Aku mematikan ponselku dan pergi dari rumah selama lima hari… aku tidak menyangka hal itu akan mengubah seluruh pernikahan kami selamanya…
Namaku Althea Ramos.
Aku tinggal bersama suamiku, Gabriel, di apartemen tua kecil satu kamar dekat Ortigas Center, Metro Manila. Luasnya bahkan belum sampai empat puluh meter persegi, tapi sejak kami menikah, aku berusaha menjadikannya benar-benar “rumah.”
Sofa warna krem yang kuangsur selama delapan bulan.
Meja makan kecil di dekat jendela dengan pemandangan kemacetan tanpa akhir setiap sore.
Dan dapur sempit yang selalu berbau bawang tumis dan bubur ayam.
Aku mencintai tempat itu.
Sampai keluarga suamiku mulai menganggapnya seperti hotel gratis di tengah Manila.
Semua bermula pada Selasa malam.
Aku baru pulang dari Makati setelah meeting hampir empat jam. Aku sangat lelah ketika mendengar Gabriel berbicara di telepon di balkon.
Suaranya pelan tapi jelas tegang.
— “Iya, Ma… tapi apartemen kami kecil…”
Dia terdiam sesaat.
— “Bukan berarti aku nggak mau…”
Sunyi lagi.
Saat melihatku, dia langsung mengalihkan pandangan.
Saat itu juga aku tahu ada masalah.
Begitu telepon ditutup, dia memaksakan senyum.
— “Mama dan Kak Adrian mau datang ke Manila beberapa hari.”
Perlahan aku melepas sepatu.
— “Beberapa hari itu berapa lama?”
Dia tidak berani menatapku.
— “Mungkin… seminggu.”
Aku tertawa pahit.
Di keluarganya, “seminggu” berarti: sampai mereka bosan tinggal.
Terakhir kali ibu mertuaku datang ke Manila katanya mau periksa ke dokter, dia tinggal hampir satu bulan.
Tagihan listrik jadi dua kali lipat.
Air hampir tiga kali lipat.
Dan isi kulkas habis hanya dalam empat hari.
Tapi bukan uang yang paling melelahkanku.
Melainkan perasaan seperti pembantu di rumah sendiri.
Tiga hari kemudian, mereka benar-benar datang.
Ibu mertuaku, Celeste Ramos.
Kakak Gabriel, Adrian.
Istrinya, Maricel.
Dan anak kembar mereka yang bergerak seperti badai.
Enam koper besar.
Tiga tas mainan.
Dan bahkan tidak membawa satu kantong belanjaan pun.
Baru masuk apartemen, Celeste langsung bicara.
— “Ya Tuhan, panas sekali Manila. Kenapa AC belum dinyalakan?”
Aku belum sempat menjawab ketika Maricel membuka kulkas.
— “Hah? Isinya cuma segini? Kukira gaji orang Makati besar.”
Aku terdiam sambil memegang dua kantong belanja berat.
Di dalamnya ada susu, daging, buah, camilan anak-anak mereka, dan obat darah tinggi ibu mertua — semuanya kubeli dengan uangku sendiri.
Tidak ada yang bertanya berapa uang yang kuhabiskan.
Tidak ada yang bilang terima kasih.
Malam pertama, jam delapan malam aku baru pulang tapi tetap aku yang memasak mie goreng, ayam kecap, dan sup asam untuk semua orang.
Sementara Adrian santai rebahan di sofa sambil menonton basket.
Maricel sibuk main TikTok.
Dan ibu mertuaku terus mengeluh soal kecilnya apartemen.
— “Dulu Gabriel anak yang baik. Sejak menikah jadi tidak bertanggung jawab.”
Aku terdiam sambil menuang kuah.
Tidak bertanggung jawab?
Setengah uang sewa dibayar olehku.
Internet juga aku.
Dan sebagian besar peralatan rumah tangga, aku yang beli.
Tapi di mata mereka, aku tetap beban.
Baru hari kedua, semuanya makin parah.
Maricel mendorong keranjang pakaian kotor ke depanku.
— “Althea, sekalian cuci ya.”
Aku menatap tumpukan pakaian anak-anak dan orang dewasa.
— “Mesin cuci ada di sana, Kak.”
Dia tersenyum seolah tidak ada yang salah.
— “Kamu kan lebih biasa.”
Malamnya, aku melihat set skincare-ku seharga lebih dari Rp1,7 juta hancur karena dimainkan anak-anak di kamar mandi.
Maricel cuma berkata:
— “Namanya juga anak-anak. Lebay banget sih.”
Gabriel ada di sampingku waktu itu.
Seolah ingin mengatakan sesuatu…
Tapi akhirnya diam saja.
Diamnya lebih menyakitkan daripada hinaan.
Malam keempat, aku demam karena terlalu lelah.
Aku baru selesai online meeting ketika mendengar ibu mertuaku berteriak dari ruang tamu.
— “Althea! Bikinin kopi dong!”
Aku memejamkan mata beberapa detik.
Lalu berdiri.
Saat melewati ruang tamu, aku melihat Adrian menjatuhkan remah-remah keripik ke lantai.
Anak-anak mencoret dinding dekat TV dengan spidol.
Dan Gabriel…
Masih diam.
Malam itu aku masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Aku duduk di lantai dingin sambil masih mendengar tawa mereka dari luar.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari sahabatku, Denise.
“Kami masih ada slot tambahan buat company retreat di Palawan buat karyawan stres. Mau ikut?”
Aku menatap diriku di cermin.
Lingkar hitam di bawah mata.
Kulit pucat.
Bibir kering.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Gajiku baru masuk pagi tadi.
Tapi hanya dalam empat hari, hampir Rp5,7 juta habis untuk keluarga suamiku.
Aku lama menatap sisa saldo.
Lalu hanya membalas satu kata.
“Mau.”
Malam berikutnya, aku berkata pada Gabriel yang sedang rebahan sambil main ponsel.
— “Aku mau ke Palawan lima hari.”
Dia langsung bangun.
— “Apa?”
— “Company retreat.”
— “Terus Mama gimana?”
Aku menatapnya lurus.
— “Mereka keluargamu, Gabriel.”
— “Tapi kamu tahu aku nggak bisa handle semua itu.”
Aku tersenyum pahit.
— “Aku juga dulu nggak bisa. Aku cuma belajar karena nggak ada yang bantu.”
Dia mulai kesal.
— “Kamu egois banget kalau pergi sekarang.”
Aku mengepalkan tangan erat.
— “Aku bukan egois. Aku cuma berusaha menyelamatkan diriku sendiri sebelum aku benar-benar membenci pernikahan kita.”
Keesokan paginya, saat aku menarik koper keluar, ibu mertuaku berkata dingin:
— “Silakan pergi. Tapi masak dulu makanan buat lima hari.”
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak tersenyum.
— “Ada lima orang dewasa di rumah ini. Tidak akan ada yang mati kelaparan.”
Seluruh ruang tamu langsung sunyi.
Seolah mereka tidak percaya aku berani menjawab.
Aku masuk lift.
Baru pintu tertutup, Gabriel langsung mengirim pesan bertubi-tubi.
“Berasnya di mana?”
“Cara pakai mesin cuci gimana?”
“Keponakanku nangis nggak mau makan.”
Aku mematikan ponsel.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
aku bisa bernapas lega.
Lima hari di Palawan berlalu cepat.
Lautnya indah.
Tempatnya tenang.
Tidak ada yang membangunkanku jam enam pagi untuk memasak.
Tidak ada yang melempar cucian ke wajahku.
Tidak ada yang bertindak seolah mengorbankan diri demi mereka adalah kewajibanku.
Tapi di hari kelima…
Begitu pesawat mendarat di NAIA, ponselku menyala dan ada satu pesan dari Gabriel.
Hanya satu kalimat.
“Cepat pulang.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
Hampir satu menit dia tidak membalas.
Lalu muncul pesan lagi.
“Aku dengar Mama dan Kak Adrian ngobrol…”
“Dan aku merasa… sejak awal mereka memang ingin menghancurkan pernikahan kita.”
Seluruh tubuhku langsung dingin.
Tak lama kemudian, Gabriel mengirim voice recording lebih dari tiga menit.
Dari speaker ponselku, terdengar jelas suara ibu mertuaku sambil tertawa.
— “Althea memang bodoh. Biarkan saja dia terus bayar semua kebutuhan rumah. Sedikit lagi, suruh Gabriel cerai lalu cari perempuan yang lebih kaya.”
Lalu suara Adrian.
— “Untung Gabriel nurut sama Mama. Kalau tidak, kami masih harus kirim uang ke kampung.”
Koper di tanganku jatuh begitu saja di tengah bandara.
Dan tepat di detik itu…
Ponselku kembali berdering.

Video call dari Gabriel.
Wajahnya muncul di layar.
Dan di belakangnya…
seluruh apartemen sedang kacau balau…
Apartemen yang selama ini kurawat seperti tempat ibadah, kini tampak seperti kapal pecah yang baru saja dihantam badai.
Sofa krem yang kubayar dengan jerih payah angsuran selama delapan bulan dipenuhi noda saus merah yang mengering. Sisa-sisa makanan berserakan di atas meja makan kecil dekat jendela, menarik kawanan semut. Di sudut ruangan, dinding dekat TV yang dicoret spidol kini semakin parah dengan tempelan stiker-stiker mainan yang robek.
Namun, yang membuatku terpaku bukan hanya kekacauan fisik itu.
Melainkan wajah Gabriel.
Kedua matanya merah dan sembab. Rambutnya berantakan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak melihat sosok suami yang pasif dan penakut di hadapanku. Ada kemarahan yang membakar di dalam matanya, bercampur dengan rasa bersalah yang amat sangat.
“Gabriel… ada apa?” tanyaku, suaraku bergetar di tengah bisingnya Bandara Internasional Ninoy Aquino.
Gabriel membalik kamera ponselnya, mengarahkannya ke arah dapur dan ruang tamu. Di sana, Celeste, Adrian, dan Maricel sedang duduk melingkar di lantai, sibuk membongkar sebuah laci lemari kecil di sudut kamar—laci tempat aku menyimpan dokumen-dokumen penting dan tabungan daruratku.
— “Di mana dia menaruh kartu ATM-nya? Masa gajinya bulan ini sudah habis?” Suara Maricel terdengar melengking melalui speaker ponsel.
— “Cari saja terus. Perempuan egois itu berani meninggalkan kita kelaparan di sini. Anggap saja ini biaya kompensasi,” sahut Celeste dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Gabriel kembali mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri. Air matanya menetes.
— “Mereka tidak tahu aku sedang merekam ini dari balik celah pintu kamar, Althea,” bisik Gabriel, suaranya tercekat menahan tangis. “Lima hari kamu pergi… dan rumah ini berubah menjadi neraka. Aku harus mencuci piring mereka, membersihkan kotoran anak-anak Adrian, dan mendengarkan Mama terus-menerus memaki namamu setiap jam.”
Dia menarik napas berat, seolah dadanya sesak.
— “Dan puncaknya adalah sejam yang lalu. Aku tidak sengaja mendengar mereka di dapur. Mereka merencanakan untuk memaksaku membalik nama kontrak apartemen ini atas nama Adrian, dengan alasan Adrian lebih butuh tempat tinggal di Manila untuk bisnisnya. Setelah itu… mereka mau menyuruhku menceraikanmu.”
Gabriel menggelengkan kepala, senyum penyesalan yang pahit terukir di bibirnya.
— “Selama ini aku diam karena aku pikir aku adalah anak yang berbakti, Althea. Aku diam karena mengira kamu kuat. Tapi setelah lima hari mencoba hidup di posisimu… aku sadar. Aku bukan anak yang berbakti. Aku hanya seorang pengecut yang membiarkan istrinya dihancurkan oleh keluarganya sendiri.”
Aku terdiam di tengah koridor bandara. Air mataku perlahan luruh, bukan karena sedih, melainkan karena beban berat yang selama ini kupikul sendirian di dada mendadak terangkat. Lima hari kepergianku rupanya menjadi cermin besar bagi Gabriel untuk melihat kebusukan keluarganya sendiri.
“Lalu, apa yang mau kamu lakukan sekarang, Gabriel?” tanyaku dingin, menguji ketegasannya.
Gabriel menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya mendadak mengeras.
— “Pulanglah, Althea. Temui aku di depan lobi apartemen. Jangan masuk sendirian.”
Tiga puluh menit kemudian, taksi yang kutumpangi berhenti di depan gedung apartemen kami di dekat Ortigas. Begitu aku turun sambil menarik koper, aku melihat Gabriel sudah berdiri di sana. Di sampingnya, ada dua orang petugas keamanan apartemen dan seorang pria paruh baya bersetelan rapi—pengacara dari firma hukum tempat perusahaan tempatku bekerja biasa menyewa jasa legalitas.
Gabriel berjalan mendekatiku, mengambil alih gagang koperku, lalu menggenggam tanganku erat. Tangannya dingin, tapi genggamannya sangat mantap.
“Ayo,” katanya singkat.
Kami naik ke lantai atas bersama petugas keamanan dan sang pengacara. Begitu pintu apartemen dibuka menggunakan kunci cadangan yang dipegang Gabriel, pemandangan di dalam langsung membeku.
Celeste, Adrian, dan Maricel yang sedang asyik menghitung sisa uang tunai yang mereka temukan di laci langsung menoleh dengan wajah kaget.
“Gabriel! Althea! Kalian sudah pulang?” Maricel mencoba berlagak biasa, meski tangannya buru-buru menyembunyikan amplop cokelat di belakang punggungnya. “Baguslah kalau sudah pulang. Cepat bersihkan rumah ini, kami sudah bosan makan makanan instan.”
Celeste juga berdiri sambil berkacak pinggang. “Althea, berani-beraninya kamu membawa orang asing ke dalam rumah anakku—”
“Ini bukan rumah anakmu, Celeste Ramos,” potongku dengan nada suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Tenang, tajam, dan penuh kuasa.
Pengacara di sampingku maju satu langkah, membuka tas jinjingnya, dan mengeluarkan selembar dokumen resmi.
“Perkenalkan, saya Atty. Santos. Atas nama pemilik sah unit apartemen ini, Miss Althea Ramos, saya menyatakan bahwa kontrak sewa, seluruh utilitas, dan kepemilikan aset di dalam ruangan ini adalah hak milik tunggal klien saya. Tuan Gabriel Ramos hanya berstatus sebagai pasangan yang menumpang hidup secara hukum di unit ini.”
Wajah Celeste langsung berubah abu-abu. “Apa katamu?! Menumpang?! Anakku bekerja di Makati!”
“Gajiku bahkan tidak cukup untuk membayar sepertiga dari tempat ini, Ma!” teriak Gabriel tiba-tiba, memotong ucapan ibunya. Suaranya menggelegar di dalam apartemen yang sempit itu, membuat anak-anak Adrian langsung terdiam ketakutan.
Gabriel melangkah maju, berdiri di antara aku dan keluarganya.
“Selama dua tahun aku membiarkan kalian menginjak-injak Althea karena aku bodoh! Aku pikir kalian menyayangiku, tapi ternyata kalian hanya menganggapku sapi perahan agar kalian bisa hidup mewah di Manila tanpa modal!”
Adrian ikut berdiri, wajahnya memerah karena malu. “Gabriel! Kamu berani membentak Mama?! Kamu mau jadi anak durhaka?!”
“Kalau menjadi anak durhaka berarti aku harus melindungi wanita yang sudah merawatku dan mengorbankan kebahagiaannya demi aku, maka ya! Aku memilih menjadi anak durhaka!” Gabriel menunjuk ke arah pintu keluar yang terbuka lebar. “Keluar dari sini. Sekarang juga.”
“Gabriel!” Celeste berteriak histeris, memegangi dadanya seolah-olah penyakit darah tingginya kambuh—trik lama yang selalu dia gunakan setiap kali posisinya terdesak.
Namun, kali ini Gabriel tidak bergerak untuk memegangnya. Dia tetap bergeming.
Atty. Santos kembali angkat bicara. “Dua petugas keamanan di belakang saya memiliki otoritas penuh untuk mengusir Anda sekalian atas tuduhan masuk tanpa izin dan percobaan pencurian aset mandiri. Jika Anda semua tidak mengemas barang-barang Anda dalam waktu sepuluh menit, kami akan langsung memanggil kepolisian siber dan wilayah Ortigas dengan bukti rekaman video pembongkaran laci yang baru saja diambil oleh Tuan Gabriel.”
Maricel yang ketakutan mendengar kata ‘polisi’ langsung menarik lengan Adrian. “Pa… ayo kita pergi. Ayo kemasi koper.”
Dalam waktu sepuluh menit yang paling sunyi sekaligus memuaskan dalam hidupku, Celeste, Adrian, Maricel, dan anak-anak mereka menyeret enam koper besar mereka keluar dari apartemen. Sebelum pergi, Celeste menatap Gabriel dengan pandangan penuh kebencian.
“Kamu akan menyesal, Gabriel. Jangan pernah berani mengemis kembali ke kampung!” kutuknya sebelum pintu lift tertutup.
Pintu apartemen akhirnya tertutup rapat.
Suasana mendadak begitu hening. Petugas keamanan dan Atty. Santos sudah pamit turun setelah memastikan keadaan aman.
Aku menatap sekeliling ruangan yang kacau berantakan. Sofa kremku yang bernoda, meja makan yang kotor… tapi entah kenapa, tempat ini tidak lagi terasa menyesakkan. Perasaan asing yang hangat perlahan merayap di dadaku.
Gabriel berjalan mendekatiku. Dia berlutut di depanku, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lututku, dan tangisnya pecah sejadi-jadinya.
“Maafkan aku, Althea… Maafkan aku yang baru sadar setelah hampir kehilanganmu… Tolong jangan ceraikan aku,” bisiknya di sela-sela tangisnya yang tergugu.
Aku mengulurkan tangan, perlahan mengusap rambutnya yang berantakan.
Lima hari yang lalu, aku pergi dari rumah ini dengan membawa koper dan hati yang hampir mati. Aku mengira kepergianku akan menjadi akhir dari pernikahan kami. Namun, siapa yang menyangka bahwa lima hari kesunyian justru menjadi palu gada yang menghancurkan dinding kebutaan Gabriel.
“Aku tidak akan pergi, Gabriel,” kataku pelan, membuat dia mengangkat kepalanya dengan mata berbinar penuh harapan. “Tapi dengan satu syarat.”
“Apa? Apa saja, Althea. Aku akan lakukan.”