ANAK PEREMPUAN YANG HAMIL 9 BULAN PULANG KE KAMPUNG DENGAN MEMBAWA DUA ANAKNYA SETELAH SUAMINYA MENGUSIR MEREKA DEMI SELINGKUHAN YANG HAMIL ANAK LAKI-LAKI… AYAHNYA MENAHAN AIR MATA DAN BERKATA: “PULANGLAH, NAK. MELAHIRKANLAH DI SINI DENGAN SELAMAT. SEMUA BIAR AYAH YANG URUS.” TEPAT DI HARI CUCU ITU LAHIR, SANG AYAH MELAKUKAN SESUATU YANG MENGEJUTKAN…
Sari masih ingat jelas pagi itu.
Dia sedang membereskan kamar, bersiap menghadapi hari-hari terakhir sebelum melahirkan. Tiba-tiba Riko, suaminya, masuk dengan wajah dingin. Nada suaranya penuh kejengkelan.
“Beresi barangmu. Aku bicara jujur saja. Anak dari aku dan Maya itu laki-laki. Aku butuh penerus keluarga. Aku tidak mau terus dipandang rendah oleh rekan-rekanku. Kamu sudah melahirkan tiga kali dan semuanya perempuan. Kali ini, kamu dan anak-anakmu pulang saja ke kampung untuk melahirkan. Jangan tinggal di sini lagi.”
Sari terpaku. Perutnya terasa menegang.
“Apa yang kamu katakan, Riko? Aku hampir melahirkan… Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”
Riko melemparkan kunci rumah ke meja dan menyeringai tipis.
“Kalau kamu melahirkan anak perempuan lagi, biar Maya dan ibunya yang tinggal di sini. Aku tidak mengusirmu… aku hanya memilih anak laki-laki.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk langsung ke hati seorang perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu.
Sari tidak memohon. Yang dia pikirkan hanya dua putrinya yang masih kecil dan bayi di dalam kandungannya yang belum sempat melihat dunia.
Dia diam-diam mengemas beberapa baju bayi, pakaian sederhana miliknya, serta pakaian kedua putrinya yang berusia 2 dan 4 tahun. Dengan satu tas di tangan dan satu tangan lagi memegang perutnya yang besar, dia menggandeng kedua anaknya keluar dari rumah itu.
Perjalanan pulang terasa panjang.
Ketika bayangan Sari dan dua anak kecil itu muncul di depan gerbang rumah, Pak Hasan, ayahnya, sedang memperbaiki kandang ayam di halaman.
Pria tua itu terdiam beberapa detik.
Di depannya berdiri putrinya yang kurus, perutnya besar hampir melahirkan, mata merah seperti baru menangis. Dua cucunya terlihat pucat karena perjalanan jauh.
“Sari… kenapa kamu pulang hanya dengan anak-anak? Di mana Riko?” tanya Pak Hasan dengan suara gemetar.
Sari tidak bisa menahan air mata lagi.
Melihat keadaan putrinya, Pak Hasan diam beberapa saat lalu menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Dengan suara pelan namun tegas, dia berkata:
“Sudah… tidak usah menangis. Pulanglah ke rumah. Melahirkanlah di sini dengan selamat. Semua urusan lain, biar Ayah yang mengurusnya.”

Sari tidak tahu… bahwa tepat pada hari cucunya lahir, ayahnya akan melakukan sesuatu yang membuat seluruh keluarga Riko gempar…
Malam itu hujan turun deras di desa kecil mereka.
Pak Hasan duduk di teras sambil menatap kamar tempat Sari beristirahat. Dari dalam terdengar sesekali suara cucu-cucunya yang masih kecil memanggil ibunya.
Pria tua itu menggenggam rokok yang bahkan tidak ia nyalakan.
Hatinya hancur.
Bukan karena rumah mereka miskin. Bukan karena sekarang ia harus menanggung empat cucu sekaligus. Tapi karena anak perempuan yang ia besarkan dengan penuh kasih pulang dalam keadaan dibuang seperti barang tidak berharga.
Sepanjang malam, Pak Hasan tidak tidur.
Keesokan paginya, kontraksi Sari mulai datang.
Tetangga membantu membawa Sari ke bidan desa. Dua anak kecilnya menangis ketakutan sambil memegangi baju kakeknya.
Pak Hasan terus menenangkan mereka.
“Tidak apa-apa… ibu kalian kuat.”
Berjam-jam kemudian, suara tangisan bayi akhirnya terdengar.
Seorang bidan keluar sambil tersenyum.
“Selamat, Pak Hasan. Cucunya lahir sehat.”
Pak Hasan berdiri cepat.
“Perempuan atau laki-laki?” tanya salah satu tetangga.
Bidan itu tersenyum lebih lebar.
“Laki-laki.”
Semua orang langsung bersyukur. Namun anehnya, Pak Hasan justru menunduk lama sambil memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
Bukan karena bayi itu laki-laki.
Tetapi karena ia tahu… cucunya baru diterima dunia bahkan sebelum sempat membuka mata, hanya karena jenis kelaminnya.
Saat sore tiba, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah bidan.
Riko turun bersama ibunya.
Wajah mereka tampak panik.
Ternyata kabar kelahiran bayi laki-laki sudah sampai ke telinga mereka.
Ibu Riko bahkan langsung masuk tanpa malu-malu.
“Mana cucu laki-laki saya?” katanya cepat. “Bagaimanapun dia keturunan keluarga kami!”
Sari yang masih lemah langsung memeluk bayinya erat-erat.
Riko mendekat dan mencoba bicara lembut untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
“Sari… aku datang menjemput kalian pulang.”
Ruangan langsung sunyi.
Pak Hasan yang sejak tadi berdiri di pojok akhirnya maju perlahan.
Tatapannya tenang, tetapi penuh luka seorang ayah.
“Kamu datang karena anak ini laki-laki?” tanyanya pelan.
Riko terdiam.
Pak Hasan lalu mengeluarkan sebuah map cokelat tua dari tas lusuhnya.
“Aku sudah tua,” katanya, “tapi aku masih tahu cara menjaga harga diri anakku.”
Ia membuka map itu di depan semua orang.
Isinya adalah surat gugatan cerai… dan dokumen balik nama rumah kontrakan kecil miliknya di kota.
Sari membelalak.
“Yah… ini rumah yang Ayah sewakan selama ini…”
Pak Hasan mengangguk.
“Ayah menjual sawah terakhir kita minggu lalu. Rumah kecil itu sekarang atas nama kamu dan anak-anak.”
Riko langsung panik.
“Pak, tidak perlu begini! Saya cuma khilaf!”
Namun Pak Hasan menatapnya tajam untuk pertama kalinya.
“Khilaf itu lupa pulang. Khilaf itu salah bicara. Tapi mengusir istri hamil sembilan bulan dan dua anak kecil demi perempuan lain… itu pilihan.”
Suasana menjadi tegang.
Ibu Riko buru-buru berkata:
“Bagaimanapun cucu laki-laki itu darah daging keluarga kami!”
Pak Hasan tersenyum tipis sambil mengambil bayi kecil dari pelukan Sari dengan sangat hati-hati.
Lalu pria tua itu mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.
“Anak ini memang darah daging kalian. Tapi saat ibunya menangis dan kelaparan, yang menjaga dia bukan kalian.”
Ia menatap bayi itu penuh kasih.
“Mulai hari ini, cucuku tidak akan dibesarkan untuk percaya bahwa nilai seorang perempuan lebih rendah daripada laki-laki.”
Riko menunduk. Wajahnya pucat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar bahwa dirinya kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar “istri”.
Ia kehilangan keluarga yang benar-benar tulus mencintainya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Pak Hasan lalu menyerahkan map itu ke tangan Sari.
“Nak,” katanya lirih, “rumah itu mungkin kecil. Tapi di sana, tidak akan ada orang yang mengusirmu hanya karena melahirkan anak perempuan.”
Sari menangis sambil memeluk ayahnya.
Dan di tengah tangisan bayi kecil yang baru lahir itu, seorang ayah tua akhirnya berhasil melakukan hal yang paling ingin ia lakukan sejak putrinya pulang:
mengembalikan harga diri anaknya yang sempat dihancurkan orang lain.
