Posted in

SAAT AKU MEMATIKAN MAIN BREAKER, TAGIHAN LISTRIKKU TURUN DARI Rp2.800.000 MENJADI HANYA Rp280.000. NAMUN SATU UNIT DI LANTAI ENAM MASIH TETAP MENYALA. KETIKA PETUGAS KEAMANAN MEMBUKA RUANG UTILITAS, SELURUH GEDUNG MULAI BERGETAR KETAKUTAN.*

*SAAT AKU MEMATIKAN MAIN BREAKER, TAGIHAN LISTRIKKU TURUN DARI Rp2.800.000 MENJADI HANYA Rp280.000. NAMUN SATU UNIT DI LANTAI ENAM MASIH TETAP MENYALA. KETIKA PETUGAS KEAMANAN MEMBUKA RUANG UTILITAS, SELURUH GEDUNG MULAI BERGETAR KETAKUTAN.**

### Bagian 1 — Awalnya Kukira PLN Salah Menghitung Tagihan, Sampai Aku Melihat Meteranku Masih Berjalan Meski Seluruh Unitku Sudah Mati

Tagihan listrikku datang pada minggu terakhir bulan Mei.

**Rp2.800.000.**

Aku menatap angka di layar ponselku begitu lama sampai mataku terasa perih.

Kupikir aku salah baca.

Aku memperbesar file PDF tagihan itu, lalu membacanya sekali lagi.

Tetap sama.

**Rp2.800.000.**

Bukan Rp280.000.

Bukan Rp580.000.

Melainkan dua juta delapan ratus ribu rupiah.

Namaku **Mara Villanueva**, usia tiga puluh dua tahun. Aku tinggal sendirian di sebuah apartemen tua enam lantai di kawasan Jakarta.

Unitku adalah **4B**, apartemen kecil dengan satu kamar tidur, ruang tamu, dapur mungil, dan kamar mandi.

Aku bukan orang kaya.

Aku juga bukan orang yang boros.

Aku bekerja sebagai **Quality Analyst** di sebuah perusahaan BPO. Shift kerjaku malam, pulang pagi. Sebagian besar siang hari kuhabiskan untuk tidur.

Saat terjaga, yang kupakai hanya mesin pembuat kopi, kipas angin, laptop, dan lampu dapur.

Aku tidak memiliki AC.

Tidak punya mesin cuci.

Kulkasku hanya kulkas inverter kecil, ukurannya bahkan hampir sama dengan lemari belajar mahasiswa.

Bulan lalu tagihan listrikku sekitar **Rp355.000**.

Sebulan sebelumnya bahkan hanya **Rp340.000**.

Karena itu, ketika melihat angka **Rp2.800.000**, hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah…

Mungkin meteranku tertukar.

Aku segera menelepon kantor pengelola apartemen di lantai dasar.

Pak Renato, administrator gedung yang selalu membawa buku catatan kecil tetapi jarang benar-benar menyelesaikan masalah, yang mengangkat telepon.

“Pak Renato, kenapa tagihan listrik saya sampai Rp2.800.000? Saya tinggal sendirian.”

Ia menarik napas panjang.

“Bu Mara, itu urusan PLN. Pihak pengelola tidak menangani penagihan listrik.”

“Tapi jumlahnya tidak masuk akal. Saya bahkan tidak punya AC.”

“Mungkin belakangan cuaca memang sangat panas, Bu. Mungkin kipas anginnya lebih sering dipakai.”

Aku memejamkan mata.

“Pak Renato, sekalipun kipas angin saya menyala sebulan penuh, tidak mungkin tagihannya sebesar ini.”

Beberapa saat ia terdiam.

Lalu suaranya mengecil.

“Begini saja, Bu. Dibayar dulu supaya tidak diputus. Setelah itu baru kita ajukan keberatan.”

Dadaku terasa sesak.

Bayar dulu?

Dari mana aku mendapatkan hampir tiga juta rupiah?

Sebagian besar gajiku sudah habis untuk biaya sewa apartemen, belanja bulanan, mengirim uang kepada Ibu di kampung, dan membeli obat adikku yang mengidap asma.

“Saya benar-benar tidak mampu membayarnya sekarang, Pak.”

“Saya mengerti, Bu. Tapi kalau lewat jatuh tempo, sistem akan otomatis memutus aliran listrik.”

Telepon ditutup sebelum sempat kujawab.

Aku terduduk di lantai ruang tamu sambil menggenggam ponsel.

Secangkir kopi di sampingku sudah dingin.

Di luar jendela terdengar suara klakson angkutan umum, teriakan pedagang keliling, dan deru kendaraan yang lalu-lalang.

Di luar…

Semuanya tampak normal.

Namun di dalam dadaku…

Ada sesuatu yang berdegup tidak wajar.

Aku membuka grup WhatsApp penghuni apartemen.

Awalnya grup itu sepi.

Sampai salah satu penghuni mengirim pesan.

“Teman-teman, apakah tagihan listrik kalian juga naik? Tagihan kami Rp2.170.000, padahal cuma saya dan suami yang tinggal di sini.”

Tak lama kemudian penghuni lain membalas.

“Kami juga. Rp2.370.000. Padahal tidak pakai AC.”

Lalu seorang penghuni lain mengirim tangkapan layar.

“Tagihan kami Rp3.200.000. Rasanya seperti sedang menjalankan pusat perbelanjaan.”

Keluhan mulai bermunculan satu per satu.

Rp1.970.000.

Rp2.480.000.

Rp2.970.000.

Rp3.450.000.

Ternyata bukan hanya aku.

Hampir seluruh penghuni gedung mengalami hal yang sama.

Aku ikut mengetik.

“Unit 4B. Rp2.800.000. Saya tinggal sendirian dan tidak punya AC.”

Dalam hitungan detik grup itu langsung ramai.

“Luar biasa…”

“Ini jelas tidak normal.”

“Pasti ada masalah pada instalasi.”

“Jangan-jangan ada sambungan listrik ilegal.”

Aku langsung terpaku ketika membaca kalimat terakhir itu.

Sambungan listrik ilegal.

Seseorang mencuri listrik.

Seseorang memakai listrik…

Tetapi orang lain yang membayar.

Namun bagaimana mungkin?

Apartemen kami berada di dalam kompleks berpagar.

Ada petugas keamanan setiap malam.

Ada kamera CCTV.

Ada kantor pengelola.

Mustahil…

Atau justru karena semua orang merasa terlalu aman, maka itu menjadi sangat mungkin.

Pak Renato kemudian mengirim pengumuman.

“Semua penghuni harap tetap tenang. Kemungkinan besar ini disebabkan cuaca panas, penggunaan listrik yang meningkat secara bersamaan, dan instalasi gedung yang sudah tua.”

Seorang penghuni langsung membalas.

“Instalasi tua? Bulan lalu semuanya normal. Masa sekarang seluruh penghuni tiba-tiba seperti mengoperasikan pusat data?”

Saat membaca kalimat itu, aku tiba-tiba teringat pada satu unit.

**Unit 6F.**

Unit paling ujung di lantai enam.

Penghuninya seorang penyewa bernama **Carlo Dizon**.

Pria berusia sekitar tiga puluh tahun.

Pendiam.

Selalu memakai jaket meski cuaca panas.

Katanya dia bekerja sebagai freelancer online.

Ada juga yang bilang teknisi komputer.

Dia hampir tidak pernah keluar rumah pada siang hari.

Namun setiap malam, lorong lantai enam selalu dipenuhi suara dengungan pelan.

Semua orang mengira itu hanya kipas angin.

Atau penyaring udara.

Atau server untuk pekerjaannya.

Suatu hari aku pernah mengantarkan paket miliknya yang tertinggal di lobi.

Saat pintunya terbuka, aku sempat melihat tiga kipas exhaust industri besar menyala di dalam unitnya.

Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya.

Aku tidak ingin berprasangka buruk.

Namun sekarang…

Sambil memegang tagihan listrik sebesar Rp2.800.000…

Semua hal kecil itu tiba-tiba terasa seperti petunjuk.

Malam harinya aku memutuskan melakukan satu percobaan sederhana.

Mematikan **main breaker** apartemenku.

Kalau seluruh listrik di unitku mati…

Seharusnya meteran juga berhenti.

Kalau masih bergerak…

Berarti memang ada sesuatu yang salah.

Pukul sebelas malam aku pulang dari kantor.

Tubuhku lelah.

Kakiku pegal.

Namun pikiranku sama sekali tidak bisa beristirahat.

Aku langsung menuju panel listrik di dekat pintu.

Tanganku memegang sakelar utama.

Aku menarik napas panjang.

Lalu menekannya ke bawah.

Seketika seluruh apartemenku gelap gulita.

Lampu mati.

Kulkas berhenti berdengung.

Kipas angin berhenti berputar.

Tak ada lagi suara apa pun.

Aku menyalakan senter ponsel lalu turun ke lantai dasar, tempat deretan meter listrik seluruh penghuni berada.

Pak Jun, petugas keamanan malam, sedang duduk sambil menonton cuplikan pertandingan basket di ponselnya.

“Bu Mara? Kok malam-malam turun?”

“Saya cuma ingin melihat meteran listrik saya.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Ia tidak bertanya lagi.

Aku berjalan menyusuri deretan meter.

Akhirnya kutemukan label **4B**.

Lampu indikator merahnya…

Masih berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seperti detak jantung yang seharusnya sudah berhenti.

Aku langsung merekamnya dengan kamera ponsel.

Sambil merekam aku berbisik,

“Main breaker sudah mati. Seluruh unit sudah tidak ada listrik. Tapi meteran masih terus berjalan.”

Tanpa kusadari Pak Jun sudah berdiri di belakangku.

Dia juga melihat lampu merah itu.

Wajahnya langsung pucat.

“Bu… mungkin masih ada sisa putaran…”

Aku menoleh.

“Pak Jun… saya sudah berdiri di sini hampir lima menit.”

Dia tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba kami mendengar suara dari balik ruang utilitas.

Suara rendah yang terus-menerus berdengung.

Seolah puluhan kipas pendingin bekerja bersamaan di balik tembok.

Aku menoleh.

Ruang utilitas di ujung lorong biasanya selalu terkunci.

Di situlah jalur listrik utama gedung berada.

Hanya pihak pengelola dan teknisi yang memiliki kuncinya.

Namun malam itu…

Ada seberkas cahaya tipis menyelinap dari bawah pintu.

Lampu di dalam masih menyala.

Dan…

Ada bayangan seseorang bergerak.

Napas kami seketika tertahan.

Pak Jun berdiri tegak.

“Ada orang di dalam?”

Aku belum sempat menjawab.

Mendadak cahaya di bawah pintu padam.

Disusul suara benturan pelan.

Seolah seseorang tergesa-gesa menarik sesuatu.

Lalu…

Sunyi.

Pak Jun menoleh kepadaku.

Sementara aku masih menggenggam ponsel yang terus merekam.

Di layar…

Lampu merah meteran listrikku…

Masih terus berkedip.

Dan di balik ruang utilitas yang gelap…

Jelas ada seseorang yang tidak ingin tertangkap.

Aku menatap Pak Jun, lalu memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan kedipan lampu merah meteran 4B yang masih terus menyedot sisa uang di rekeningku.

Pak Jun perlahan meraba pinggangnya, mencabut tongkat pemukul eselon karet dengan tangan gemetar. Sebagai petugas keamanan apartemen tua, tugasnya biasanya hanyalah mengusir kucing liar atau menegur penghuni yang mabuk. Menghadapi situasi seperti ini jelas bukan keahliannya.

“Siapa di dalam?!” suara Pak Jun pecah, menggema di lorong lantai dasar yang lembap.

Tidak ada jawaban. Namun dengungan pelan dari balik pintu besi ruang utilitas itu mendadak meninggi, seperti suara mesin yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

“Pak Jun, buka pintunya,” bisikku tajam. “Gedung ini tidak aman. Listrik kami semua dicuri.”

Pak Jun menelan ludah. Dia meraba saku celananya, mengeluarkan seikat kunci kuningan besar. Dengan tangan yang masih gemetar, dia memasukkan anak kunci ke lubang pintu utilitas.

Klik.

Suara mekanisme kunci itu terdengar nyaring. Tepat saat Pak Jun mendorong pintu besi tersebut, sebuah gelombang hawa panas yang menyengat langsung menerpa wajah kami, membawa bau sangit khas plastik dan kabel yang terbakar.

Namun apa yang kami lihat di dalam membuat senter di tangan Pak Jun hampir terjatuh.

Ruang utilitas yang seharusnya hanya berisi pipa air dan panel sekring utama itu telah berubah total. Dinding-dinding betonnya dipenuhi oleh jala kabel hitam tebal yang disusun rapi, semuanya bermuara ke satu pipa paralon besar yang dilubangi secara paksa. Pipa itu dipasang menembus langit-langit, mengarah lurus ke lantai atas.

Dan di tengah ruangan, di bawah temaram lampu darurat, terdapat deretan kontaktor listrik ilegal berskala industri yang terhubung langsung ke jembatan meteran milikku, milik unit 4B, 3A, 5C—hampir seluruh unit penghuni apartemen yang mengeluh di grup WhatsApp.

“B-Bu Mara… lihat itu…” Pak Jun menunjuk ke sudut ruangan.

Di sana, sebuah mesin pemutus arus otomatis (automatic transfer switch) raksasa sedang bekerja. Alat itulah yang memanipulasi aliran listrik, menyedot daya dari unit kami untuk dialirkan ke jalur misterius yang menuju ke atas.

Tiba-tiba, lampu darurat di dalam ruangan berkedip hebat. Dengungan yang tadi pelan berubah menjadi suara deru yang memekakkan telinga.

Dari atas langit-langit, terdengar suara getaran yang sangat kuat. Vrrrttttt.

Bukan hanya ruangan utilitas, tapi seluruh struktur bangunan apartemen tua enam lantai ini mulai bergetar. Debu-debu semen berjatuhan dari atap. Di luar lorong, lampu-lampu koridor mendadak redup-nyala secara ekstrem, menciptakan atmosfer mencekam seolah gedung ini akan runtuh.

“Gempa?! Bu Mara, gempa?!” teriak Pak Jun panik, siap untuk berlari.

“Bukan! Ini bukan gempa!” seruku sambil menahan diri pada bingkai pintu. Aku mendongak, menatap pipa paralon besar yang bergetar hebat di langit-langit. Jalur kabel ilegal itu menuju ke atas. Lurus ke lantai enam.

Ke unit 6F. Tempat Carlo Dizon berada.

“Pak Jun! Matikan sakelar utamanya! Sekarang!” teriakku di tengah deru mesin yang semakin menggila. Bau kabel terbakar semakin pekat, dan percikan api mulai muncul dari panel listrik unitku.

Pak Jun yang panik langsung menerjang ke arah tuas pemutus arus utama gedung (Main Breaker). Dengan seluruh berat badannya, dia menarik tuas besi besar itu ke bawah.

CTAK!

Seketika itu juga, seluruh gedung apartemen jatuh ke dalam kegelapan total. Suara dengungan mesin langsung mati. Getaran hebat yang membuat dinding bergoyang tadi mendadak berhenti, menyisakan keheningan yang mencekam dan kepulan asap tipis di udara.

Kami berdua terengah-engah dalam kegelapan, hanya mengandalkan lampu senter dari ponselku.

Namun keheningan itu tidak bertahan lama.

Hanya berselang beberapa detik setelah listrik mati, dari lantai atas—tepatnya dari arah tangga darurat—terdengar suara dentuman pintu yang dibuka paksa, disusul suara langkah kaki yang berlari turun dengan sangat terburu-buru.

Aku mengarahkan senter ponselku ke arah tangga koridor.

Sesosok bayangan pria berlari turun dengan panik. Saat cahaya senterku mengenai wajahnya, dia spontan mengangkat tangan untuk menghalau silau.

Jaket tebal, wajah pucat, mata yang merah kurang tidur.

Carlo Dizon.

Di tangannya, dia mendekap sebuah tas ransel besar yang tampak sangat berat, dengan beberapa ujung kabel tebal mencuat dari ritsletingnya yang setengah terbuka.

“Carlo!” teriakku.

Dia terkejut melihatku dan Pak Jun berdiri di depan ruang utilitas. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi penuh kepanikan yang liar. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia berbalik dan mencoba berlari kembali ke atas, namun langkahnya terhenti saat terdengar suara sirene mobil polisi yang tiba-tiba berbunyi di halaman depan apartemen.

Ternyata, salah satu penghuni di lantai tiga sudah terlebih dahulu menelepon pihak berwajib saat merasakan gedung bergetar tak wajar.

Carlo menatap ke luar jendela lobi, lalu menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Dia tahu dia sudah terpojok.

Dua hari kemudian, setelah penyelidikan resmi dari pihak PLN dan kepolisian, kebenaran mengerikan itu akhirnya terungkap sepenuhnya ke seluruh penghuni gedung.

Carlo Dizon bukan sekadar freelancer biasa. Unit 6F miliknya telah diubah menjadi sebuah pusat penambangan kripto (crypto mining rig) ilegal berskala besar dengan puluhan kartu grafis berspesifikasi industri yang beroperasi 24 jam penuh.

Karena tidak ingin membayar tagihan listrik jutaan rupiah yang dihasilkan oleh mesin-mesin penghasil uangnya, dia—bersama seorang oknum teknisi dalam yang dibayarnya—membobol ruang utilitas dan menyuntikkan jalur kabelnya secara merata ke meteran listrik para penghuni apartemen. Sembilan puluh persen daya yang digunakan mesinnya dibebankan ke rekening kami. Getaran hebat yang menakuti seluruh gedung malam itu terjadi karena mesin penambangnya mengalami overload sesaat sebelum sistem mencoba menarik daya paksa dari unitku yang sudah mati.

Saat aku menerima lembar revisi tagihan listrikku dari PLN seminggu kemudian, angkanya telah berubah.

Rp280.000.

Angka yang jujur. Angka yang seharusnya.

Aku berdiri di lobi, melihat petugas kepolisian mengangkut puluhan komputer dan kabel dari unit 6F ke dalam truk barang. Carlo Dizon dibawa dengan tangan terborgol, melewati tatapan penuh amarah dari para tetangga yang selama ini dia peras secara diam-diam.

Saat dia berjalan melewati tempatku berdiri, aku hanya menatapnya dengan tenang sambil memegang ponsel yang masih menyimpan video rekaman meteran listrikku yang berkedip malam itu. Dia mencoba meraup untung miliaran dari dunia digital, tetapi dia lupa bahwa di dunia nyata, keserakahan selalu meninggalkan jejak yang bisa dilacak.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.