Di Restoran Berputar Mewah di Puncak BGC, Wanita Simpanan Suamiku Menendang Ayahku yang Terjatuh di Lantai. Dia Tidak Tahu Siapa Pria yang Baru Saja Dihinanya di Depan Semua Orang**
Wanita itu menendang seorang pria tua yang terjatuh di lantai sementara seluruh restoran menyaksikannya.
“Kakek, kalau tidak mampu mengganti rugi gaunku, berlututlah dan bersihkan noda itu dengan mulutmu!”
Yang lebih menyakitkan?
Pria di sampingnya, yang tersenyum seolah bangga dengan kejadian itu, adalah suamiku sendiri.
Dan hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan kami.
Aku berada di rumah saat semuanya terjadi. Dua piring makan sudah tersaji di meja, lilin sudah menyala, dan sebotol anggur merah yang kubeli minggu lalu sudah terbuka. Sudah tiga tahun aku menikah dengan Adrian Villareal, CEO Villareal Holdings, tetapi entah mengapa aku selalu merasa seperti tamu dalam kehidupanku sendiri.
Pukul enam sore, sebuah pesan masuk.
*”Ada makan malam darurat dengan klien. Tidak usah menungguku.”*
Aku menatap layar ponsel.
Tidak ada kata “maaf.”
Tidak ada ucapan “selamat hari jadi.”
Tidak ada tanda bahwa dia bahkan mengingat hari apa ini.
Tapi aku tahu siapa “klien” yang dimaksud.
Bianca Salcedo.
Wakil presiden muda yang baru diangkat di perusahaannya. Cantik, elegan, aktif di media sosial, dan selalu tampil seolah setiap hari adalah karpet merah baginya. Bulan lalu aku menemukan bekas lipstik di kerah kemeja Adrian. Katanya itu hanya kecelakaan saat acara bisnis.
Aku tidak membantah.
Aku sudah lelah mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang bisa berbohong tanpa berkedip.
Aku hendak membereskan makanan ketika ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Begitu kuangkat, aku langsung mendengar keributan. Teriakan. Piring pecah. Seorang wanita memaki.
Lalu suara seorang pria yang terdengar panik.
“Maaf, apakah Anda Nyonya Lira Villareal? Tolong segera datang ke SkyLume Revolving Restaurant di Aurora Crown Tower. Ayah Anda… beliau disakiti.”
Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke dadaku.
“Ayahku? Pak Renato?”
“Iya, Bu. Beliau terjatuh di lantai. Bibirnya berdarah. Dan seorang wanita tidak mengizinkan siapa pun membantunya berdiri.”
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku keluar dari apartemen. Sepatuku tidak terpasang dengan benar. Aku tidak membawa tas, hanya ponsel dan dompet. Di dalam taksi, aku terus menelepon Adrian.
Tidak ada jawaban.
SkyLume Revolving Restaurant.
Lantai empat puluh delapan.
Salah satu restoran paling mahal di BGC.
Kenapa Ayah ada di sana?
Ayah Renato adalah pria sederhana. Mantan sopir. Pendiam. Selalu memakai jaket abu-abunya meski sudah tua dan lusuh. Setiap kali kubelikan pakaian baru, dia selalu berkata,
“Nak, yang ini masih bagus. Sayang uangnya.”
Dia tidak mungkin datang ke tempat seperti itu tanpa alasan.
Saat pintu lift terbuka, napasku langsung terhenti.
Ayah terbaring di tengah lantai marmer.
Tubuhnya miring ke samping sambil memegangi tangan kanannya.
Jaket tuanya basah oleh kuah makanan.
Ada luka di bibirnya.
Kacamatanya terlempar jauh dengan salah satu lensa yang pecah.
Dan di atas tangannya…
Sepatu hak tinggi seorang wanita menginjaknya.
Bianca.
Dia mengenakan gaun desainer putih dengan kalung mutiara di lehernya. Wajahnya penuh amarah hanya karena gaunnya terkena noda.
“Jaketmu bau, Kakek!” teriaknya. “Tahu tidak berapa harga gaunku? Ini senilai Rp84 juta! Seumur hidup bekerja pun kau tidak akan mampu membayarnya!”
Beberapa orang merekam video.
Para pelayan tidak berani mendekat.
Manajer restoran berkeringat dingin, terlalu takut untuk campur tangan.
Dan di samping Bianca, aku melihat Adrian.
Suamiku.
Dengan setelan jas gelap.
Tenang.
Memegang sapu tangan.
Dia menyerahkannya kepada Bianca dengan suara lembut.
“Sayang, jangan sentuh dia. Nanti tanganmu kotor.”
Sayang.
Kata yang sudah hampir setahun tidak pernah kudengar darinya.
Aku melangkah maju.
Kakiku gemetar, tetapi aku tidak berhenti.
“Ayah.”
Adrian menoleh.
Selama satu detik aku melihat keterkejutan di wajahnya.
Namun ekspresi itu segera berubah menjadi kesal, seolah akulah yang mengganggu.
“Lira? Sedang apa kamu di sini?”
Aku tidak menjawab.
Aku berlutut di samping Ayah dan mengangkat kepalanya.
“Nak…” katanya lemah. “Ayah tidak apa-apa.”
Tidak apa-apa.
Begitulah Ayah.
Bahkan saat terluka dan dipermalukan, hal pertama yang dia pikirkan adalah agar aku tidak khawatir.
Aku menatap Bianca.
“Angkat kakimu dari tangan ayahku.”
Dia mengangkat alis.
“Oh, jadi ini ayahmu? Pantas saja. Kalian sama-sama tidak punya kelas.”
Seseorang tertawa pelan dari belakang.
Suara kecil itu terasa seperti api yang membakar dadaku.
Adrian mendekat dan memegang lenganku.
“Lira, jangan membuat keributan. Aku akan menyelesaikan ini.”
Aku menarik lenganku.
“Keributan? Ayahku tergeletak di lantai, dan aku yang dianggap membuat keributan?”
Rahang Adrian mengeras.
“Kamu tidak mengerti. Ini makan malam yang sangat penting. Bianca adalah—”
“Wanita simpananmu?” potongku.
Seluruh restoran langsung terdiam.
Senyum Bianca menghilang.
Wajah Adrian pucat.
“Jaga ucapanmu,” katanya pelan.
Aku tersenyum dingin.
“Kenapa? Aku salah?”
Bianca tertawa, tetapi terdengar dipaksakan.
“Adrian, kamu belum memberitahunya? Bukankah kalian sudah berpisah secara emosional?”
Rasanya seperti pisau yang perlahan menusuk jantungku.
Berpisah secara emosional.
Jadi itulah cerita yang dia jual kepada wanita itu.
Adrian menggenggam tangan Bianca tepat di depanku.
“Lira, kita pulang. Kita bicarakan ini di rumah.”
“Tidak,” jawabku. “Di sini.”
Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon polisi.
Sambil menunggu panggilan tersambung, aku menatapnya tanpa berkedip.
“Aku akan melaporkan ini. Ini penyerangan.”
Manajer restoran segera berlari mendekat.
“Bu, mungkin kita bisa menyelesaikan masalah ini secara pribadi. Pak Adrian adalah tamu VIP kami—”
“VIP?” Aku tersenyum tipis. “Apakah sekarang orang yang membiarkan seorang lansia diinjak di depan umum disebut VIP?”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Tepat saat itu, pintu lift terbuka lagi.
Tiga pria berjas batik formal masuk bersama seorang pengacara tua yang sudah kukenal sejak kecil.
Pengacara Santos.
Dia berjalan mendekati Ayah, membungkuk hormat, lalu berkata di depan semua orang:
“Pak Renato, mohon maaf kami terlambat.”

Mata Adrian membelalak.
Bianca mundur satu langkah.
Dan aku sendiri hampir tidak bisa bernapas ketika mendengar kalimat berikutnya.
“Dokumen untuk pengalihan saham pengendali Villareal Holdings kepada Bapak sudah siap ditandatangani.”
Pengacara Santos berdiri tegak, lalu membetulkan letak kacamatanya sambil menatap Adrian dan Bianca dengan pandangan yang sanggup membekukan darah siapa pun di ruangan itu.
“Apa maksudnya ini, Pengacara Santos?” Adrian akhirnya membuka suara, meski nada suaranya bergetar hebat. “Saham pengendali? Villareal Holdings itu milik mendiang ayahku! Pria tua ini… dia hanya mantan sopir!”
Pengacara Santos tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin penuh penghinaan.
“Benar, Pak Adrian. Beliau memang pernah menjadi sopir untuk mendiang ayah Anda, tiga puluh lima tahun yang lalu. Tapi Anda tampaknya terlalu bodoh atau terlalu malas untuk membaca sejarah perusahaan Anda sendiri,” kata Pengacara Santos lantang, suaranya menggema di seluruh sudut SkyLume.
“Ketika ayah Anda mendirikan Villareal Holdings dan hampir bangkrut di tahun kelima, siapakah orang yang menjual seluruh tanah warisannya, memberikan semua tabungannya, dan bahkan menolak ditulis namanya di akta pendirian demi menyelamatkan perusahaan? Pria tua yang hari ini Anda biarkan wajahnya diinjak di lantai ini.”
Seluruh restoran menahan napas. Bianca melangkah mundur hingga hak sepatunya mengetuk lantai marmer dengan bunyi klik yang tajam. Wajahnya yang tadi merah karena angkuh, kini mendadak seputih kain kafan.
“Pak Renato Mercado adalah pemilik sah dari 51% saham rahasia Villareal Holdings melalui perusahaan cangkang di Singapura,” lanjut Pengacara Santos sambil membuka koper kulitnya, mengeluarkan seberkas dokumen tebal berlambang emas. “Mendiang ayah Anda mengembalikan saham itu sebelum beliau wafat sebagai utang budi. Dan hari ini, Pak Renato datang ke sini bukan untuk mengemis, melainkan untuk menyerahkan seluruh saham itu kepada putrinya, Ibu Lira, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.”
Aku menatap Ayah. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.
Ayah memegang tanganku yang gemetar, lalu dengan bantuan Pengacara Santos dan para pengawalnya, beliau bangkit berdiri. Meskipun jaketnya kotor oleh kuah makanan dan bibirnya berdarah, sorot mata Ayah mendadak berubah. Tidak ada lagi gurat pria tua yang lemah. Yang ada hanyalah wibawa seorang pria yang selama ini memilih menyembunyikan kekuasaannya demi melihat apakah menantunya tulus atau tidak.
“Adrian,” suara Ayah berat dan tenang, namun setiap kata seperti hantaman gada besi. “Aku sengaja memakai pakaian ini. Aku ingin tahu, apakah setelah tiga tahun menjadi menantuku, kamu menghormatiku karena aku manusia, atau karena aku punya uang.”
Adrian terjatuh berlutut. Benar-benar berlutut di tempat Ayah terjatuh tadi.
“Ayah… Ayah, maafkan aku. Aku tidak tahu… Aku bersumpah aku tidak tahu!” Adrian merangkak mendekati kaki Ayah, mencoba meraih celana lusuh yang tadi dihujatnya. “Lira, tolong katakan sesuatu pada Ayah! Ini semua salah paham! Bianca yang memulai semuanya, aku tidak tahu apa-apa!”
Melihat Adrian yang mencapakannya begitu saja demi menyelamatkan lehernya sendiri, Bianca menjerit histeris. “Adrian! Apa yang kamu lakukan?! Kamu bilang perusahaan ini milikmu sepenuhnya!”
“Diam kamu, pelacur!” teriak Adrian kalap, menunjuk wajah Bianca dengan jari gemetar. “Kamu yang merusak pernikahanku! Kamu yang menghina ayah mertuaku!”
Menyaksikan pemandangan menjijikkan di depanku, rasa sakit di hatiku mendadak hilang, digantikan oleh rasa muak yang luar biasa. Inikah pria yang kutangisi setiap malam? Inikah pria yang kuharapkan cintanya? Pria yang mengemis di lantai seperti anjing ketika kekuasaannya direnggut?
Aku melangkah maju, berdiri di antara Ayah dan Adrian.
“Jangan sebut dia ayahmu lagi, Adrian. Karena detik ini juga, hubungan kita selesai,” kataku, suaraku sangat tenang hingga membuat Adrian mendongak dengan tatapan ngeri.
Aku mengambil dokumen dari tangan Pengacara Santos, membalik halamannya, dan menandatanganinya di atas punggung manajer restoran yang sejak tadi membungkuk ketakutan.
“Dengan 51% saham pengendali yang sekarang ada di tanganku,” aku menatap Adrian dan Bianca bergantian. “Aku menyatakan bahwa Adrian Villareal dicopot secara tidak hormat dari jabatannya sebagai CEO Villareal Holdings. Dan untuk Anda, Nyonya Bianca Salcedo, Anda dipecat dari posisi Wakil Presiden efektif malam ini.”
“Lira! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku suamimu!” Adrian berteriak, air matanya mulai mengalir panik.
“Aku bisa. Dan aku baru saja melakukannya,” jawabku dingin. “Pengacara Santos, tolong urus gugatan cerai saya besok pagi. Pastikan dia keluar dari rumah dan perusahaan tanpa membawa sepeser pun uang. Dan untuk rekaman CCTV restoran ini…”
Aku menoleh ke arah manajer restoran. “Serahkan rekamannya kepada polisi. Saya tetap menuntut wanita ini atas pasal penganiayaan terhadap lansia.”
Dua petugas polisi yang baru datang dari lift langsung berjalan mendekati Bianca. Bianca berteriak-teriak histeris saat borgol besi melingkari pergelangan tangannya yang halus, menyeretnya keluar dari restoran mewah itu sambil menyapu pandangan menghina dari para pengunjung. Sementara Adrian hanya bisa terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa dalam satu malam, keserakahan dan pengkhianatannya telah menghancurkan seluruh hidup yang dia bangun.
Aku memeluk lengan Ayah yang kokoh. Kami berjalan menuju lift, meninggalkan sisa-sisa kehancuran di belakang kami.
Saat pintu lift tertutup, aku melihat bayangan diriku di cermin. Tidak ada lagi Lira yang lemah dan penurut. Malam ini, di puncak gedung tertinggi BGC, pernikahan tiga tahunku memang mati. Namun di tempat yang sama, kehidupanku yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.