PELAYAN WANITA ITU MENANGGAPI GUYONAN “MAU MENIKAH DENGANKU?” DARI SEORANG ANAK KECIL—TANPA TAHU BAHWA ANAK ITU ADALAH PUTRA DARI BOS MAFIA PALING DITAKUTI DI MANILA… DAN DIA TERNYATA SATU-SATUNYA WANITA YANG TAK BISA DIBELI OLEH UANG MAUPUN KEKUASAAN
PART 1
“Mau menikah denganku, Miss Alina?”
Alina Reyes hampir menjerit saat mendengar suara kecil dari sudut gelap gudang penyimpanan.
Dia langsung menoleh sambil menggenggam wajan tua seperti senjata. Punggungnya menempel pada rak dingin berisi kaleng dan karung tepung sementara napasnya gemetar.
Di balik pintu dapur yang tipis, suara melengking ibu tirinya, Celina, terdengar jelas.
— Mau sembunyi semalaman pun percuma, Alina! Anak buah Don Esteban sudah di luar! Kamu pikir aku bakal rela kehilangan Rp900 juta cuma karena kamu mau sok berani?!
Alina memejamkan mata.
Rp900 juta.
Itulah harga hidupnya.
Itulah nilai tubuhnya.
Itulah bayaran yang diterima ibu tirinya setelah tenggelam dalam judi dan utang.
Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, semuanya perlahan hilang.
Pertama rumah mereka.
Lalu warung makan kecil mereka di Tondo.
Dan akhirnya… dirinya sendiri.
Dia kabur dari Tondo ke Cubao, dari Cubao ke Pasay, terus berganti nama dan pekerjaan—pelayan di diner murah, pencuci piring, kasir toko roti.
Tapi Celina selalu berhasil menemukannya.
Selalu ada seseorang yang mengikuti.
Pria berwajah penuh bekas luka.
Pesan ancaman.
Atau pengingat bahwa tak ada tempat aman untuk lari.
Dan malam ini, di belakang restoran Italia kecil di Makati tempat dia bekerja selama tiga bulan dengan nama keluarga palsu…
masa lalunya menemukannya lagi.

Terdengar suara gesekan dari balik tumpukan kardus.
Alina menggenggam wajannya lebih erat.
Lalu perlahan muncul seorang anak laki-laki kecil.
Sekitar enam atau tujuh tahun.
Berambut hitam.
Bermata besar dan serius.
Dan memakai piyama superhero di balik mantel mahal yang jelas bukan pakaian anak biasa.
Anak itu berkedip melihat wajannya.
— Tolong jangan pukul saya, bisiknya. Saya bukan orang jahat.
Alina sedikit menurunkan wajannya.
— Siapa kamu?
Anak itu berdiri tegak.
— Namaku Matteo Villareal. Aku lagi sembunyi dari Daddy.
— Daddy-mu?
Dia mengangguk serius.
— Besok katanya aku mau dibawa ke dokter. Aku nggak suka dokter. Mereka selalu bawa suntikan terus bilang sesuatu yang bikin orang dewasa tiba-tiba menangis.
Di tengah ketakutannya, Alina hampir tersenyum.
— Ah… berarti kita sama-sama sedang bersembunyi.
Mata anak itu membesar.
— Kakak juga sembunyi dari penyihir jahat?
Alina tertawa kecil.
— Kurang lebih begitu.
Tiba-tiba Celina menggedor pintu.
— ALINA! KELUAR SEKARANG SEBELUM KUSERET KAMU!
Alina tersentak.
Matteo menatap memar di pergelangan tangannya.
Lalu kembali melihat wajahnya.
Dan saat itu ekspresi anak itu berubah.
Kepolosannya menghilang.
Ada keberanian aneh yang muncul di wajah kecilnya.
— Di dongeng, kalau ada penyihir jahat, pasti ada ksatria yang menyelamatkan putri.
Alina tertawa lelah.
— Kurasa nggak ada ksatria di Manila.
Anak itu mendekat lalu mengangkat dagunya.
— Aku.
Alina terpaku.
Anak itu terlihat sangat serius seolah kata-katanya benar-benar mungkin terjadi.
— Daddy punya banyak bodyguard. Semua orang takut sama dia. Jadi kalau Kakak menikah denganku… penyihir itu nggak akan bisa menyakiti Kakak lagi.
Sesuatu seperti retakan terasa di hati Alina.
Selama berminggu-minggu dia menangis.
Selama berbulan-bulan dia hidup dalam ketakutan.
Dan sekarang, anak kecil asing adalah orang pertama yang berkata akan melindunginya.
Dia berlutut di depan anak itu.
— Benarkah? Kamu bisa menyelamatkanku?
Matteo mengangguk kuat.
— Seratus persen.
Alina tertawa kecil sambil menahan air mata.
— Baiklah. Aku akan menikah denganmu.
Wajah anak itu langsung bersinar.
— Janji?
Alina mengulurkan jari kelingkingnya.
— Janji.
Anak itu langsung mengaitkan jari kelingkingnya.
Tapi sebelum mereka sempat tertawa—
BRAK!
Pintu gudang dihantam hingga terbuka.
Alina langsung berdiri dan refleks melindungi anak itu di belakang tubuhnya.
Dia mengira itu anak buah Celina.
Atau para penagih utang.
Namun saat melihat pria yang masuk…
seluruh ruangan terasa mendadak dingin.
Tinggi.
Memakai setelan hitam.
Bahu lebar.
Mata abu-abu yang dingin.
Dan aura yang mampu membuat seluruh restoran diam tanpa perlu bicara.
Dua pria bersenjata berdiri di belakangnya.
Tak perlu diperkenalkan siapa dia.
Seluruh Manila mengenal wajah itu.
Dari berita.
Dari bisik-bisik.
Dari rasa takut.
Don Rafael Villareal.
Bos mafia paling ditakuti di Filipina.
Tatapannya perlahan menyapu Alina.
Berhenti di luka di bibirnya.
Di memar pergelangan tangannya.
Lalu berhenti pada Matteo.
Suaranya tenang.
Tapi lebih menakutkan daripada teriakan.
— Matteo… apa yang Daddy bilang tentang kabur dari pengawasan?…
PART 2
Matteo tidak gemetar. Sebaliknya, dia melangkah maju dari belakang Alina, namun tetap memegang ujung daster pelayan wanita itu dengan erat.
“Aku tidak kabur, Daddy,” suara Matteo terdengar lantang di gudang yang sempit itu. “Aku sedang mencari istriku.”
Dua pria bersenjata di belakang Rafael saling berpandangan, bingung, namun Rafael tetap tidak bergemin. Matanya yang tajam kini tertuju sepenuhnya pada Alina. Alina merasa kakinya lemas. Dia tahu siapa pria ini. Rafael Villareal bukan hanya sekadar nama; dia adalah hukum di jalanan Manila.
“Istri?” Rafael mengulangi kata itu dengan nada datar, namun ada kilatan aneh di matanya.
“Ya,” Matteo mengangkat dagunya. “Miss Alina sudah berjanji. Kami sudah melakukan janji kelingking. Jadi sekarang dia adalah seorang Villareal. Dan Daddy bilang, Villareal tidak akan membiarkan miliknya disakiti oleh siapa pun.”
Tepat saat itu, Celina menerobos masuk ke gudang, diikuti oleh tiga pria berwajah sangar dari geng Don Esteban.
“Itu dia! Tangkap dia!” teriak Celina sambil menunjuk Alina. Dia tidak menyadari siapa pria jangkung yang berdiri di tengah gudang karena pencahayaan yang remang. “Maaf, Tuan-tuan, kalau kalian pelanggan restoran, tolong minggir. Gadis ini punya utang yang harus dibayar dengan nyawanya!”
Rafael perlahan menoleh. Tatapannya pada Celina begitu dingin hingga wanita itu mendadak berhenti bicara. Keberanian palsu para penagih utang Esteban menguap saat mereka mengenali lambang naga perak di kerah kemeja Rafael.
“Don… Don Rafael?” salah satu penagih utang tergagap, wajahnya memucat.
“Tadi kau bilang apa?” tanya Rafael tenang. “Utang? Nyawa?”
Celina, yang masih bodoh dan dibutakan oleh uang, menyela, “Gadis ini, Alina, dia sudah dijual kepada Don Esteban seharga Rp900 juta. Saya ibunya, saya punya hak atas dia!”
Alina memejamkan mata, menunggu ajalnya. Dia terjebak di antara naga dan harimau.
PERLINDUNGAN SANG DON
Rafael tidak menjawab Celina. Dia justru berlutut di depan putranya, sejajar dengan mata Matteo. “Matteo, kau yakin ini pilihanmu?”
“Ya, Daddy. Dia menyelamatkanku dari penyihir jahat,” Matteo menunjuk Celina.
Rafael berdiri perlahan, lalu mengeluarkan selembar cek dari saku dalamnya. Dia menuliskan sesuatu dengan pena emas, lalu melempar kertas itu ke lantai, tepat di depan kaki Celina.
“Di sana tertulis Rp2 miliar,” kata Rafael dingin. “Rp900 juta untuk melunasi utangmu, dan sisanya untuk memastikan wajahmu tidak pernah terlihat lagi di radius sepuluh kilometer dari wanita ini. Jika kau melanggarnya, kau tidak akan butuh uang itu untuk biaya pemakamanmu sendiri, karena tubuhmu tidak akan pernah ditemukan.”
Celina gemetar hebat saat mengambil cek itu, lalu lari tunggang langgang diikuti para penagih utang yang ketakutan.
Gudang itu kembali sunyi. Alina menatap Rafael dengan tidak percaya. “Kenapa… kenapa Anda melakukan ini? Saya tidak bisa membayar Anda balik. Saya tidak punya apa-apa.”
Rafael melangkah mendekat. Jarak mereka hanya beberapa senti. Dia bisa mencium aroma tepung dan sabun cuci dari pakaian Alina—aroma yang sangat asing di dunianya yang penuh bau mesiu dan cerutu mahal.
“Anakku tidak pernah salah memilih orang, Miss Reyes,” bisik Rafael. “Dan dia benar. Villareal tidak akan membiarkan miliknya disakiti.”
“Tapi janji itu… itu hanya guyonan untuk menghibur Matteo,” kata Alina gugup.
Rafael menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajah sang Don.
“Bagi Matteo, itu janji. Bagi saya, itu investasi,” Rafael memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membukakan pintu mobil limusin di luar. “Anda bilang Anda satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang maupun kekuasaan. Mari kita lihat apakah Anda bisa menolak permintaan seorang anak kecil yang hanya ingin ibunya kembali.”
Matteo menarik tangan Alina. “Ayo, Miss Alina! Kita pulang ke istana!”
Alina menatap Rafael, lalu menatap Matteo. Dia tahu masuk ke dalam mobil itu berarti masuk ke dunia yang gelap dan berbahaya. Tapi saat dia melihat binar di mata Matteo, dia menyadari bahwa pelariannya telah berakhir.
Bukan karena dia tertangkap, tapi karena dia akhirnya ditemukan oleh seseorang yang tidak menginginkan tubuhnya, melainkan jiwanya untuk menyelamatkan sebuah keluarga yang hancur.
Malam itu, di jalanan Manila yang bising, seorang pelayan restoran kecil menghilang—dan seorang calon ratu mafia baru saja lahir.