*AKU MENGHABISKAN SELURUH BONUS AKHIR TAHUNKU UNTUK MENGHADIAHI KELUARGAKU LIBURAN MUSIM DINGIN KE JEPANG. TETAPI MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN, MEREKA MENGUSIRKU DARI PERJALANAN YANG KUBAYAR SENDIRI DEMI MENGAJAK PACAR ADIKKU. AKU HANYA TERSENYUM DI BANDARA DAN MEMBIARKAN MEREKA MENGETAHUI SIAPA SEBENARNYA YANG MEMEGANG KENDALI ATAS SEMUANYA.**
### Bagian 1: Malam Sebelum Keberangkatan, Adikku Memintaku Tidak Ikut Liburan yang Kubiayai Sendiri Karena Pacarnya Dianggap Lebih Penting
Bulan Desember itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bekerja keras, aku menerima bonus akhir tahun terbesar sepanjang karierku.
Bagiku, uang itu bukan sekadar bonus.
Itu adalah hasil dari hampir setahun pulang kerja lewat tengah malam, makan bakpao dingin di pantry kantor, dan tetap tersenyum kepada klien-klien yang bahkan tidak tahu cara mengucapkan terima kasih.
Aku bekerja sebagai Senior Operations Manager di sebuah perusahaan logistik di Jakarta.
Pekerjaanku memang tidak terlihat mewah, tetapi cukup stabil.
Aku adalah tipe anak yang selalu dipuji oleh keluarga besar.
*”Keluarga kalian benar-benar beruntung punya Amara.”*
Dulu aku senang mendengar kalimat itu.
Namun semakin lama, aku menyadari arti sebenarnya.
Mereka merasa beruntung karena aku selalu mampu membayar.
Aku selalu bisa mengalah.
Aku selalu bisa memahami.
Namaku **Amara Santos**, tiga puluh tahun, anak sulung, belum menikah, belum memiliki anak, dan sudah lama dijadikan “dana darurat” oleh seluruh keluargaku.
Rumah yang kami tinggali di pinggiran Jakarta kubeli dengan uangku sendiri.
Cicilan rumah kubayar setiap bulan.
Tagihan listrik, air, internet, belanja bulanan, obat-obatan Ibu, biaya kontrol kesehatan Ayah, bahkan tagihan ponsel adik bungsuku, Carlo, semuanya dibayar melalui rekeningku.
Aku tidak pernah sekalipun menyombongkan hal itu.
Bagiku, mereka adalah keluargaku.
Kalau aku mampu membantu, mengapa harus pelit?
Ketika menerima bonus hampir **Rp115.000.000**, hanya ada satu hal yang langsung terlintas di pikiranku.
Liburan musim dingin.
Ibu sudah lama bermimpi melihat salju sungguhan.
Ayah setiap pagi selalu menonton vlog perjalanan ke Jepang sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Sedangkan Carlo, meski setiap hari mengeluh tentang hidupnya, berkali-kali berkata ingin berfoto di Sapporo mengenakan mantel panjang seperti tokoh drama Korea.
Karena itu aku langsung memesan semuanya.
Sembilan hari di Hokkaido.
Tiket pesawat pulang-pergi dari Jakarta ke Sapporo.
Hotel dekat stasiun.
Mobil pribadi selama perjalanan.
Tur desa salju.
Resor pemandian air panas.
Uang makan.
Asuransi perjalanan.
Penyewaan pakaian musim dingin.
Wi-Fi portabel.
Semuanya sudah kubayar.
Bukan paket murah.
Aku ingin mereka merasakan, meski hanya sekali, bagaimana rasanya menikmati hidup tanpa memikirkan tagihan.
Saat aku mengumumkan rencana itu di meja makan, mata Ibu langsung berkaca-kaca.
“Amara… serius? Ibu benar-benar bisa melihat salju?”
Aku mengangguk sambil memotong ikan goreng di piringku.
“Tentu, Bu. Salju sungguhan, bukan cuma di foto.”
Ayah berdeham sambil berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Perjalanan seperti ini pasti mahal sekali, Nak.”
Meski berkata begitu, tangannya sudah sibuk membuka toko online untuk mencari sepatu musim dingin.
Carlo adalah yang paling bersemangat.
“Kak, kamu memang luar biasa! Nanti kalau aku sudah sukses, gantian aku yang mengajak Kakak liburan!”
Aku hanya tertawa.
Janji seperti itu sudah terlalu sering kudengar.
Saat dia mendapatkan pekerjaan baru, aku yang membayar ongkos transportasinya.
Saat dia mengundurkan diri, aku yang menanggung semua kebutuhannya.
Saat dia punya pacar, aku pula yang membelikan hadiah agar dia tidak malu.
Tetapi dia tetap adikku.
Sejak kecil aku selalu diajari bahwa anak sulung harus melindungi adiknya.
Seminggu sebelum keberangkatan, Carlo mulai terlihat sibuk.
Hampir setiap saat dia melakukan video call dengan pacarnya, Trisha.
Hubungan mereka baru berjalan tiga bulan.
Trisha cantik.
Pandai berdandan.
Dan selalu terlihat sempurna di media sosial.
Pertama kali bertemu dengannya, aku menyambutnya dengan ramah dan menyodorkan mango float buatan Ibu.
Dia menerimanya.
Namun tidak memakannya.
Dia hanya melihat sekilas lalu berkata,
“Aku sedang mengurangi makanan manis. Nanti gemuk.”
Aku memilih mengabaikannya.
Saat ulang tahun Ayah, dia datang dua jam terlambat sambil membawa sekotak kecil cokelat impor.
Begitu duduk, pertanyaan pertamanya justru,
“Sayang, ini rumah Kakakmu ya?”
Bukan “rumah kalian.”
Melainkan “rumah Kakakmu.”
Aku hanya tersenyum waktu itu.
Namun sejak hari pertama aku sudah bisa merasakan jarak yang sengaja dia ciptakan.
Seolah-olah sejak awal sudah ada persaingan diam-diam di antara kami.
Siapa yang lebih penting bagi Carlo.
Siapa yang lebih berhak mendapatkan waktunya.
Siapa yang pantas duduk di sampingnya ketika berfoto.
Aku tidak pernah ikut bermain dalam permainan itu.
Aku bukan pacarnya.
Aku adalah kakak kandungnya.
Kupikir itu sudah cukup untuk membedakan semuanya.
Ternyata aku salah.
Malam sebelum keberangkatan, semua barangku sudah selesai dikemas.
Koper besar tergeletak rapi di samping tempat tidur.
Pakaian thermal, sarung tangan, topi musim dingin, syal, hingga obat-obatan Ibu sudah kususun dengan teliti.
Aku baru saja selesai memeriksa seluruh dokumen perjalanan ketika terdengar ketukan di pintu.
Carlo masuk.
Wajahnya tidak tersenyum.
Dia mengenakan hoodie sambil menggenggam ponsel, jelas terlihat sudah lama memikirkan sesuatu.
“Kak… boleh bicara sebentar?”
Aku menoleh.
“Ada barangmu yang kurang?”
Dia menggeleng.
“Bukan. Ini soal liburan.”
Entah mengapa aku langsung merasa tidak enak.
“Soal apa?”
Dia menggaruk belakang lehernya lalu menarik napas panjang.
“Trisha… agak tersinggung.”
Aku belum mengerti maksudnya.
“Tersinggung karena apa?”
“Karena liburan kita.”
Tanganku berhenti memasukkan paspor ke dalam pouch.
“Memangnya kenapa? Dia memang tidak termasuk dalam pemesanan.”
Dia mengernyit, seolah akulah yang lambat memahami.
“Itu masalahnya, Kak. Dia pacarku. Masa aku pergi sembilan hari bersama kalian… apalagi bersama Kakak.”
Aku menatapnya.
“Aku ikut karena aku yang membayar. Dan aku ini kakak kandungmu.”
“Aku tahu.”
Namun nada suaranya jelas mengatakan akan ada kata **’tapi’** setelah itu.
“Tapi apa?”
Dia berkedip pelan.
“Trisha bilang… aneh.”
Tubuhku terasa seperti disiram air es.
“Aneh bagaimana?”
Katanya, sebagai laki-laki, bepergian ke luar negeri selama sembilan hari bersama kakak perempuan sendiri terasa tidak memiliki batas yang jelas.
Memang Ayah dan Ibu ikut.
Tetapi tetap saja.
Menginap di hotel yang sama.
Naik kendaraan bersama.
Mengikuti tur bersama.

Menurut Trisha, perjalanan seperti itu terlalu intim.
Beberapa detik aku benar-benar kehilangan kata-kata.
Kupikir dia sedang bercanda.
Namun wajah Carlo sangat serius.
“Intim?” Aku mengulang kata itu, mengucapkannya perlahan seolah kata itu adalah bahasa asing yang tidak masuk akal. “Carlo, kita ini keluarga. Aku kakakmu, dan ada Ayah serta Ibu yang ikut. Di mana letak anehnya?”
Carlo mendengus, tampak kesal karena respons yang kuberikan tidak sesuai harapannya. “Kak, kamu tidak mengerti dunia anak muda zaman sekarang. Trisha merasa tersisih. Dia bilang, kalau aku benar-benar serius menganggap dia calon istri, seharusnya aku mengajak dia melihat dunia, bukan terus-menerus mengekor di belakang kakak perempuanku yang belum menikah.”
Dia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidurku tanpa permisi.
“Lagipula, Kak, tiket dan hotel kan sudah dibayar atas namamu. Kamar hotelnya tipe family suite dengan dua kasur besar. Kalau Kakak tidak ikut… Trisha bisa masuk menggantikan posisimu. Paspor Trisha juga sudah siap, dia baru saja memperpanjangnya bulan lalu.”
Aku menatap adik kandungku sendiri, mencari sekilas rasa bersalah di matanya. Tidak ada. Yang ada hanyalah ambisi egois dan binar cinta buta untuk menyenangkan pacar barunya yang baru tiga bulan itu.
“Jadi, kamu memintaku untuk tinggal?” tanyaku, memastikan pendengaranku tidak salah. “Kamu memintaku melepas liburan yang kurancang dengan hasil keringatku sendiri, demi wanita yang bahkan belum tentu menjadi menantu di rumah ini?”
“Aduh, Kak Amara jangan egois dong!” Carlo tiba-tiba meninggikan suaranya, mulai defensif. “Kakak kan bisa pergi kapan saja nanti. Uang Kakak banyak. Sementara Trisha? Dia belum pernah ke luar negeri. Ini kesempatan emas untuk membuat dia bahagia. Ayah dan Ibu juga sudah setuju kok.”
Kata-kata terakhirnya menghantam dadaku lebih keras daripada berita badai salju mana pun.
“Ayah dan Ibu… setuju?”
“Iya,” Carlo berdiri, merasa di atas angin. “Tadi sore aku sudah bicara dengan Ibu. Ibu bilang, sebagai kakak sulung, Kakak harusnya mengalah demi masa depan hubungan adiknya. Lagipula, Ibu juga agak canggung kalau Kakak ikut, nanti siapa yang menjaga Ayah di hotel kalau kami bertiga mau jalan-jalan malam?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa perih yang sempat menjalar di dadaku mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang teramat sangat. Rasa dingin yang jauh lebih beku daripada musim dingin di Sapporo.
Ternyata, pengorbananku selama bertahun-tahun ini memang tidak pernah dianggap sebagai ketulusan. Di mata mereka, aku hanyalah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) berjalan yang kewajibannya adalah memberi, memberi, dan mengalah.
Aku melihat koper besarku. Lalu melihat pouch berisi seluruh tiket, kode pemesanan hotel, dan konfirmasi kendaraan yang tercetak rapi atas namaku.
Sebuah rencana baru yang rapi mendadak terbentuk di kepalaku.
Aku menatap Carlo, lalu menyunggingkan senyum termanis yang pernah kuberikan padanya.
“Baiklah kalau begitu,” kataku lembut, hampir tanpa beban. “Kalau memang itu maumu, dan kalau Ibu serta Ayah merasa lebih nyaman jika aku tidak ikut… aku tidak akan pergi besok.”
Mata Carlo seketika berbinar. “Serius, Kak?! Wah, Kakak memang yang terbaik! Trisha pasti senang sekali mendengarnya! Mana kode booking pesawat dan hotelnya? Sini, biar aku simpan.”
“Tidak perlu,” aku menepuk pouch di tanganku dengan santai. “Semuanya sudah terhubung dengan aplikasi di ponselku. Kalian tinggal datang saja ke bandara besok pagi pukul enam. Tunjukkan paspor kalian dan paspor Trisha di konter check-in. Biar sistem yang mengaturnya nanti.”
“Oke, Kak! Terima kasih banyak ya!” Carlo langsung berbalik dan berlari keluar kamar dengan terburu-buru, tampaknya sudah tidak sabar untuk menelepon Trisha dan menyampaikan kabar gembira ini.
Setelah pintu kamarku tertutup, aku berjalan menuju meja kerja. Aku membuka laptop, masuk ke dalam akun master dari seluruh aplikasi pemesanan perjalanan yang telah kubayar lunas.
Jari-jariku bergerak dengan tenang di atas kibor.
Pembatalan asuransi perjalanan atas nama Carlo, Ibu, dan Ayah: Selesai. Pembatalan tur desa salju dan sewa mobil pribadi: Selesai. Pengubahan nama penumpang pesawat? Tidak, aku tidak mengubahnya. Aku membiarkan tiket pesawat mereka tetap aktif. Aku ingin mereka benar-benar terbang ke Jepang. Aku ingin mereka mendarat di bandara Hokkaido yang membeku.
Namun untuk pemesanan family suite hotel mewah dekat stasiun Sapporo dan resor pemandian air panas bernilai puluhan juta rupiah yang menggunakan kartu kreditku… aku mengkliknya, lalu menekan tombol satu tombol dengan mantap: CANCEL/REFUND.
Uang pengembalian hotel akan masuk kembali ke rekeningku dalam waktu 1×24 jam.
Aku menutup laptop, lalu bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada. Besok pagi, aku akan tetap ikut mengantar mereka ke Bandara Soekarno-Hatta. Aku ingin melihat senyum kemenangan di wajah Trisha, dan wajah bangga Carlo yang merasa telah berhasil menyingkirkan kakak sulungnya.
Sebab mereka belum tahu… bahwa tanpa kartu kredit dan konfirmasi aktif dariku, “liburan musim dingin” mereka di Hokkaido tidak akan lebih dari sekadar menggelandang di tengah badai salju yang membeku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.