Posted in

Lima tahun setelah perceraian, aku kembali untuk “membalas dendam” pada mantan istriku yang telah mengkhianatiku. Namun, akhir dari semuanya… justru membuatku terdiam tanpa kata…

Lima tahun setelah perceraian, aku kembali untuk “membalas dendam” pada mantan istriku yang telah mengkhianatiku. Namun, akhir dari semuanya… justru membuatku terdiam tanpa kata…

Aku tak pernah menyangka akan ada hari ketika aku kembali ke jalan tempat kami dulu tinggal.

Sudah lima tahun berlalu sejak aku meninggalkan tempat ini pada suatu sore yang diguyur hujan, hanya membawa sebuah koper kecil dan satu tekad dalam hati: **aku harus pergi sejauh mungkin**.

Dan sekarang… aku berdiri di depan gang yang begitu akrab, menggenggam kunci mobil, menatap papan nama jalan yang warnanya sudah memudar.

Lima tahun.

Memang bukan waktu yang terlalu lama, tetapi cukup untuk mengubah seseorang… hingga menjadi versi yang sama sekali berbeda dari dirinya yang dulu.

Dan aku kembali ke sini hanya karena satu alasan.

Namaku **Rafael**, usia tiga puluh lima tahun.

Lima tahun yang lalu, aku hanyalah seorang pria yang gagal.

Aku tidak memiliki pekerjaan yang mapan, penghasilanku pas-pasan, dan pernikahanku… berakhir dengan cara yang paling menyakitkan.

Mantan istriku—**Liana**—adalah wanita yang sangat kucintai, sampai-sampai aku merasa rela mengorbankan apa pun demi dirinya.

Kami bertemu saat kuliah.

Aku mengambil jurusan Teknologi Informasi, sedangkan dia belajar Pemasaran. Kami berkenalan melalui sebuah organisasi kampus.

Liana adalah tipe wanita yang selalu menjadi pusat perhatian.

Bukan semata-mata karena wajahnya yang cantik, melainkan karena… **dia memiliki pesona yang sulit dijelaskan**.

Dia pandai berbicara, selalu tersenyum, dan mampu membuat siapa pun yang berbicara dengannya merasa dihargai.

Aku mengejarnya hampir selama satu tahun sebelum akhirnya dia menerima cintaku.

Selama empat tahun kuliah, kami hampir tidak pernah terpisah.

Setelah lulus, kami memutuskan untuk menikah.



Saat itu, aku benar-benar yakin telah menemukan kebahagiaan sejati.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa…

…pernikahan itu justru menjadi awal dari kehancuran hidupku.

Setelah menikah, kehidupan ekonomi kami tidak berjalan semulus yang kuduga. Usaha perintis yang kubangun gulung tikar dalam waktu dua tahun. Hutang menumpuk, dan aku terpaksa bekerja serabutan hanya untuk memastikan dapur tetap mengepul. Di saat-saat paling gelap itu, sifat Liana perlahan berubah. Senyum hangatnya mulai memudar, digantikan oleh tatapan dingin dan helaan napas penuh kekecewaan.

Hingga sore yang diguyur hujan lima tahun lalu itu tiba.

Aku pulang lebih awal untuk memberikan kejutan kecil pada ulang tahun pernikahan kami yang ketiga. Namun, justru akulah yang mendapat kejutan—yang meremukkan seluruh hidupku. Di ruang tamu kami, aku melihat Liana bersama pria lain. Pria itu adalah mantan atasannya, seorang pengusaha sukses yang selalu Liana puji.

Tanpa drama panjang, Liana menyerahkan surat cerai dengannya yang sudah bertanda tangan. Dengan suara datar yang begitu asing, dia berkata, “Aku lelah hidup melarat bersamamu, Rafael. Kamu tidak bisa memberiku masa depan.”

Hari itu, aku pergi membawa luka, penghinaan, dan dendam yang membara.

Selama lima tahun di luar negeri, dendam itulah yang menjadi bahan bakarku. Aku bekerja tanpa kenal lelah, merintis perusahaan teknologi baru, dan menahan segala sakit sampai akhirnya aku meraih keberhasilan luar biasa. Kini, aku bukan lagi Rafael yang gagal. Aku adalah pengusaha muda sukses yang memiliki kekayaan dan kekuasaan.

Aku kembali ke kota ini dengan satu tujuan: membeli rumah lama kami, membangkrutkan bisnis suami barunya, dan menunjukkan kepada Liana betapa besarnya kesalahan yang telah dia buat.

Aku melangkah menyusuri gang sempit itu, membiarkan sepatu kulit mahalku menginjak tanah yang retak. Aku membayangkan wajah Liana yang terkejut, penyesalannya, dan ketakutannya saat melihat keberhasilanku.

Langkahku terhenti di depan rumah bercat putih yang kini tampak kusam. Tanaman liar memenuhi pekarangan, dan pintunya sedikit terbuka.

“Liana!” panggilku dengan suara berat dan tegas, siap melancarkan aksi balasan yang sudah kurancang bertahun-tahun.

Tidak ada jawaban. Hanya hembusan angin dingin yang menyambutku.

Aku mendorong pintu kayu itu perlahan. Rumah itu sepi, berdebu, dan hampir kosong. Di atas meja tamu yang retak, tidak ada barang mewah atau kemewahan yang kubayangkan dinikmati Liana bersama suami kayanya. Yang ada hanya beberapa botol obat dan sebuah bingkai foto tua—foto pernikahan kami dulu.

“Siapa di sana…?”

Sebuah suara serak dan lemah terdengar dari arah kamar dalam.

Jantungku berdegup kencang. Aku melangkah mendekat, mempersiapkan kata-kata pedas yang sudah kuhafal di luar kepala. Namun, saat pintu kamar terbuka lebar, seluruh kata-kata itu menguap seketika.

Di atas ranjang besi yang tua, terbaring seorang wanita yang sangat kurus. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan rambutnya yang dulu indah kini menipis. Dia mencoba duduk dengan bersusah payah.

Itu… Liana.

“Ra… Rafael…?” bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang dilihutnya.

“Apa… apa yang terjadi padamu?” suaraku gemetar. Keangkuhan dan dendamku runtuh dalam sekejap. “Mana suamimu yang kaya itu? Mana kehidupan mewah yang kamu pilih?”

Seorang wanita tua—tetangga sebelah—tiba-tiba masuk membawa semangkuk bubur panas. Melihatku berdiri di sana, wanita tua itu mendesah panjang.

“Kamu… Rafael?” tanya wanita tua itu.

Aku mengangguk kaku.

“Akhirnya kamu pulang, Nak,” kata wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca. “Liana sudah menunggu hari ini… walaupun dia tahu dia mungkin tidak sempat melihatmu lagi.”

“Apa maksud Ibu?” tanyaku, kebingungan menancap tajam di dadaku.

Wanita tua itu menatap Liana yang menggelengkan kepala lemah, memohon agar tetangganya diam. Namun wanita tua itu melangkah mendekatiku dan berkata, “Lima tahun lalu, Liana didiagnosis mengidap kanker darah stadium akhir. Pengobatannya sangat mahal, dan dia tahu kehidupan ekonomimu sedang hancur total saat itu.”

Darahku serasa berhenti mengalir.

“Dia tahu, jika kamu tahu dia sakit, kamu akan menjual seluruh sisa hidupmu, berhutang lebih dalam, dan menghancurkan masa depanmu demi menyelamatkannya—hal yang sia-sia karena dokter sudah menyerah,” lanjut wanita tua itu. “Jadi, dia menyewa pria itu… mantan atasannya… untuk berpura-pura berselingkuh darimu. Dia sengaja membuatmu membencinya, agar kamu pergi, fokus pada impianmu, dan tidak hancur bersamanya.”

Ucapannya menyengat bagai ribuan jarum. Aku menatap Liana dengan mata membelalak.

“Liana… itu tidak benar, kan? Katakan padaku itu tidak benar!” teriakku, suaraku pecah.

Liana menutup wajahnya yang kurus dengan kedua tangan, menangis sesenggukan tanpa suara.

“Maafkan aku, Rafael…” bisiknya di antara isak tangis. “Aku… aku tidak ingin menjadi beban bagimu. Aku ingin kamu sukses… aku ingin kamu hidup…”

Di meja kecil di samping ranjangnya, aku melihat sebuah buku diari kusam. Aku membukanya dengan tangan yang gemetar hebat. Di lembar terakhir yang ditulis kemarin, tertulis:

Gusti, jika hari ini adalah hari terakhirku, izinkan aku mendengar kabarnya sekali saja. Aku mendengar dia sudah sukses di luar sana. Pengorbananku tidak sia-sia. Rafael-ku… akhirnya berhasil.

Buku diari itu terlepas dari genggamanku.

Di kamar yang berdebu dan sunyi itu, berdiri seorang pria kaya raya yang membawa modal dendam lima tahun… terdiam tanpa kata.

Kunci mobil mewah di genggamanku terasa begitu berat dan tak berguna. Keberhasilan, kekayaan, dan kejayaan yang kubanggakan selama ini… ternyata dibangun di atas fondasi cinta teragung dari wanita yang kusangka telah menghancurkanku.

Aku berlutut di samping ranjangnya, menggenggam tangannya yang dingin dan kurus, membiarkan air mataku menetes deras tanpa sanggup mengucap satu kata pun. Dendamku telah mati, menyisakan penyesalan mendalam yang akan kubawa seumur hidupku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.