Posted in

Mereka mengira aku cuma pegawai rendahan yang tidak berani menunjukkan diri — sampai iring-iringan kendaraan khusus berhenti di depan hotel… dan semua orang membeku karena shock.

Mereka mengira aku cuma pegawai rendahan yang tidak berani menunjukkan diri — sampai iring-iringan kendaraan khusus berhenti di depan hotel… dan semua orang membeku karena shock.

Hampir sepuluh tahun aku bekerja untuk unit investigasi keuangan khusus di Manila.

Karena jenis pekerjaanku, rasanya aku seperti menghilang dari dunia.

Tidak punya Facebook.
Tidak punya Instagram.
Tidak pernah datang reuni.
Bahkan grup chat teman SMA kami di Quezon City sudah delapan tahun tidak pernah kubuka.

Tapi malam ini, keheningan kantor hampir pecah karena ponselku terus bergetar.

Lebih dari lima puluh pesan belum dibaca.

Semuanya dari satu grup chat.

“Gila, Sofia, ternyata kamu masih hidup?”

“Ini pernikahan Bianca, masa kamu nggak balas sama sekali?”

“Undangan sudah dikirim Bianca sebulan lalu!”

Aku mengernyit sambil membuka percakapan.

Butuh beberapa menit sampai aku benar-benar paham apa yang terjadi.

Hari ini adalah hari pernikahan Bianca Villanueva.

Mantan ratu kampus Saint Mary High School di Quezon.

Dan perempuan yang selama masa SMA selalu bersaing denganku.

Grup chat penuh dengan foto-foto livestream.

Hotel mewah di Makati.
Lampu chandelier emas.
Karpet merah panjang.
Dan para tamu yang tampak seperti menghadiri acara penghargaan, bukan resepsi pernikahan.

Aku terus scroll ke bawah.

Tiba-tiba ada yang men-tag namaku.

“Mana Sofia?”

“Bukannya Bianca dulu paling benci sama dia? Kenapa sekarang dia malah nggak berani muncul?”

“Mungkin takut lihat hidup Bianca sekarang seindah apa.”

Tak lama kemudian, Bianca sendiri mengirim pesan.

“Sofia, masih ingat nggak apa yang pernah aku bilang dulu?”

Aku menatap pesan itu.

“Tidak.”

Jawabku singkat.

Grup langsung meledak.

“Wow, masih pura-pura nggak tahu?”

“Dari dulu Bianca sudah bilang dia yang bakal menikah dengan pria terkaya!”

“Sekarang dia jadi istri CEO Del Rosario Group!”

“Kamu tahu nggak? Keluarga mereka punya kasino dan resort di Cebu!”

Setelah itu, Bianca mengirim voice message.

Aku menekannya.

Suaranya manis. Terlalu manis sampai terasa memuakkan.

“Sofia, aku benar-benar ingin kamu datang.”

“Dulu kamu selalu jadi murid paling pintar sementara katanya aku cuma modal cantik.”

“Sekarang hidup kita sudah berbeda… tapi aku nggak marah kok.”

“Dan jangan malu ya? Kalau kamu nggak nyaman sama tamu VIP, kamu bisa bantu di meja registrasi.”

Seluruh grup memberi reaksi tertawa.

Lalu dia mengirim foto pernikahan.

Bianca memakai gaun putih ketat dengan berlian memenuhi lehernya.

Pria di sampingnya memakai jas hitam dan melingkarkan tangan erat di pinggangnya.

Saat melihat wajah pria itu…

Seluruh tubuhku langsung dingin.

Adrian Del Rosario.

Aku menatap foto itu lama.

Jam tangan silver di tangan kanannya…

Aku sendiri yang membelinya di Geneva tiga tahun lalu.

Pria itu…

Adalah suamiku.

Grup chat masih terus ribut.

“Eh, Sofia langsung diam.”

“Mungkin shock.”

“Bianca tinggal di penthouse Manila Bay, sedangkan Sofia mungkin cuma pekerja kantoran biasa.”

Aku menarik napas panjang.

Lalu mengetik satu kalimat.

“Baik.”

“Aku akan datang.”

Begitu kukirim, notifikasi baru langsung muncul.

Pesan pribadi dari Adrian.

“Baby, kamu masih di Davao?”

“Aku kangen banget.”

“Nanti setelah urusan kerjamu selesai, kita liburan ya.”

“Aku sudah booking trip kita ke Bohol.”

Aku tertawa pahit.

Tiga tahun kami menikah.

Tapi total waktu kami bersama bahkan belum sampai empat puluh hari.

Dia selalu berdalih sibuk bisnis.

Sementara aku hampir sepanjang tahun terkunci dalam pekerjaan.

Dulu aku pikir semua perhatian dan kasih sayangnya itu tulus.

Sampai malam ini.

Aku berdiri dan berjalan menuju kantor atasanku.

Tok tok.

“Masuk.”

Aku membuka pintu.

Director Ramirez sedang menunduk di balik tumpukan file.

Dia mengangkat kepala.

“Sofia? Kamu belum pulang?”

“Sir, saya mau minta cuti satu hari.”

Dia diam beberapa saat.

“Sudah sepuluh tahun kamu bekerja di sini.”

“Baru sekarang kamu minta cuti.”

“Urusan pribadi, Sir.”

Dia menatapku lama.

Lalu membuka laci dan meletakkan sebuah kunci di meja.

“Pakai armored SUV.”

Aku terdiam.

“Tidak perlu.”

“Terlalu mencolok.”

Nada suaranya mengeras.

“Saya tidak mau kamu pergi sendirian.”

“Dan kalau terjadi apa-apa, kamu langsung hubungi saya.”

Aku mengambil kunci itu tanpa berkata apa-apa lagi.

Tiga jam kemudian.

SUV hitam berhenti di depan Crown Royale Hotel di Makati.

Di luar penuh sesak.

Ada reporter.
Ada kamera.
Dan deretan mobil mewah memenuhi jalan.

Baru saja aku turun dari mobil ketika ponselku kembali bergetar.

Bianca sedang livestream.

“Malam ini tamu VIP banyak banget.”

“Katanya ada politisi dan selebriti juga.”

Komentar terus bermunculan.

“Bianca hidup seperti mimpi!”

“Kayak drama TV!”

“Beruntung banget dia!”

Aku mematikan ponsel.

Dan masuk ke dalam hotel.

Saat tiba di pintu masuk, seseorang memanggil.

“Sofia?”

Aku menoleh.

Carla Mendoza.

Dulu pengikut setia Bianca.

Dia menatapku dari atas sampai bawah lalu menyeringai.

“Wow.”

“Aku kira kamu nggak bakal datang.”

“Bianca ada di dalam sama calon suaminya.”

“Kamu sudah siap?”

“Untuk apa?”

Senyumnya makin lebar.

“Untuk melihat pria yang dulu kamu suka akhirnya menikahi perempuan lain.”

Aku tidak menjawab.

Aku terus berjalan lurus.

Saat pintu ballroom terbuka—

Langsung terlihat resepsi yang megah.

Musik biola.
Lampu kristal chandelier.
Para tamu berkelas.

Dan di tengah semuanya…

Berdiri Bianca seperti seorang ratu.

Dikelilingi orang-orang yang tak berhenti memujinya.

“Bianca, kamu benar-benar beruntung!”

“Benarkah keluarga tunanganmu membeli pulau pribadi?”

“Adrian ganteng banget!”

Bianca tersenyum sempurna.

Senyum yang jelas sudah berkali-kali dilatih di depan cermin.

Tiba-tiba Carla berteriak.

“Bianca!”

“Lihat siapa yang datang!”

Bianca menoleh.

Tatapannya langsung berhenti tepat padaku.

Dan senyumnya semakin lebar.

“Sofia.”

“Kamu benar-benar datang?”

Seluruh ballroom mendadak sunyi.

Semua mata tertuju padaku.

Perlahan Bianca mengangkat gelas champagne-nya.

Lalu tersenyum penuh kesombongan.

“Kebetulan.”

“Upacaranya mau dimulai.”

“Aku tadi mau mengenalkan calon suamiku padamu.”

Dan tepat di detik itu—

Terdengar suara beberapa kendaraan dari luar secara bersamaan.

Bukan satu.

Melainkan satu konvoi penuh SUV hitam.

Semua orang langsung menoleh.

Bahkan para bodyguard di luar mendadak terpaku.

Seorang pria bersetelan jas berlari masuk ke ballroom dan membisikkan sesuatu kepada manajer hotel.

Hanya dalam beberapa detik…

Wajah manajer itu langsung pucat.

Dengan tangan gemetar dia menatapku.

Dan hampir terbata-bata berkata—

“M-Miss Cordero…”

“Seluruh Special Investigation Division… sudah tiba…”

Manajer hotel itu mundur dua langkah, hampir menubruk barisan pelayan di belakangnya. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya saat pintu ganda ballroom didorong terbuka dari luar.

Langkah kaki yang serempak dan berat bergema di atas lantai marmer. Bukan tamu VIP dengan gaun malam atau tuksedo sutra, melainkan belasan agen berseragam taktis hitam dengan logo resmi Special Investigation Division (SID) tersemat di dada mereka. Di depan mereka, berdiri Director Ramirez dengan setelan jas abu-abu gelap, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya mengunci pandangan padaku.

Suasana ballroom yang tadinya penuh tawa sombong mendadak senyap, seolah oksigen di dalam ruangan dihisap habis dalam sekejap. Musik biola berhenti berbunyi dengan canggung.

Bianca menurunkan gelas champagne-nya, wajah cantiknya berkerut kebingungan sekaligus kesal. “Apa-apaan ini? Ini acara pribadi! Siapa yang mengizinkan orang-orang ini masuk?!”

Carla yang berdiri di dekatku langsung mundur menjauh, wajahnya memucat melihat moncong senjata laras panjang yang tergantung di rompi para agen.

Director Ramirez mengabaikan Bianca. Dia berjalan lurus menerobos kerumunan tamu VIP, lalu berhenti tepat dua langkah di hadapanku. Dia menegakkan tubuhnya, lalu memberikan hormat formal.

“Maaf mengganggu cuti Anda, Chief Cordero,” suara tegas Ramirez menggelegar, membuat kata ‘Chief’ itu terdengar jelas ke setiap sudut ruangan. “Tapi surat perintah penangkapan dari Pengadilan Tinggi Manila baru saja keluar sepuluh menit yang lalu. Kami membutuhkan konfirmasi final dari Anda untuk mengeksekusi target utama.”

Chief Cordero.

Nama itu membuat Bianca tersedak. “Ch-Chief? Sofia? Kalian bercanda ya?! Dia cuma pekerja kantoran biasa! Jangan merusak pernikahanku dengan lelucon murahan ini!”

Aku tidak menoleh pada Bianca. Aku menatap Ramirez, lalu mengangguk pelan. “Kerja bagus, Director. Di mana dia?”

“Target berada di ruang tunggu VIP timur, sedang mencoba mentransfer aset sebesar 450 juta peso ke rekening luar negeri setelah menyadari jaringan pencucian uangnya di Cebu terdeteksi oleh sistem kita,” jawab Ramirez tenang.

Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu samping ballroom terbuka. Adrian Del Rosario melangkah keluar dengan tergesa-gesa sambil menempelkan ponsel di telinganya. Wajahnya panik, dasinya sedikit longgar. Namun, begitu dia melihat lautan seragam hitam SID di dalam ballroom, langkahnya langsung terhenti.

Dan saat matanya bertemu dengan mataku, ponsel di tangannya terlepas, jatuh dan menghantam lantai dengan suara keras.

“S-Sofia…?” Suara Adrian bergetar hebat. Seluruh keangkuhan CEO yang selama ini dia pamerkan lenyap tanpa bekas. “Kenapa… kenapa kamu bisa ada di sini?”

Bianca yang melihat tunangannya keluar langsung berlari mendekat dan memeluk lengan Adrian erat-amil mencibir ke arahku. “Adrian! Bagus kamu keluar! Tolong usir perempuan gila ini! Dia membawa orang-orang aneh untuk mengacaukan pernikahan kita! Dia sengaja karena iri padamu—”

“Diam, Bianca! Diam!” Adrian membentak, menyentak tangan Bianca hingga perempuan itu hampir tersungkur.

Adrian menatapku dengan mata melebar, napasnya memburu. “Sofia… tolong dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku… aku bisa jelaskan. Pernikahan ini… ini cuma kedokteran bisnis! Keluarga Villanueva memegang beberapa dokumen legalitas kasino di Cebu yang aku butuhkan—”

“Kedok bisnis?” Aku memotong kalimatnya, akhirnya berjalan perlahan mendekatinya. Setiap langkah sepatuku membuat Adrian mundur selangkah, hingga punggungnya membentur pilar emas ballroom.

Aku merogoh tas kecilku, mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam, dan membukanya di depan wajah Adrian. Di sana, berkilau sebuah lencana emas resmi bertuliskan Chief of Financial Cyber-Crime Investigation.

“Tiga tahun lalu di Geneva, saat aku membelikanmu jam tangan itu, aku sedang memburu gembong pencucian uang internasional,” kataku dengan suara yang sangat tenang, namun dingin menembus tulang. “Aku sengaja menyembunyikan identitasku agar kamu bisa hidup tenang tanpa bahaya pekerjaanku. Tapi ternyata… bahayanya justru datang dari suamiku sendiri.”

Kata ‘suamiku’ membuat Bianca mematung seolah disambar petir. Matanya beralih dari aku ke Adrian, lalu kembali ke arahku.

“S-Suami…?” Bianca bergumam, suaranya melengking tinggi karena shock. “Adrian… apa maksudnya ini? Kamu bilang kamu belum pernah menikah! Kamu bilang aku adalah satu-satunya ratu di hidupmu! Dia… Sofia ini siapamu?!”

Adrian tidak memedulikan histeria Bianca. Dia berlutut di lantai, mencoba meraih ujung celanaku. “Sofia… tolong aku. Demi tiga tahun pernikahan kita. Aku mencintaimu, Sofia. Aku terpaksa melakukan ini karena Del Rosario Group hampir bangkrut—”

“Pernikahan kita sudah selesai, Adrian. Sejak kamu menandatangani berkas palsu untuk memalsukan status lajangmu demi menikahi putri keluarga Villanueva,” kataku dingin. Aku menoleh ke arah Ramirez. “Bawa dia. Sita seluruh asetnya, termasuk penthouse di Manila Bay dan seluruh rekening atas namanya.”

“Siap, Chief!” Dua agen SID maju ke depan, langsung memiting tangan Adrian ke belakang dan memasangkan borgol besi. Adrian berteriak panik, memohon-mohon namaku saat dia diseret paksa menerobos kerumunan tamu undangan yang kini sibuk memotret dan merekam kejadian itu.

Bianca terduduk lemas di atas karpet merah. Gaun pengantin putihnya yang dipenuhi berlian kini tampak menyedihkan. Mahkota kecil di kepalanya miring. Teman-teman SMA kami yang tadi merubungnya di grup chat, kini perlahan mundur menjauh, tidak ada satu pun yang berani mendekat untuk menolongnya.

Aku berjalan mendekati Bianca, lalu berdiri tepat di hadapannya yang sedang menangis memandangi lantai.

“Bianca,” panggilku pelan.

Dia mengangkat kepalanya yang berantakan, menatapku dengan mata merah penuh ketakutan dan kehancuran.

“Dulu di SMA, kamu bilang kamu akan menikah dengan pria terkaya untuk membuktikan bahwa kecantikanmu lebih berharga daripada otakku,” aku berbisik, cukup dekat agar hanya dia yang bisa mendengar. “Tapi hari ini aku mengingatkanmu satu hal… sepintar apa pun kamu berencana, pria terkaya yang kamu pamerkan itu, hanyalah seorang kriminal yang hidup dari belas kasihan tanda tanganku.”

Aku menegakkan tubuh, berbalik, dan berjalan menuju pintu keluar ballroom.

Di belakangku, ponsel Bianca yang tergeletak di lantai masih menyalakan livestream. Kolom komentar yang tadinya penuh dengan pujian “hidup seperti mimpi” kini meledak dengan ribuan pesan makian, tawa ejekan, dan berita utama yang menyebar dalam hitungan detik: Pernikahan Megah CEO Del Rosario Berakhir dengan Penangkapan Korupsi oleh Satuan Khusus.

Aku melangkah keluar dari hotel Crown Royale. Angin malam Makati menyapu wajahku. Aku membuka grup chat SMA kami di ponsel, melihat puluhan pesan baru yang masuk—kali ini berisi permohonan maaf dan ketakutan dari Carla dan yang lainnya.

Tanpa membaca satu pun, aku menekan tombol Leave Group dan memblokir seluruh nomor mereka.

Aku masuk ke dalam armored SUV hitam yang sudah disiapkan Ramirez. Saat mobil mulai melaju membelah kemacetan Manila, aku menyandarkan kepalaku di kursi. Keheningan kembali menyelimuti duniaku—dunia tempat aku bergerak dalam bayangan, bukan untuk pamer kemewahan, melainkan untuk menghancurkan mereka yang mengira uang bisa membeli segalanya.