan pintu apartemen kami.
Dia mengenakan jaket abu-abu lama milik Gabriel.
Di tangannya tergenggam cincin pernikahan suamiku.
Lalu saat dia mengangkat wajahnya ke arah pintu…
Aku hampir menjerit.
Karena wajah pria di luar sana…
Adalah wajah suamiku…
Yang sudah meninggal setahun lalu.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus penyelesaian dari cerita tersebut:
Wajah itu benar-benar wajah Gabriel.
Bentuk rahangnya, potongan rambutnya, bahkan bekas luka kecil di dekat alis kirinya yang kudapatkan saat kami mendaki bersama dulu. Namun, ada sesuatu yang sangat keliru.
Matanya.
Mata di balik lubang intip itu tidak memiliki binar kehidupan. Kornea matanya putih keruh, kosong, dan tidak berkedip sama sekali. Gerakan lehernya saat menatap lurus ke arah lubang intip terasa patah-patah, seperti sebuah manekin yang dipaksa bergerak oleh utas tali yang tak terlihat.
“Mara…” suara itu kembali terdengar, keluar dari bibirnya yang tidak bergerak selaras dengan kata-katanya. “Di luar dingin sekali. Bukakan pintunya.”
“Mama, jangan!” Nico menarik ujung bajuku dengan histeris, namun suaranya tetap ditahan agar tidak keras. “Itu bukan Papa! Papa yang asli datang di mimpiku tadi, dia bilang ‘benda’ yang ada di ruang panel bawah tanah setahun lalu… benda itu sekarang datang untuk menjemput kita!”
Kata-kata Nico menyentak kesadaranku. Ruang panel bawah tanah. Tempat Gabriel “terpeleset” dan meninggal setahun lalu. Kecelakaan yang selalu terasa janggal karena seluruh rekaman CCTV di lantai itu mendadak terhapus di jam kematiannya.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Pintu kayu apartemen kami mulai bergetar hebat.
“Mara, aku tahu kamu di dalam. Buka…” Suara yang tadinya mirip Gabriel tiba-tiba distorsi, berubah menjadi perpaduan puluhan suara asing—suara pria, wanita, hingga anak-anak yang tumpang tindih dan bergema parau.
Kepanikan mencengkeramku, namun insting seorang ibu memaksa otakku berpikir cepat. Kami berada di lantai 21. Tidak ada jalan keluar selain pintu utama ini. Jendela? Mustahil, itu sama saja bunuh diri.
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Apartemen kami memiliki pintu servis kecil di balik area dapur, tempat pipa pembuangan sampah gedung berada. Pintu itu langsung terhubung ke tangga darurat luar yang jarang digunakan karena hanya diperuntukkan bagi petugas kebersihan.
“Nico, lewat dapur. Sekarang!” bisikku menyambar tas berisi dokumen penting.
Kami merangkak dalam kegelapan pekat ruang tamu. Samar-samar, aku bisa melihat bayangan hitam besar berkelebat di luar jendela kaca balkon—sesuatu yang sangat panjang dan kurus sedang merayap di dinding luar gedung lantai 21, mencoba mengintip ke dalam. Makhluk itu tidak sendirian.
BRAAKK!
Pintu depan apartemen kami retak. Engselnya mulai terlepas. Sosok yang menyerupai Gabriel itu mulai mendorong pintu dengan kekuatan yang tidak manusiawi.
Aku dan Nico berhasil mencapai dapur. Tanganku yang gemetar meraba-raba grendel pintu servis yang sudah berkarat.
Sreeek… Cklek!
Pintu terbuka. Udara malam yang dingin langsung menusuk kulit. Di depan kami adalah lorong tangga darurat yang gelap gulita. Tanpa berpikir panjang, aku menarik Nico keluar dan menutup kembali pintu servis itu dari luar, menguncinya rapat-rapat.
Tepat saat pintu itu terkunci, dari dalam apartemen kami terdengar suara hantaman keras. Pintu depan telah jebol. Diikuti oleh suara jeritan melengking yang bukan suara manusia, melainkan suara gesekan logam yang memekakkan telinga. Kebohongan wujud Gabriel telah runtuh; makhluk itu menyadari kami sudah melarikan diri.
“Lari, Nico! Jangan menoleh ke belakang!”
Kami berlari menuruni anak tangga demi anak tangga dalam kegelapan. 21 lantai terasa seperti lingkaran neraka yang tanpa akhir. Kakiku yang memakai sepatu berbeda membuatku beberapa kali tersandung, namun rasa takut mengalahkan rasa sakit. Dari arah atas, terdengar suara dentuman keras berulang-ulang—makhluk itu sedang menghancurkan pintu servis dapur, mengejar kami.
Langkah kaki makhluk itu terdengar aneh. Bukan dua kaki, melainkan seperti puluhan pasang kaki kurus yang mengetuk anak tangga dengan cepat. Tk-tk-tk-tk-tk. Jaraknya semakin dekat.
“Mama… aku capek…” tangis Nico mulai pecah di lantai 12.
“Sebentar lagi, Sayang. Pegang tangan Mama!” Aku menggendong Nico di punggungku, mengabaikan rasa panas yang membakar paru-paruku.
Saat kami mencapai lantai dasar, sebuah keajaiban terjadi. Lampu darurat hijau di atas pintu keluar menuju area parkir tiba-tiba berkedip menyala. Bersamaan dengan itu, terdengar suara dengung keras.
BZZZZT!
Listrik di seluruh gedung mendadak pulih dalam satu sentakan besar. Lampu-lampu koridor menyala terang benderang. Suara bising dari jalan raya kembali terdengar, dan sinyal di ponselku langsung penuh, memunculkan puluhan notifikasi yang tertunda.
Di belakang kami, di dalam lorong tangga darurat yang remang-remang, terdengar suara pekikan kesakitan yang amat sangat. Begitu cahaya lampu menyala, makhluk itu tampaknya tidak bisa bertahan. Suara langkah kaki berisik itu perlahan-lahan mundur, merayap kembali naik ke dalam kegelapan lantai atas yang tak terjangkau cahaya.
Aku terduduk di lantai parkiran yang dingin, memeluk Nico yang menangis sesenggukan. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dingin.
Aku melihat ke arah layar ponselku.
03.13 AM.
Hanya satu menit. Seluruh kejadian mengerikan yang terasa seperti berjam-jam itu ternyata hanya berlangsung selama satu menit di dunia nyata.
Di layar ponsel, sebuah pesan teks masuk dari nomor yang sudah setahun dinonaktifkan—nomor lama milik Gabriel. Pesan itu terkirim tepat pada pukul 03.12, saat listrik padam tadi.
Aku membuka pesan itu dengan tangan gemetar.
“Pintu panel bawah tanah sudah terbuka sejak setahun lalu. Maaf aku tidak bisa menutupnya kembali. Jaga Nico, Mara. Segera pergi dari gedung ini dan jangan pernah kembali.”
Aku menatap bangunan apartemen tinggi menjulang di hadapanku, yang kini tampak normal dan terang benderang di bawah langit subuh Jakarta. Namun aku tahu, di dalam fondasi beton itu, ada sesuatu yang mengerikan sedang bersembunyi.
Sambil mendekap Nico erat-erat, aku berjalan keluar menuju jalan raya yang mulai ramai, berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat itu.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.