Posted in

DIA MENINGGALKAN BAYI KAMI YANG SEDANG KRITIS DEMI SELINGKUHANNYA—NAMUN SAAT PULANG, MIMPI BURUK TERBESAR SUDAH MENUNGGUNYA**

DIA MENINGGALKAN BAYI KAMI YANG SEDANG KRITIS DEMI SELINGKUHANNYA—NAMUN SAAT PULANG, MIMPI BURUK TERBESAR SUDAH MENUNGGUNYA**

Malam itu begitu dingin, tetapi tubuh bayi kami yang baru berusia tiga hari, **Leo**, justru membara karena demam yang sangat tinggi.

Tubuh mungilnya gemetar di pelukanku. Napasnya berat, cepat, dan disertai suara yang sanggup menghancurkan hati seorang ibu. Aku baru saja melahirkan. Bekas jahitan operasi caesar masih terasa sangat nyeri dan tubuhku masih lemah. Namun aku tak lagi memedulikan rasa sakitku sendiri. Yang terpenting bagiku hanyalah keselamatan anakku.

Sambil menangis dan mengompres dahi Leo dengan air hangat, aku mendengar pintu lemari pakaian dibuka.

Kulihat suamiku, **Anton**, sedang tergesa-gesa memasukkan pakaian-pakaian mahal ke dalam koper. Aroma parfum favoritnya, **Tom Ford**, memenuhi ruangan.

“Anton… tolonglah…” pintaku sambil terisak, berlutut di samping tempat tidur. “Jangan tinggalkan kami sekarang. Demam Leo sangat tinggi. Dia kesulitan bernapas. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!”

Ia bahkan tidak menoleh.

Tangannya tetap menutup ritsleting koper.

“Maya, jangan berlebihan. Itu cuma demam biasa pada bayi. Kasih saja paracetamol lalu istirahat,” jawabnya dingin. “Ada krisis darurat di kantor cabang kita di Bali. Aku harus terbang sekarang juga. Aku tidak bisa membatalkannya.”

“Tapi, Anton… dia baru berusia tiga hari! Ini bukan demam biasa!” teriakku.

Ia mengangkat kopernya, menatapku dengan wajah kesal, lalu berjalan keluar tanpa sekalipun melihat anak kami yang sedang berjuang antara hidup dan mati.

Suara terakhir yang kudengar adalah deru mesin mobilnya.

Dia meninggalkan kami.

### Malam Penuh Perjuangan

Setelah Anton pergi, kondisi Leo semakin memburuk.

Bibir mungilnya mulai membiru.

Aku segera meraih ponselku.

Baterainya tinggal **2%**.

Dengan tangan gemetar aku menelepon layanan darurat untuk meminta ambulans.

“T-Tolong… anak saya… dia tidak bisa bernapas…” tangisku kepada operator.

“Ambulans sedang menuju ke lokasi, Bu. Tetap di saluran, ya,” jawab suara wanita di seberang.

Namun sebelum sempat menjawab, layar ponselku tiba-tiba menyala karena notifikasi Instagram.

Seseorang menandai akunku melalui sebuah akun anonim yang sudah lama kucurigai.

Aku membukanya.

Dan apa yang kulihat seketika menghancurkan hatiku.

Sebuah foto memperlihatkan dua orang sedang mengangkat gelas koktail mahal di depan matahari terbenam yang indah di sebuah resor mewah di **Bali**.

Wanita itu adalah **Valerie**, direktur pemasaran baru di perusahaan Anton.

Sedangkan pria yang merangkulnya mengenakan **jam tangan Rolex** yang persis sama dengan hadiah pernikahan yang pernah kuberikan kepada Anton.

Keterangan fotonya berbunyi:

*”Liburan ke surga bersama cintaku. Tanpa stres, hanya kami berdua.”*

Jadi…

Tidak pernah ada krisis pekerjaan.

Dia meninggalkan bayi kami yang baru berusia tiga hari dan sedang sekarat hanya demi minum-minum serta bermesraan dengan wanita simpanannya di tepi pantai.

Sebelum sempat berteriak karena marah, ponselku mati.

Baterainya habis.

Aku memeluk Leo seerat mungkin.

Tangisnya mulai melemah.

“Jangan tinggalkan Mama, Nak… Tolong bertahan… Kumohon…” bisikku sambil menempelkan pipiku pada wajahnya yang panas.

Lima menit kemudian—lima menit yang terasa seperti seumur hidup—aku mendengar suara sirene ambulans.

Mereka akhirnya tiba.

Malam itu juga, ketika Anton sedang berciuman di bawah langit penuh bintang, putra kami dipasangi berbagai selang di ruang **NICU (Neonatal Intensive Care Unit)**.

### Lima Hari yang Mengubah Segalanya

Selama lima hari berikutnya, aku tidak pernah pulang.

Aku terus berada di samping inkubator Leo.

Dokter mendiagnosisnya menderita **pneumonia neonatal berat**.

Menurut mereka, Leo selamat hanya karena berhasil dibawa ke rumah sakit tepat waktu.

Selama lima hari itu…



Tidak ada satu pun telepon atau pesan dari Anton.

Bahkan sebuah pesan singkat untuk menanyakan kabar anaknya pun tidak ada.

Pria itu benar-benar tenggelam dalam lautan nafsu dan kemewahan di Bali, lupa bahwa ia memiliki seorang istri yang hampir gila karena cemas dan seorang bayi yang bertaruh nyawa.

Namun, di hari kelima, masa kritis Leo akhirnya lewat. Napasnya mulai stabil, bibirnya kembali kemerahan, dan dokter mengizinkannya untuk dibawa pulang dengan perawatan intensif.

Saat itulah rasa sedih dalam diriku sepenuhnya mati, berganti menjadi sebuah dendam yang dingin dan terencana.

Aku bukan sekadar seorang istri yang malang. Sebelum menikah dengan Anton, aku adalah Maya, seorang kuasa hukum spesialis hukum korporasi dan salah satu pemegang saham terbesar di Vandira Group—perusahaan tempat Anton menjabat sebagai Direktur Utama, yang modal awalnya 80% berasal dari dana keluarga besarku.

Selama ini, aku memilih menjadi istri yang penurut dan menyembunyikan taringku demi menjaga martabatnya sebagai pria. Namun, malam ketika ia membiarkan anak kami sekarat demi wanita lain, Anton resmi membangunkan seorang monster.

Selama dua hari sebelum kepulangannya, aku tidak membuang waktu.

Melalui koneksiku, aku mengumpulkan seluruh bukti perselingkuhannya, bukti penyalahgunaan dana operasional perusahaan yang ia pakai untuk membiayai liburan mewahnya bersama Valerie, serta rekaman CCTV rumah yang merekam jelas momen saat ia menelantarkan Leo yang sedang kritis.

Rabu malam, tepat hari ketujuh, suara pintu depan terdengar terbuka.

Kepulangan Sang Pemenang

Anton melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah segar, kulit yang sedikit kecokelatan akibat sinar matahari Bali, dan senyum puas di bibirnya. Ia memegang kunci mobilnya dan membawa beberapa kantong belanjaan bermerek mahal.

“Maya! Aku pulang!” panggilnya dengan suara santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. “Kerjaan di Bali benar-benar menguras tenaga. Aku capek banget. Tolong siapkan air hangat dan…”

Kalimatnya terhenti saat ia berjalan menuju ruang keluarga.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu meja. Aku duduk anggun di sofa kulit utama, mengenakan gaun hitam elegan, menyesap cangkir teh hangat dengan sangat tenang.

Di meja kaca di depanku, tergeletak sebuah map merah tebal dan sebuah ponsel yang sedang menyiarkan rekaman CCTV.

“Kamu… kamu kenapa duduk di kegelapan begini?” tanya Anton, sedikit mengernyit heran. “Gimana kabar Leo? Udah sembuh, kan? Aku bilang juga apa, cuma demam biasa.”

Aku meletakkan cangkir tehku pelan. Suara dentingan keramiknya menggema di ruangan yang hening.

“Leo hampir mati, Anton,” kataku pelan, tanpa nada marah sedikit pun. “Dia menderita pneumonia berat. Kalau ambulans terlambat lima menit malam itu, kita sudah menguburkan jenazahnya hari ini.”

Anton tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat menyembunyikannya di balik raut wajah kesal. “Tapi dia selamat, kan? Jangan lebay, Maya. Aku kan kerja di Bali demi membiayai kalian juga!”

“Kerja?” Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduknya mendadak berdiri.

Aku memutar layar ponselku ke arahnya.

Di layar itu, terpampang jelas foto-foto mesranya bersama Valerie di pantai, bukti pembayaran resort mewah senilai Rp120 juta menggunakan kartu kredit perusahaan, dan rekaman percakapan mesra mereka yang berhasil diretas oleh tim hukumku.

Wajah Anton yang tadinya segar seketika berubah pucat pasi. Koper di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

“M-Maya… ini… ini tidak seperti yang kamu bayangkan…” gagapnya, peluh dingin mulai membasahi dahinya. “Valerie cuma… kami cuma…”

“Simpan kebohonganmu untuk di pengadilan, Anton,” potongku dingin.

Aku memajukan map merah di atas meja.

“Apa ini?!” tanyanya dengan suara gemetar.

“Itu adalah gugatan cerai atas tuduhan perzinahan dan penelantaran anak, surat pemecatanmu sebagai Direktur Utama Vandira Group atas dugaan penggelapan dana, serta surat penyitaan seluruh aset atas nama kamu—termasuk mobil, jam tangan Rolex itu, dan rumah ini.”

“Kamu gila?!” teriak Anton histeris. “Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Perusahaan itu aku yang pimpin!”

“Perusahaan itu berdiri di atas uang keluargaku, Anton,” jawabku sambil berdiri menatapnya dari atas ke bawah dengan penuh jijik. “Kamu hanyalah seorang pegawai yang kuberi kemewahan, lalu lupa diri dan merasa menjadi raja.”

BZZZZ… BZZZZ…

Ponsel Anton di dalam saku jasnya berdering keras. Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

“Halo?!”

“Pak Anton! Ini dari Dewan Komisaris!” suara sekretaris utamanya terdengar panik dari speaker ponsel. “Rapat pemegang saham darurat baru saja selesai! Posisi Anda sebagai CEO resmi dicabut detik ini, dan tim audit forensic bersama kepolisian sedang menuju ke rumah Anda atas laporan tindak pidana penggelapan dana sebesar Rp15 miliar!”

Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan hancur berantakan di lantai.

Anton menatapku dengan mata membelalak penuh ketakutan. Ia mendadak berlutut di depanku, menangis histeris dan mencoba memegang ujung gaun hitamku.

“Maya! Ampuni aku! Aku mohon! Aku khilaf! Valerie yang menggodaku! Tolong jangan hancurkan hidupku! Pikirkan Leo! Dia butuh seorang ayah!”

Aku melangkah mundur, menarik gaunku dari cengkeraman tangannya yang kotor.

“Ayah?” tanyaku dingin. “Seorang ayah tidak akan membiarkan bayinya yang berusia tiga hari bertaruh nyawa demi tidur dengan wanita lain. Kamu bukan seorang ayah, Anton. Kamu cuma seekor parasit.”

Tepat saat itu, suara sirene polisi terdengar memecah malam di luar pagar rumah kami.

Dua petugas polisi bersama tim hukumku masuk ke dalam ruangan.

“Sdr. Anton, Anda ditangkap atas tuduhan penggelapan dana dan penelantaran anak di bawah umur,” tegas petugas polisi sambil memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangannya.

Anton melolong dan menjerit histeris saat diseret keluar dari rumah, memohon kesempatannya yang kedua. Namun aku bahkan tidak menoleh lagi.

Aku berjalan pelan menuju kamar bayi, melihat kecilnya tubuh Leo yang sedang tertidur lelap dalam buaian hangat. Aku mencium dahinya yang kini sudah dingin dan sehat.

Di luar sana, hidup Anton baru saja hancur berkeping-keping. Dan bagiku, ini adalah awal dari kehidupan yang baru—tanpa seorang pengkhianat.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.