Posted in

AKU MASUK KE PERNIKAHANKU SENDIRI DENGAN LEBAM YANG DISEMBUNYIKAN DI BAWAH MAKEUP TEBAL—DAN PRIA DI ALTAR ITU TERSENYUM SEOLAH SUDAH MEMBELI SELURUH HIDUPKU… SAMPAI AKU MENDENGARNYA BERBISIK, “DIA HARUS BELAJAR MENURUT”

AKU MASUK KE PERNIKAHANKU SENDIRI DENGAN LEBAM YANG DISEMBUNYIKAN DI BAWAH MAKEUP TEBAL—DAN PRIA DI ALTAR ITU TERSENYUM SEOLAH SUDAH MEMBELI SELURUH HIDUPKU… SAMPAI AKU MENDENGARNYA BERBISIK, “DIA HARUS BELAJAR MENURUT”

Aku berjalan memasuki pernikahanku sendiri di sebuah gereja mewah di Intramuros, Manila, sementara lebam di wajahku tersembunyi di balik tiga lapis concealer dan veil tebal.

Di altar, Adrian Villareal tersenyum.

Bukan seperti pria yang akan menikah.

Melainkan seperti raja yang sedang menunggu tawanan.

Gereja dipenuhi mawar putih dan dekorasi emas.

Tiga ratus tamu.

Orang-orang yang selama berbulan-bulan mengatakan aku “beruntung”.

Beruntung karena akan menikahi pewaris salah satu keluarga paling berkuasa di negeri ini.

Beruntung karena katanya aku “diselamatkan” dari kehidupan biasa.

Di barisan depan, ibuku menangis.

Bukan karena bahagia.

Tapi karena dia tahu kenyataannya.

Di sebelahnya duduk Celeste Villareal, ibu Adrian, mengenakan gaun hijau emerald dan berlian yang berkilau seperti taring.

Dialah yang memilih gaun pengantinku.

Daftar tamu.

Janji pernikahan.

Bahkan warna foundation untuk menutupi lebam yang diberikan putranya malam sebelum pernikahan.

“Kamu akan tersenyum besok,” kata Adrian dingin sambil mencengkeram rahangku di dapur penthouse miliknya.

“Kalau tidak… biaya rumah sakit ibumu akan hilang.”

Lalu—

dia memukulku.

Tidak cukup keras untuk mematahkan tulang.

Dia hati-hati.

Pria seperti dia selalu hati-hati.

Sekarang, saat aku berjalan menuju altar, dia menunduk ke arah best man-nya.

Dia memperhatikan wajahku.

Mencari apakah masih ada kelemahan di balik makeup.

“Dia berhasil menutupinya dengan baik,” bisik best man itu.

Senyum Adrian semakin lebar.

Lalu aku mendengar bisikan paling dingin sepanjang hidupku.

“Biarkan dia belajar.”

Genggamanku pada bouquet semakin erat.

Pastor mulai berbicara.

Kamera-kamera bergerak diam di sepanjang aisle.

Semua mata tertuju padaku saat aku berdiri di samping pria yang menggunakan rasa takut sebagai tali kekang.

Dia menggenggam tanganku erat.

“Tenang,” bisiknya.

“Setelah ini, semua yang kamu punya juga akan jadi milik kami.”

Yang dia maksud:

rumah ibuku.

Saham peninggalan ayahku.

Dan perusahaan teknologi kecil milikku yang kubangun dengan nama yang bahkan tak pernah mereka repotkan untuk telusuri.

Karena bagi keluarga Villareal…

aku hanyalah wanita pendiam.

Dan bagi mereka, wanita pendiam tidak punya nilai.

Aku menatapnya.

Dan selama satu detik…

aku membiarkannya melihat tanganku gemetar.

Dia menyukainya.

Bagus.

Karena meski tangan ini gemetar…

tangan ini masih bisa menekan tombol play.

Meski suaraku gemetar…

suara ini masih bisa mengatakan kebenaran.

Dan meski seorang wanita terluka…

dia tetap bisa menghancurkan pria yang menyakitinya.

Pastor bertanya apakah kami siap mengucapkan janji pernikahan.

Adrian mengangkat dagunya, siap menjadikan semuanya sebagai pertunjukan kepemilikan.

Tapi akulah yang pertama mengambil mikrofon.

“My future,” kataku, suaraku menggema di seluruh gereja,

“tidak pernah akan berisi kebungkaman.”

Seluruh gereja langsung sunyi.

Dahi Adrian berkerut.

“Apa yang kamu lakukan?” bisiknya.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

bukan karena takut.

Melainkan karena aku sudah selesai merasa takut.

Lalu aku menekan remote di bawah bouquet.

Layar besar di belakang altar menyala.

Dan video mulai diputar.

Yang pertama muncul:

Adrian.

Marah.

Mabuk.

Mencengkeram rahangku.

“Kamu akan tersenyum besok!” bentaknya di video.

“Kamu milik kami sekarang.”

Gereja langsung gaduh.

Ada yang tersentak.

Ada yang berdiri.

Ada yang menutup mulut syok.

Wajah Celeste Villareal langsung pucat.

“Dan kalau kamu berani melapor,” lanjut Adrian dalam video,

“aku akan memastikan kamu kehilangan semuanya.”

Pastor berhenti berbicara.

Para tamu terpaku.

Dan dalam satu menit yang brutal…

semuanya hancur.

Bukan hanya pernikahannya.

Tapi juga citra keluarga sempurna Villareal.

Di bagian belakang gereja, pintu terbuka.

Dua polisi masuk.

Diikuti para pengacara.

Dan beberapa anggota dewan Villareal Holdings.

Kini, aku bukan lagi wanita diam di altar.

Aku adalah badai yang akan menghancurkan semua yang mereka kira bisa mereka kendalikan.

BAGIAN 2

Adrian berdiri mematung, wajahnya yang tadinya penuh kemenangan kini memerah karena murka yang bercampur dengan rasa malu yang luar biasa. Dia mencoba meraih mikrofon dari tanganku, tapi aku melangkah mundur, membiarkan para tamu melihat noda darah yang mulai merembes di balik veil tipis akibat cengkeramannya yang terlalu kuat tadi.

“Matikan itu! Matikan!” teriak Celeste Villareal dari barisan depan. Dia mencoba berlari menuju operator, namun langkahnya terhenti oleh sesosok pria tegap berseragam polisi.

“Jangan bergerak, Nyonya Villareal,” perintah petugas itu.

Video di layar berganti. Kali ini bukan lagi soal kekerasan fisik, melainkan rekaman suara pembicaraan rahasia antara Adrian dan ibunya tentang bagaimana mereka berencana melikuidasi perusahaan teknologiku untuk menutupi hutang judi Adrian yang mencapai jutaan dolar.

Seluruh gereja riuh. Para investor yang tadinya duduk dengan bangga kini saling berbisik panik. Citra “keluarga penyelamat” yang mereka bangun selama puluhan tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Penyamaran yang Terbuka

“Kamu pikir aku tidak tahu?” suaraku kini tenang, menusuk keheningan yang tersisa. “Kamu pikir aku hanya wanita biasa yang bisa kamu beli dengan janji-janji kosong?”

Aku melepaskan veil pengantinku, membiarkan semua orang melihat lebam di pipi kiriku yang kini jelas terlihat karena makeup-ku terhapus air mata amarah.

“Perusahaan teknologi yang kalian anggap ‘kecil’ itu adalah pemegang lisensi utama untuk sistem keamanan perbankan Villareal Holdings. Dan pagi ini, sebelum aku menginjakkan kaki di gereja ini, aku sudah memutus seluruh akses kalian.”

Adrian membelalak. “Apa?! Kamu tidak bisa melakukan itu!”

“Aku bisa, Adrian. Karena pemilik asli perusahaan itu bukan ‘wanita pendiam’ yang kamu pukul semalam. Namaku adalah Maya Santillan, dan aku adalah CEO yang selama ini kalian cari untuk negosiasi kontrak tahun depan.”

Kehancuran Kekaisaran Villareal

Pastor mundur menjauh dari altar, menyadari bahwa tidak akan ada janji suci yang diucapkan hari ini.

Dua polisi naik ke atas altar. Salah satu dari mereka mengeluarkan borgol. “Adrian Villareal, Anda ditahan atas tuduhan penganiayaan berat dan percobaan penipuan korporasi.”

Adrian menoleh ke arah ibunya, mencari bantuan, namun Celeste sedang sibuk menghadapi para anggota dewan Villareal Holdings yang kini menuntut penjelasan atas penggelapan dana yang terungkap di video tadi.

Saat Adrian digiring melewati aisle tempat aku tadi berjalan dengan ketakutan, dia berhenti sejenak. Matanya penuh kebencian, tapi di baliknya, ada kehancuran total.

“Kamu menghancurkan hidupku,” desisnya.

“Tidak, Adrian,” jawabku sambil meletakkan bouquet mawar putih itu di lantai gereja. “Aku hanya mengembalikan hidupku yang coba kamu curi.”

Awal yang Baru

Aku menghampiri ibuku di barisan depan. Dia memelukku erat, tangisnya kini berubah menjadi kelegaan yang murni. Kami berjalan keluar dari gereja mewah itu, melewati dekorasi emas yang kini terasa seperti sampah.

Di luar gereja, kilatan kamera wartawan menyambut kami. Tapi kali ini, aku tidak menunduk. Aku mengangkat daguku tinggi-tinggi. Makeup di wajahku mungkin sudah berantakan, dan lebam itu masih terasa perih, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar cantik.

Keluarga Villareal mengira mereka telah membeli seorang tawanan. Mereka tidak tahu bahwa mereka justru mengundang seekor singa ke dalam sarang mereka.

Hari itu, tidak ada lonceng pernikahan yang berbunyi di Intramuros. Yang terdengar hanyalah suara runtuhnya sebuah kekaisaran yang dibangun di atas penderitaan orang lain—dan suara seorang wanita yang akhirnya menemukan kembali suaranya sendiri.