AKU MENANGIS DAN BERTERIAK DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI. DIA BERDIRI DI LUAR SAMBIL BERKATA AKU HARUS BERTAHAN SEDIKIT LAGI. HINGGA TIM PENYELAMAT MENEMUKAN KENYATAAN MENGERIKAN ITU.**
Saat topan menerbangkan atap rumah kami, orang pertama yang dipeluk dan diselamatkan oleh tunanganku… justru sepupu perempuanku yang sedang tidur di kamar tamu.
Sementara aku ditinggalkan terkunci di balik pintu kayu yang sudah lapuk, ketika air banjir terus naik hingga setinggi dadaku. Yang bisa kulakukan hanyalah memanggil namanya sekeras mungkin di tengah hujan yang mengguyur tanpa henti.
Malam itu, badai menghantam rumah kecil kami di tepi pantai seolah ingin merobek semuanya.
Sekitar pukul empat dini hari, aku terbangun karena suara kaca pecah. Saat membuka mata, kulihat air banjir yang keruh mulai masuk dari bawah pintu. Air yang dingin itu perlahan merambat hingga mencapai kaki tempat tidur.
Aku langsung terlonjak ketakutan.
Di luar, kilat membelah langit yang gelap. Seluruh rumah bergetar, seolah satu hembusan angin lagi saja sudah cukup untuk merobohkannya.
Saat itulah pintu kamar terbuka dengan keras.
Dia masuk.
Dalam sekejap, aku benar-benar mengira aku sudah selamat.
Aku mengulurkan tangan kepadanya sambil hampir tersedak karena panik.
Namun dia bahkan tidak menatapku.
Dia justru membungkuk dan mengangkat Camille—sepupu jauhkku yang baru tiga hari menginap di rumah kami—yang sedang meringkuk di atas kasur tipis dekat pintu.
Tubuhku langsung membeku.
Dia menggendong Camille dalam pelukannya, lalu berbalik dan berlari keluar.
Aku berteriak,
“Marco! Aku masih di sini!”
Dia berhenti.
Hanya setengah detik.
Lalu dia berkata dengan cepat,
“Dia sedang demam, dan posisinya lebih dekat ke pintu. Aku keluarkan dia dulu, nanti aku kembali menjemputmu.”
Aku berpegangan pada sisi tempat tidur sambil memaksa berdiri.
Namun kakiku sudah mati rasa karena air yang sangat dingin. Pergelangan kakiku juga terasa nyeri hebat akibat terbentur sebelumnya. Setiap kali bergerak, seluruh tubuhku gemetar.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak bisa berjalan.
Aku ingin mengatakan bahwa air naik sangat cepat.
Aku ingin memohon agar dia tidak meninggalkanku.
Namun dia sudah berlari keluar sambil menggendong Camille.
Pintu tertutup.
Dan setelah itu…
Aku mendengar suara **”klik.”**
Pelan sekali.
Namun di tengah suara hujan dan angin yang mengamuk, suara itu tetap terdengar sangat jelas.
Terlalu jelas.
Aku segera berlari ke pintu dan memutar gagangnya.
Tidak bisa dibuka.
Rumah itu sudah tua. Setiap kamar memiliki palang kayu di bagian luar agar pintu tidak mudah terbuka saat diterpa angin kencang.
Jika seseorang menarik palang itu dari luar…
Orang yang berada di dalam tidak akan bisa keluar sendiri.
Aku menghantam pintu sekuat tenaga.
“Tolong buka! Buka pintunya!”
Dari luar terdengar isak tangis Camille.
“Maaf… tadi aku terlalu takut, jadi tanpa sengaja aku menarik palangnya…”
Sesaat kemudian terdengar suara Marco.
Bukan suara marah.
Bukan pula suara panik.
Melainkan suara yang begitu lembut.
Suara yang dulu hanya dia gunakan saat menenangkanku.
“Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi. Kamu hanya ketakutan.”
Aku terpaku di balik pintu.
Air kini sudah mencapai pinggangku.
Aku berteriak sekuat tenaga,
“Marco! Aku tidak bisa keluar! Pintunya terkunci!”
Di lorong terdengar teriakan orang-orang, suara barang-barang berjatuhan, serta hujan yang menghantam atap seng seperti ribuan batu dijatuhkan dari langit.
Namun aku tetap bisa mendengar suaranya dengan jelas.
Dia berdiri sangat dekat di balik pintu.
“Althea, tenang dulu. Tim penyelamat sedang dalam perjalanan.”
Aku menempelkan dahiku ke pintu yang dingin dan basah.
“Aku sudah tidak bisa berdiri…”
Di luar mendadak sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu dia berkata,
“Bertahanlah sedikit lagi. Camille masih menggigil. Aku harus membawanya ke tempat yang lebih tinggi dulu.”
Aku tiba-tiba tertawa.
Tawa pahit yang tersangkut di tenggorokan, bercampur dengan air mata dan asin air banjir.
Empat tahun kami bersama.
Dia tahu aku sangat takut pada air yang dalam.
Dia tahu saat usiaku tujuh belas tahun aku hampir tenggelam dalam banjir, dan sejak saat itu, bahkan suara deras air saja sudah cukup membuat tangan dan kakiku membeku ketakutan.
Dia tahu rumah ini berada di dekat saluran air, sehingga setiap musim badai air akan naik dengan sangat cepat.
Dia juga tahu sebelum tidur aku sudah berkali-kali mengingatkan Camille agar tidak mencolokkan charger ponselnya di dekat stop kontak yang basah, dan jangan membuka jendela karena hujan akan masuk.
Dia tahu semuanya.
Dan Camille juga tahu.
Namun sebelum badai semakin besar, dia menangis sambil berkata tidak berani tidur sendirian.
Aku merasa iba.
Aku memberinya kamar yang paling dekat dengan pintu utama.
Sedangkan aku kembali ke kamar kecil di bagian belakang rumah.
Kamar yang jendelanya dipaku rapat karena angin laut sangat kencang.
Kamar yang jika dipalang dari luar…
Akan berubah menjadi seperti peti kayu yang perlahan tenggelam.
Aku mundur sambil gemetar.
Air kini sudah mencapai dadaku.
Selimut, bantal, sandal, bingkai foto…
Semuanya mengapung di sekelilingku.
Di atas meja kecil di samping tempat tidur, foto pertunangan kami jatuh ke dalam air.
Di foto itu, Marco tersenyum sambil merangkulku.
Dulu dia pernah berkata,
“Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menjadi orang pertama yang berlari menghampirimu.”
Ternyata dia tidak berbohong.
Dia memang orang pertama yang berlari masuk ke kamar.
Namun orang yang dia angkat keluar…
Bukan aku.
Aku meraba ponselku.
Layarnya sudah mati karena terkena air.
Hembusan angin yang sangat kuat menghantam rumah hingga bangunannya sedikit miring.
Dari langit-langit terdengar suara kayu yang mulai retak.
Aku mendongak.
Retakan panjang membelah balok penyangga.
Aku tahu rumah ini tidak akan bertahan lama lagi.
Aku mengumpulkan sisa tenagaku lalu kembali menghantam pintu.
“Marco… kumohon…”
Tak ada jawaban.
Yang terdengar hanyalah suara lirih Camille dari kejauhan,
“Jangan kembali… berbahaya…”
Lalu terdengar suara Marco.
Jelas.
Tegas.
“Aku tahu.”
Napasku seketika terhenti.
Tanganku perlahan terlepas dari pintu.
Air dingin sudah melewati bahuku.
Aku harus berjinjit hanya untuk bisa menghirup sedikit udara.
Aku tidak tahu berapa lama aku bertahan seperti itu.
Mungkin hanya beberapa menit.
Namun rasanya seperti seumur hidup.
Saat pandanganku mulai menggelap, tiba-tiba terdengar suara sirene dari luar.
Cahaya senter menembus celah pintu.
Seorang pria berteriak,
“Apakah masih ada orang di dalam?”
Aku mencoba berteriak.
Namun yang keluar hanyalah suara serak yang hampir tak terdengar.
Aku meraih kursi kayu yang mengapung di sampingku, lalu menghantamkannya ke pintu sekuat tenaga.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
“Aku… di sini…”
Aku mendengar langkah kaki berlari mendekat.
Lalu seorang pria yang tidak kukenal berteriak,
“Ada orang yang terjebak di dalam!”
Sesaat kemudian terdengar suara Marco.
Kini suaranya dipenuhi kepanikan.
“Tidak mungkin! Kukira dia sudah keluar!”
Aku berdiri di balik pintu dengan air yang sudah mencapai daguku.
Melalui celah sempit, kulihat cahaya senter.
Kulihat bayangan orang-orang yang sibuk.
Kulihat Marco berdiri di sana dengan wajah pucat pasi.
Dan di belakangnya…
Camille menggenggam erat lengan bajunya, matanya merah sambil menatapku.
Dia menangis terisak,
“Althea… jangan salahkan aku… aku benar-benar tidak sengaja…”
Aku ingin berbicara.
Aku ingin bertanya mengapa dia menarik palang pintu itu.
Aku ingin bertanya kepada Marco mengapa dia tidak pernah kembali.
Aku ingin bertanya bagaimana mungkin cinta kami selama empat tahun kalah hanya karena satu kalimat darinya,
*”Aku takut.”*
Namun air sudah masuk ke dalam mulutku.
Dan tepat saat tim penyelamat berhasil mendobrak pintu…
Aku melihat Camille tiba-tiba membungkuk dan diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam sakunya.
Sebuah kunci kecil.

Kunci cadangan yang tadi malam aku sendiri meletakkannya di atas meja lorong.
Dan Marco…
Dia juga melihatnya.
Dia melihatnya, namun dia tetap diam.
Di detik ketika mataku bertemu dengan mata Marco, aku melihat seluruh dunianya runtuh. Pria itu membeku, menyadari bahwa wanita yang baru saja dia lindungi dengan nyawanya adalah orang yang sengaja mengunci tunangannya sendiri di dalam kamar yang perlahan tenggelam.
“Althea!” Marco menjerit, suaranya pecah saat air banjir berwarna keruh itu menyembur keluar bersamaan dengan rubuhnya pintu kayu.
Tubuhku yang sudah mati rasa meluncur jatuh, terhempas ke lantai lorong yang basah. Petugas penyelamat dengan cekatan menangkapku, membungkus tubuhku yang menggigil hebat dengan selimut tebal dan memasangkan masker oksigen. Aku terbatuk, memuntahkan air asin yang menyumbat tenggorokanku, berjuang hanya untuk sekadar tetap bernapas.
Marco mencoba melangkah mendekat, tangannya gemetar hendak menyentuhku. “Althea… maafkan aku… demi Tuhan, aku tidak tahu…”
Aku memalingkan wajahku. Dingin, tanpa ekspresi.
Petugas penyelamat yang menahanku menatap Marco dan Camille dengan pandangan penuh amarah yang tak tertahankan. Senter mereka menyorot tepat ke arah saku mantel Camille yang basah, di mana bentuk kunci kecil itu tercetak jelas.
“Kalian berdua, mundur!” bentak petugas itu tegas. “Kondisi korban kritis akibat hipotermia dan hampir tenggelam. Dan Anda—” Petugas itu menunjuk Camille yang masih menangis histeris. “—simpan sandiwara Anda untuk polisi nanti. Kami melihat apa yang Anda masukkan ke dalam saku.”
Wajah Camille seketika memucat, lebih putih daripada mayat. “Tidak… ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku… aku hanya panik!”
“Cukup, Camille,” suara Marco terdengar sangat lirih, namun bergetar hebat. Dia menatap sepupuku dengan tatapan kosong, seolah baru saja menyadari bahwa iblis yang sesungguhnya ada di sampingnya. Namun di mataku, Marco tidak lebih baik. Dia adalah orang yang memilih untuk tidak mempercayaiku, orang yang memilih untuk pergi.
Saat tubuhku ditandu keluar dari rumah yang hampir hancur itu, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Badai telah berlalu, menyisakan puing-puing dan kebenaran yang telanjang.
Marco bersimpuh di atas lututnya di tengah banjir semata kaki, menangis sejadi-jadinya sambil menatap tangannya yang kosong. Dia tidak lagi mengejarku. Dia tahu, palang pintu yang ditarik Camille mungkin adalah hal yang mengunci fisikku, tetapi keputusannya untuk melangkah pergi malam itu adalah hal yang selamanya mengunci hatiku untuknya.
Empat tahun cinta kami tenggelam di kamar belakang itu, mati bersama Althea yang naif. Dan di atas tandu penyelamat, di antara sirine yang meraung, aku memejamkan mata. Kali ini, bukan karena takut, melainkan karena aku tahu… aku telah selamat dari badai, dan aku telah selamat darinya.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.