Posted in

“BIBI, BOLEHKAH AKU MEMINJAM SATU JUTA RUPIAH? SUSU BAYI SUDAH HABIS DAN IBU SEDANG DEMAM TINGGI. TOLONG KAMI…” SEBUAH PESAN PUTUS ASA DIKIRIM OLEH LUNA YANG BERUSIA 12 TAHUN KEPADA SOSOK YANG DIKIRANYA BIBINYA. TAPI KARENA SATU ANGKA YANG SALAH, PESAN ITU JUSTRU SAMPAI KE TANGAN MILIARDER PALING KEJAM DAN TERKAYA DI NEGARA ITU… DAN BALASANNYA AKAN MENGUBAH HIDUP GADIS KECIL ITU SELAMANYA.

“BIBI, BOLEHKAH AKU MEMINJAM SATU JUTA RUPIAH? SUSU BAYI SUDAH HABIS DAN IBU SEDANG DEMAM TINGGI. TOLONG KAMI…” SEBUAH PESAN PUTUS ASA DIKIRIM OLEH LUNA YANG BERUSIA 12 TAHUN KEPADA SOSOK YANG DIKIRANYA BIBINYA. TAPI KARENA SATU ANGKA YANG SALAH, PESAN ITU JUSTRU SAMPAI KE TANGAN MILIARDER PALING KEJAM DAN TERKAYA DI NEGARA ITU… DAN BALASANNYA AKAN MENGUBAH HIDUP GADIS KECIL ITU SELAMANYA.

Permintaan Tolong yang Putus Asa

Namaku Luna, umurku dua belas tahun. Sejak ayah meninggal, aku yang harus merawat ibu yang sakit parah dan adik laki-lakiku yang baru berusia satu tahun, baby Leo. Kami tinggal di gubuk kecil bocor di pinggir rel kereta.

Suatu malam, baby Leo menangis tanpa henti. Susu sudah habis, beras pun tidak ada lagi. Ibuku terbaring di tikar tua, tubuhnya gemetar dan mengigau karena demam tinggi. Aku tidak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan. Aku juga tidak punya uang.

Aku mengambil ponsel keypad lama milik ibu yang layarnya sudah retak. Satu-satunya harapanku adalah adik ibu, Bibi Flora, meskipun aku tahu dia sering bersikap dingin pada kami. Karena layar ponsel buram dan tanganku gemetar karena takut dan lapar, aku mengetik nomor dari ingatanku.

0917-888-9124…

(Padahal nomor asli Bibi Flora berakhir dengan 9125.)

Aku mengirim pesan:

“Bibi Flora, ini Luna. Boleh pinjam satu juta rupiah? Susu bayi habis dan Mama demam tinggi. Tolong kami. Aku akan bayar setelah besok jualan bunga melati.”

Setelah pesan terkirim, aku menangis diam-diam sambil memberi baby Leo air gula supaya perutnya tidak kosong.

Miliarder di Ujung Sana

Di sebuah penthouse mewah yang menjulang tinggi di tengah kota, Rafael Lorenzo yang berusia tiga puluh lima tahun sedang duduk membaca kontrak bisnis. Dia adalah CEO Lorenzo Empire, seorang miliarder dingin, tegas, dan ditakuti yang tidak memikirkan apa pun selain memperbesar kekayaannya. Dia tidak punya istri, tidak punya keluarga, dan dikenal sebagai pria tanpa belas kasihan terhadap para pesaingnya.

Saat sedang bekerja, ponsel pribadinya berbunyi—nomor yang hanya diketahui segelintir orang.

Rafael mengernyit saat membaca pesan dari nomor tak dikenal itu.

Satu juta rupiah? Susu bayi? Bunga melati?

Rafael terbiasa menghadapi orang-orang yang memohon investasi miliaran rupiah darinya, jadi permintaan untuk uang sekecil itu justru membuatnya penasaran. Alih-alih memblokir nomor tersebut, dia membalas.

“Siapa ini? Kamu salah kirim pesan.”

Beberapa detik kemudian, gadis itu membalas lagi, seolah tidak percaya.

“Bibi Flora, jangan usir aku, please. Mama hampir meninggal. Walau cuma lima ratus ribu buat beli obat dan susu. Aku akan kerja apa saja, aku bisa mencuci baju di rumah Bibi sebulan penuh.”

Ada sesuatu yang menusuk hati Rafael yang dingin.

Keputusasaan dalam kata-kata anak itu terasa sampai ke tulang.

Dia bukan Bibi Flora.

Tapi dia tahu keluarga ini berada di ambang kehancuran.

Rafael mengetik balasan:

“Kamu di mana? Kirim alamat lengkapmu sekarang juga.”

Beberapa menit kemudian, sebuah alamat masuk.

Sebuah kawasan kumuh di pinggir rel kereta.

Rafael menatap layar ponselnya lama.

Lalu tanpa sadar, dia berdiri.

Asistennya yang berada di ruang kerja langsung terkejut.

“Sir Rafael? Ada meeting dengan investor Singapura dalam tiga puluh menit.”

Rafael mengambil jasnya.

“Batalkan.”

“As-Sir?”

Tatapan Rafael berubah tajam.

“Aku bilang batalkan.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Seorang miliarder yang tidak pernah peduli pada siapa pun…

…melangkah keluar dari zona nyamannya demi sebuah pesan salah kirim dari seorang anak kecil.

Malam di Pinggir Rel Kereta

Hujan mulai turun membasahi atap seng gubuk kami yang bocor. Aku memeluk baby Leo yang terus merengek karena lapar, sementara tangan kiriku terus mengompres dahi Ibu dengan kain basah. Ponsel tua di sampingku tiba-tiba bergetar.

Ada sebuah pesan masuk dari nomor misterius tadi:

“Aku sudah di depan jalan besar. Gang mana rumahmu?”

Aku tertegun. Mengapa “Bibi Flora” bertanya seperti itu? Dan mengapa bahasanya begitu kaku? Sebelum aku sempat membalas, suara deru mesin mobil yang sangat halus—suara yang belum pernah kudengar di lingkungan kumuh ini—terdengar berhenti di ujung gang.

Cahaya lampu mobil yang luar biasa terang menembus celah-celah dinding bambu rumah kami.

Beberapa tetangga keluar dari rumah mereka, berbisik-bisik heboh melihat sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap terparkir di antara tumpukan sampah dan rel kereta. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal yang sangat rapi turun. Sepatu kulitnya yang mengkilap langsung terbenam di dalam lumpur hitam, namun dia bahkan tidak berkedip.

Dia adalah Rafael Lorenzo. Di belakangnya, sang asisten pribadi memayunginya dengan wajah penuh kecemasan.

“Sir, tempat ini sangat kotor dan berbahaya—”

“Diam, Christian. Cari rumah nomor 14B,” perintah Rafael dingin.

Pertemuan Dua Dunia

TOK! TOK! TOK!

Pintu kayu rapuh kami diketuk. Aku berjalan gemetar sambil menggendong baby Leo, lalu membuka pintu. Aku mendongak, mataku membelalak melihat seorang pria asing yang tampak seperti pangeran dari dunia lain berdiri di depan gubukku.

“Kamu… Luna?” suara pria itu berat, namun ada nada kelembutan yang tersembunyi di balik ketegasannya.

“I-Iya, Om… Om siapa? Di mana Bibi Flora?” tanyaku ketakutan, refleks mundur selangkah.

Rafael tidak menjawab. Matanya menyapu seisi ruangan. Dia melihat ibuku yang terbaring lemah dengan napas memburu di atas tikar, dan dia melihat botol susu baby Leo yang hanya berisi air gula bening. Kilatan amarah—bukan kepadaku, melainkan pada kejamnya dunia—terpancar dari matanya yang tajam.

Pria itu berlutut di atas lantai tanah rumahku yang basah. Dia menatapku lurus-lurus.

“Aku bukan Bibi Flora-mu, Luna. Kamu salah menekan satu angka terakhir di nomor teleponmu,” ucapnya perlahan. “Tapi malam ini, pesan salah kirim itu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupmu.”

Rafael menoleh ke arah asistennya yang berdiri di luar pintu. “Christian, panggil ambulans dari rumah sakit pusat kita sekarang. Siapkan kamar VVIP untuk ibu anak ini. Dan kau…” Rafael menunjuk pengawalnya yang lain, “…pergi ke supermarket terdekat. Beli semua susu bayi terbaik, makanan, dan pakaian hangat.”

“Baik, Sir!”

Balasan yang Mengubah Segalanya

Aku menangis sesenggukan, berlutut di depan pria asing itu. “T-Tapi Om… aku tidak punya uang untuk membayar semua ini. Aku cuma punya bunga melati yang belum dipetik…”

Rafael memegang kedua bahuku, memaksaku untuk berdiri. Dia menghapus air mata di pipiku dengan saputangan sutranya.

“Aku tidak butuh bunga melatimu, Luna. Aku punya semua uang di dunia ini, tapi malam ini aku sadar uangku tidak ada gunanya jika membiarkan anak sepertimu menanggung beban sebesar ini.”

Dia mengambil ponsel lamaku, lalu mengetikkan nomor pribadinya sendiri dan menyimpannya dengan nama ‘Kak Rafael’.

“Mulai detik ini, kamu tidak perlu jualan bunga lagi. Ibumu akan disembuhkan oleh dokter terbaik, dan adikmu tidak akan pernah meminum air gula lagi.”

Rafael berdiri tegak, kembali menjadi sosok CEO yang berwibawa, namun kali ini dengan senyuman tipis di bibirnya.

“Selamat datang di keluarga Lorenzo, Luna. Kamu salah mengirim pesan kepada seorang bibi, tapi kamu baru saja mendapatkan seorang kakak, pelindung, dan seluruh isi dunia yang layak kamu miliki.”

Malam itu, di bawah raungan sirine ambulans yang membawa Ibu menuju kesembuhan, aku tahu bahwa satu angka yang salah di ponsel tua itu telah menghapus seluruh penderitaan kami selamanya. Pria paling kejam di negara ini baru saja memberikan hatinya yang membeku untuk diselamatkan oleh seorang gadis kecil berumur dua belas tahun.