“Cek senilai 1 Miliar telah memutus ikatan darah; Ibuku menukarku dengan harta. Di malam pertama yang dingin, aku gemetar menanti nasib buruk di dalam kamar. Namun, tidak ada siksaan… apa yang aku temukan di balik pintu itu jauh lebih mengejutkan dan mengerikan dari mimpi buruk mana pun!”
Namaku Sari, usiaku dua puluh tahun. Kami tinggal di sebuah desa yang sangat miskin. Ayahku meninggal saat aku masih kecil, dan ibuku membesarkan kami bertiga sendirian di tengah penderitaan yang tak kunjung usai. Tapi sepertinya kemiskinan tidak pernah membiarkan kami bernapas. Utang semakin menumpuk, dan ibuku hampir kehilangan seluruh kekuatannya.
Suatu hari, seorang wanita dari desa sebelah datang berkunjung. Ia memberi tahu ibuku bahwa ada seorang pria (perjaka tua) di kota tetangga yang sedang mencari seseorang untuk merawatnya. Jika aku setuju, pria itu akan memberikan uang sebesar 1 Miliar Rupiah—jumlah yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tapi bagi kami saat itu, itu adalah kekayaan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Aku tersentak. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak percaya ibuku sanggup melakukan itu padaku. Aku merasa seperti barang dagangan yang dijual—seperti didorong paksa ke dalam kehidupan gelap yang tidak pernah kupilih. Namun, saat aku melihat mata ibuku yang penuh keputusasaan, dan tangan tuanya yang gemetar saat mencoba menyembunyikan air matanya, keberanianku untuk protes hilang seketika. Aku hanya bisa mengangguk pelan, membawa luka dan kesedihan mendalam di hatiku.
Pernikahan pun digelar dengan cepat. Orang-orang bilang aku beruntung karena masa depanku terjamin. Tapi di dalam hatiku, hanya ada kegelapan. Pria itu jauh lebih tua dariku—beberapa dekade selisihnya. Rambutnya sudah memutih, dan garis-garis usia tercetak jelas di wajahnya. Aku pikir sejak saat itu, hidupku akan tenggelam dalam neraka—menjadi istri dari seorang pria asing yang tua, tanpa cinta, dan tanpa harapan.

Di malam pertama kami, aku melangkah masuk ke dalam kamar dengan tubuh yang gemetar hebat.
Namun, yang membuatku terkejut adalah…
Pria itu, Pak Darmawan, tidak sedang menungguku di atas ranjang dengan tatapan haus seperti yang aku takutkan. Ia justru duduk di kursi roda di sudut kamar yang remang-remang, menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan taman mati yang tertutup kabut.
“Duduklah, Sari. Jangan takut,” suaranya serak, lebih mirip bisikan daripada perintah.
Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku sendiri hingga memutih. Namun, mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang mengerikan di balik pintu kamar yang baru saja kututup. Di sana, tertempel belasan foto wanita muda yang wajahnya sangat mirip denganku—semuanya mengenakan gaun pengantin yang sama dengan yang kupakai saat ini. Di bawah setiap foto, ada tanggal yang ditulis dengan tinta merah darah.
“Siapa mereka, Pak?” tanyaku dengan suara yang nyaris hilang.
Pak Darmawan memutar kursi rodanya perlahan. Cahaya lampu mengenai wajahnya, dan aku tersentak. Di lehernya terdapat bekas jahitan besar yang melingkar, seolah-olah kepalanya pernah terpisah dari tubuhnya.
“Mereka bukan istriku,” katanya tenang, namun matanya memancarkan kegilaan. “Mereka adalah ‘wadah’. Istriku, Elena, meninggal dua puluh tahun lalu, tapi jiwanya menolak untuk pergi. Dia membutuhkan tubuh yang sehat, muda, dan memiliki garis keturunan yang sama denganmu untuk bisa kembali.”
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar turun drastis. Cermin besar di lemari mulai bergetar dan retak. Aku melihat bayangan seorang wanita di dalam cermin—wajahnya hancur, namun matanya menatapku dengan penuh rasa lapar.
“Uang 1 Miliar itu bukan mas kawin, Sari,” lanjut Pak Darmawan sambil menyerahkan sebuah belati kuno berukir aneh padaku. “Itu adalah biaya tebusan untuk nyawamu. Malam ini, tepat jam 12, Elena akan meminjam tubuhmu… selamanya.”
Aku tersadar mengapa ibuku begitu putus asa dan langsung menerima uang itu. Ibuku bukan menjualku untuk kekayaan, tapi ia menukarku karena dia tahu rahasia keluarga kami: bahwa nenek buyutku pernah membuat perjanjian gelap dengan keluarga Pak Darmawan, dan aku adalah cicilan terakhir yang harus dibayar.
Saat lonceng jam besar di ruang tamu berdentang satu kali, pintu kamar terkunci dengan sendirinya. Bayangan di cermin mulai merangkak keluar, tangannya yang pucat dan dingin mulai menyentuh pergelangan kakiku.
Aku bukan dibawa ke sini untuk menjadi seorang istri. Aku dibawa ke sini untuk menjadi penjara bagi roh yang tak pernah bisa beristirahat. Dan yang paling mengerikan adalah, di sudut ruangan itu, aku melihat sebuah peti mati kristal yang sudah terbuka, siap untuk menampung jiwaku yang akan segera diusir paksa dari ragaku sendiri.