Posted in

Istrinya pergi ketika dua anak mereka baru berusia 3 tahun. Sendirian, seorang pria bernama Pak Surya membesarkan kedua putrinya hingga dewasa… dan ketika anak-anaknya akhirnya sukses, sang mantan istri tiba-tiba muncul kembali menuntut 1 miliar rupiah uang nafkah.

Istrinya pergi ketika dua anak mereka baru berusia 3 tahun. Sendirian, seorang pria bernama Pak Surya membesarkan kedua putrinya hingga dewasa… dan ketika anak-anaknya akhirnya sukses, sang mantan istri tiba-tiba muncul kembali menuntut 1 miliar rupiah uang nafkah.

Tahun itu, Pak Surya baru saja menginjak usia tiga puluh. Dua putrinya yang kembar, Rani dan Sinta, baru berusia tiga tahun, bahkan masih belum lancar berbicara. Namun suatu hari istrinya sudah mengemasi barang-barangnya dan hanya meninggalkan satu kalimat:

“Aku tidak sanggup hidup miskin seperti ini lagi. Kita cerai saja.”

Setelah itu, wanita tersebut mengikuti seorang perantara dan pergi ke Tiongkok untuk menikah dengan pria lain. Pada hari menandatangani surat perceraian, ia tidak menangis. Ia hanya menoleh dan mengatakan satu kalimat yang selalu diingat Pak Surya:

“Kamu terlalu tidak berguna, makanya aku harus pergi.”

Sejak hari itu, di rumah kecil yang hampir roboh itu hanya tersisa tiga orang: seorang ayah dan dua anak perempuannya.

Pak Surya melakukan segala macam pekerjaan untuk bertahan hidup: menjadi kuli bangunan, buruh angkut, mengemudi ojek, dan pada malam hari masih sempat menjual tiket lotre di pinggir jalan.

Ketika kedua anaknya demam tinggi, ia menggendong mereka berjalan beberapa kilometer menuju puskesmas desa. Ada hari-hari ketika uang benar-benar habis; ia menahan lapar, memberi anak-anaknya bubur encer, lalu memalingkan wajah untuk menyeka air mata.

Tetangga sering bergosip:

“Tanpa istri, dengan kondisi miskin seperti ini, mana mungkin dia bisa membesarkan dua anak perempuan.”

Bahkan ada yang lebih kejam:

“Pantas saja istrinya pergi. Laki-laki macam apa yang membuat istrinya hidup susah.”

Pak Surya mendengar semuanya, tapi ia menganggapnya seperti angin lewat. Ia hanya menunduk bekerja lebih keras, dan setiap malam membantu anak-anaknya belajar membaca dan menulis.

Ia sering berkata kepada mereka:

“Kita mungkin miskin uang, tapi jangan pernah miskin karakter.”

Dua puluh tahun berlalu.

Putri sulungnya, Rani, menjadi seorang guru, berdiri di depan kelas mengajar murid-murid dengan kebaikan yang ia pelajari dari ayahnya.

Putri bungsunya, Sinta, menjadi pramugari, terbang ke berbagai kota dan negara, tetapi tidak pernah lupa menelepon ayahnya hanya untuk bertanya:

“Ayah sudah makan hari ini?”

Ketika dua bersaudara itu bersiap menikah, Pak Surya diam-diam membersihkan meja altar keluarga dan menyalakan dupa untuk memberi kabar kepada leluhur.

Ia tidak punya harta besar sebagai mahar. Hanya sebuah rumah tua… dan dua anak perempuan yang baik hati.

Tepat pada saat itu, seorang wanita berpakaian mewah tiba-tiba muncul di depan rumah.

Itu adalah ibu kandung mereka.

Wanita itu memandang kedua anaknya dari atas sampai bawah. Tatapannya penuh keterkejutan… tapi juga perhitungan.

Setelah beberapa pertanyaan basa-basi, ia langsung berkata tanpa malu:

“Bagaimanapun juga aku ini ibu kandung kalian. Sekarang aku sudah tua, kalian harus menanggung hidupku. Kalau tidak… masing-masing beri aku 1 miliar rupiah, anggap saja uang untuk masa tuaku.”

Mendengar itu, kedua putrinya langsung saling berpandangan… lalu salah satu dari mereka berdiri dan berkata sesuatu yang membuat wanita itu langsung terdiam.

Rani melangkah maju lebih dulu. Wajahnya tenang, tetapi matanya dingin menahan luka yang sudah dipendam bertahun-tahun.

“Ibu,” katanya pelan, “waktu kami demam dan menangis memanggil ibu, yang menggendong kami ke puskesmas adalah Ayah. Waktu kami tidak punya uang sekolah, yang bekerja sampai tengah malam adalah Ayah. Waktu kami diejek anak tanpa ibu, yang memeluk kami sambil bilang kami tetap berharga… juga Ayah.”

Suasana di rumah kecil itu mendadak sunyi.

Sinta lalu berdiri di samping kakaknya. Ia membuka dompet kecil dari tasnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah, lalu meletakkannya di atas meja.

“Kalau Ibu datang sebagai orang asing yang sedang kesusahan, mungkin kami masih akan membantu. Tapi jangan datang membawa nama ‘ibu’ hanya untuk menagih uang.”

Wanita itu langsung memerah wajahnya.

“Kalian berani bicara begitu kepada ibu kandung sendiri?!”

Sinta menatap lurus ke arahnya.

“Ibu kandung tidak meninggalkan dua anak umur tiga tahun demi hidup mewah dengan laki-laki lain.”

Kalimat itu menghantam seperti petir.

Pak Surya yang sejak tadi diam akhirnya berdiri perlahan. Tubuhnya sudah tidak setegap dulu. Rambutnya memutih, tangannya kasar penuh bekas kerja keras puluhan tahun. Namun suaranya tetap tenang.

“Cukup,” katanya.

Dua putrinya langsung terdiam.

Pak Surya mengambil uang seratus ribu tadi dan menyerahkannya kembali kepada Sinta.

“Kita tidak membalas keburukan dengan keburukan.”

Lalu ia menoleh kepada mantan istrinya.

“Aku tidak pernah melarang anak-anak membencimu. Tapi aku mengajari mereka menjadi manusia yang baik.”

Wanita itu menggigit bibir, seolah masih ingin membela diri. Namun saat melihat rumah tua itu—atap yang mulai lapuk, meja makan sederhana, dan foto-foto keluarga yang semuanya hanya berisi seorang ayah dengan dua anak perempuan—matanya perlahan berubah.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.

Selama dua puluh tahun, orang yang ia hina sebagai laki-laki “tidak berguna” ternyata berhasil melakukan hal yang bahkan banyak orang gagal lakukan:
membesarkan dua anak menjadi manusia yang baik tanpa meninggalkan hati mereka penuh kebencian.

Tangannya mulai gemetar.

“Aku…” suaranya pecah, “…aku cuma berpikir waktu itu hidupku akan lebih baik…”

Pak Surya tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan. Hanya senyum lelah seseorang yang sudah terlalu lama berdamai dengan masa lalu.

“Dan apakah hidupmu benar-benar lebih baik?”

Wanita itu tidak mampu menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia perlahan menunduk. Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya runtuh sedikit demi sedikit. Air matanya jatuh untuk pertama kali sejak ia datang.

Namun Rani hanya berkata pelan:

“Maaf, Bu. Kami bisa memaafkan… tapi kami tidak bisa mengulang masa kecil kami.”

Wanita itu akhirnya pergi tanpa membawa satu miliar rupiah, bahkan tanpa sempat makan malam.

Sore itu hujan turun perlahan di depan rumah tua Pak Surya.

Dua putrinya duduk di samping ayah mereka sambil memegang kedua tangannya yang kasar.

Sinta bersandar di pundak ayahnya dan berbisik:

“Kalau boleh memilih lagi… aku tetap mau lahir sebagai anak Ayah.”

Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menahan semuanya sendirian, mata Pak Surya akhirnya basah oleh air mata bahagia.

👇