Posted in

IBU MERTUAKU MENARUH RACUN DI MINUMANKU SAAT PERNIKAHAN — TAPI SAAT AKU MENUKAR GELASNYA DAN IA YANG MEMINUMNYA, IA TIDAK TAHU BAHWA “RACUN” ITU AKAN MEMBONGKAR RAHASIA TERGELAPNYA.

IBU MERTUAKU MENARUH RACUN DI MINUMANKU SAAT PERNIKAHAN — TAPI SAAT AKU MENUKAR GELASNYA DAN IA YANG MEMINUMNYA, IA TIDAK TAHU BAHWA “RACUN” ITU AKAN MEMBONGKAR RAHASIA TERGELAPNYA.
Bayangkan ini…
Hari pernikahanmu.
Sebuah grand ballroom yang penuh dengan lampu kristal, bunga-bunga putih yang menjuntai dari langit-langit, dan ratusan tamu yang tersenyum, menanti ucapan “Saya terima nikahnya.”

Kamu mengenakan gaun pengantin putih, merasa seperti seorang putri—tapi di balik senyummu, kamu tahu ada kekacauan yang sedang mengintai.

Namaku Lara.
Selama tiga tahun, aku selalu menghindari tatapan tajam calon ibu mertuaku, Nyonya Celestina.
Baginya, aku hanyalah seorang gold digger. Gadis kampung yang menyusup ke keluarganya hanya demi mengincar harta putranya, Anton.

Ia tidak tahu bahwa aku punya alasan yang jauh lebih dalam mengapa aku memilih hidup ini.

Saat resepsi, ketika semua orang sibuk makan dan berdansa, aku duduk di meja pelaminan. Aku mengamati dengan diam. Dari pantulan sendok perak di meja, aku melihatnya—Nyonya Celestina.

Perlahan ia mendekat di belakangku, mengira aku tidak menyadarinya. Ia mengeluarkan botol kecil (vial) dari dalam tas desainer mahalnya.

Satu tetes… dua tetes…
Cairan bening itu jatuh ke dalam gelas white wine-ku.
Ia menyeringai. Seolah ia sudah memenangkan permainan ini sebelum dimulai.
Setelah itu, ia pergi sejenak, memanggil para tamu untuk sesi toast (ulang janji).

Aku tidak bergerak.
Aku tidak takut.
Aku tahu apa itu.

Tadi pagi, aku sempat mencuri dengar percakapannya di telepon saat aku sedang bersiap di bridal suite.
“Satu tetes obat ini saja, Lara akan mengamuk di atas panggung. Dia akan terlihat seperti orang gila, pecandu, dan Anton akan terpaksa membatalkan pernikahan ini. Akhirnya, perempuan itu akan hilang dari hidup kita.”

Nyonya Celestina kembali.
Ia membawa mikrofon dan gelas wine-nya sendiri.

“Perhatian semuanya!” teriaknya lantang.
“Aku ingin bersulang untuk menantu baruku, Lara!”

Ia mendekatiku, tersenyum manis—tapi matanya penuh dengan racun.
“Ini, Sayang. Mari kita minum untuk keberhasilan pernikahan kalian.”

Aku berdiri. Aku mengambil gelas itu.
“Terima kasih, Mama Celestina,” kataku dengan senyum paling manis.

Tiba-tiba aku melangkah maju dan memeluknya dengan sangat erat.
“Aku sayang Mama,” bisikku di telinganya.

Di detik itu—saat kerudung pengantin dan tubuhku menutupi pandangan orang-orang di sekitar—aku melakukan gerakan yang paling krusial.
Aku menukar gelas kami.
Cepat. Tanpa suara. Tanpa ada yang menyadari.

Saat pelukan terlepas, aku sudah memegang gelas yang bersih.
Ia memegang gelas yang beracun.

“Cheers!” katanya riang, tidak sabar melihatku hancur dalam hitungan menit.

Kami minum bersamaan. Ia menghabiskan isi gelasnya tanpa ragu sedikit pun.
Beberapa saat kemudian…
Ia menunggu.
Ia menunggu aku pusing, jatuh, dan terlihat gila di depan semua orang.

Tapi aku?
Aku masih berdiri.
Tersenyum.
Tenang.

Tiba-tiba wajahnya berubah. Pucat pasi.
Ia memegangi tenggorokannya.
“Ahhh! Panas! Kenapa ruangan ini berputar?!”

Di sanalah semuanya mulai berubah.
Obat yang seharusnya untukku… justru ia sendiri yang meminumnya.

Dan tahukah kamu apa yang terjadi ketika semua rasa malu dan kontrol diri hilang dari orang seperti Nyonya Celestina?

Jika kamu ingin tahu apa hal pertama yang ia teriakkan di mikrofon di hadapan semua tamu…
Mengapa tiba-tiba Anton terpaku dan wajahnya kehilangan warna…

Tunggu bagian selanjutnya.
Jangan beranjak.
Rahasia tergelap yang ia sembunyikan selama tiga puluh tahun akan segera terbongkar.

Nyonya Celestina mulai tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa melengking yang tidak pada tempatnya di tengah pesta semewah ini. Ia merebut mikrofon dari tangan pembawa acara, matanya liar, dan keringat dingin bercucuran di dahinya. Obat itu bukan racun mematikan, melainkan truth serum dosis tinggi yang dicampur dengan stimulan saraf yang menghancurkan semua filter kesopanannya.

“Kalian pikir ini pesta pernikahan?” teriaknya ke arah ratusan tamu yang kini terdiam membeku. “Ini adalah pesta kebodohan! Anton, kau sama bodohnya dengan ayahmu!”

Anton mencoba mendekat, wajahnya merah padam karena malu. “Mama, hentikan! Kamu mabuk!”

“Aku tidak mabuk!” bentak Celestina, mendorong putranya hingga terhuyung. “Aku hanya muak menyimpan rahasia ini! Kau tahu kenapa aku begitu membenci Lara? Bukan karena dia miskin, tapi karena dia mengingatkanku pada wanita yang aku tabrak lari tiga puluh tahun lalu di desa asalnya! Wanita yang kutumpuk di bawah semak-semak agar aku tidak masuk penjara dan bisa menikah dengan ayahmu yang kaya raya!”

Suasana ballroom mendadak menjadi sesunyi kuburan. Detak jantungku seolah berhenti. Aku tahu rahasia ini, itulah alasan aku mendekati keluarganya—tapi aku tidak menyangka dia akan mengakuinya secepat ini di depan semua orang.

Namun, pengakuannya tidak berhenti di situ.

“Dan kau, Anton…” Celestina menunjuk wajah putranya sambil menyeringai mengerikan. “Kau bahkan bukan anak kandung keluarga Wijaya! Kau adalah anak dari pria yang kupakai untuk membunuh suamiku sendiri demi warisan ini! Suamiku tidak meninggal karena serangan jantung, aku yang menyuntikkan sesuatu ke lengannya saat dia tidur!”

Anton jatuh terduduk di lantai panggung. Para tamu mulai berteriak, beberapa di antaranya sibuk merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Pihak keamanan keluarga mencoba menarik Celestina, tapi dia justru semakin histeris, membongkar setiap pencucian uang dan suap yang dilakukan perusahaan keluarganya untuk menutupi kejahatan-kejahatan masa lalu.

Aku melangkah maju, mendekati telinga Nyonya Celestina yang mulai lemas karena efek obat itu mulai mencapai puncaknya.

“Terima kasih, Mama,” bisikku sangat pelan sehingga hanya dia yang bisa mendengarnya. “Wanita yang Mama tabrak tiga puluh tahun lalu… itu adalah ibuku. Dan hari ini, aku bukan hanya mengambil putramu, tapi aku telah mengambil seluruh duniamu.”

Di ujung ballroom, beberapa pria berseragam polisi yang sejak tadi menyamar sebagai tamu undangan mulai bergerak maju. Aku sudah menyiapkan segalanya. Gelas yang ia minum kini menjadi bukti fisik, dan rekaman pengakuannya di mikrofon akan menjadi paku terakhir di peti matinya.

Malam itu, pernikahan impian yang direncanakan Nyonya Celestina berakhir menjadi tempat eksekusi bagi rahasia tergelapnya. Aku melepas kerudung pengantinku, menatap Anton yang hancur, dan berjalan keluar dari ballroom. Aku tidak mendapatkan pernikahan, tapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: keadilan yang telah terkubur selama tiga puluh tahun.