Posted in

AKU NAIK BUS KE BICOL UNTUK MEMBAWA PULANG ABU IBUKUTapi seorang pria kaya memaksa merebut kursiku karena katanya aku “bau orang miskin”Dia tidak tahu… guci abu yang kupeluk sepanjang perjalanan justru akan menghancurkan hidupnya setibanya kami di terminal.

AKU NAIK BUS KE BICOL UNTUK MEMBAWA PULANG ABU IBUKU
Tapi seorang pria kaya memaksa merebut kursiku karena katanya aku “bau orang miskin”
Dia tidak tahu… guci abu yang kupeluk sepanjang perjalanan justru akan menghancurkan hidupnya setibanya kami di terminal.

Masih dini hari saat aku naik bus Victory Liner di Cubao.

Tubuhku hampir tak punya tenaga setelah tiga shift berturut-turut di warung makan kecil tempatku bekerja di Quezon City. Tanganku bahkan masih gemetar saat memeluk erat backpack hitam di dadaku.

Di dalamnya ada abu ibuku.

Baru tiga hari sejak beliau meninggal.

Aku tidak punya cukup uang untuk pemakaman yang layak, jadi aku hanya bisa memohon pada rumah sakit agar beliau dikremasi. Sebelum menutup mata untuk terakhir kalinya, beliau hanya punya satu permintaan:

—Bawa aku pulang ke tepi laut Sorsogon… aku ingin beristirahat di sana.

Karena itu, meski tubuhku hampir tak sanggup berdiri karena lelah, aku langsung berangkat.

Begitu duduk di kursi paling belakang bus, aku hanya ingin memejamkan mata sebentar.

Tapi baru beberapa menit, benda keras tiba-tiba menghantam dahiku.

“Hei!”

Aku langsung terbangun.

Sebuah koper besar menimpa pahaku.

Di depanku berdiri seorang pria memakai polo mahal, jam tangan mewah, dan rambut licin penuh gel. Aroma parfumnya sangat menyengat.

“Berdiri dari situ. Itu kursi VIP-ku.”

Aku berkedip lalu buru-buru melihat tiketku.

Row 5, Seat B.

Benar.

“Pak… sepertinya ini memang kursi saya—”

Dia langsung memotong.

“Kamu tahu siapa saya?” bentaknya sambil hampir menempelkan tiket ke wajahku. “Saya pergi ke Legazpi untuk proyek kasino kami. Kontrak bernilai jutaan peso ada di tangan saya.”

Dia menatapku dari kepala sampai kaki.

Hoodie kusam.

Sepatu karet lama.

Celana kusut.

Dia menyeringai menghina.

“Memang dasar orang miskin, sekali naik bus AC langsung merasa kaya.”

Para penumpang mulai melihat ke arah kami.

Terdengar beberapa bisikan:

“Mungkin memang salah kursi anak itu…”

“Kelihatannya juga nggak mampu bayar…”

Telingaku terasa panas karena malu.

Tapi aku tidak bergerak.

Diam-diam aku menyerahkan tiketku.

“Pak… tiket kita sama-sama Row 5 Seat B.”

Dia sempat terdiam.

Lalu tertawa keras.

“Hah? Berarti double booking. Tapi harusnya jelas siapa yang lebih pantas duduk di sini.”

Dia sengaja mengeluarkan dompet tebal penuh uang.

“Lihat penampilanmu dulu. Gaji sebulanmu mungkin cuma cukup buat sekali makan malam saya.”

Beberapa penumpang ikut tertawa.

Rasanya aku ingin ditelan kursi karena malu.

Tapi aku malah semakin memeluk backpack-ku.

Aku takut benda itu jatuh.

Aku takut guci abu ibuku pecah.

Dia memperhatikannya.

“Apa isi tasmu? Ikan asin? Baju kotor?”

Tiba-tiba dia menarik strap backpack-ku.

Mataku langsung membesar.

“Pak, jangan—!”

Tapi terlambat.

Karena tarikan terlalu kuat, tas itu terlepas dari tanganku.

BRAK!

Tas itu jatuh keras ke lantai bus.

Seluruh bus langsung sunyi.

Dari resleting yang sedikit terbuka…

perlahan menggelinding keluar sebuah guci putih kecil.

Waktu seolah berhenti.

Aku cepat-cepat mengambilnya dan memeluknya erat.

Tanganku gemetar.

“Maaf…” kataku pelan. “Itu ibu saya…”

Tatapan beberapa penumpang langsung berubah.

Seorang ibu di depan bahkan memegang dadanya.

“Ya Tuhan…”

Tapi bukannya malu, pria itu malah menyeringai.

“Tsk. Jadi drama ternyata.”

Dia bahkan tertawa.

“Kamu pikir saya bakal kasihan cuma karena kamu bawa abu?”

Dadaku seperti meledak.

Ibuku baru meninggal tiga hari lalu.

Aku bahkan belum sempat pulih dari rasa kehilangan.

Lalu ada manusia seperti ini?

Aku berusaha menarik napas panjang.

“Pak… bisa tolong hentikan saja?”

Tapi dia malah semakin keras.

“Tidak! Orang miskin seperti kalian selalu pakai rasa kasihan supaya menang!”

Tepat saat itu kondektur datang.

“Ada masalah apa di sini?”

Pria itu langsung bicara cepat:

“Double booking. Tapi harusnya jelas siapa yang harus diprioritaskan.”

Dia menyerahkan tiketnya.

Kondektur juga mengambil tiketku.

Beberapa detik dia terdiam melihat keduanya.

Lalu…

wajahnya tiba-tiba berubah.

“Pak…” katanya pelan sambil menatap pria itu. “Ini bukan bus menuju Legazpi.”

“Hah?”

“Bus yang Bapak cari ada di terminal sebelah. Sepertinya sudah berangkat sekitar dua puluh menit lalu.”

Wajah pria itu langsung pucat.

“Apa?!”

Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

“Hello?! Pak Jun?!”

Seluruh bus hening mendengarkan.

Perlahan wajahnya kehilangan warna.

Setelah telepon ditutup, bibirnya gemetar.

“Mereka bilang… slot saya di kontrak sudah diberikan ke orang lain…”

Aku tidak berkata apa-apa.

Tapi tepat saat itu…

seseorang tiba-tiba berteriak dari belakang bus:

“Tunggu… bukankah dia pria yang viral di Facebook semalam?!”

Baca bagian selanjutnya dari cerita ini di kolom komentar.

Seluruh penumpang di dalam bus langsung mengeluarkan ponsel mereka. Suasana yang tadinya sunyi mendadak bising oleh kasak-kusuk dan ketukan jari di layar kaca.

“Iya, benar! Dia Edward Santos, CEO muda dari Santos Realty!” seru seorang pria di barisan belakang sambil mengarahkan kameranya tepat ke wajah pria kaya itu. “Dia yang semalam viral karena menabrak lari seorang nenek penjual koran di daerah Cubao lalu kabur begitu saja!”

Wajah Edward yang tadinya pucat kini berubah seketika menjadi seputih kertas. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, merusak tatanan rambut klimisnya yang penuh gel mahal.

“Hapus! Jangan berani-berani memotret saya!” bentak Edward panik, mencoba menutupi wajahnya dengan tas dokumen jutaan pesonya.

Namun, seruannya justru memicu kemarahan para penumpang. Ibu-ibu yang duduk di barisan depan langsung berdiri dan menunjuk-nunjuk wajahnya. “Dasar manusia tidak punya hati! Sudah menabrak orang tua sampai tewas, sekarang malah menghina anak yatim piatu yang mau membawa pulang abu ibunya!”

Aku terpaku di kursiku. Tanganku yang masih memeluk guci putih ibuku mendadak kaku.

Menabrak seorang nenek penjual koran di Cubao… tiga hari lalu…

Otakku berputar cepat, menyatukan kepingan-kepingan kenyataan yang mengerikan. Ibuku… beliau tidak meninggal di rumah sakit karena sakit mendadak. Beliau adalah korban tabrak lari di dekat warung makan tempatku bekerja tiga hari lalu. Pihak rumah sakit mengatakan beliau ditemukan tergeletak di pinggir jalan oleh warga dalam keadaan tidak sadarkan diri sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Aku mendongak, menatap Edward dengan tatapan yang begitu tajam dan dingin. Air mata yang sejak tadi kutahan kini luruh, bukan karena sedih atau malu, melainkan karena amarah yang membakar seluruh kalbuku.

“Jadi… kamu,” suaraku terdengar sangat rendah, namun sanggup menghentikan keributan di dalam bus.

Edward menatapku, matanya membelalak ketakutan saat menyadari perubahan ekspresiku. “A-apa? Apa urusannya denganku?!”

“Nenek penjual koran yang kau tabrak di Cubao tiga hari lalu…” Aku berdiri perlahan dari kursi Row 5 Seat B, memeluk guci abu ibuku erat-erat di dada, lalu melangkah maju mendekatinya. “Dia bukan sekadar penjual koran, Edward. Dia ibuku. Dan abu yang ada di dalam guci yang baru saja kau tendang dan kau jatuhkan ke lantai ini… adalah abu jasad yang kau hancurkan dengan mobil mewahmu!”

“M-Mati kita…” bisik kondektur bus yang langsung melangkah mundur, ikut bergidik ngeri.

Seluruh penumpang bus tersentak fiktif. Beberapa orang bahkan mulai merekam kejadian ini secara live di media sosial. Komentar-komentar kecaman dari netizen Filipina langsung membanjiri video tersebut dalam hitungan detik.

“Nggak… itu nggak benar! Itu fitnah!” teriak Edward histeris. Dia mencoba berbalik untuk lari keluar dari bus, namun pintu hidrolik Victory Liner sudah ditutup rapat oleh sopir yang sejak tadi memperhatikan dari spion depan.

Tepat di saat itu, sirene mobil polisi meraung-raung di luar terminal Cubao. Dua mobil patroli PNP (Philippine National Police) langsung memblokir bagian depan bus. Rupanya, pelacakan GPS dari mobil Edward yang terparkir di luar terminal dan laporan dari netizen yang menonton siaran langsung di dalam bus telah menuntun polisi langsung ke tempat ini.

Pintu bus terbuka keras. Tiga petugas polisi bersenjata lengkap masuk dan langsung mengunci gerakan Edward, memiting kedua tangannya ke belakang hingga tas dokumennya terjatuh ke lantai bus, meng hamburkan kertas-kertas kontrak bernilai jutaan peso yang dibanggakannya tadi.

“Edward Santos, Anda ditahan atas pasal tabrak lari yang menyebabkan kematian dan kelalaian berat dalam berkendara,” ujar petugas polisi dengan tegas sambil memasang borgol besi di pergelangan tangannya.

Edward berlutut di lantai bus, menangis dan memohon-mohon seperti orang gila. Aliansi bisnisnya hancur, kontrak jutaan pesonya lenyap, dan kini masa depannya akan habis di balik jeruji besi. Saat dia diseret melewati kursiku, dia menatapku dengan mata merah penuh penyesalan.

Aku tidak membalas tatapannya. Aku hanya menunduk, menatap guci putih di pelukanku, lalu membisikkan doa kecil dengan sangat lembut.

“Mama… kita menang. Sekarang, mari kita pulang ke tepi laut Sorsogon. Pria yang menyakiti Mama tidak akan pernah bisa melihat matahari dengan tenang lagi.”

Bus Victory Liner akhirnya perlahan bergerak membelah jalanan Manila yang mulai terang, meninggalkan Edward yang diseret masuk ke dalam mobil polisi di bawah sorakan puas dari seluruh penumpang.