Posted in

AKU MENJUAL RUMAH BATU TUA KAMI DEMI TINGGAL BERSAMA ANAKKU, TAPI SAAT MEREKA MENGIRA AKU SUDAH TIDUR, AKU MENDENGAR DIA BERKATA: “42 MILIAR RUPIAH SUDAH MASUK KE REKENING, BESOK KIRIM SAJA AYAH KE PANTI JOMPO”

AKU MENJUAL RUMAH BATU TUA KAMI DEMI TINGGAL BERSAMA ANAKKU, TAPI SAAT MEREKA MENGIRA AKU SUDAH TIDUR, AKU MENDENGAR DIA BERKATA: “42 MILIAR RUPIAH SUDAH MASUK KE REKENING, BESOK KIRIM SAJA AYAH KE PANTI JOMPO”

## BAGIAN 1: RUMAH TUA YANG KUTINGGALKAN DEMI ANAK YANG KUKIRA AKAN MERAWATKU

Aku menjual rumah batu tua kami di Manila demi tinggal bersama putri tunggalku.

Kupikir, di usia tujuh puluh dua tahun, akhirnya aku akan merasakan hangatnya keluarga.

Kupikir, anak yang kubesarkan sejak kecil hingga menjadi seorang profesional benar-benar peduli kepadaku.

Tapi suatu malam, saat aku berbaring di ranjang lipat dalam gudang kecil mereka, aku mendengar sendiri suaranya.

Pelan.

Hati-hati.

Namun terdengar sangat jelas.

— Uang 42 miliar rupiah sudah masuk ke rekening. Besok hubungi saja panti jompo di Laguna. Jangan ditunda lagi.

Rasanya seperti ada tangan dingin yang tiba-tiba mencengkeram dadaku.

Empat puluh dua miliar rupiah itu adalah seluruh hasil penjualan rumah yang kubangun bersama almarhum istriku.

Rumah yang kurawat selama lebih dari empat puluh tahun.

Rumah dengan jendela capiz tua, tiang narra yang kokoh, dan halaman yang ditumbuhi pohon santol yang ditanam istriku saat putri kami baru lahir.

Aku berbaring di ruangan yang hampir tidak memiliki sirkulasi udara, menggenggam sebuah pena perekam kecil yang kubeli dua hari sebelum pindah ke sini.

Di luar kamar, ada putriku, Maribel.

Ada suaminya, Carlo.

Ada pula ibu mertuanya, Doña Estela, wanita yang tak pernah tersenyum kepadaku tanpa terlebih dahulu menghitung sesuatu dalam pikirannya.

Dan di sana juga ada seorang konsultan dari panti jompo swasta.

Aku mendengar Carlo tertawa pelan.

— Kalau Ayah bangun, bilang saja kita mau check-up. Setelah sampai di sana, kita minta dia tanda tangan. Dia sudah tua. Lama-lama juga capek bertanya.

Doña Estela menjawab sambil mengaduk teh di dalam cangkir.

— Apa masalahnya? Semua orang tua akhirnya ke sana juga. Lebih baik tinggal di fasilitas yang nyaman daripada ikut campur dalam kehidupan pasangan muda. Yang penting sekarang uangnya sudah kalian pegang.

Aku menggenggam selimut lebih erat.

Uangnya sudah kalian pegang.

Jadi itulah isi sebenarnya dari semua perhatian mereka.

Bukan aku.

Bukan kesehatanku.

Bukan kesepianku setelah istriku meninggal.

Melainkan uang.

Tiba-tiba terdengar suara pelan dari dekat pintu.

Suara cucuku, Nico.

— Mama… Kakek belum tidur.

Semua suara di ruang tamu langsung lenyap.

Bahkan dengungan kipas angin seakan menjauh.

Aku mendengar cangkir membentur tatakannya.

Aku mendengar napas Maribel yang mendadak terputus.

Aku mendengar Carlo mengumpat pelan.

Perlahan aku bangkit.

Aku mengenakan sandal.

Lalu mengambil amplop cokelat yang sudah lama kusiapkan di bawah bantal.

Saat membuka pintu, kulihat mereka semua menatapku.

Wajah Maribel pucat.

Carlo memaksakan senyum.

Doña Estela membeku.

Sedangkan konsultan itu tampak bingung, tidak tahu harus berdiri atau tetap duduk.

Aku memandangi mereka satu per satu.

Kemudian kuangkat pena perekam di tanganku.

— Lanjutkan saja. Sepertinya rencana kalian untuk hidupku cukup menarik.

Tak seorang pun mampu berbicara.

Dan di tengah keheningan itu, aku melihat Nico berdiri di depan kamarnya.

Matanya merah.

Bibirnya bergetar.

Namun hanya dia yang berani menatapku langsung.

Saat itulah aku teringat bagaimana semuanya bermula.

Sebulan sebelum malam itu, aku masih tinggal di rumah tua kami di San Miguel, Manila.

Rumah itu bukan mansion.

Juga bukan rumah baru.

Tetapi bagiku, setiap sudutnya masih menyimpan napas istriku, Corazon.

Pada pagi hari, cahaya matahari masuk melalui jendela capiz dan menyebar di lantai kayu.

Saat siang, seluruh rumah dipenuhi aroma nasi goreng bawang putih, kopi, dan lemari kayu tua.

Saat sore, ketika angin bertiup, daun-daun pohon santol di halaman bergoyang seolah ada seseorang dari masa lalu yang sedang melambaikan tangan.

Sudah tiga tahun sejak Corazon meninggal.

Sejak kepergiannya, rumah itu terasa terlalu besar bagi seorang lelaki tua sepertiku.

Ada malam-malam ketika aku mendengar suara sendok beradu di dapur meski aku tahu tidak ada orang lain di sana.

Ada pagi-pagi ketika aku terbangun dan memanggil namanya sebelum sadar bahwa ia sudah tiada.

Kadang-kadang aku duduk di bangku tua di halaman sambil berbicara dengan pohon santol seperti orang tua yang kehilangan akal.

Saat itu Maribel sering datang setiap hari Minggu.

Sekilas, ia terlihat seperti anak yang penuh kasih sayang.

Membawakan roti.

Membawakan buah.

Mengingatkanku minum obat.

— Pa, sudah berbahaya kalau Ayah tinggal sendirian di sini.

Kalimat itu selalu ia ulang.

— Bagaimana kalau Ayah jatuh di kamar mandi? Bagaimana kalau Ayah kena serangan jantung malam-malam? Bagaimana kalau ada pencuri masuk?

Di sampingnya, Carlo selalu memegang ponsel sambil menghitung sesuatu.

Dia adalah broker properti di Makati.

Dia hafal harga tanah, pajak, komisi, dokumen, dan segala cara untuk mempercepat penjualan rumah.

— Ayah, nilai properti di sini sudah sangat tinggi. Rumah ini memang tua, tapi lokasinya premium. Kalau dijual sekarang, Ayah tidak akan rugi.

Maribel mengangguk.

— Pa, jual saja rumah ini. Tinggallah bersama kami. Ayah akan lebih dekat dengan kami dan lebih sering bertemu Nico.

Saat mendengar nama cucuku, hatiku langsung luluh.

Nico baru berusia sepuluh tahun.

Anak yang pendiam.

Suka membaca.

Tidak banyak bicara, tetapi setiap perkataannya selalu bermakna.

Hari itu ia berlari ke halaman lalu memeluk batang pohon santol.

— Kek, pohonnya ikut pindah juga?

Aku tersenyum meski dadaku terasa sesak.

— Pohon tidak bisa ikut pindah, Nak.

— Tapi cerita-cerita Nenek ikut kan?

Aku tidak langsung mampu menjawab.

Maribel menghampiriku dan menggenggam lenganku.

— Pa, kami tidak akan meninggalkan Ayah.

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi seorang lelaki tua yang selama tiga tahun berbicara dengan kursi kosong, kata-kata itu terasa sangat kuat.

Karena itulah aku setuju.

Aku menjual rumah itu.

Bukan keputusan yang mudah.

Hari ketika aku menandatangani akta jual beli, rasanya seperti mendengar suara Corazon di belakangku.

— Yakin, Ernesto?

Ya.

Namaku Ernesto.

Ernesto Villanueva.

Mantan guru sekolah negeri.

Empat puluh tahun aku mengajar sejarah.

Aku mengajarkan kepada murid-murid tentang pentingnya tanah, keluarga, dan kenangan.

Tetapi pada akhirnya, aku sendiri yang menandatangani dokumen untuk melepaskan satu-satunya tempat yang menyimpan semua itu.

Kupikir aku melakukannya demi keluarga.

Kupikir itu keputusan yang benar.

Saat pindah ke kondominium Maribel di Pasig, aku hanya membawa dua koper, satu kotak foto lama, dan sebuah guci kecil berisi abu Corazon yang tak sanggup kutinggalkan.

Ketika tiba, Doña Estela adalah orang pertama yang menyambutku.

Dia sebenarnya tidak tinggal di sana.

Namun dia sudah berada di unit itu bahkan sebelum aku datang.

Dia berdiri di dapur dengan daster mahal, seolah-olah dialah ratu rumah tersebut.

Tatapannya menyapu koper-koperku dari atas ke bawah.

— Wah, ternyata barang Ayah banyak juga. Semoga pakaian-pakaiannya tidak berbau lemari tua.

Aku menggigit bagian dalam pipiku.

Maribel tersenyum canggung.

— Ma, jangan begitu.

“Ma.”

Dia memanggil ibu mertuanya dengan sebutan itu.

Sedangkan kepadaku, dia memanggil “Pa” hanya ketika membutuhkan sesuatu.

Mereka membawaku ke kamar yang akan kutempati.

Kupikir sudah disiapkan sebuah kamar kecil.

Namun yang diberikan kepadaku adalah bekas ruang penyimpanan.

Di sana masih ada treadmill milik Carlo.

Printer lama.

Kotak-kotak dekorasi Natal.

Di sudut ruangan terdapat ranjang lipat dengan kasur tipis.

— Pa, ini hanya sementara.

Maribel buru-buru menjelaskan.

— Setelah urusan uang selesai, kita beli unit yang lebih besar. Nanti Ayah punya kamar sendiri.

Aku menatap jendela yang menghadap langsung ke dinding gedung sebelah.

Tidak ada matahari.

Tidak ada angin.

Tidak ada pohon.

Namun aku tetap mengangguk.

— Baiklah.

Pada makan malam pertamaku di sana, aku langsung memahami arti sebenarnya dari kalimat “kami akan merawat Ayah.”

Ada ikan bandeng goreng untuk Carlo dan Nico.

Ada ayam adobo untuk Maribel dan Doña Estela.

Sedangkan di depanku mereka meletakkan semangkuk bubur dan setengah pisang rebus.

— Pa, Ayah tidak boleh makan terlalu asin.

Kata Maribel.

— Juga tidak boleh makan berminyak. Ini demi kesehatan Ayah.

Aku memandangi ayam adobo itu.

Aku bukan orang yang rakus.

Namun rasanya berbeda ketika seseorang tidak bertanya apakah kau lapar, melainkan langsung memutuskan apa yang pantas kau makan.

Aku makan dalam diam.

Nico yang pertama menyadarinya.

Dia mengambil sepotong kecil ikan dan meletakkannya di piringku.

— Kek, ini sudah tidak ada durinya. Aku yang membersihkannya.

Suara Maribel langsung menajam.

— Nico, jangan ganggu makanan Kakek. Dia punya tekanan darah tinggi.

Anak itu langsung terdiam.

Perlahan aku mengembalikan ikan itu ke piringnya.

— Makan saja, Nak. Kakek masih kuat hidup dengan bubur.

Nico tidak tertawa.

Dia hanya memandangku seolah memahami sesuatu yang seharusnya belum dipahami anak seusianya.

Setelah makan malam, Carlo berbicara.

— Ayah, besok tolong berikan kartu ATM dan kartu identitas Ayah. Saya yang akan mengurus transfer dana, pajak, dan dokumen lainnya.

Aku menatapnya.

— Untuk apa kartu ATM?

Dia tersenyum seperti sedang menghadapi klien.

— Supaya lebih mudah, Yah. Nilainya sangat besar. Bisa saja dana tertahan kalau tidak ditangani dengan benar.

Doña Estela langsung menyela.

— Betul. Ernesto, kamu sudah tua. Penipuan sekarang banyak sekali. Lebih aman kalau anak-anak yang mengurus.

“Anak-anak.”

Yang ia maksud adalah putriku yang berusia empat puluh lima tahun dan menantuku yang pandai menjual rumah tetapi tidak pernah mau mengambilkan segelas air untuk orang tua.

Aku perlahan meletakkan sendok.

— Kartu identitas bisa saya berikan jika memang diperlukan. Tapi kartu ATM tetap saya pegang sendiri.

Carlo terdiam.

Wajah Maribel langsung dingin.

Sedangkan Doña Estela hanya menyeringai.

— Oh, jadi Ayah tidak percaya ya?

Aku menatapnya.

— Bukan. Saya hanya masih punya ingatan.

Meja makan langsung sunyi.

Malam itu aku mematikan lampu gudang, tetapi tidak tidur.

Aku mendengar mereka berbicara di ruang tamu.

Suaranya pelan, namun tidak cukup pelan untuk menyembunyikan niat sebenarnya.

— Ayah keras kepala sekali.

Itu suara Maribel.

— Biarkan saja dulu.

Jawab Carlo.

— Setelah uangnya masuk, akan lebih mudah meyakinkannya.

Kemudian terdengar suara Doña Estela.

— Jangan biarkan dia terlalu nyaman tinggal di sini. Kalau terlalu lama, akan sulit mengeluarkannya. Lebih baik mulai sekarang cari fasilitas yang cocok.

Fasilitas.

Bukan rumah.

Bukan kamar.

Bukan keluarga.

Fasilitas.

Saat itulah aku pertama kali mengeluarkan pena perekam dari dalam koper.

Itu hadiah dari mantan muridku yang kini menjadi pengacara.

Baru malam itu aku terpikir untuk menggunakannya.

Keesokan harinya, alih-alih menyerahkan kartu ATM kepada Carlo, aku pergi ke bank.

Aku meminta pembatasan transaksi.

Setiap penarikan atau transfer di atas Rp100 juta harus dikonfirmasi langsung olehku di kantor cabang menggunakan tanda tangan, kartu identitas, dan biometrik.

Setelah itu, aku pergi ke kantor Pengacara Liza Manalo.

Dia pernah menjadi muridku saat SMA negeri dulu.

Kini dia adalah pengacara terkenal di bidang properti dan warisan.

Aku meletakkan salinan akta jual beli, dokumen bank, pesan-pesan Maribel, dan rekaman percakapan keluarga di atas mejanya.

Dia mendengarkan semuanya tanpa menyela.

Kemudian melepas kacamatanya dan menatapku.

— Pak Ernesto, saya sudah tahu apa yang harus kita lakukan.

Dia tidak memanggilku “orang tua.”

Dia tidak memanggilku “kasihan.”

Dia memanggilku “Pak Ernesto,” seperti saat aku masih berdiri di depan kelas.

— Pertama, jangan pernah menandatangani surat kuasa khusus apa pun, bahkan jika yang meminta adalah anak Anda sendiri.

Aku mengangguk.

— Kedua, jangan memindahkan uang ke rekening gabungan, apa pun alasannya.

Aku mengangguk lagi.

— Ketiga, jika mereka mencoba menempatkan Anda di panti jompo tanpa persetujuan Anda, itu bisa termasuk bentuk tekanan dan penyalahgunaan finansial, terutama jika ada bukti.

Pandangannya jatuh pada pena perekam di tanganku.

— Teruslah berhati-hati. Tapi jangan menghadapi mereka sendirian tanpa saksi.

Di luar kantornya, aku berdiri di bawah terik matahari.

Ponselku berbunyi.

Pesan baru dari Maribel.

> “Pa, sore nanti Carlo akan menjemput Ayah. Kita cuma mau melihat sebuah wellness residence di Laguna. Katanya tempatnya bagus untuk para lansia.”

“Wellness residence.”

Aku tersenyum pahit.

Baru dua hari aku tinggal di rumah anakku.

Namun mereka sudah menyiapkan tempat lain untukku.

Saat itulah aku memahami satu hal.

Ada anak-anak yang tidak langsung mengusir orang tuanya.

Mereka menyuruh orang tuanya tidur di ranjang lipat terlebih dahulu.

Memberi makan bubur terlebih dahulu.

Meyakinkan bahwa mereka dicintai terlebih dahulu.

Dan ketika semua hasil kerja keras orang tuanya sudah berada dalam genggaman mereka, barulah mereka menyebut sang orang tua sebagai beban.

Karena itu aku tidak marah.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak menunjukkan kecurigaanku.

Aku membiarkan mereka membawaku ke tempat yang sudah mereka siapkan.

Sebab terkadang, jawaban paling kuat dari seorang lelaki tua bukanlah teriakan.

Melainkan keheningan yang menggenggam bukti.

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:

BAGIAN 2: PANGGUNG PALSU DI HARI PEMBERSIHAN

Malam itu, di bawah keremangan lampu ruang tamu kondominium, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak. Pena perekam di tanganku masih memancarkan lampu biru kecil yang berkedip, menangkap setiap embusan napas berat yang tertahan.

“Pa… itu… itu tidak seperti yang Ayah dengar,” Maribel mencoba melangkah maju, wajahnya yang semula pucat kini mulai dibanjiri keringat dingin. “Kami hanya… kami hanya mencari tempat terbaik untuk kesehatan Ayah. Laguna itu udaranya bersih, tidak seperti Manila—”

“Cukup, Maribel,” potongku. Suaraku tidak tinggi, namun getaran ketegasan seorang mantan guru membuat kalimatnya terputus seketika. “Jangan mengajari guru sejarah tentang bagaimana cara memutarbalikkan fakta.”

Carlo mencoba mengambil alih situasi. Dia membetulkan posisi duduknya, memasang kembali topeng brokernya yang angkuh. “Ayah, mari kita realistis. Uang 42 miliar rupiah dari penjualan rumah tua itu sudah ditransfer ke rekening penampungan atas nama Maribel hari ini. Secara hukum transaksi, rumah itu sudah bukan milik Ayah, dan uangnya sudah berada di bawah kendali kami. Menolak pergi ke Laguna sekarang hanya akan membuat suasana rumah ini menjadi tidak nyaman bagi Ayah.”

Doña Estela ikut mengangguk, mengipasi dirinya dengan gerakan elegan yang dipaksakan. “Benar, Ernesto. Jangan mempersulit anak menantu. Uang itu toh nantinya untuk masa depan Nico juga. Kamu sudah tua, untuk apa memegang uang sebanyak itu?”

Aku tidak membalas ucapan mereka. Aku justru menatap Nico. Anak sepuluh tahun itu berjalan mendekat, melewati ibunya yang mencoba menahannya, lalu berdiri tepat di samping ranjang lipatku. Dia menggenggam jemariku yang sudah keriput dengan tangan kecilnya yang hangat.

“Kakek,” bisik Nico, air matanya akhirnya luruh. “Kakek jangan pergi. Nico tidak mau Kakek tinggal di tempat jauh.”

Aku mengusap kepala cucuku. “Kakek tidak akan pergi ke mana-mana tanpa keinginan Kakek sendiri, Nak. Dan Kakek jamin, masa depanmu tidak akan pernah disentuh oleh tangan-tangan yang serakah.”

Aku menatap Carlo, lalu melemparkan amplop cokelat yang sedari tadi kupegang ke atas meja kaca. Dokumen di dalamnya merosot keluar.

“Buka dan baca baik-baik, Carlo,” kataku tenang. “Kamu hafal hukum properti, tapi kamu lupa satu hal: rumah tua di San Miguel itu berdiri di atas tanah warisan murni keluarga Villanueva. Berdasarkan surat wasiat mendiang ibumu, Maribel, rumah itu hanya boleh dijual jika aku menandatangani Surat Kuasa Khusus mutlak (Special Power of Attorney).”

Carlo mengerutkan kening, dengan cepat menyambar dokumen tersebut. Detik berikutnya, matanya terbelalak lebar.

“Ini… ini pembatalan hak transfer?!” pekik Carlo, tangannya mulai gemetar.

“Kemarin pagi, aku tidak hanya pergi ke bank,” aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kalkulasi matang. “Aku bersama Pengacara Liza Manalo telah mengajukan pembekuan darurat (Injunction Order) ke pengadilan dan bank pusat atas rekening penampungan tersebut. Uang 42 miliar rupiah itu memang sudah masuk, tapi statusnya adalah dana sitaan sementara akibat indikasi penipuan dan eksploitasi finansial lansia.”

Maribel tersentak, hampir terjatuh ke sofa. “Pa! Ayah membekukan uang itu?!”

“Bukan hanya membekukan,” lanjutku, memandang Doña Estela yang kini menjatuhkan kipas mahalnya. “Rekaman suara kalian selama dua malam terakhir, termasuk rencana kalian malam ini bersama konsultan panti jompo untuk menjebakku menandatangani surat pemindahan aset, telah terkirim ke sistem pengadilan. Besok pagi, bukan panti jompo yang akan menjemputku, melainkan surat panggilan kepolisian untuk kalian bertiga atas pasal percobaan penipuan dan penyalahgunaan hak lansia.”

BAGIAN 3: KEMBALI KE AKAR DAN WARISAN YANG SEBENARNYA

Konsultan panti jompo yang sedari tadi terdiam langsung berdiri ketakutan. “Maaf… maaf, Pak Ernesto, saya tidak tahu apa-apa tentang konspirasi ini. Saya permisi dulu!” Pria itu bergegas keluar dari pintu kondominium, meninggalkan ketakutan yang semakin pekat di dalam ruangan.

Carlo menatap Maribel dengan tatapan menyalahkan, sementara Doña Estela mulai meratap histeris, menyadari bahwa reputasi sosialnya yang agung di Makati akan hancur dalam semalam jika kasus ini sampai ke media.

Maribel berlutut di depanku, menangis sejadi-jadinya sambil mencoba meraih sandalku. “Pa… maafkan Maribel… Carlo yang membujukku, Ibu yang terus menekan kami karena utang bisnis Carlo… Tolong cabut gugatannya, Pa… Aku anak tunggal Ayah…”

Aku menarik kakiku mundur perlahan. Menatap putri tunggalku dengan rasa iba yang mendalam, bukan karena amarah, melainkan karena kesedihan melihat bagaimana uang bisa mengikis habis kemanusiaan di dalam darahnya.

“Aku memaafkanmu sebagai anakku, Maribel,” kataku dengan suara bergetar namun tetap teguh. “Tapi hukum harus tetap berjalan agar kamu belajar bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa. Karena hanya dengan begitu, kamu bisa mengingat kembali pesan ibumu.”

Aku berjalan ke sudut gudang, mengambil dua koper tuaku, kotak foto, dan mendekap erat guci kecil berisi abu Corazon di dadaku. Aku menoleh ke arah Nico.

“Nico, mau ikut Kakek melihat pohon santol yang baru?” tanyaku.

Nico mengangguk mantap, langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya. Dia tidak ingin tinggal semenit pun lagi di rumah yang dipenuhi racun ketamakan itu.

EPILOG

Satu bulan kemudian.

Uang 42 miliar rupiah dari hasil penjualan rumah lama di San Miguel akhirnya cair sepenuhnya ke rekening pribadiku setelah pengadilan memutus hubungan wali finansial Maribel atas diriku. Carlo dan Maribel kini harus menghadapi hukuman percobaan dan denda besar yang menguras seluruh tabungan mereka, sementara Doña Estela memilih mengurung diri di rumahnya karena malu.

Aku tidak membeli mansion mewah di Makati atau kondominium tinggi di Pasig.

Dengan bantuan Pengacara Liza, aku membeli sebidang tanah pertanian kecil yang sejuk di pinggiran kota Antipolo. Di sana, aku membangun sebuah rumah kayu mandolo yang sederhana, dikelilingi oleh tanaman hijau dan angin segar yang bertiup bebas setiap pagi.

Di halaman depan, aku menanam sebuah bibit pohon santol yang baru.

Sore itu, Nico duduk di beranda rumah, membaca buku sejarahnya dengan tenang sementara aku menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula. Di sudut ruang tamu, guci abu Corazon diletakkan di tempat terbaik, menghadap langsung ke arah jendela tempat matahari terbenam.

Aku memandangi cucuku, lalu memandangi langit yang mulai memerah.

Aku memang telah kehilangan rumah batu tua kami di Manila, tapi di sini, di bawah atap yang sederhana ini, aku menyadari satu hal: rumah yang sesungguhnya tidak pernah diukur dari kokohnya tiang narra atau mahalnya harga tanah per meter persegi. Rumah adalah tempat di mana hargadirimu dihargai, dan di mana cinta tidak pernah memiliki label harga.