Posted in

“AKU MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN ITU TANPA MENGATAKAN SEPATAH KATA PUN. SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA MENERTAWAKANKU, MENGIRA AKU TIDAK PUNYA PERLAWANAN DAN AKAN KEMBALI MENJADI ORANG MISKIN. NAMUN YANG TIDAK MEREKA KETAHUI, AYAHKU YANG SEORANG MILIARDER TELAH MENYAKSIKAN SETIAP DETIK PENGHINAAN YANG MEREKA LAKUKAN PADAKU… DAN DIA SUDAH SIAP MENGHAPUS SELURUH KELUARGA MEREKA.”

“AKU MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN ITU TANPA MENGATAKAN SEPATAH KATA PUN. SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA MENERTAWAKANKU, MENGIRA AKU TIDAK PUNYA PERLAWANAN DAN AKAN KEMBALI MENJADI ORANG MISKIN. NAMUN YANG TIDAK MEREKA KETAHUI, AYAHKU YANG SEORANG MILIARDER TELAH MENYAKSIKAN SETIAP DETIK PENGHINAAN YANG MEREKA LAKUKAN PADAKU… DAN DIA SUDAH SIAP MENGHAPUS SELURUH KELUARGA MEREKA.”

Hari Terakhir Kepura-puraan

Namaku Sofia, dua puluh tujuh tahun. Tiga tahun lalu, aku memutuskan menyembunyikan identitas asliku. Sebagai satu-satunya pewaris Madrigal Empire—konglomerasi terbesar di seluruh negeri—aku lelah dengan orang-orang yang mendekatiku hanya karena uang. Jadi ketika aku bertemu Leandro, seorang arsitek berbakat namun arogan, aku memperkenalkan diri sebagai gadis sederhana dari desa.

Aku mencintainya sepenuh hati. Diam-diam aku membantu membangun perusahaannya menggunakan koneksi milikku tanpa sepengetahuannya. Namun pagi ini, aku akhirnya tahu bagaimana dia membalas semua itu.

Kini aku berdiri di sebuah ruang konferensi mewah yang terasa dingin. Di ujung meja panjang duduk Leandro. Di sampingnya, sekretarisnya yang bernama Vanessa menggenggam lengannya dengan mesra. Dan di sisi lain, ibu mertuaku, Dona Helena, berdiri sambil terus memutar mata setiap kali memandangku.

“Cepat tanda tangani saja, Sofia. Jangan memperpanjang semua ini,” kata Leandro dingin dan tidak sabar. Dia melemparkan sebuah map cokelat tebal ke hadapanku.

Racun Penghinaan

Aku menatap map itu. Petition for Annulment.

“Untuk apa ini?” tanyaku pelan, meskipun aku sudah tahu jawabannya.

Dona Helena tertawa sinis. “Jangan pura-pura polos, perempuan miskin! Anakku sekarang sudah jadi jutawan. Dia punya perusahaan sendiri! Dia tidak pantas lagi bersama wanita bodoh dan tidak berkelas sepertimu. Vanessa jauh lebih cocok untuknya.”

“Itu benar, Sofia,” sela Vanessa sambil tersenyum licik dan memainkan cincin berlian besar di jarinya—cincin yang dibeli Leandro menggunakan perusahaan yang diam-diam kubesarkan. “Aku hamil. Dan anakku tidak boleh tumbuh dengan ayah yang masih punya istri seorang… pemulung.”

Aku menatap Leandro, berharap melihat sedikit rasa bersalah atau penyesalan di matanya. Namun yang kulihat hanyalah kesombongan murni.

“Kau akan menandatangani ini, Sofia,” perintah Leandro. “Ada cek senilai lima ratus juta rupiah di dalam map itu. Jumlah sebesar itu sudah sangat besar untuk gadis desa sepertimu. Ambil uangnya dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak menangis. Aku tidak mengamuk. Aku hanya membuka map itu perlahan dan mengambil pulpen hitam di dalamnya.

“Nah, begitu dong. Ternyata kamu tahu tempatmu. Anjing penurut,” hina Vanessa sambil tertawa bersama Dona Helena…

Aku menandatangani surat perceraian itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Suamiku dan selingkuhannya menertawakanku, mengira aku tidak punya perlawanan dan akan kembali menjadi orang miskin. Namun yang tidak mereka ketahui, ayahku yang seorang miliarder telah menyaksikan setiap detik penghinaan yang mereka lakukan padaku… dan dia sudah siap menghapus seluruh keluarga mereka.

Detik-Detik Kehancuran

Suara tawa Vanessa dan Dona Helena menggema di ruang konferensi, terdengar begitu puas dan penuh kemenangan. Leandro menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan yang amat sangat.

“Bagus. Sekarang ambil cekmu dan pergilah dari gedung ini lewat pintu belakang. Kami tidak ingin citra perusahaan tercoreng karena ada gelandangan berkeliaran di lobi,” usir Leandro dingin.

Aku meletakkan pulpen hitam itu dengan perlahan. Alih-alih mengambil cek lima ratus juta rupiah yang dia banggakan, aku justru merobeknya menjadi dua bagian, lalu melemparkannya tepat ke wajah Leandro.

“Hei! Berani sekali kamu—” Kalimat Dona Helena terputus saat pintu ganda ruang konferensi tiba-tiba terbuka paksa dengan dentuman keras.

Empat pria berjas hitam berbadan tegap melangkah masuk, langsung mengambil posisi baris barikade. Di belakang mereka, melangkah seorang pria paruh baya dengan setelan jas buatan tangan senilai miliaran rupiah. Tatapan matanya setajam elang, memancarkan aura otoritas yang begitu pekat hingga atmosfer ruangan seketika mendingin.

Di samping pria itu, berjalan sekertaris pribadinya yang membawa sebuah laptop, serta sang pengacara legendaris yang tarif per jamnya bisa membeli seluruh mobil Leandro.

Pria paruh baya itu adalah Alexander Madrigal. Ayahku.

Badai yang Sesungguhnya

“Si-siapa Anda? Bagaimana bisa pengawal Anda menerobos masuk ke perusahaan saya?!” bentak Leandro, mencoba terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar karena terintimidasi.

Ayahku bahkan tidak melirik Leandro. Beliau berjalan lurus ke arahku, menatapku dengan mata yang melembut penuh kasih, namun menyiratkan luka yang mendalam. Beliau menyentuh bahuku lembut.

“Putriku… tiga tahun ini kamu hidup menderita hanya untuk membuktikan sebuah cinta tak berguna,” bisik Ayah, suaranya parau. “Ayah sudah melihat semuanya melalui kamera tersembunyi di bros yang kamu kenakan. Cukup. Waktu bermain-mainmu di lumpur sudah selesai.”

Mendengar kata ‘Putriku’, wajah Leandro, Vanessa, dan Dona Helena seketika memucat.

“P-Putri? Sofia… apa maksudnya ini?” tanya Leandro gagap.

Asisten Ayah melangkah maju, membuka laptopnya dan menatap Leandro dengan senyum dingin. “Tuan Leandro, perkenalkan. Ini adalah Tuan Besar Alexander Madrigal, pemilik tunggal Madrigal Empire. Dan wanita yang baru saja Anda panggil ‘anjing penurut’ adalah Nona Sofia Madrigal, satu-satunya pewaris takhta Madrigal.”

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Keheningan yang begitu mencekam hingga detak jantung mereka yang ketakutan seolah terdengar.

“Madrigal?! T-tidak mungkin! Dia hanya gadis desa miskin!” jerit Dona Helena, tangannya mulai gemetar hebat.

Penghapusan Tanpa Sisa

Ayahku berbalik perlahan, menatap Leandro dengan tatapan seolah-olah Leandro hanyalah sebutir debu yang mengganggu.

“Kau berpikir perusahaan arsitekturmu ini sukses karena bakatmu, Leandro?” suara Ayah menggelegar, dingin dan mematikan. “Tiga proyek raksasa yang membuat perusahanmu meroket adalah proyek dari anak perusahaan Madrigal Empire. Sofia yang memohon padaku untuk memberikannya padamu!”

Leandro terengah-engah, menatapku dengan mata terbelalak penuh horor dan penyesalan yang terlambat. “Sofia… kamu…”

“Tapi hari ini,” lanjut Ayah, memberi isyarat kepada pengacaranya. “Semua kontrak, investasi, dan kerja sama dengan perusahaanmu resmi dibatalkan per detik ini juga. Dan karena kau menggunakan dana modal dari yayasan rahasia putriku secara ilegal untuk membelikan wanita murahismu itu cincin…” Ayah melirik Vanessa yang kini menangis ketakutan, “…kami menuntutmu atas penggelapan dana sebesar lima puluh miliar rupiah.”

“Tuan Madrigal! Sofia! Tolong maafkan aku! Aku khilaf!” Leandro langsung berlutut di lantai, merangkak mendekatiku, mencoba meraih ujung sepatuku. Sifat arogannya runtuh total, berganti dengan keputusasaan yang menjijikkan. “Sofia, aku mencintaimu! Pernikahan ini bisa kita perbaiki!”

“Jangan sentuh putriku dengan tangan kotormu,” desis Ayah. Salah satu pengawal langsung menendang dada Leandro hingga pria itu tersungkur ke lantai.

Pengacara Ayah maju, memberikan selembar dokumen baru ke atas meja. “Dan untuk Anda, Nyonya Helena. Rumah mewah yang Anda tempati saat ini dibeli atas nama perusahaan cangkang milik Nona Sofia. Anda punya waktu dua jam untuk mengemas barang-barang Anda sebelum disita. Jika tidak, kami akan menyeret Anda atas tuduhan penyerobotan properti.”

Dona Helena langsung memegangi dadanya, hampir pingsan di tempat karena syok. Dari posisi jutawan, mereka terlempar ke jurang kemiskinan dalam hitungan menit.

Langkah Terakhir

Aku merapikan blus sederhanaku, lalu menatap Leandro yang kini menangis di lantai untuk terakhir kalinya. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi belas kasihan. Yang tersisa hanyalah kekosongan.

“Cek lima ratus juta itu memang terlalu besar untuk gadis desa,” kataku dengan nada datar yang teramat dingin. “Tapi lima puluh miliar rupiah untuk menebus kebodohanmu… kurasa itu harga yang pas untuk menjebloskanmu ke penjara.”

Aku berbalik, menggandeng lengan Ayahku yang tersenyum bangga.

“Ayo pulang, Ayah. Tempat ini terlalu kotor untuk seorang Madrigal,” ucapku tegas.

Kami melangkah keluar dari ruang konferensi itu, meninggalkan jeritan histeris Vanessa, tangisan minta ampun dari Leandro, dan ratapan penyesalan Dona Helena yang menggema di belakang kami. Kepura-puraanku telah berakhir, dan di atas puing-puing kehancuran mereka, aku kembali ke takhtaku yang sesungguhnya.