Posted in

BAB 1: DIA MENGUSIR ISTRINYA DARI RUMAH, NAMUN SETAHUN KEMUDIAN, DIA MENEMUKANNYA DI DEKAT TEMPAT PEMULUNG DAN SEBUAH RAHASIA HAMPIR MERUNTUHKAN SELURUH DUNIANYA

BAB 1: DIA MENGUSIR ISTRINYA DARI RUMAH, NAMUN SETAHUN KEMUDIAN, DIA MENEMUKANNYA DI DEKAT TEMPAT PEMULUNG DAN SEBUAH RAHASIA HAMPIR MERUNTUHKAN SELURUH DUNIANYA

Pada hari surat perceraian mereka ditandatangani, Miguel tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia akan menyesali semuanya.

Saat itu, di matanya, Maya adalah wanita yang telah mengkhianatinya.

Wanita yang menghancurkan enam tahun pernikahan mereka.

Dan wanita yang membuat namanya menjadi bahan pembicaraan di dunia bisnis.

Semuanya bermula dari sebuah video misterius.

Dalam video itu, Maya terlihat bersama seorang pria tak dikenal di sebuah hotel kecil.

Tak lama kemudian, sejumlah besar uang dari perusahaan keluarga Miguel juga tiba-tiba menghilang.

Bersamaan dengan itu, cincin mahal warisan mendiang ibunya pun lenyap.

Semua bukti seolah mengarah kepada Maya.

Dan orang yang membawa semua bukti itu kepada Miguel adalah Vanessa.

Wanita yang selalu berada di sisinya.

Wanita yang mengaku tidak sanggup melihat Miguel dibohongi.

Hari itu, Maya menangis hingga hampir kehilangan suaranya.

— Miguel, aku tidak melakukan semua itu.

— Seseorang sedang menjebakku.

— Tolong, percayalah padaku meski hanya sekali saja.

Namun Miguel tidak mendengarkannya.

Dengan dingin, ia meletakkan surat perceraian di atas meja.

— Tanda tangani saja.

— Mulai hari ini, tidak ada lagi hubungan apa pun di antara kita.

Dengan tangan gemetar, Maya memegang pena.

Sebelum menandatangani, ia menatap Miguel cukup lama.

Tatapan itu menimbulkan perasaan aneh di hati Miguel hingga ia mengalihkan pandangannya.

— Bagaimana jika suatu hari nanti kau mengetahui bahwa kau telah melakukan kesalahan?

Miguel tersenyum tipis.

— Itu tidak akan pernah terjadi.

Malam itu, Maya meninggalkan rumah besar yang dulu mereka tinggali hanya dengan membawa sebuah koper tua.

Tanpa uang.

Tanpa keluarga yang bisa diandalkan.

Tanpa tempat tujuan.

Dan Miguel tidak pernah tahu bahwa Maya menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar.

Satu tahun berlalu.

Kehidupan Miguel tampak sempurna.

Bisnisnya berkembang pesat.

Vanessa sudah pindah dan tinggal bersamanya.

Dan hampir semua orang percaya bahwa keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang benar.

Hingga suatu sore yang diguyur hujan.

Mobil mewah Miguel berhenti di pinggir jalan yang ramai.

Saat menunggu kemacetan terurai, pandangannya tertuju ke seberang jalan.

Dan tiba-tiba dadanya berdebar keras.

Seorang wanita tampak membungkuk sambil memilah botol plastik, kardus, dan berbagai barang daur ulang lainnya di bawah atap yang sudah rusak.

Pakaiannya lusuh.

Tubuhnya sangat kurus.

Namun Miguel langsung mengenalinya.

Itu adalah Maya.

Mantan istrinya yang tidak pernah ia lihat selama satu tahun terakhir.

Di samping Maya ada dua bayi yang tampaknya baru berusia sekitar sepuluh bulan.

Seorang bayi laki-laki.

Dan seorang bayi perempuan.

Mereka duduk diam di sebuah stroller tua.

Miguel membeku.

Karena wajah kedua anak itu…

Sangat mirip dengannya.

Terutama mata mereka.

Dan lesung pipit kecil di pipi kiri mereka.

Persis seperti yang dimilikinya saat kecil.

— Tidak mungkin…

Tanpa sadar, ia sudah membuka pintu mobil.

Namun Vanessa segera menahannya.

— Kau mau ke mana?

Miguel tidak menjawab.

Ia hanya menatap kedua bayi itu.

Vanessa ikut melihat ke arah yang sama.

Dalam hitungan detik, ekspresinya berubah.

Namun ia segera memaksakan senyum.

— Mungkin hanya kebetulan.

— Banyak orang yang memiliki wajah mirip di dunia ini.

Miguel tetap diam.

Karena firasat di dalam dadanya semakin kuat.

Ia ingin turun.

Ia ingin bertanya.

Ia ingin mengetahui kebenarannya.

Namun lalu lintas kembali bergerak.

Dan mereka terpaksa pergi.

Sejak saat itu, wajah kedua bayi tersebut tidak pernah hilang dari pikirannya.

Malam harinya, ia tidak bisa tidur.

Untuk pertama kalinya setelah setahun, ia membuka kembali foto-foto masa kecilnya.

Semakin lama ia memperhatikannya, semakin dingin tubuhnya.

Anak laki-laki dalam foto-foto lama itu hampir identik dengan bayi yang ia lihat di jalan.

Keesokan harinya, ia langsung menyewa seorang penyelidik pribadi.

— Cari tahu semua tentang kehidupan Maya selama satu tahun terakhir.

— Jangan lewatkan satu detail pun.

Tiga hari kemudian.

Laporan pertama pun tiba.

Miguel membuka map tebal itu.

Dan seketika ia tertegun.

Menurut laporan tersebut, setelah meninggalkan rumah, Maya sempat dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Ia melahirkan lebih awal dari jadwal.

Dan hampir kehilangan nyawanya.

Tidak ada seorang pun yang menemaninya.

Tidak ada yang merawatnya.

Ia menghadapi semuanya seorang diri.

Tangan Miguel mulai gemetar.

Ia terus membaca.

Ia menemukan akta kelahiran anak kembar itu.

Nama ibu: Maya Santos.

Nama ayah…

Kosong.

Tenggorokannya terasa tercekat.

Namun yang lebih mengejutkan adalah halaman terakhir.

Di sana terdapat catatan singkat dari penyelidik.

“Pak, kami menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan.”

“Semua bukti yang menyebabkan perceraian Anda ternyata berasal dari satu orang yang sama.”

“Seseorang telah membayar orang lain untuk membuat bukti-bukti palsu.”

Bersama laporan itu terdapat sebuah flashdisk USB.

Miguel segera mencolokkannya ke komputer.

Sebuah rekaman CCTV muncul di layar.

Rekaman itu berasal dari sebuah kafe.

Tanggalnya tepat satu minggu sebelum perceraian mereka.

Dalam video tersebut, seorang wanita duduk berhadapan dengan seorang pria tak dikenal.

Miguel memperhatikan wajah wanita itu dengan saksama.

Dan pada detik berikutnya…

Gelas yang dipegangnya terjatuh.

Karena wanita dalam video itu tidak lain adalah Vanessa.

Dan pria di depannya menyerahkan sebuah amplop tebal.

Setelah itu, Vanessa menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.

Foto itu adalah foto Maya.

Tepat pada saat itu, telepon Miguel berdering.

Penyelidik pribadi itu menelepon.

Suaranya terdengar sangat tergesa-gesa.

— Pak Miguel, kami sudah menemukan saksi paling penting.

— Dia mengetahui seluruh kebenaran tentang apa yang terjadi setahun lalu.

— Tapi sepertinya seseorang sudah mengetahui keberadaannya.

— Nyawanya sedang dalam bahaya sekarang.

— Dan orang yang ingin dia temui sebelum mengatakan semuanya…

Penyelidik itu berhenti sejenak.

Lalu berbicara dengan suara pelan.

— Mantan istri Anda.

Miguel langsung berdiri.

Jantungnya berdetak sangat keras.

— Di mana dia?

Penyelidik itu menyebutkan lokasinya.

Dan wajah Miguel langsung pucat.

Karena tempat itu…

Adalah komunitas kecil tempat Maya tinggal bersama kedua anak kembarnya.

Dan tepat pada saat yang sama, sebuah foto baru masuk ke ponselnya.

Dalam foto tersebut terlihat beberapa pria sedang berjalan mendekati kamar kecil tempat Maya tinggal di tengah hujan deras.

Mereka membawa sebuah tas hitam besar.

Dan tidak seorang pun mengetahui apa yang ada di dalamnya…

Berikut adalah kelanjutan dan bab penutup (kesimpulan) untuk BAB 1:

BAB 1: DIA MENGUSIR ISTRINYA DARI RUMAH… (Lanjutan & Akhir)

Miguel tidak sempat berpikir lagi. Rasa bersalah, panik, dan ketakutan yang luar biasa menghantam dadanya seperti ombak besar. Seluruh dunianya yang megah terasa runtuh dalam satu detik. Tanpa memedulikan Vanessa yang baru saja masuk ke ruang kerjanya membawa secangkir kopi, Miguel menyambar kunci mobilnya dan berlari kesetanan keluar rumah.

“Miguel! Kamu mau ke mana?!” teriak Vanessa, cangkir di tangannya bergetar hebat saat matanya sekilas menangkap layar komputer Miguel yang masih menyala—menampilkan rekaman CCTV kafe itu. Wajah Vanessa langsung pias, pucat pasi.

Hujan badai mengguyur kota, seolah ikut memuntahkan kemarahan takdir. Di dalam mobil, Miguel menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Air matanya menetes, mengaburkan pandangan.

“Bagaimana jika suatu hari nanti kau mengetahui bahwa kau telah melakukan kesalahan?”

Kata-kata Maya setahun lalu bergema di kepalanya, mencabik-cabik harga dirinya. Dia telah membuang wanita yang paling mencintainya, membiarkannya melahirkan sendirian di ambang kematian, dan membiarkan darah dagingnya sendiri hidup luntang-lantung di tempat pembuangan sampah. Semua demi wanita ular seperti Vanessa.

“Bertahanlah, Maya… Tolong, bertahanlah,” bisik Miguel histeris.

Detik-Detik Menegangkan

Tiga puluh menit yang terasa seperti neraka berlalu. Mobil mewah Miguel berdecit tajam saat berhenti di depan gang sempit kawasan kumuh tersebut. Di bawah guyuran hujan, ia melihat dua pria berjaket hitam sedang mendobrak pintu tripleks sebuah gubuk reyot.

“Hei! Hentikan!” teriak Miguel, suaranya menggelegar mengalahkan suara petir.

Kedua pria itu terkejut. Melihat seorang pria bertubuh tegap dan berpakaian mahal berlari ke arah mereka, mereka panik. Salah satu dari mereka menjatuhkan tas hitam yang dibawanya—yang ternyata berisi jeriken bensin. Mereka berniat membakar tempat itu! Menyadari rencana mereka gagal, kedua pelaku segera kabur menghilang ke dalam kegelapan malam.

Miguel tidak mengejar mereka. Fokusnya hanya satu. Ia menendang sisa pintu yang rapuh itu hingga terbuka.

Di dalam ruangan sempit yang bocor di sana-sini, Maya sedang memeluk erat kedua bayi kembarnya di atas kasur tipis. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang amat sangat. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya terluka—dialah saksi kunci yang dicari penyelidik Miguel, mantan orang suruhan Vanessa yang mencoba bersembunyi di sana.

Kebenaran yang Meruntuhkan Dunia

Saat melihat siapa yang datang, mata Maya membelalak. Bukan rasa lega yang terpancar, melainkan ketakutan dan luka yang mendalam.

“Jangan… jangan ambil anak-anakku, Miguel…” bisik Maya dengan suara parau, memeluk kedua bayinya semakin erat. “Aku tidak punya apa-apa lagi. Tolong, jangan bawa mereka…”

Miguel terjatuh berlutut di lantai tanah yang basah. Pria egois dan angkuh itu kini menangis bersujud di depan mantan istrinya.

“Maafkan aku, Maya… Maafkan aku…” suara Miguel tercekat oleh tangis. “Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu anak-anak ini darah dagingku. Aku tahu Vanessa yang menjebakmu.”

Pria paruh baya di sudut ruangan itu terbatuk dan bersuara, “Pak Miguel… Nyonya Vanessa yang merencanakan semuanya. Dia yang mencuri uang perusahaan, dia yang mengambil cincin ibu Anda, dan dia yang mengedit video palsu itu untuk mengusir Nyonya Maya. Saya memegang semua dokumen asli dan bukti transfer dari Vanessa.”

Dunia Miguel benar-benar runtuh. Kepercayaan yang ia agungkan selama setahun ini berubah menjadi lelucon paling kejam. Ia menatap dua bayi mungil yang kini menatapnya dengan mata bulat yang sangat mirip dengannya. Rasa sesal mencekik lehernya hingga sulit bernapas.

Akhir dari Sebuah Awal

Miguel perlahan mendekat, mencoba menyentuh tangan kurus Maya, namun Maya menariknya perlahan. Luka satu tahun kelaparan, kehinaan, dan perjuangan hidup-mati tidak bisa dihapus hanya dengan kata maaf dalam semalam.

“Aku tidak butuh uangmu, Miguel. Aku hanya ingin menghidupi anak-anakku dengan tenang,” ucap Maya dengan air mata yang mengalir bercampur air hujan dari atap yang bocor.

“Aku tidak akan meminta dimaafkan sekarang, Maya,” kata Miguel, suaranya bergetar namun penuh tekad. “Tapi malam ini, biarkan aku membawa kalian dari tempat ini. Demi keselamatan anak-anak kita. Setelah itu, aku akan membiarkan hukum menghancurkan Vanessa, dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membayar semua dosaku padamu.”

Malam itu, di tengah badai yang mulai mereda, Miguel membawa pulang harta paling berharga yang pernah ia buang dengan sia-sia. Kebenaran telah terungkap, Vanessa akan menghadapi dinginnya sel penjara, namun bagi Miguel, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai: memenangkan kembali hati wanita yang dunianya telah ia hancurkan setahun lalu.