Posted in

AKU SENGAJA BERBOHONG KEPADA AYAH, MENGATAKAN BAHWA AKU GAGAL LOLOS UJIAN MASUK UNIVERSITAS AGAR DIA MENGUSIRKU DARI RUMAH

AKU SENGAJA BERBOHONG KEPADA AYAH, MENGATAKAN BAHWA AKU GAGAL LOLOS UJIAN MASUK UNIVERSITAS AGAR DIA MENGUSIRKU DARI RUMAH

Pada hari pengumuman hasil ujian masuk universitas, aku menatap lama angka 98,7 persentil di layar ponselku.

Lalu aku menelepon Ayah dan berkata,

“Yah, aku tidak lolos. Nilai aku tidak cukup.”

Dia hanya menjawab empat kata.

“Keluar dari rumah.”

Aku tidak membantah.

Aku tidak menangis.

Aku hanya mengangkat koperku dan pergi.

Seminggu kemudian, dia menghabiskan Rp200 juta untuk mengadakan pesta mewah bagi putri ibu tiriku—anak yang hanya lulus dengan nilai pas-pasan.

Di tengah aula yang dipenuhi tamu, dia mengangkat gelas anggurnya dan berkata dengan suara lantang,

“Anakku memang luar biasa. Dia sangat pintar. Sebagai seorang ayah, aku sudah tidak punya penyesalan lagi. Semua kerja kerasku benar-benar terbayar.”

Aku hanya berdiri diam di sudut ruangan, tepat di bawah panggung, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku sengaja berbohong.

Dan aku punya alasan yang sangat dalam.

Bagian 1

Cahaya layar ponsel menyinari wajahku.

98,7.

Angka merah itu terasa begitu menyilaukan hingga membuat mataku perih.

Aku mematikan layar.

Kamar langsung kembali gelap.

Dari ruang tamu terdengar suara televisi dan tawa perempuan itu.

Dia berkata,

“Lala pasti diterima di universitas terbaik, Arturo. Kita harus merayakannya dengan pesta besar.”

Suara ayahku, Arturo Reyes, terdengar penuh kebanggaan.

“Tentu saja. Anakku memang pantas dibanggakan.”

Anakku.

Tiga kata itu menusuk telingaku seperti jarum.

Aku mencari nomor Ayah lalu meneleponnya.

Setelah dua kali dering, dia mengangkat.

“Halo?”

Nada suaranya terdengar tidak sabar.

“Yah, hasil ujian sudah keluar.”

“Berapa nilaimu?”

“Aku gagal, Yah. Nilainya terlalu rendah.”

Aku mendengar napasnya memburu dari seberang telepon.

Lalu suasana menjadi sunyi.

Beberapa detik kemudian terdengar suaranya yang sedingin es.

“Dianne, aku sudah membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi semua kebutuhanmu… lalu hanya hasil seperti ini yang bisa kamu berikan?”

“Dengan muka apa aku harus bertemu orang lain?”

“Kamu benar-benar mempermalukanku!”

Suaranya semakin keras hingga hampir berteriak.

“Jangan pernah pulang lagi! Rumah ini tidak punya tempat untuk orang bodoh sepertimu! Pergi!”

Telepon langsung diputus.

Yang tersisa hanya bunyi sambungan yang terputus.

Aku tidak bergerak.

Wajahku tetap datar.

Hatiku juga sama sekali tidak bergeming.

Setengah bulan sebelumnya…

Sehari setelah ulang tahunku yang kedelapan belas.

Aku melewati ruang kerja Ayah.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Dari dalam terdengar suara ibu tiriku, Celia.

“Arturo, Dianne sudah delapan belas tahun. Kapan kamu mau mengurus rumah peninggalan ibunya? Lala ingin kuliah di Australia atau Kanada. Biayanya sangat mahal.”

“Rumah itu berada di lokasi strategis di Jakarta Selatan. Kalau dijual, kita bisa mendapat miliaran rupiah. Uangnya bisa dipakai untuk masa depan Lala.”

Ayah terdiam beberapa saat sebelum menjawab,

“Tapi rumah itu diwariskan khusus untuk Dianne. Semua tertulis jelas di surat wasiat.”

Nada suara Celia langsung berubah tajam.

“Surat wasiat? Dia masih anak-anak. Apa dia mengerti hukum? Kamu ayahnya! Kamu berhak menentukan semuanya. Atau jangan-jangan kamu masih memikirkan mantan istrimu yang sudah meninggal daripada aku dan Lala?”

Suasana kembali hening.

Lalu terdengar helaan napas Ayah.

“Sudahlah. Aku akan cari jalan. Dengan otaknya yang lambat, paling-paling dia cuma masuk kampus biasa. Nanti suatu hari dia pasti datang memohon kepadaku.”

“Kalau saat itu tiba, aku akan membuatnya menandatangani surat pelepasan hak. Dia tidak akan punya pilihan.”

Seluruh tubuhku membeku.

Jadi…

Inilah alasannya.

Ibuku meninggal ketika aku masih kecil.

Rumah itu adalah satu-satunya kenangan yang beliau tinggalkan.

Karena takut aku diperlakukan tidak adil, beliau membuat surat wasiat dengan bantuan seorang pengacara.

Rumah itu sudah menjadi milikku.

Namun aku baru memperoleh hak penuh setelah berusia delapan belas tahun.

Ternyata…

Mereka sudah lama menunggu saat ini.

Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu.

Semua harapan dan kasih sayang yang masih kupunya untuk pria yang kupanggil “Ayah” hancur seketika.

Aku mengambil ponselku.

Mengaktifkan perekam suara.

Lalu menyembunyikannya di balik pot bunga dekat pintu ruang kerja.

Keesokan harinya aku mengambil kembali ponsel itu.

Semua percakapan mereka terekam dengan jelas.

Termasuk rencana membohongiku.

Bahkan memalsukan dokumen kepemilikan rumah.

Ayah berkata,

“Begitu hasil ujian keluar dan dia gagal, aku akan mengusirnya. Biar dia sadar bahwa tanpa rumah itu dia bukan siapa-siapa. Kalau nanti dia sudah kelaparan dan tidak punya tempat tinggal, aku tinggal melempar sedikit uang. Dia pasti akan menuruti semua keinginanku.”

Tidak ada kasih sayang.

Tidak ada belas kasihan.

Aku menyimpan rekaman itu di beberapa folder dan cloud storage.

Kini waktunya telah tiba.

Aku berdiri lalu menyalakan lampu.

Pakaianku tidak banyak.

Satu koper sudah cukup.

Aku mengemas semua barangku.

Termasuk sebuah kotak kayu kecil dari dalam laci.

Di dalamnya ada foto Ibu.

Salinan surat wasiat.

Dokumen kepemilikan rumah.

Ayah mengira aku tidak tahu tempat menyimpannya.

Padahal jauh sebelum meninggal, Ibu sudah memberitahuku.

Semua dokumen itu kumasukkan ke dalam koper.

Bersama kartu identitas, akta kelahiran, dan kartu ATM.

Tabunganku hanya sekitar beberapa juta rupiah.

Namun itu sudah cukup untuk memulai hidup baru.

Aku menutup ritsleting koper.

Dari ruang tamu masih terdengar tawa mereka.

Mereka sedang merayakan “kesuksesan” Lala.

Ironis sekali.

Saat sampai di depan pintu rumah, aku berhenti sejenak.

Aku menoleh untuk terakhir kalinya ke rumah yang mereka sebut sebagai “keluarga”.

Aku sudah tidak memiliki sedikit pun rasa berat untuk meninggalkannya.

Aku melangkah keluar.

Udara malam yang dingin langsung menyambutku.

Aku tidak pernah menoleh lagi.

Aku bersumpah…

Saat aku kembali nanti…

Aku akan mengambil kembali semua yang menjadi milikku.

Lengkap dengan bunganya.

Aku berjalan menyusuri jalan sambil menarik koper.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Bibi Susan.

“Dianne, Bibi baru selesai memasak. Kapan kamu mampir?”

Bibi Susan adalah sahabat terbaik mendiang ibuku.

Sejak Ibu meninggal, hanya beliau yang benar-benar peduli kepadaku.

Aku membalas singkat.

“Bi, aku sedang menuju ke sana.”

Aku memesan taksi online menuju apartemen Bibi Susan.

Sepanjang perjalanan, aku memandang lampu-lampu kota di balik jendela.

Hatiku terasa sangat tenang.

Tidak ada amarah.

Tidak ada kesedihan.

Yang tersisa hanyalah tekad.

Mobil berhenti di depan gedung apartemen.

Bibi Susan tinggal di lantai lima.

Begitu melihatku membawa koper, beliau langsung membuka pintu.

“Dianne! Apa yang terjadi? Kenapa kamu membawa koper?”

“Bi… bolehkah aku tinggal di sini beberapa hari?”

Beliau langsung menarikku masuk.

“Tentu saja boleh! Masuk dulu. Arturo mengusirmu lagi?”

Aku menggeleng.

“Kali ini… dia benar-benar mengusirku.”

Aku menunjukkan riwayat panggilan dan pesan bertuliskan:

“Keluar dari rumah.”

Tubuh Bibi Susan langsung gemetar karena marah.

“Benar-benar keterlaluan!”

“Bagaimana dia bisa melakukan ini?”

Beliau menyuruhku duduk lalu menyodorkan secangkir teh hangat.

“Jangan takut. Selama ada Bibi, kamu aman. Sebenarnya apa yang terjadi? Karena hasil ujian?”

Aku mengangguk.

“Aku bilang kepada Ayah kalau aku gagal.”

Kening Bibi langsung berkerut.

“Mustahil. Kamu anak yang sangat pintar.”

“Itu memang rencanaku.”

Aku memutar rekaman suara itu.

Semakin lama Bibi mendengarkan, wajahnya semakin pucat.

Setelah rekaman selesai, beliau terdiam lama.

Air matanya perlahan jatuh.

“Ibumu… benar-benar salah memilih suami.”

“Dianne… maafkan Bibi karena kamu harus mengalami semua ini.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bi, aku tidak merasa menderita.”

“Aku hanya melakukan apa yang memang harus kulakukan.”

Beliau menatapku.

Rasa iba di matanya perlahan berubah menjadi kekaguman.

“Kamu anak yang hebat.”

“Kamu jauh lebih dewasa daripada ayahmu sendiri.”

Beliau berdiri.

“Tinggallah di sini. Apa pun yang kamu butuhkan, Bibi akan membantumu.”

Aku mengangguk.

“Bi, aku punya satu permintaan.”

“Tolong jangan beri tahu siapa pun kalau aku tinggal di sini.”

“Dan beberapa hari ke depan… mungkin aku membutuhkan bantuan Bibi untuk memainkan sedikit sandiwara.”

Tanpa ragu, beliau mengangguk.

“Tidak masalah.”

Beliau mengantarkanku ke kamar tamu.

Memang tidak besar.

Namun bersih dan nyaman.

“Istirahatlah dulu.”

“Walaupun dunia runtuh, kamu masih punya rumah di sini.”

Aku berbaring di tempat tidur.

Aroma seprai yang baru dicuci membuatku akhirnya merasa tenang.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah itu…

Aku merasakan arti kata aman.

Namun aku tahu…

Ini baru permulaan.

Pertunjukan yang sebenarnya…

Baru saja dimulai.

Keesokan paginya aku bangun lebih awal.

Sarapan sudah disiapkan oleh Bibi Susan.

Setelah makan, aku berpamitan untuk keluar.

Bagian 2 (Tamat)

Langkah pertamaku bukan menuju tempat hiburan, melainkan ke kantor hukum milik Pak Handoko—pengacara kawakan yang dulu mengurus surat wasiat almarhumah Ibuku.

Di dalam ruang kerjanya yang tenang, aku membeberkan semua dokumen asli: sertifikat rumah di Jakarta Selatan, surat wasiat Ibu, serta bukti rekaman percakapan Ayah dan Celia. Aku juga menyerahkan bukti resmi kelulusanku dari universitas negeri ternama—peringkat nasional dengan persentil 98,7 dan beasiswa penuh.

Pak Handoko menyesap kopinya, matanya berbinar di balik kacamata tebalnya.

“Rencana mereka untuk memalsukan tanda tanganmu dan menyatakan kamu menghilang adalah pelanggaran pidana berat, Dianne,” ujar Pak Handoko tegas. “Apalagi rumah itu sah 100% milikmu sejak kamu genap berusia 18 tahun. Kita bisa langsung mengesekusi hak milik ini dan melayangkan gugatan balik atas penyalahgunaan aset dan ancaman pemerasan.”

Aku tersenyum tipis. “Belum sekarang, Pak. Biarkan mereka merasa berada di puncak kejayaan dulu. Biarkan mereka membelanjakan uang yang sebenarnya tidak pernah mereka miliki.”

Seminggu kemudian.

Aula hotel berbintang lima di pusat kota dihiasi dekorasi megah bernuansa emas dan putih. Pesta perayaan kesuksesan Lala digelar secara besar-besaran. Ayah mengundang seluruh kerabat keluarga besar, kolega bisnis, hingga media lokal. Rp200 juta dihabiskan dalam satu malam—uang yang Ayah pinjam dari pinjaman jangka pendek dengan jaminan rumah peninggalan Ibuku, yakin betul bahwa minggu depan rumah itu sudah bisa ia jual.

Dari balik pilar di sudut ruangan, aku berdiri diam. Mengenakan pakaian hitam sederhana, kontras dengan gaun mewah Celia dan Lala.

Ayah berdiri di atas panggung, mengangkat gelas anggurnya dengan wajah berbinar bangga.

“Anakku memang luar biasa. Dia sangat pintar. Sebagai seorang ayah, aku sudah tidak punya penyesalan lagi. Semua kerja kerasku benar-benar terbayar!” serunya diiringi tepuk tangan riuh para tamu.

Celia tersenyum lebar, memeluk Lala yang bertingkah seolah-olah dialah bintang paling bersinar malam itu.

Lalu, mataku dan mata Ayah saling bertaut.

Senyum di wajah Arturo Reyes langsung membeku ketika melihatku berdiri di bawah panggung. Matanya memancarkan kemarahan dan kepanikan. Ia buru-buru turun dari panggung, menghampiriku dengan langkah cepat dan setengah berbisik tajam.

“Mau apa kamu ke sini, Dianne?! Kamu tidak punya malu? Sudah gagal, malah datang mengacau di pesta adikmu!” bisiknya penuh kebencian.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat, Yah,” jawabku tenang, tanpa ada getaran di suaraku. “Dan memberikan kado untuk Ayah.”

Aku mengeluarkan sebuah flashdisk dan dokumen beramplop cokelat tebal dari dalam tas.

Sebelum Ayah sempat merebutnya, layar proyektor besar di panggung yang tadinya menampilkan foto-foto Lala mendadak berubah gelap. Pak Handoko, yang sudah bekerja sama dengan operator audiovisual acara, menekan tombol play.

Suara dentuman musik pesta mendadak mati.

Gema suara yang sangat dikenal memenuhi seluruh aula.

“Arturo, Dianne sudah delapan belas tahun… Rumah di Jakarta Selatan itu kalau dijual kita bisa mendapat miliaran rupiah… Uangnya bisa dipakai untuk masa depan Lala.”

“Begitu hasil ujian keluar dan dia gagal, aku akan mengusirnya… Kalau nanti dia sudah kelaparan, aku tinggal melempar sedikit uang. Dia pasti akan menuruti semua keinginanku.”

Suara Ayah dan Celia terpancar jelas, nyaring, dan menggema ke seluruh penjuru ruangan.

Seluruh tamu undangan mendadak hening. Tawa gembira berubah menjadi bisik-bisik ketakutan dan tatapan jijik yang tertuju pada Ayah dan Celia. Wajah Celia seketika pucat pasi, sementara gelas anggur di tangan Ayah terlepas dan pecah berkeping-keping di lantai.

“Mati… Matikan!” teriak Ayah histeris ke arah panggung. Tapi tidak ada yang mematikannya.

Layar proyektor kemudian berganti, menampilkan dokumen kepemilikan sah rumah atas namaku, disusul sertifikat pengumuman hasil ujian nasional milikku—Dianne Reyes: Nilai Persentil 98,7 (Diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan Beasiswa Penuh).

Di sampingnya, ditampilkan pula hasil ujian Lala yang sebenarnya: Nilai di bawah rata-rata nasional (Tidak Lolos).

“Bohong! Ini semua rekayasa!” jerit Celia panik, mencoba menutupi wajah Lala yang mulai menangis kebingungan di atas panggung.

Aku melangkah maju mendekati Ayah yang kini gemetar hebat. Aku menyerahkan amplop cokelat itu tepat ke dadanya.

“Itu adalah surat somasi eksekusi pengosongan rumah, serta gugatan tindak pidana atas upaya pemalsuan dokumen dan penggelapan aset,” ucapku pelan namun sangat jelas, cukup untuk didengar oleh kerabat di sekitar kami.

“K-kamu… kamu membohongiku…” gagap Ayah, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.

“Aku memang sengaja berbohong,” balasku sambil menatap lurus ke dalam matanya. “Aku harus membiarkanmu mengusirku, agar Ayah tidak punya celah lagi untuk berpura-pura menjadi seorang ‘ayah’. Aku butuh kamu memperlihatkan wujud aslimu di depan hukum dan semua orang.”

Aku mendekatkan wajahku ke telinganya.

“Rumah itu milik Ibuku, dan sekarang kembali padaku. Pinjaman Rp200 juta untuk pesta megah ini sepenuhnya atas nama pribadimu, Arturo. Selamat menikmati hasilnya.”

Aku berbalik arah dan melangkah pergi dengan tegak.

Di belakangku, aula yang tadinya megah pecah dalam kekacauan. Suara makian para tamu, tangisan Lala, dan teriakan histeris Celia menyatu dengan suara Ayah yang terdengar memanggil namaku dengan penuh keputusasaan.

“Dianne! Dianne, tunggu! Maafkan Ayah!”

Aku tidak menoleh.

Udara malam di luar hotel terasa begitu segar. Bibi Susan sudah menungguku di dalam mobil dengan senyuman hangat. Saat aku masuk ke dalam mobil, aku tahu bahwa masa laluku telah selesai, dan masa depanku—yang kubangun dengan tanganku sendiri—baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.