BARU DELAPAN HARI SETELAH MELAHIRKAN, TETAPI BAHKAN MAKANAN BERGIZI TERAKHIRKU DIHABISKAN OLEH KELUARGA SUAMIKU—KETIKA AKU PERGI KE RUMAH TETANGGA UNTUK MEMINTA SEMANGKUK BUBUR, SATU PANGGILAN TELEPON MEMBUAT MEREKA SEMUA TERDIAM
Hari kedelapan setelah aku melahirkan.
Akhirnya, putra kecilku tertidur lelap setelah hampir satu jam aku menggendong dan menenangkannya.
Begitu matanya terpejam, rasa lapar yang luar biasa langsung menyerang.
Sejak pagi hingga sekarang, aku hanya minum segelas susu hangat.
Sudah beberapa hari produksi ASI-ku sedikit sehingga tubuhku selalu terasa lemas.
Aku teringat bahwa pagi tadi ibuku mengirim bubur seafood dan ikan kukus melalui seorang kenalan untuk membantu pemulihanku.
Itulah satu-satunya makanan yang kuharapkan sepanjang hari.
Aku keluar kamar dengan hati-hati.
Namun saat memasuki dapur, rasanya seperti disiram air es.
Kotak makanan berinsulasi itu kosong.
Bahkan panci buburnya tidak menyisakan satu butir nasi pun.
Di meja makan, keponakan iparku sedang menjilat sendok sambil menonton kartun.
— Enak sekali!
Katanya sambil tersenyum.
— Bubur Tante jauh lebih enak daripada yang dijual di luar.
Aku terpaku.
Dadaku terasa sesak.
Itu makananku.
Makanan untuk seorang wanita yang baru delapan hari melahirkan.
Aku menoleh ke ruang tamu.
Ibu mertuaku sedang berbaring di sofa panjang sambil menonton sinetron.
Ipar perempuanku sedang makan biskuit sambil bermain ponsel.
Sedangkan suamiku sibuk bermain gim online.
Tak satu pun dari mereka terlihat merasa bersalah.
— Bu.
Aku berusaha tetap tenang.
— Di mana makanan saya?
Ia bahkan tidak menoleh.
— Anak itu lapar, jadi kami memberikannya kepadanya.
— Kamu sudah dewasa. Tidak makan sekali saja tidak akan mati.
Iparku ikut tertawa.
— Benar kata Mama.
— Anakku masih dalam masa pertumbuhan.
— Kamu baru melahirkan, bukan berarti kamu pasien yang harus selalu mendapat makanan khusus.
Aku menatap mereka semua.
Diam.
Satu-satunya orang yang seharusnya membelaku adalah suamiku.
Namun matanya tetap tertuju pada layar ponsel.
— Ethan.
Panggilku.
Ia tidak menoleh.
— Ethan.
Kali ini ia malah memutar bola mata.
— Ada apa lagi?
— Itu makananku.
Ia mengangkat bahu.
— Sudah habis.
— Besok beli lagi saja.
Beli lagi?
Aku tertawa getir.
Uang untuk makanan itu berasal dari ibuku.
Uang untuk popok dan susu bayi berasal dari ibuku.
Vitamin yang kuminum berasal dari ibuku.
Bahkan ayunan bayi kami dibelikan oleh keluargaku.
Tetapi di rumah ini, aku bahkan tidak memiliki satu porsi makanan yang layak.
Aku menatap suamiku.
Dan untuk pertama kalinya, ia terasa seperti orang asing.
Saat masih mengejarku dulu, ia selalu berkata:
— Aku akan menjagamu seumur hidup.
Tetapi delapan hari setelah aku melahirkan…
Ia bahkan tidak mampu mempertahankan semangkuk makanan untukku.
— Aku lapar.
Kataku pelan.
— Aku harus makan.
Ia menghela napas panjang.
— Jangan membuat drama.
— Semua orang sedang beristirahat.
Membuat drama?
Aku menunduk dan tertawa pahit.
Lalu berbalik.
Aku tidak berdebat.
Aku tidak menangis di depan mereka.
Aku juga tidak menjelaskan apa pun lagi.
Aku kembali ke kamar.
Mengambil selimut tipis milik bayiku.
Memasukkan beberapa popok ke dalam tas.
Lalu menggendongnya keluar rumah.
Saat melewati ruang tamu, tak seorang pun menghentikanku.
Mertuaku bahkan bertanya:
— Mau ke mana?
Aku tidak menjawab.
Aku menutup pintu.
Udara malam terasa dingin.
Aku hanya mengenakan pakaian rumah lama.
Dan sandal plastik.
Bayiku bergerak pelan dalam pelukanku.
Aku memeluknya lebih erat.
Tepat saat itu, pintu unit di seberang rumah kami terbuka.
Grace, tetangga kami, keluar.
Begitu melihatku, matanya langsung membelalak.
— Ya Tuhan!
— Kamu baru saja melahirkan!
— Kenapa kamu berada di luar bersama bayi pada jam seperti ini?
Aku menggigit bibir.
Mataku memerah.
Selama delapan hari aku terus menahan diri.
Aku menahan kata-kata menyakitkan.
Aku menahan penghinaan.
Aku menahan kenyataan bahwa makananku terus diambil.
Tetapi sekarang…
Aku sudah tidak sanggup lagi.
Suaraku bergetar.
— Kak…
— Bolehkah saya meminta semangkuk bubur?
Grace terdiam.
— Hah?
Air mataku langsung jatuh.
— Saya sangat lapar…
— Tidak ada seorang pun yang menyisakan makanan untuk saya di rumah…
Wajah Grace langsung pucat.
Sepuluh menit kemudian.
Aku sudah duduk di ruang tamunya.
Semangkuk bubur hangat berada di hadapanku.
Aroma jahe membuat tubuhku sedikit nyaman.
Sambil makan, air mataku terus mengalir.
Grace tidak memaksaku bercerita.
Ia hanya duduk diam di sampingku.
Setelah bubur itu hampir habis, barulah ia berbicara.
— Apakah keluargamu tahu tentang ini?
Aku menggeleng.
— Saya tidak ingin Mama khawatir.
Ia terdiam sesaat.
Lalu bertanya:
— Bagaimana dengan kakak laki-lakimu?
Aku membeku.
Kakakku.
Orang yang selalu berkata agar aku meneleponnya jika ada yang berani menyakitiku.
Tetapi aku tidak pernah melakukannya.
Aku selalu berpikir bahwa aku masih bisa bertahan.
Sedikit lagi.
Sebentar lagi.
Tetapi sekarang…
Saat menatap putraku yang tertidur.
Aku tiba-tiba sadar.
Jika aku terus bertahan seperti ini…
Bukan hanya aku yang akan terluka di masa depan.
Grace menyerahkan ponselnya.
— Telepon dia.
— Ada orang-orang yang sudah tidak pantas lagi untuk kamu toleransi.
Aku menatap layar.
Perlahan menggulir daftar kontak.
Hingga berhenti pada satu nama.
Orang yang selalu siap melindungiku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Lalu menekan tombol panggil.
Baru satu dering.
Ia langsung menjawab.
— Adik?
— Ada masalah?
Begitu mendengar suaranya.
Air mataku akhirnya pecah.
— Kak…
— Aku dan bayiku sudah tidak punya makanan…
Mendadak, suasana di seberang telepon menjadi sunyi.
Kesunyian yang menakutkan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu terdengar suara kakakku yang sangat dingin.
— Kamu sekarang di mana?
Aku baru saja akan menjawab ketika ponsel Grace berbunyi.
Sebuah pesan baru masuk.
Setelah membacanya, ekspresinya langsung berubah.
— Ya Tuhan…
Aku menatapnya.
— Ada apa?
Ia menunjukkan layar ponselnya kepadaku.
Terdapat foto sebuah mobil hitam yang baru saja berhenti di depan gedung apartemen.
Di bawah foto itu ada pesan singkat:
“Mereka sudah tiba.”
Bersamaan dengan itu.

Kami mendengar derap langkah kaki yang berat di koridor.
Beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu unit rumahku dengan keras.
Sementara itu, dari telepon terdengar suara kakakku yang dingin membekukan.
— Duduk saja di sana.
Suara gedoran di pintu seberang—rumah suamiku—terdengar begitu keras hingga meredam suara televisi yang tadi menyala. Melalui celah pintu rumah Grace yang sengaja dibuka sedikit, aku bisa melihat apa yang terjadi.
Pintu rumahku terbuka. Ethan keluar dengan wajah masam dan penuh amarah.
— Siapa sih?! Malam-malam gedor pintu orang seperti mau runtuh!
Namun, kalimatnya terhenti di tenggorokan.
Empat orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat sudah berdiri di depan pintu. Di tengah-tengah mereka, melangkah maju seorang pria dengan tatapan mata yang mampu membuat siapa pun bergidik ngeri.
Kakakku, Reynald.
Dia tidak datang sendirian. Di belakangnya, beberapa staf hukum dan asisten pribadinya berdiri tegak membawa sejumlah dokumen.
Ethan langsung pucat pasi. Ia tahu betul siapa Reynald—seorang direktur utama dari perusahaan logistik raksasa yang selama ini mendanai modal usaha keluarga Ethan.
— K-Kak Reynald? Ada apa malam-malam begini—
Reynald bahkan tidak memandang wajah Ethan. Ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa permisi, diikuti oleh para pengawalnya.
Kesunyian yang Mencekam
Di ruang tamu, ibu mertuaku langsung bangkit dari sofa dengan wajah panik. Ipar perempuanku menjatuhkan biskuitnya ke lantai. Suasana rumah yang tadinya penuh tawa egois, seketika berubah mencekam seolah pasokan oksigen di sana mendadak hilang.
— Di mana adikku?
Suara Reynald terdengar tenang, namun getaran kemarahan di dalamnya begitu pekat.
Ethan menelan ludah dengan susah payah.
— Dia… dia tadi cuma keluar sebentar ke supermarket, Kak. Biasa, drama wanita setelah melahirkan—
BRAKK!
Reynald menggebrak meja makan kaca hingga retak. Ibu mertuaku menjerit pelit karena terkejut.
— Jangan berbohong di depanku!
Reynald menatap kotak makanan kosong milikku yang tergeletak di atas meja, lalu beralih menatap keponakan iparku yang ketakutan, dan terakhir menatap Ethan.
“Delapan hari lalu adikku bertaruh nyawa untuk melahirkan anakmu. Hari ini, kalian membiarkannya kelaparan, merebut makanannya, dan mengusirnya di malam yang dingin ini?”
Suara Reynald naik satu oktav, membuat seisi ruangan gemetar.
— Kak, itu cuma salah paham! Kami cuma bercanda— Ibu mertuaku mencoba membela diri dengan suara gemetar.
Reynald mengangkat satu tangannya, menghentikan ucapan wanita tua itu. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol, dan mengaktifkan pengeras suara.
Satu Panggilan Telepon yang Menghancurkan
Telepon tersambung. Suara seorang pria paruh baya terdengar dari seberang sana—dia adalah Direktur Bank Utama, tempat di mana keluarga Ethan mengajukan pinjaman bisnis terbesar mereka.
— Halo, Pak Reynald? Ada yang bisa saya bantu malam ini?
Reynald menatap Ethan dan ibunya dengan tatapan kosong.
“Batalkan seluruh persetujuan kredit untuk perusahaan milik keluarga Ethan per detik ini. Tarik semua investasi yang telah kita tanam di jaringan bisnis mereka. Pastikan tidak ada satu sen pun dana yang tersisa untuk mereka.”
Mendengar hal itu, ibu mertuaku langsung jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya lemas. Bisnis keluarga yang selama ini mereka banggakan, yang membuat mereka merasa di atas angin, hancur dalam satu kalimat.
— Baik, Pak Reynald. Segera kami proses malam ini juga.
Telepon ditutup.
Belum sempat Ethan bersuara, asisten Reynald maju dan meletakkan sebuah dokumen di atas meja yang retak.
— Ini adalah surat gugatan cerai, hak asuh penuh atas anak, dan tuntutan pengembalian seluruh aset yang dibeli menggunakan uang keluarga besar kami, termasuk apartemen yang kalian tempati saat ini. Anda punya waktu 24 jam untuk angkat kaki dari sini, tandas sang asisten tegas.
Ethan langsung berlutut di lantai, memohon di depan kaki Reynald.
— Kak! Tolong maafkan aku! Aku salah! Aku akan minta maaf pada istriku! Tolong jangan hancurkan kami!
Reynald menarik kakinya menjauh dengan jijik.
— Kamu bukan hanya menghancurkan istrimu, Ethan. Kamu baru saja menghancurkan seluruh hidupmu.
Menjemput Kebahagiaan yang Sesungguhnya
Reynald berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya membawanya langsung menuju rumah Grace.
Begitu pintu terbuka, matanya yang tadinya sedingin es langsung melunak saat melihatku duduk memeluk bayiku. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapanku. Tangan besarnya yang gemetar karena menahan emosi perlahan mengusap kepalaku dengan sangat lembut.
— Maafkan Kakak… Kakak terlambat melindungimu, bisiknya serak.
Aku hanya bisa menangis haru, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa aman yang akhirnya kembali.
— Ayo pulang, Adik. Rumah kita sudah siap menyambutmu dan keponakan Kakak.
Malam itu, aku melangkah keluar dari gedung apartemen tersebut dengan kepala tegak, menyelimuti bayiku dengan kehangatan yang sesungguhnya. Di belakang kami, sayup-sayup terdengar suara pertengkaran histeris dari rumah yang baru saja kutinggalkan—sebuah kehancuran yang mereka tabur sendiri karena keserakahan mereka.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.