Di Pemakaman Ibuku, Istri Simpanan Kekasihku Mengganti Krisan Putih dengan 999 Mawar Merah—Dia Mengira Dirinyalah Pemenangnya, Sampai Aku Membongkar Utang Nyawa yang Kami Rahasiakan Selama Tujuh Tahun
Tepat di hari pemakaman ibuku, bunga krisan putih sederhana yang kupesan diganti dengan 999 mawar merah.
Di depan peti jenazahnya, warna merah itu menyala seperti sebuah penghinaan.
Dan wanita yang melakukannya?
Ternyata adalah istri dari pria yang kucintai selama tujuh tahun.
Aku berdiri di tengah kapel pemakaman di Jakarta, menggenggam struk toko bunga, sementara para kerabat berbisik-bisik kebingungan mengapa ada bunga yang lebih cocok untuk lamaran pernikahan daripada upacara duka.
Aku memesan krisan putih.
Sederhana.
Bersih.
Tenang.
Karena itulah yang disukai Ibu.
Namun ketika bunga tiba, yang muncul justru 999 mawar merah—besar, mahal, dan begitu mencolok hingga hampir menelan seluruh altar.
Rasanya seperti ada seseorang yang sedang menertawakan kesedihanku.
Tanganku gemetar saat menelepon toko bunga.
“Maaf, ada kesalahan pengiriman. Ini untuk pemakaman ibu saya, bukan pesta pertunangan.”
Di seberang telepon, seorang wanita tertawa pelan.
“Bu, itu cuma salah kirim. Lagi pula yang Ibu terima malah lebih mahal daripada pesanan Ibu. Seharusnya berterima kasih.”
Aku memejamkan mata.
“Ini pemakaman ibu saya.”
“Oh, ya maaf deh,” jawabnya tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Jangan jadikan alasan untuk minta ganti rugi. Saya sudah tahu trik seperti itu.”
Saat itulah kesabaranku habis.
Setelah pemakaman selesai, aku langsung pergi ke kantor polisi.
Pemilik toko bunga itu bernama Mikaela Soriano.
Masih muda.
Cantik.
Berpenampilan rapi.
Tapi cara dia memandangku seolah akulah yang mengganggu hidupnya.
“Hebat sekali ya,” teriaknya di kantor polisi. “Pesanan Anda cuma bunga murah, tapi gayanya seperti putri kerajaan. Tahu tidak berapa harga 999 mawar? Lebih mahal daripada seluruh biaya pemakaman kalian!”
Polisi yang berjaga mengernyit.
Sedangkan aku tetap diam.
Aku tidak suka berteriak.
Aku berbicara di ruang sidang, bukan di jalanan.
Ya.
Aku seorang pengacara.
Dan pada hari itu, meski baru saja menguburkan ibuku, aku tahu aku harus menjaga martabat terakhir yang dimilikinya.
Namun sebelum sempat berbicara, Mikaela mendengus sinis lalu mengeluarkan ponselnya.
“Tunggu saja suamiku datang. Setelah itu kamu akan tahu siapa yang sedang kamu lawan.”
Suami.
Aku menatapnya.
Ada sesuatu yang dingin merambat di dadaku, tetapi aku mengabaikannya.
Sampai pintu kantor polisi terbuka.
Seorang pria masuk mengenakan setelan abu-abu gelap. Bahunya sedikit basah karena gerimis di luar. Dia memegang sebuah kartu hitam dan langsung menyerahkannya kepadaku.
“Ambil ini,” katanya dingin. “Jangan ganggu istriku lagi.”
Seolah ada petir yang menyambar tepat di dalam dadaku.
Perlahan aku mengangkat kepala.
Dan melihatnya.
Rafael Monteverde.
Pria yang tumbuh bersamaku sejak kecil.
Pria yang berjanji tidak akan meninggalkanku setiap kali hujan turun.
Pria yang kucintai selama tujuh tahun.
Pria yang tadi malam mengirim pesan:
“Maaf, Lia. Ada rapat darurat di institut. Aku tidak bisa datang ke pemakaman Tante.”
Sekarang dia berdiri di hadapanku.
Bukan sebagai kekasihku.
Melainkan sebagai suami wanita yang telah menghina pemakaman ibuku.
Wajahnya langsung pucat.
“Lia…” suaranya hampir tak terdengar. “Kenapa kamu…”
Mikaela meraih lengannya.
“Raf, kamu kenal dia?”
Aku menatap tangan yang menggantung di lengan pria yang pernah berjanji hanya akan pulang kepadaku.
Aku tersenyum.
Namun rasanya seperti ada pecahan kaca di tenggorokanku.
“Kenal?” kataku. “Tentu saja.”
Rafael segera menyela.
“Kami teman masa kecil,” katanya tanpa berani menatapku langsung. “Dulu tetangga. Sudah lama tidak bertemu.”
Mantan tetangga.
Kami saling mencintai selama tujuh tahun.
Tujuh tahun aku percaya kepadanya.
Dan hanya dalam satu detik, dia mengubahku menjadi sekadar kenangan dari gang sempit masa lalu.
Mikaela tersenyum lega.
“Oh, begitu ya. Kalau kamu kenal Raf, aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi lain kali jangan pura-pura jadi korban demi mendapatkan uang. Kalau sedang kesulitan, bilang saja.”
Dia mengambil ponselku, memasukkan nomor kontaknya sendiri, lalu pergi sambil menggandeng tangan Rafael.
Sebelum keluar, Rafael sempat menoleh.
Seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak ada satu kata pun yang keluar.
Saat meninggalkan kantor polisi, aku duduk di pinggir jalan.
Ponselku mati.
Aku tidak membawa payung.
Dan aku bahkan tidak punya tenaga lagi untuk menangis.
Dalam hitungan jam, aku kehilangan dua orang yang paling kucintai.
Ibuku.
Dan Rafael yang selama ini kucintai.
Malam itu hujan turun deras.
Dan seperti dulu, Rafael datang mencariku.
Dia membawa payung.
Terengah-engah.
Basah kuyup.
Seperti pria yang takut kehilangan aku selamanya.
“Lia,” katanya sambil memegang bahuku. “Kenapa kamu tidak pulang? Aku sudah meneleponmu sejak tadi.”
Aku menatapnya.
“Sejak kapan?”
Dia tidak menjawab.
“Hari ini pemakaman ibuku,” kataku pelan. “Kamu tidak datang karena katanya ada pekerjaan. Tapi saat dia meneleponmu, kamu langsung muncul.”
Dia memejamkan mata.
“Bukan begitu. Mikaela itu kasihan. Dia dipaksa keluarganya menjalani pernikahan yang tidak diinginkannya. Aku hanya membantunya. Itu cuma pernikahan di atas kertas, Lia. Tidak berarti apa-apa.”
“Di atas kertas?” Aku tertawa meski air mataku jatuh. “Dia istrimu di atas kertas. Kalau aku ini apa? Mantan tetangga?”
Dia menggenggam tanganku.
“Aku mencintaimu. Itu tidak berubah.”
Ponselnya berdering.
Satu panggilan masuk.
Begitu melihat nama di layar, dia langsung menjawab.
“Aku segera ke sana. Jangan takut.”
Tangannya terlepas dariku.
Dia menatapku dengan ragu.
“Lia, listrik di apartemennya mati. Dia mengalami serangan panik kalau gelap. Aku harus ke sana sebentar.”
Di tengah hujan, dia meninggalkanku lagi.
Malam itu aku mengisi daya ponselku.
Dua pesan dari Mikaela muncul.
Yang pertama, foto Rafael sedang memperbaiki panel listrik di apartemennya.
Yang kedua, sebuah pesan.
“Aku sudah tahu siapa Lia sebenarnya. Aku sengaja mengganti bunga di pemakaman ibumu. Aku ingin melihat apakah dia masih akan memilihmu. Ternyata tidak, kan?”
Aku tidak membalas.
Aku membuka profil media sosialnya.
Di sana ada foto-foto Rafael.
Rafael sedang memasak untuknya.
Rafael berlutut sambil membawa bunga.
Rafael tersenyum di pernikahan sipil mereka.
Caption-nya berbunyi:
“Aku tidak perlu lagi bergantung pada kakakku. Aku sudah menemukan pria yang akan melindungiku.”
“Resmi menikah.”
“Terima kasih kepada pria yang menyelamatkanku.”
Menyelamatkannya.
Dulu, akulah yang diselamatkan Rafael.
Pada malam ketika ayahku yang mabuk mengancam kami dengan pisau, Rafael menerobos masuk ke rumah. Dia yang terluka. Aku yang memanggil ambulans.
Sejak saat itu kami menyebutnya sebagai utang nyawa.
Aku pikir karena itu dia tidak akan pernah meninggalkanku.
Ternyata aku salah.
Keesokan harinya aku menelepon rekanku.
“Pak, saya menerima mutasi ke cabang Surabaya.”
“Anda yakin?”
“Ya.”
Aku menarik napas panjang.
“Dan tolong siapkan juga berkas pembatalan pernikahan.”
Pagi berikutnya, aku memasukkan semua barang milikku ke dalam koper.
Surat cinta.
Mug pasangan.
Cincin.
Foto-foto kami saat berlibur.
Semuanya masuk ke dalam satu kotak.
Saat aku hendak meninggalkan apartemen, pintu lift terbuka.
Rafael keluar dengan wajah lelah seperti tidak tidur semalaman.
“Lia,” katanya terengah-engah. “Maaf. Situasinya rumit tadi malam. Begitu bangun aku langsung datang.”
Aku menatapnya.
“Langsung datang? Setelah memasakkan sarapan untuknya?”
Dia membeku.
“Kenapa kamu selalu berpikir buruk? Aku hanya membantu.”
Aku tersenyum.
“Kamu sudah terlalu lama berpura-pura menjadi pria baik, Rafael. Sampai-sampai mungkin kamu sendiri mulai mempercayainya.”
Dia mencoba memegang koperku.
“Mau ke mana kamu?”
“Jauh.”
“Aku tidak mengizinkanmu.”
Aku mengambil amplop cokelat dari tas dan menyerahkannya.
Begitu melihat halaman pertama, wajahnya langsung pucat.
“Lia… ini apa?”
Aku menatapnya lurus.
“Permohonan pembatalan pernikahan. Dan bukan cuma itu.”
Aku merendahkan suara.
“Di dalamnya juga ada bukti bagaimana kamu menggunakan namaku untuk mendapatkan dana riset yang sebenarnya menjadi hakku.”
Dia mundur selangkah.
Dan sebelum sempat menjawab, pintu lift di belakangnya terbuka.

Mikaela berdiri di sana.
Memegang ponselnya dalam mode speaker.
Dari seberang terdengar suara direktur institut tempat Rafael bekerja.
“Pengacara Dela Cruz, ulangi sekali lagi. Bukti apa yang Anda miliki terhadap Dr. Monteverde?”
Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan di koridor apartemen ini menjadi panggung bagi hancurnya topeng pria yang kusebut kekasih selama tujuh tahun.
Mikaela menatapku dengan senyum kemenangan yang belum pudar di wajah cantiknya. Dia mengira, dengan membawa direktur institut melalui panggilan speaker ini, dia sedang membantunya menjatuhkanku. Dia mengira posisinya sebagai istri sah di atas kertas menjadikannya pemenang mutlak.
“Silakan bicara, Pengacara Dela Cruz,” suara Direktur Institut terdengar tegas dari ponsel Mikaela. “Jika Anda memiliki bukti kecurangan akademis atau penyalahgunaan dana riset oleh Dr. Monteverde, institusi kami tidak akan tinggal diam.”
Rafael menatapku dengan mata membelalak, napasnya memburu. “Lia… tolong, jangan…”
Aku tidak melihat ke arah Rafael. Pandanganku tertuju lurus pada Mikaela, lalu ke arah ponsel di tangannya.
“Selamat pagi, Direktur,” kataku dengan suara tenang dan artikulasi hukum yang sempurna. “Tujuh tahun lalu, Dr. Monteverde mengajukan proposal riset biomolekuler senilai 12 miliar rupiah. Riset itu lolos karena menyertakan jurnal dasar yang dipatenkan atas nama saya, Amelia Dela Cruz, sebagai pemilik hak kekayaan intelektual utama.”
Mikaela mendengus, memotong pembicaraanku. “Lalu kenapa? Memangnya salah kalau seorang ilmuwan menggunakan jurnal lama? Jangan mencari-cari kesalahan suamiku hanya karena kamu patah hati!”
“Masalahnya, Nyonya Monteverde,” kataku, sengaja menekankan nama belakang yang dia banggakan, “jurnal itu tidak pernah dihibahkan. Dr. Monteverde memalsukan tanda tangan saya pada dokumen persetujuan pengalihan hak, lalu mencairkan dana riset tersebut ke rekening pribadi yang dia samarkan sebagai rekening operasional laboratorium.”
Mendengar hal itu, suara di seberang telepon mendadak berubah tegang. “Apakah Anda memiliki bukti fisiknya, Pengacara Amelia?”
“Semuanya, Direktur. Mulai dari hasil uji forensik digital atas tanda tangan palsu tersebut, aliran dana bank selama tujuh tahun terakhir, hingga surat pembatalan hak yang baru saja saya ajukan ke kementerian hukum. Hari ini, seluruh dana riset tersebut dibekukan, dan status Dr. Monteverde di institut Anda adalah pelaku tindak pidana pencucian uang.”
Pip. Panggilan di ponsel Mikaela langsung diputus secara sepihak oleh sang Direktur.
Runtuhnya Sebuah Topeng
Keheningan yang mencekam mencekik koridor. Senyum di wajah Mikaela perlahan luntur, digantikan oleh ekspresi pucat pasi. Dia menatap Rafael, berharap suaminya akan membantah semua kata-kataku.
“Raf… dia bohong, kan? Katakan padaku kalau dia cuma menggertak!” suara Mikaela mulai melengking panik.
Namun Rafael tidak menjawab. Tubuhnya merosot, bersandar pada dinding lift yang dingin. Dia tahu persis siapa aku. Aku bukan lagi gadis kecil dari gang sempit yang butuh diselamatkan. Aku adalah pengacara korporat yang menghabiskan malam-malamku dengan memeriksa dokumen hukum terkecil sekalipun.
“Kenapa, Rafael?” tanyaku pelan, menatapnya tanpa amarah, hanya ada rasa jijik yang tersisa. “Kamu bilang kamu berutang nyawa padaku karena aku menyelamatkanmu dari ayahku malam itu. Tapi ternyata, kamu membayar utang itu dengan mencuri masa depanku.”
“Lia… aku terpaksa,” Rafael berlutut di depanku, mengabaikan Mikaela yang menatapnya dengan histeris. “Uang itu… uang itu kugunakan untuk membiayai pengobatan ibumu di awal-awal dia sakit! Aku tidak punya pilihan lain!”
“Jangan sebut ibuku dengan mulutmu yang penuh kebohongan,” desisku, selangkah maju hingga bayanganku menutupi tubuhnya yang berlutut. “Biaya pengobatan ibuku murni dari hasil kerja kerasku dan asuransi. Uang curian itu kamu gunakan untuk membeli apartemen mewah tempat kamu menyembunyikan Mikaela, bukan?”
Mikaela tersentak. “Apa maksudmu menyembunyikan? Kami menikah secara resmi! Keluargaku yang menjodohkan kami!”
Aku menoleh pada Mikaela, melemparkan satu bundel dokumen lagi dari dalam tas kerjaku tepat ke dadanya. Dokumen itu jatuh berserakan di lantai.
“Pernikahanmu dengannya tidak pernah sah, Mikaela. Sebelum dia menandatangani akta pernikahan sipil bersamamu tiga bulan lalu, Rafael sudah menandatangani perjanjian kemitraan sipil dan komitmen pernikahan denganku di bawah hukum adat keluarga besar kami tujuh tahun lalu, yang tercatat secara hukum sebagai ikatan fidusia yang tidak bisa diganggu gugat. Di mata hukum, dia melakukan bigami dan penipuan status sipil.”
Mikaela mundur selangkah, matanya menatap lembaran-lembaran kertas di lantai yang berisi foto pernikahan adatku dan Rafael bertahun-tahun lalu, lengkap dengan stempel hukum yang sah.
“Kamu…” Mikaela menunjukku dengan jari yang gemetar. “Kamu sengaja menjebak kami?”
“Bukan aku yang menjebak kalian. Keserakahan kalian sendiri yang melakukannya,” kataku dingin. “Kamu mengganti krisan putih ibuku dengan 999 mawar merah untuk pamer bahwa kamu adalah pemenangnya. Sekarang, biarkan mawar-mawar itu menjadi saksi bagaimana suamimu diseret ke meja hijau.”
Pemenang yang Sebenarnya
Dua orang petugas kepolisian yang sudah kuhubungi sebelumnya keluar dari lift barang di ujung koridor. Mereka berjalan tegap mendekati kami, membawa surat perintah penangkapan atas nama Rafael Monteverde.
“Dr. Monteverde, Anda ditahan atas dugaan pemalsuan dokumen, penipuan akademis, dan penggelapan dana publik,” kata petugas polisi sambil memasangkan borgol di pergelangan tangan Rafael.
“Lia! Maafkan aku! Lia!” teriak Rafael saat tubuhnya diseret masuk ke dalam lift. Air matanya mengalir, namun tidak ada lagi rasa iba di hatiku. Rasa iba itu sudah mati bersama krisan putih yang dihancurkan istrinya di kapel pemakaman.
Mikaela terduduk di lantai koridor, menangis histeris di antara dokumen-dokumen yang berserakan. Pria yang dia banggakan di media sosial sebagai “penyelamatnya” ternyata hanyalah seorang pencuri yang kini kehilangan segalanya.
Aku mengambil koperku, membetulkan posisi tas di bahuku, lalu melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka. Sebelum pintunya tertutup, aku menatap Mikaela untuk terakhir kalinya.
“Mawar merah itu mahal, Mikaela,” kataku dengan senyum tipis yang dingin. “Tapi harga yang harus dibayar suamimu hari ini jauh lebih mahal.”
Pintu lift tertutup. Aku turun menuju lobi, meninggalkan masa lalu yang busuk di belakangku. Aku pergi ke Surabaya bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memulai lembaran baru sebagai Amelia Dela Cruz yang utuh—wanita yang tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya.