Posted in

Di Acara Reuni Keluarga, Keponakanku Mempermalukanku: “Kata Mama, Tante Tidak Pernah Membantu Keluarga.” Aku Tersenyum dan Menjawab, “Bagus. Berarti Dia Tidak Akan Kehilangan Rp83 Juta yang Selama Ini Kubayarkan Setiap Bulan untuk Rumahnya.”

Di Acara Reuni Keluarga, Keponakanku Mempermalukanku: “Kata Mama, Tante Tidak Pernah Membantu Keluarga.” Aku Tersenyum dan Menjawab, “Bagus. Berarti Dia Tidak Akan Kehilangan Rp83 Juta yang Selama Ini Kubayarkan Setiap Bulan untuk Rumahnya.”

“Kata Mama, Tante sebenarnya tidak pernah membantu keluarga kita.”

Itulah kalimat yang diucapkan keponakanku yang berusia enam belas tahun di depan seluruh keluarga besar.

Beberapa orang bertepuk tangan kecil.

Ada yang tertawa pelan.

Dan kakakku, Regina, hanya duduk tenang sambil menyeruput es teh seolah tidak mendengar apa pun.

Aku tersenyum.

“Bagus kalau begitu,” kataku tenang.

“Artinya, dia tidak akan merindukan Rp83 juta yang setiap bulan kubayarkan untuk cicilan rumah mereka.”

Wajah Regina langsung pucat.

Semuanya bermula saat reuni keluarga tahunan di sebuah resor pribadi di tepi danau.

Setiap tahun keluarga kami menyewa tempat itu untuk merayakan ulang tahun Mama Lourdes.

Rumput hijau membentang luas.

Permukaan danau berkilau diterpa matahari.

Dan sebuah meja kayu panjang berdiri di bawah rindangnya pepohonan.

Aku datang bersama suamiku, Paolo, dan kedua putra kami, Enzo dan Gab.

Seperti biasa, kami tidak suka pamer.

Aku membawa pork belly panggang, dua loyang pasta panggang, dan sekotak besar aneka pencuci mulut dari toko roti favorit Mama.

Begitu kue stroberi, tart cokelat, lemon bar, dan kue kering berbentuk bunga kutaruh di meja, semua orang langsung mengambilnya.

Suasana sangat hangat.

Anak-anak berlarian di halaman.

Orang-orang dewasa bercanda tentang masa muda Papa.

Mama sedang menceritakan kisah lucu tentang Papa yang pernah memancing di selokan saat muda.

Lalu tiba-tiba putri Regina, Mika, berbicara.

Dia tidak berdiri.

Tidak tersenyum.

Dia hanya menatapku dan berkata cukup keras agar semua orang mendengarnya.

“Tante Isabel, kata Mama, Tante gampang sekali bicara soal keluarga, tapi sebenarnya Tante tidak pernah memberi apa pun untuk keluarga kita.”

Suasana langsung membeku.

Tawa berhenti.

Mama terdiam.

Tante Tess menghentikan kunyahannya.

Sepupuku Noel perlahan meletakkan gelasnya.

Kedua anakku menatapku.

Enzo mengerutkan kening.

Gab membuka mulut sedikit, seolah menunggu aku berkata bahwa itu hanya lelucon.

Aku tidak langsung menjawab.

Di ujung meja, Regina masih meminum es tehnya.

Dia kakakku.

Dua tahun lebih tua dariku.

Sejak kecil, dia selalu pandai menciptakan versi cerita di mana dirinya adalah korban dan orang lain selalu bersalah.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah ucapan Mika.

Yang paling menyakitkan adalah diamnya Regina.

Dia membiarkan anaknya sendiri mempermalukanku di depan seluruh keluarga.

Mika menatap sekeliling dengan bangga.

Dia mengira dirinya berani.

Dia mengira sedang membela ibunya yang selama ini ditelantarkan oleh bibinya yang “pelit”.

Beberapa orang bahkan ikut bertepuk tangan kecil karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Aku menarik napas panjang.

Lalu tersenyum.

“Bagus kalau begitu,” kataku tenang.

“Kalau aku memang tidak pernah membantu, berarti ibumu tidak akan kehilangan Rp83 juta yang setiap bulan kubayarkan untuk cicilan rumah mereka di kawasan Nuvali.”

Sebuah sendok jatuh ke meja.

Tante Tess memegang dadanya.

Mama menoleh ke arah Regina seolah tidak mengenali putrinya sendiri.

Regina perlahan meletakkan gelasnya.

Warna wajahnya menghilang.

“Apa?” tanya Mika pelan.

“Tante… maksudnya apa?”

Paolo berdiri di sampingku.

Dia bukan orang yang banyak bicara.

Tetapi kali ini ia menatap Regina tanpa berkedip.

“Mungkin sudah waktunya mereka mendengar seluruh cerita,” katanya.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Selama sepuluh tahun kami memilih diam.

Bukan karena takut.

Tetapi karena kami tidak ingin mempermalukan Regina.

Aku menatap kakakku.

“Mau kamu yang menjelaskan?” tanyaku.

Jarinya gemetar saat menggenggam gelas.

“Isabel,” bisiknya.

“Jangan di sini.”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Aku menunjuk ke arah jalan masuk tempat SUV putih mengilap milik Regina terparkir.

“Mobil yang dia gunakan setiap hari?” kataku.

“Aku yang membelinya. Bahkan asuransinya masih atas namaku karena pengajuan kreditnya ditolak.”

Semua orang menoleh ke arah SUV itu.

“Tagihan listrik yang hampir diputus tahun lalu?” lanjutku.

“Aku yang membayarnya. Dua kali.”

Mika menunduk.

“Guru les Mika saat nilainya jatuh dalam pelajaran matematika dan sains?” kataku lagi.

“Aku juga yang membayarnya.”

Wajah keponakanku memerah.

“Bahkan hadiah Natal dari Santa setiap tahun,” lanjutku.

“Aku dan Paolo yang membelinya agar Mika tidak merasa berbeda dari teman-temannya.”

Keheningan menyelimuti seluruh tempat.

Yang terdengar hanya suara ombak kecil di tepi danau.

Aku memandang Regina.

“Jadi ini yang kamu ceritakan tentang aku selama ini?”

Setelah semua yang kulakukan?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tetapi aku mengenal kakakku.

Tidak semua air mata berarti penyesalan.

Kadang air mata adalah senjata.

“Kalian tidak mengerti,” katanya dengan suara bergetar.

“Aku punya alasan.”

Sebelum ia melanjutkan, Paolo mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

“Kamu memang punya alasan,” katanya.

“Dan alasan itu ada di dalam amplop ini. Inilah sebabnya kami tidak akan diam lagi.”

Regina langsung berdiri.

“Paolo, jangan buka itu!”

Tetapi suamiku sudah membuka amplop tersebut.

Ia mengeluarkan dokumen pertama dan menyerahkannya kepada Mama.

Begitu membacanya, wajah Mama langsung pucat.

Tangannya mencengkeram meja.

Lalu ia menatap Regina dengan mata penuh ketidakpercayaan.

“Anakku…” bisiknya.

“Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada adikmu sendiri?”

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian (ending) dari cerita tersebut:

Suasana di dalam ruangan akuntansi mendadak senyap, seolah-olah seluruh oksigen telah tersedot keluar. Bunyi dentang tumbler Ramon yang menggelinding di lantai terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mencekam.

Wajah Bianca yang tadinya penuh senyum sinis seketika berubah pucat pasi, persis seperti kertas semen. Tangannya yang memegang voucher belanja milikku mulai gemetar hebat. Di sampingnya, Ramon menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak panik antara aku dan jajaran direksi yang berdiri tegap di belakangku.

“Ex… Executive Director?” bisik Bianca dengan suara yang hampir habis.

Aku merapikan blazerku tenang, lalu menatap General Manager. “Terima kasih, Pak Hendra. Tolong minta tim legal untuk mengamankan seluruh bukti rekaman CCTV di ruangan ini, termasuk tangkapan layar dari grup carpool dan grup utama perusahaan kemarin.”

“Baik, Bu Reyes. Semuanya sudah diproses oleh tim hukum,” jawab Pak Hendra tegas tanpa ragu.

Aku kembali menoleh ke arah Ramon dan Bianca.

“Pak Ramon, sepertinya Anda lupa esensi dari divisi HR. Tugas Anda adalah menegakkan keadilan dan kenyamanan karyawan, bukan menjadi pelindung bagi tindakan egois dan manipulatif,” kataku datar. “Mengizinkan seseorang mengambil hak karyawan lain dengan alasan ‘toleransi’ adalah pelanggaran kode etik berat. Surat penonaktifan Anda akan dikirimkan ke meja Anda sore ini juga, sembari tim audit memeriksa apakah ada penyalahgunaan wewenang lain yang pernah Anda lakukan selama ini.”

“Bu Alyssa, tolong… saya tidak bermaksud—” Ramon mencoba memohon, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Penjelasan Anda bisa disampaikan saat sidang komite etik besok,” potongku tanpa emosi.

Pandanganku kemudian beralih kepada Bianca, yang kini tampak seolah ingin ambruk ke lantai. Teman-teman di sekelilingnya yang tadi ikut menertawakanku langsung bergeser menjauh, seolah takut tertular sial.

“Dan untuk Anda, Bianca Manalo,” aku melangkah satu kaki lebih dekat ke mejanya. “Sejak awal, saya tidak pernah mempermasalahkan status Anda sebagai ibu bekerja. Yang saya permasalahkan adalah mentalitas Anda yang merasa dunia berutang pada Anda hanya karena Anda memiliki anak. Anda menyalahgunakan simpati orang lain untuk memeras rekan kerja.”

“Bu Alyssa… saya minta maaf,” isak Bianca, air mata yang kali ini benar-benar murni karena rasa takut mulai mengalir. “Anak-anak saya… saya hanya ingin mereka nyaman…”

“Anak-anak Anda berhak mendapatkan kenyamanan, tetapi bukan dari hasil merampok hak orang lain,” jawabku dingin. “Paket Natal dan voucher itu adalah hak saya sebagai pekerja di perusahaan ini. Anda mengambilnya tanpa izin. Di luar hukum perusahaan, itu sudah masuk ranah tindak pidana pencurian.”

Aku mengambil kembali voucher belanja yang bergetar di tangannya, lalu menunjuk kotak cokelat yang sudah terbuka di meja.

“Karena makanannya sudah Anda sentuh, saya tidak sudi mengambilnya kembali. Sesuai hitungan tadi, Anda berutang Rp1.550.000 kepada saya. Saya beri waktu sampai jam 5 sore ini untuk mentransfernya ke rekening saya. Jika tidak, tim legal perusahaan yang akan mengurus pelaporan pasal pencurian ke kepolisian.”

Bianca hanya bisa mengangguk pasrah sambil terus menangis sesenggukan. Tidak ada lagi drama duduk di lantai atau siaran langsung gratis seperti kemarin.

Aku berbalik, menatap jajaran direksi dan Pak Hendra yang menungguku. “Mari kita ke ruang rapat. Saya tidak ingin drama kekanak-kanakan ini menunda laporan penting kita.”

Sembari berjalan menuju ruang rapat di lantai paling atas, aku mengecek ponselku. Grup utama perusahaan kembali meledak—bukan karena keluhan Bianca, melainkan karena pengumuman resmi dari sekretariat perusahaan mengenai pengangkatanku sebagai Executive Director baru, sekaligus pemilik saham mayoritas yang baru saja mengambil alih kendali perusahaan bulan lalu.

Kolom komentar dipenuhi dengan emoji terkejut dan ucapan selamat. Beberapa pendukung Bianca yang kemarin ikut merundungku di grup berbondong-bondong menghapus pesan mereka, namun sayang bagi mereka, aku sudah menyimpan semua tangkapan layarnya.

Ketika aku melirik ke luar jendela kaca besar dan melihat Porsche Panamera-ku terparkir dengan anggun di area eksekutif, aku tersenyum kecil. Libur Natal kali ini akan terasa sangat tenang. Tanpa kasur di kabin belakang, tanpa biskuit impor, dan yang pasti—tanpa penumpang parasit di dalam perjalananku.