AKU PULANG KE RUMAH PUKUL SEPULUH MALAM, BERHARAP BISA BERISTIRAHAT SETELAH EMPAT BELAS JAM BEKERJA… NAMUN AKU MENDAPATI ISTRIKU YANG HAMIL DELAPAN BULAN SEDANG MENCUCI GUNUNGAN PIRING SENDIRIAN DI DAPUR, SEMENTARA SELURUH KELUARGAKU TERTAWA DAN BERSANTAI DI RUANG TAMU. PADA SAAT ITU, MATAKU DIPENUHI AMARAH DAN AKU BENAR-BENAR LUPA BAHWA MEREKA ADALAH DARAH DAGINGKU SENDIRI.
Malam yang Melelahkan
Namaku Marco, tiga puluh lima tahun. Sebagai seorang site engineer, aku sering tenggelam dalam pekerjaan demi memberikan masa depan yang baik untuk istriku, Lia, dan anak pertama kami yang akan segera lahir. Lia sedang hamil delapan bulan. Karena kehamilannya cukup berisiko, aku meminta ibu dan dua saudara perempuanku untuk sementara tinggal bersama kami.
Kesepakatannya, mereka akan membantu Lia mengurus pekerjaan rumah saat aku bekerja agar dia tidak kelelahan. Aku menanggung semua kebutuhan mereka, mulai dari makanan hingga uang bulanan yang cukup besar.
Malam ini aku benar-benar kelelahan setelah empat belas jam tanpa henti bekerja di proyek konstruksi. Sudah pukul sepuluh malam. Yang kuinginkan hanyalah memeluk istriku, menyentuh perut besarnya, lalu tidur.
Namun saat membuka pintu rumah, aku langsung disambut suara bising yang memekakkan telinga.
Keluarga yang Tak Punya Hati
TV di ruang tamu menyala keras. Di sana ada ibuku, Mama Rosa, dan dua saudara perempuanku, Sandra dan Mika. Mereka rebahan di sofa mahal sambil tertawa keras menonton Netflix. Meja ruang tamu penuh sampah—bungkus camilan, gelas minuman manis, dan sepatu yang berserakan.
“Oh, Kak, ternyata sudah pulang,” sapa Sandra malas tanpa mengalihkan pandangan dari TV.
“Di mana Lia? Kenapa rumah berantakan begini?” tanyaku heran sambil melepas sepatu kerjaku yang berat.
Mama Rosa memutar mata sambil menggigit apel. “Istrimu ada di dapur. Dia sedang mencuci piring bekas makan malam kami. Gerakannya lambat sekali, jadi sampai malam belum selesai.”
Keningku langsung berkerut. Mencuci piring? Jam sepuluh malam dan istriku hamil delapan bulan!
Aku segera berjalan cepat ke dapur, dan pemandangan yang kulihat terasa seperti pisau yang menusuk jantungku berkali-kali.
Gunungan Piring Kotor
Lia berdiri di depan wastafel. Dia mengenakan daster tipis yang basah oleh air dan keringat. Tubuhnya membungkuk kesakitan karena perutnya yang sangat besar hampir menyentuh wastafel. Satu tangannya memegang pinggang yang nyeri, sementara tangan lainnya terus menggosok wajan besar penuh minyak dan kerak.

Wastafel penuh dengan gunungan piring, panci, dan gelas. Wajah Lia pucat, dan aku bisa melihat kakinya gemetar karena bengkak yang parah.
“Lia!” Aku berlari menghampirinya dan langsung merebut spons dari tangannya.
Saat dia mengangkat wajahnya, aku melihat air mata mengalir diam-diam di pipinya. Matanya bengkak dan penuh kelelahan…
Batas Kesabaran seorang Suami
“Lia!” Aku berlari menghampirinya dan langsung merebut spons dari tangannya.
Saat dia mengangkat wajahnya, aku melihat air mata mengalir diam-diam di pipinya. Matanya bengkak dan penuh kelelahan.
“Marco…” bisiknya lirih, suaranya parau dan bergetar. “Maaf, aku belum selesai. Kakiku sakit sekali untuk berjalan, jadi aku harus sering duduk di lantai sebelum mencuci lagi.”
Mendengar kata-katanya, dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas. Aku melihat ke bawah; pergelangan kaki Lia membengkak hingga dua kali lipat ukuran normalnya. Dia dipaksa berdiri berjam-jam untuk membersihkan sisa pesta rakus keluargaku.
“Kenapa kamu tidak melarang mereka makan malam sekotor ini, Lia? Kenapa kamu tidak meneleponku?” tanyaku sambil menahan badai kemarahan yang siap meledak di dadaku.
“Aku sudah mencoba meminta bantuan Sandra, tapi Mama memarahiku. Mama bilang aku menantu yang malas dan manja hanya karena sedang hamil,” tangis Lia pecah, dia menyembunyikan wajahnya di dadaku, tubuhnya bergetar hebat karena kelelahan kronis.
Darahku mendidih. Rasa lelah setelah empat belas jam bekerja di proyek lenyap seketika, digantikan oleh amarah murni yang membakar akal sehatku. Aku menuntun Lia untuk duduk di kursi makan, mengecup keningnya, dan berbisik, “Cukup, Sayang. Biar aku yang selesaikan ini semua.”
Amarah yang Meledak
Aku berjalan kembali ke ruang tamu. Langkah kakiku sengaja kuhentakkan dengan berat. Mataku dipenuhi amarah yang begitu pekat, hingga aku benar-benar lupa bahwa tiga orang yang sedang bersantai di depanku adalah darah dagingku sendiri.
BRAKK!!
Aku menendang meja kaca di depan sofa hingga bergeser keras. Stoples camilan dan gelas-gelas milik mereka jatuh terhempas ke lantai, hancur berkeping-keping.
“Astagfirullah, Marco! Kamu sudah gila ya?!” teriak Mama Rosa sambil melompat berdiri dari sofa.
“Kak Marco apa-apaan sih?! Itu Netflix-nya lagi seru!” protes Mika dengan nada manja yang membuatku makin jijik.
“MATIKAN TV-NYA!” bentakku dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah mendadak hening seketika. Sandra yang memegang remote langsung mematikan TV dengan tangan gemetar. Mereka belum pernah melihatku semarah ini.
“Aku membawa kalian ke sini, memberikan kamar terbaik, membelikan makanan enak, dan memberi kalian uang saku jutaan rupiah setiap bulan untuk APA?!” tanyaku, melangkah mendekati mereka satu per satu dengan napas memburu. “Untuk membantu istriku yang kehamilannya berisiko! Bukan untuk menjadikannya BUDAK di rumahku sendiri!”
Pengusiran di Tengah Malam
Mama Rosa mencoba membela diri dengan melipat tangan di dada. “Marco, jaga bicaramu! Dia itu cuma hamil, semua wanita juga hamil! Dulu Mama melahirkan kamu dan adik-adikmu sambil tetap membajak sawah. Jangan manjakan istrimu yang manja itu!”
“CUKUP, MAMA!” potongku tajam. “Jangan bandingkan zaman Mama dengan nyawa istri dan anakku! Dokter sudah bilang kandungan Lia lemah! Kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku karena gunungan piring sialan di belakang sana, aku tidak akan pernah memaafkan kalian seumur hidupku!”
Aku berjalan ke koridor kamar, membuka pintu kamar tamu yang mereka tempati, lalu menarik paksa semua koper dan tas pakaian mereka. Aku melemparkannya ke tengah ruang tamu.
“Kak! Ini sudah jam setengah sebelas malam! Kamu tega mengusir ibu dan adik-adikmu sendiri?!” tangis Sandra mulai pecah karena panik.
“Tega? Kalian bahkan lebih tidak punya hati pada wanita hamil yang sedang mengandung keponakan kalian sendiri!” ujarku dingin tanpa belas kasihan. “Kalian hanya memanfaatkan uangku, tapi memperlakukan istriku seperti sampah saat aku tidak ada di rumah.”
Aku merogoh dompetku, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu melemparkannya ke lantai di depan kaki mereka. “Ini uang untuk taksi dan hotel malam ini. Mulai detik ini, tidak ada lagi uang bulanan untuk Sandra dan Mika. Dan Mama, kembalilah ke kampung halaman besok pagi. Aku akan menyewa perawat profesional untuk menjaga Lia.”
Rumah yang Sesungguhnya
Mama Rosa, Sandra, dan Mika menatapku dengan tatapan tidak percaya. Namun melihat rahangku yang mengeras dan kepalan tanganku, mereka tahu aku tidak sedang menggertak. Dengan wajah merah padam karena malu dan marah, mereka memungut koper-koper mereka dan berjalan keluar dari rumahku di tengah malam yang dingin.
Begitu pintu depan tertutup rapat dan terkunci, keheningan yang damai akhirnya kembali ke rumah kami.
Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungku yang menggila, lalu kembali ke dapur. Aku berlutut di hadapan Lia, melepaskan sandalnya, dan memijat kakinya yang bengkak dengan lembut.
“Maafkan aku, Lia… Aku gagal melindungimu dari mereka,” bisikku dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah yang amat dalam.
Lia menggeleng, lalu mengusap rambutku dengan tangan mudanya yang masih basah. “Terima kasih karena sudah membelaku, Marco. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik.”
Malam itu, aku tidak memedulikan lagi rasa lelahku. Aku menggendong istriku ke kamar tidur yang nyaman, menyelimutinya, dan membiarkannya beristirahat dengan tenang. Setelah itu, aku kembali ke dapur untuk mencuci bersih setiap piring kotor yang tersisa. Mulai hari ini, rumah ini hanya akan diisi oleh cinta, perlindungan, dan kedamaian untuk keluarga kecil kami yang sebentar lagi akan utuh.