“SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA MENGIRA MEREKA BERHASIL MEMPERMAINKANKU. MEREKA BERENCANA MENCURI SELURUH PERUSAHAANKU DAN MENGUSIRKU DARI MANSION MILIKKU SENDIRI SETELAH AKU MENANDATANGANI DOKUMEN ITU. NAMUN YANG TIDAK MEREKA KETAHUI, BAHKAN SEBELUM MEREKA MENGKHIANATIKU, PETI MATI UNTUK MENGUBUR MIMPI-MIMPI MEREKA SUDAH KUSIAPKAN.”
Si Palsu dan Si Ular
Namaku Victoria, tiga puluh lima tahun. Aku adalah pendiri sekaligus CEO sebuah kerajaan properti bernilai miliaran rupiah di Indonesia. Suamiku, Roman, adalah Chief Operations Officer perusahaan kami, sementara sahabat terbaikku, Samantha, menjabat sebagai Chief Financial Officer. Mereka adalah dua orang yang paling kupercaya di dunia ini.
Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Suatu malam, aku kembali ke kantor karena tertinggal laptop. Gedung sudah gelap dan hampir kosong. Saat berjalan menuju kantor Roman, aku mendengar tawa Samantha yang sangat kukenal. Pintu ruangan terbuka sedikit. Aku mengintip… dan dunia seakan runtuh.
Samantha berbaring di atas meja kerja Roman, dan mereka sedang berciuman dengan penuh gairah.
“Tinggal sedikit lagi, sayang,” bisik Samantha manja sambil memainkan rambut Roman. “Besok kita akan menyuruh Victoria menandatangani dokumen itu. Dia pikir itu ‘Deed of Expansion’, padahal sebenarnya ‘Deed of Absolute Sale’ yang memindahkan 80% sahamnya ke nama kita berdua.”
“Istriku memang bodoh,” jawab Roman sambil tersenyum licik. “Begitu perusahaan dan mansion itu jadi milik kita, aku akan menceraikannya dan membuangnya ke jalanan tanpa satu rupiah pun. Kita akan jadi pasangan terkaya di negara ini.”
Seluruh tubuhku gemetar. Pria yang kunikahi dan wanita yang kuanggap saudara sendiri ternyata bersekongkol untuk menghancurkan hidupku. Aku menghapus satu tetes air mata yang jatuh. Aku tidak akan menangis. Jika mereka ingin bermain api, aku akan memastikan mereka terbakar sampai ke tulang.
Dokumen Beracun
Keesokan paginya, aku masuk ke kantor dengan senyum termanis di wajahku. Roman dan Samantha langsung menghampiriku sambil membawa sebuah map tebal.
“Good morning, Hon!” sapa Roman manis sambil mencium pipiku. Aku muak, tetapi menahan diri. “Ini dokumen untuk ekspansi perusahaan kita ke Eropa. Kita harus segera tanda tangan agar dana bisa cair.”
Samantha meletakkan map itu di mejaku. “Iya, Bestie. Semua perhitungannya sudah sempurna. Tinggal tanda tanganmu saja.”
Aku mengambil pena fountain pen emas milikku. Aku menatap mata mereka berdua. Di balik senyum mereka, aku bisa melihat keserakahan dan kegembiraan yang susah disembunyikan.
Tanpa membaca isinya, aku langsung menandatangani dokumen itu di depan mereka. “Nah. Untuk masa depan kita semua,” kataku penuh arti.
Samantha hampir melompat kegirangan saat mengambil map itu. “Thank you, Victoria! Aku langsung serahkan ini ke tim legal kita!” Mereka buru-buru keluar dari kantorku.

Begitu pintu tertutup, aku bersandar di kursi dan tertawa pahit. Bodoh sekali mereka.
Aku sudah tahu mereka akan menukar dokumen itu. Karena itulah tadi malam aku sudah berbicara dengan pengacara pribadiku yang paling terpercaya. Kami mengganti semua kode sistem dan memodifikasi seluruh berkas. Dokumen yang mereka kira “Deed of Sale” itu telah diam-diam diubah oleh pengacaraku menjadi sebuah “Irrevocable Debt Assumption Agreement”…
“Suamiku dan selingkuhannya mengira mereka berhasil mempermainkanku. Mereka berencana mencuri seluruh perusahaanku dan mengusirku dari mansion milikku sendiri setelah aku menandatangani dokumen itu. Namun yang tidak mereka ketahui, bahkan sebelum mereka mengkhianatiku, peti mati untuk mengubur mimpi-mimpi mereka sudah kusiapkan.”
Jebakan yang Sempurna
Sebuah perjanjian pengakuan utang yang tidak bisa dibatalkan. Itu adalah hadiah perpisahan terbaik yang bisa kuberikan untuk dua pengkhianat ini.
Dokumen yang baru saja mereka bawa ke tim legal palsu—yang sebenarnya adalah tim detektif swasta dan pengacara pribadiku—berisi klausul yang menyatakan bahwa seluruh aset pribadi Roman dan Samantha, termasuk setiap sen di rekening bank mereka, menjadi jaminan atas utang fiktif perusahaan sebesar lima ratus miliar rupiah. Dan dengan tanda tangan mereka sebagai saksi sekaligus pihak kedua, mereka baru saja menyerahkan leher mereka ke tali gantunganku.
Aku menekan tombol interkom di mejaku. “Rendra, bawa masuk para tamu kita. Saatnya pertunjukan dimulai.”
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Roman dan Samantha untuk kembali ke ruanganku. Kali ini, mereka tidak lagi memasang wajah manis. Wajah mereka penuh kemenangan, angkuh, dan dingin. Di belakang mereka, berdiri dua petugas keamanan yang biasa menjaga lobi depan.
“Victoria,” panggil Roman, suaranya tidak lagi lembut. Dia melemparkan tas kerjaku ke lantai. “Kemas barang-barangmu. Mulai detik ini, kau dipecat dari perusahaan ini. Dan sore ini, kau harus mengosongkan mansion.”
Samantha melangkah maju, melipat tangan di dada dengan senyum ular yang menjijikkan. “Oh, Bestie… terima kasih atas kebodohanmu. 80% saham perusahaan ini sudah menjadi milik kami. Kamu sekarang tidak punya apa-apa lagi. Gelandangan.”
Aku tetap duduk tenang di kursi kebesaranku, menopang dagu dengan kedua tangan. Aku bahkan menyunggingkan senyum tipis. “Oh ya? Kalian yakin sudah membaca dokumen itu dengan teliti sebelum menyuruhku tanda tangan?”
Membuka Kedok
Roman tertawa meremehkan. “Jangan berlagak tegar, Victoria! Kami yang menyusun dokumen itu. ‘Deed of Absolute Sale’ yang kau tanda tangani sudah sah!”
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, pintu ruang kerjaku terbuka. Bukannya tim legal perusahaan yang masuk, melainkan sekelompok petugas berseragam dari Direktorat Jenderal Pajak dan Kepolisian Republik Indonesia, dipimpin oleh pengacara pribadiku, Pak Baskara.
Wajah Roman dan Samantha seketika menegang.
“Ada apa ini, Roman? Samantha? Kenapa wajah kalian pucat?” tanyaku, bangkit berdiri dari kursi dan berjalan perlahan mendekati mereka.
“Tuan Roman dan Nona Samantha,” Pak Baskara melangkah maju, membuka sebuah map merah yang sangat kontras dengan map cokelat milik mereka. “Klien saya, Ibu Victoria, tidak menandatangani dokumen penjualan saham. Dokumen yang kalian bawa adalah Irrevocable Debt Assumption Agreement. Kalian berdua baru saja secara hukum mengambil alih utang perusahaan fiktif senilai lima ratus miliar rupiah atas nama pribadi kalian.”
“A-apa?! Tidak mungkin! Kami sudah menukar dokumennya!” teriak Samantha histeris, menyangkal dengan bodohnya di depan polisi.
“Dan bukan hanya itu,” lanjut Pak Baskara dengan senyum dingin. “Kami telah menyerahkan bukti rekaman suara, video perselingkuhan kalian di ruang kerja, serta seluruh laporan manipulasi keuangan yang kalian lakukan selama dua tahun terakhir sebagai CFO dan COO kepada pihak berwajib.”
Peti Mati untuk Sang Pemimpi
Roman menatapku dengan mata terbelalak, napasnya memburu karena syok yang teramat sangat. “Victoria! Kau… kau menjebak kami?!”
“Aku tidak menjebak kalian, Roman. Kalian yang menggali kuburan kalian sendiri, aku hanya menyediakan tanahnya,” jawabku dingin. Aku melangkah mendekati Samantha, menatap cincin dan tas desainer yang dia kenakan—semuanya dibeli dengan uang perusahaanku.
“Kau ingin mansionku, Samantha? Mulai malam ini, tempat tinggalmu yang baru adalah sel tahanan wanita. Kurasa itu jauh lebih cocok untuk ular sepertimu,” bisikku tepat di telinganya. Samantha gemetar hebat, air matanya mulai luruh membasahi riasan wajahnya yang tebal.
Roman mencoba merangkak maju, meraih tanganku dengan wajah memelas. “Victoria, maafkan aku! Aku dimanfaatkan oleh Samantha! Aku suamimu, tolong beri aku kesempatan kedua!”
Aku menarik tanganku menjauh dengan rasa jijik yang mendalam. “Petugas, silakan bawa mereka keluar dari gedungku. Keberadaan mereka mengotori udara di sini.”
Polisi langsung memborgol kedua tangan Roman dan Samantha. Jeritan histeris Samantha yang menyalahkan Roman, serta teriakan minta ampun dari Roman menggema di sepanjang koridor lantai teratas gedung pencakar langitku, disaksikan oleh seluruh karyawan yang memandang mereka dengan tatapan hina.
Aku berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Peti mati yang kusiapkan telah tertutup rapat, mengubur hidup-hidup keserakahan dan mimpi-mimpi kosong mereka. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan yang sesungguhnya. Kerajaanku tetap milikku, dan pengkhianat telah mendapatkan tempat yang semestinya.