BAYI KEMBAR MILIK MILIARDER YANG DITAKUTI ITU TERUS MENANGIS TANPA HENTI SELAMA SATU BULAN SEJAK IBU MEREKA MENINGGAL. TIDAK ADA DOKTER ATAU PENGASUH MAHAL YANG BISA MENENANGKAN MEREKA… SAMPAI SEORANG PETUGAS KEBERSIHAN YANG HINA MASUK, MEMELUK KEDUA BAYI ITU, DAN RAHASIA YANG TERUNGKAP DARI DADANYA MEMBUAT SANG MILIARDER BERLUTUT.
Istana Tanpa Tidur
Namaku Don Alexander Imperial, tiga puluh lima tahun, CEO kerajaan medis dan teknologi terbesar di Asia. Aku memiliki semua uang di dunia, tetapi aku merasa seperti ayah yang gagal.
Satu bulan lalu, istriku tercinta, Clara, meninggal karena komplikasi saat melahirkan. Dia meninggalkan kami bersama bayi kembar kami, Leo dan Luna. Sejak Clara pergi, mansion kami berubah menjadi neraka yang gelap. Bayi-bayi itu menangis siang dan malam tanpa henti. Mereka tidak mau tidur, menolak minum susu, dan tubuh mereka semakin melemah.
Aku menghabiskan miliaran rupiah. Aku memanggil dokter anak terbaik dari Amerika dan membayar para perawat ahli dengan harga fantastis. Tapi semuanya menyerah. Tidak ada yang mampu menenangkan Leo dan Luna. Kata para dokter, kedua bayi itu merasakan kehilangan mendalam terhadap ibu mereka.
Karena kurang tidur dan depresi berat, aku berubah menjadi bos yang dingin dan kejam.
Petugas Kebersihan yang Diremehkan
Karena kekacauan di rumah, kepala perawatku, Miss Agatha, merekrut beberapa pembantu dan petugas kebersihan baru. Salah satunya adalah Elara, wanita dua puluh enam tahun. Tubuhnya kurus, selalu menunduk, dan terus mengenakan seragam longgar.
“Cepat sedikit, Elara! Bodoh sekali kau mengepel!” bentak Miss Agatha suatu malam di lorong dekat ruang bayi kembar. “Jangan pernah masuk ke kamar anak-anak Don Alexander! Tanganmu penuh kuman, dasar tukang bersih-bersih!”
“I-Iya, Ma’am…” jawab Elara gemetar sambil terus mengepel lantai.
Dari dalam nursery, tangisan Leo dan Luna kembali menggema memekakkan telinga. Wajah kedua bayi itu sudah merah, hampir kehabisan napas karena terlalu lama menangis. Para perawat mahal di dalam panik, mencoba menggendong dan menenangkan mereka, tetapi tangisan mereka justru semakin keras.
Saat itu aku berada di ruang kerja sebelah, mencengkeram rambutku sendiri sambil menangis karena kasihan pada anak-anakku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Naluri Seorang Ibu
Di luar ruangan, Elara akhirnya tidak tahan mendengar tangisan bayi-bayi itu. Dia melepaskan pelnya. Tanpa ragu, dia mendorong pintu nursery!
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” teriak Miss Agatha sambil mencoba menarik lengan Elara. “Kau gila?! Tukang sampah sepertimu tidak boleh masuk ke sini!”
“Lepaskan saya! Bayi-bayi itu bisa mati karena terus menangis!” balas Elara dengan berani.
Dia menepis tangan Miss Agatha dengan kuat. Elara berlari menuju crib mewah itu. Sebelum para perawat sempat menghentikannya, dia mengangkat Leo dan Luna, satu di setiap lengannya, lalu perlahan menempelkan mereka ke dadanya…
Dan saat itulah…
Sesuatu yang mustahil terjadi.
Tangisan kedua bayi itu langsung berhenti.
Seluruh ruangan membeku.
Leo yang selama berminggu-minggu menolak susu, tiba-tiba mengeluarkan suara kecil dan menempelkan wajah mungilnya ke dada Elara. Sementara Luna menggenggam erat seragam longgar wanita itu sambil terisak pelan sebelum akhirnya tertidur.
Para perawat saling berpandangan dengan wajah pucat.
Miss Agatha melotot tak percaya.
Dan aku…
Aku berdiri membatu di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya sejak Clara meninggal, anak-anakku tenang.
Elara memejamkan mata sambil memeluk mereka erat. Air mata perlahan jatuh dari pipinya.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Di bagian depan seragam longgarnya…
Muncul noda basah.
Air susu.
Seluruh tubuhku langsung membeku.
Miss Agatha menjerit panik.
“Tidak mungkin…!”
Aku melangkah perlahan mendekati Elara.
“Kenapa…” suaraku serak. “Kenapa tubuhmu mengeluarkan ASI?”
Elara langsung pucat.
Dia mencoba mundur, tetapi Leo dan Luna justru menangis lagi saat dia bergerak menjauh dariku.
Dan tepat saat itu…
Salah satu perawat yang berdiri paling dekat tiba-tiba berbisik gemetar:
“Don Alexander…”
“Lihat wajah bayi-bayi itu…”
Aku menoleh.
Dan darahku seakan berhenti mengalir.

Karena untuk pertama kalinya…
Leo dan Luna tersenyum.
Bukan kepada ayah mereka.
Tetapi kepada petugas kebersihan yang hina itu.
Dan saat Elara akhirnya mengangkat wajahnya menatapku, bibirnya bergetar sebelum dia berbisik:
“Maafkan saya, Don…”
“Maafkan saya, Don…” bisik Elara dengan suara yang nyaris habis. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi kedua bayiku yang kini terlelap dengan sangat tenang di pelukannya.
“Siapa kau sebenarnya?!” bentakku, meski aku berusaha menahan volume suaraku agar tidak membangunkan Leo dan Luna. Langkahku maju menerjang, mencengkeram bahu kurusnya. “Clara baru meninggal satu bulan lalu! Bagaimana bisa seorang petugas kebersihan asing sepertimu memiliki ASI yang pas untuk anak-anakku?! Dan kenapa mereka hanya mau tenang bersamamu?!”
Elara gemetar hebat di bawah cengkeramanku, namun tangannya sama sekali tidak melonggarkan pelukannya pada Leo dan Luna. Dia melindungi mereka dengan seluruh tubuhnya.
“Don Alexander… Tolong lepaskan dia,” tiba-tiba sebuah suara menginterupsi dari arah pintu.
Aku menoleh dengan kilat amarah di mataku. Itu adalah Dokter Kevin, kepala tim medis pribadi mendiang istriku, sekaligus ilmuwan utama di kerajaan medis milikku. Wajahnya pucat pasi, memegang sebuah map dokumen dengan tangan yang gemetar.
“Kevin! Apa-apaan ini?! Jelaskan padaku!” tuntutku murka.
Kevin berjalan mendekat, menatap Elara dengan pandangan penuh rasa bersalah yang amat dalam. Dia lalu menyerahkan map tersebut kepadaku. “Saya mohon, baca ini terlebih dahulu, Don. Ini adalah kebenaran yang disembunyikan oleh Madam Clara dari Anda selama sembilan bulan terakhir.”
Dengan tangan gemetar karena amarah dan kebingungan, aku membuka map tersebut. Di dalamnya ada berkas medis rahasia, laporan laboratorium, dan sebuah surat perjanjian legal dengan cap instansiku sendiri.
Mataku menyusuri baris demi baris tulisan di sana. Jantungku serasa dihantam godam raksasa.
Laporan Medis: Clara Imperial. Diagnosis: Kanker rahim stadium lanjut. Kehamilan akan membunuh pasien. Tindakan: Pengangkatan sel telur, fertilisasi in vitro (bayi tabung). Ibu Pengganti (Surrogate Mother): Elara Valencia.
“T-Tidak… Ini tidak mungkin…” bisikku, kertas di tanganku berhamburan ke lantai. “Clara hamil! Aku melihat perutnya membesar setiap hari! Aku menemaninya di kamar bersalin!”
“Itu semua palsu, Don,” Kevin menunduk, tidak berani menatap mataku. “Madam Clara menggunakan prostetik perut buncit dan memalsukan seluruh proses persalinan demi melindungi Anda. Dia tahu Anda sangat menginginkan anak, tetapi rahimnya sendiri sudah rusak parah akibat kanker. Dia menyembunyikan penyakitnya, lalu menyewa Elara secara rahasia untuk mengandung darah daging Anda.”
Duniaku runtuh seketika. Silsilah kebohongan ini membuat kepalaku berputar.
“Lalu… lalu jika Elara yang mengandung mereka, kenapa Clara meninggal di hari mereka lahir?!” tanyaku, nyaris gila.
Elara akhirnya mengangkat wajahnya. Dengan mata yang sembap, dia membuka suara. “Satu bulan lalu, di hari saya melahirkan Leo dan Luna di rumah sakit satelit milik Anda… Madam Clara datang untuk menjemput mereka. Tapi di hari yang sama, kanker Madam Clara mencapai masa kritisnya. Dia… dia kolaps di ruang tunggu sebelum sempat menggendong anak-anak ini.”
Elara terisak, mendekap Leo dan Luna lebih erat ke dadanya yang basah oleh ASI.
“Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Madam Clara memegang tangan saya. Beliau menangis dan memohon, ‘Elara, suamiku sangat kejam jika kecewa. Jangan biarkan dia tahu aku membohonginya. Tolong serahkan bayi-bayi ini sebagai anak kandungku, lalu pergilah.’ Madam Clara tidak ingin Anda mengingatnya sebagai istri yang cacat dan penuh kebohongan, Don.”
“Jadi…” Suaraku tercekat di tenggorokan. “Kau menyerahkan bayi-bayimu?”
“Mereka bayi Anda, Don! Bukan bayi saya! Saya hanya ibu pengganti yang dibayar!” tangis Elara pecah. “Tapi… tapi setelah saya pergi, rahim dan payudara saya tidak bisa berbohong. Tubuh saya terus memproduksi susu untuk mereka. Dan ketika saya mendengar kabar dari berita bahwa bayi kembar Anda terus menangis kritis selama sebulan… saya tahu. Saya tahu ikatan batin sembilan bulan di dalam kandungan saya tidak bisa diputus. Mereka merindukan ibunya… mereka merindukan detak jantung ini.”
Elara mengusap seragam longgarnya yang basah. “Itu sebabnya saya menyamar menjadi petugas kebersihan. Hanya untuk memastikan anak-anak Anda hidup. Saya tidak butuh uang Anda lagi, Don. Saya hanya ingin mereka selamat…”
Aku menatap kedua bayiku. Leo dan Luna yang selama satu bulan ini kurus, pucat, dan terus menjerit kesakitan, kini tidur dengan senyum paling damai yang pernah kulihat. Mereka menempel pada dada Elara, mendengarkan detak jantung yang telah menemani mereka selama sembilan bulan di dalam rahim.
Bukan Clara. Wanita yang selama ini kusebut ‘petugas kebersihan hina’ inilah ibu kandung biologis dari anak-anakku. Dialah yang mempertaruhkan nyawanya, menahan sakit, dan rela hidup menderita di sudut mansionku hanya demi memberikan ASI pada bayi-bayi yang kelaparan.
Sementara aku? Aku adalah ayah miliarder egois yang mengusir semua orang dengan uang, tanpa tahu bahwa penawar rasa sakit anak-anakku ada pada wanita yang selama ini dihina oleh para pelayanku.
BUK.
Lututku lemas. Seluruh keangkuhanku sebagai penguasa kerajaan medis hancur tak bersisa. Aku berlutut di lantai, tepat di hadapan kaki Elara.
“Don Alexander?!” Miss Agatha dan para perawat menjerit syok melihat bos mereka yang ditakuti kini bersimpuh di lantai.
Aku tidak memedulikan mereka. Air mataku menetes di atas sepatu kerja Elara yang kotor.
“Maafkan aku…” bisikku, suaraku bergetar hebat penuh penyesalan. “Maafkan kebodohanku… Maafkan kesombonganku, Elara.”
Aku mendongak, menatap wanita yang memegang seluruh hidup dan masa depan anak-anakku itu.
“Aku mohon… jangan pergi lagi. Jangan sembunyikan dadamu, jangan sembunyikan susumu dari mereka. Rumah ini… seluruh kekayaanku… tidak ada artinya jika anak-anakku mati. Mulai hari ini, tidak ada lagi petugas kebersihan bernama Elara.”
Aku menggenggam tangan kurusnya yang kasar karena cairan pembersih lantai.
“Tinggallah di sini. Bukan sebagai pelayan, bukan sebagai ibu pengganti yang dibayar… tapi sebagai Ibu dari Leo dan Luna. Sebagai satu-satunya wanita di mansion ini.”
Elara menatapku dengan mata yang bergetar, lalu perlahan, dia mengangguk pelan sambil mengeratkan pelukannya pada kedua malaikat kecil kami. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam satu bulan, badai di Istana Tanpa Tidur akhirnya mereda, digantikan oleh kehangatan sejati yang tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah.