DIA BILANG, “AKU MASIH LEMBUR DI KANTOR.” TAPI SAAT AKU DATANG KE KANTORNYA, AKU MELIHATNYA SEDANG BERCIUMAN DENGAN WANITA LAIN.**
*”Selamat hari jadi pernikahan kita, Sayang. Aku masih lembur di kantor. Pekerjaan lagi numpuk. Besok aku pasti ganti semuanya, ya. Aku sayang kamu.”*
Saat membaca pesan dari suamiku, Eric, seluruh tubuhku gemetar.
Kenapa?
Karena saat itu aku sedang berdiri tepat di depan pintu kaca kantornya.
Dan di dalam ruangan itu…
Tidak ada tumpukan berkas.
Tidak ada pekerjaan.
Aku menatap suamiku yang sedang memangku atasannya, Sabrina—Vice President perusahaan yang cantik, kaya, dan terkenal.
Mereka berciuman penuh gairah, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Aku bahkan bisa mendengar tawa pelan mereka saat Eric mulai melepaskan blazer yang dikenakannya.
“Oh, Eric…” bisik Sabrina manja sambil membelai wajah suamiku.
“Bagaimana dengan istrimu yang membosankan di rumah? Jangan-jangan dia masih menunggumu.”
Eric tertawa.
Tawa yang terasa seperti menusuk jantungku berkali-kali.
Tawa yang belum pernah kudengar selama lima tahun pernikahan kami.
“Aku sudah kirim pesan kok,” jawabnya sambil tersenyum sinis.
“Dia itu terlalu polos. Dia pasti percaya kalau aku benar-benar sedang bekerja. Dia terlalu baik sampai nggak pernah curiga. Biar saja dia menunggu di rumah.”
Dadaku terasa diremas.
Aku nyaris tak bisa bernapas.
Kantong kertas yang kubawa—berisi makanan favoritnya dan sebotol anggur mahal untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kelima—perlahan terlepas dari genggamanku.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin menghantamkan botol anggur itu ke kepala mereka berdua.
Saat tanganku hampir menyentuh gagang pintu untuk memergoki mereka…
Tiba-tiba sebuah tangan besar dan hangat menutup mulutku dari belakang.
Lengan yang kuat melingkari pinggangku dan menarikku perlahan ke sudut lorong yang gelap, jauh dari pintu kantor.
Mataku membelalak ketakutan.
Aku meronta.
Namun genggamannya terlalu kuat.
“Sst… jangan bersuara.”
Suara pria itu berat, tenang, dan dalam, tepat di dekat telingaku.
Tubuhnya harum, aroma parfum mahal yang hanya biasa dipakai kalangan elite.
Ia memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan di tempat yang remang-remang.
Saat akhirnya aku bisa melihat wajahnya…
Aku melihat seorang pria yang sangat tinggi, tampan, mengenakan setelan jas hitam bermerek.
Tatapannya tajam.
Di balik matanya tersimpan kemarahan yang begitu dalam hingga membuatku bergidik.
Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah remote control kecil.
“K-Kamu siapa?” tanyaku lirih dengan suara gemetar, antara takut dan marah.
Ia menatapku sesaat.
Lalu kembali melirik ke arah pintu kaca, tempat suamiku dan wanita itu masih larut dalam perselingkuhan mereka.
Senyum dingin muncul di sudut bibirnya.
“Namaku Xavier.”
“Aku adalah suami sah dari wanita yang sedang dipeluk suamimu sekarang.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Jangan rusak malam ini dengan tangisan atau membuat keributan yang hanya akan membuatmu terlihat sebagai korban.”
Ia mengangkat remote kecil yang ada di tangannya.

“Jangan bersuara, Clara.”
“Biarkan kita menyaksikan mereka.”
“Pertunjukan yang sesungguhnya… baru saja akan dimulai.”
Bagian Akhir: Pertunjukan di Atas Panggung Kaca
Xavier menekan tombol pada remote kecil di tangannya. Detik berikutnya, aku mendengar suara klik pelan di sepanjang lorong. Lampu-lampu utama di dalam ruangan Eric dan Sabrina tiba-tiba padam, digantikan oleh lampu sorot otomatis (spotlight) yang menyala terang, tepat mengarah ke sofa tempat mereka sedang bermesraan.
Eric dan Sabrina tersentak kaget. Mereka buru-buru melepaskan pelukan dan mencoba merapikan pakaian mereka dalam kepanikan.
“Apa yang terjadi? Kenapa lampunya—” Kalimat Sabrina terputus saat layar proyektor besar di dinding ruang rapat utama otomatis turun dan menyala.
Layar itu tidak menampilkan presentasi bisnis. Layar itu menampilkan siaran langsung dari kamera tersembunyi yang merekam seluruh aksi mereka dari berbagai sudut ruangan beberapa menit lalu—lengkap dengan suara desahan, tawa meremehkan Eric tentang diriku, dan perselingkuhan menjijikkan mereka.
Namun, itu belum semuanya.
“Lihat ke bawah,” bisik Xavier dengan nada dingin yang menenangkan.
Aku melayangkan pandangan ke halaman parkir gedung kantor yang dilapisi dinding kaca besar. Di bawah sana, beberapa mobil van hitam besar terparkir. Puluhan orang keluar dari mobil tersebut dengan kamera dan lampu kilat yang menyala.
“Aku tidak hanya meretas sistem lampu dan proyektor ruangan ini, Clara,” kata Xavier sambil menatapku, matanya berkilat penuh kemenangan. “Aku juga telah mengirimkan tautan siaran langsung ruang kerja ini ke seluruh jajaran direksi, investor utama, dan media massa bisnis terbesar di kota ini. Malam ini, semua orang menyaksikan bagaimana Vice President mereka runtuh.”
Di dalam ruangan, Sabrina mulai berteriak histeris menyadari posisinya. Eric tampak pucat pasi, wajahnya mendadak tak berdarah. Ia berlari ke arah pintu kaca, mencoba membukanya, namun pintu tersebut sudah dikunci secara digital oleh Xavier dari luar.
Xavier merangkul pundakku, menuntunku berjalan keluar dari sudut gelap dan berdiri tepat di depan pintu kaca.
Saat Eric melihatku berdiri di sana bersama Xavier, matanya membelalak penuh horor. Ia menggedor-gedor kaca tebal itu, meneriakkan namaku dengan wajah memelas yang sangat menjijikkan.
“Clara! Buka pintunya! Ini tidak seperti yang kamu lihat! Clara, tolong aku!”
Aku menatap pria yang telah bersamaku selama lima tahun itu. Rasa sakit yang beberapa menit lalu meremas dadaku mendadak hilang, digantikan oleh rasa hampa dan kejelasan yang mutlak. Pria yang kuhormati dan kucintai ternyata hanyalah seorang pengecut yang rela menjual harga dirinya demi harta dan jabatan.
Aku mengambil ponselku, mengetik sebuah pesan singkat, lalu menunjukkannya ke arah kaca agar Eric bisa membacanya:
“Selamat hari jadi pernikahan, Eric. Hadiah dariku adalah surat cerai yang akan tiba besok pagi. Nikmati sisa malammu.”
Aku menjatuhkan kantong kertas berisi makanan favoritnya dan botol anggur mahal ke lantai, membiarkannya hancur bersama semua kenangan masa lalu kami.
Xavier menatapku dengan senyum tipis yang penuh rasa hormat. “Ayo pergi, Clara. Tempat ini sudah terlalu kotor untuk wanita sepertimu. Biarkan para jurnalis di bawah yang menyelesaikan bagian akhir cerita mereka.”
Aku berbalik, melangkah dengan dagu tegak di samping Xavier, meninggalkan Eric dan Sabrina yang kini terkunci di dalam ruangan kerja mereka yang terang benderang—menyerupai akuarium kaca tempat semua orang bisa melihat kebusukan mereka.
Keesokan paginya, skandal itu meledak di seluruh media nasional. Sabrina dipecat secara tidak hormat oleh dewan komisaris dan menghadapi tuntutan pencemaran nama baik perusahaan, sementara Eric kehilangan pekerjaan, reputasi, dan masa depannya dalam semalam. Tanpa uang dan koneksi Sabrina, ia bukan siapa-siapa lagi.
Ketika Eric mencoba berlutut di depan rumahku beberapa hari kemudian untuk meminta maaf, aku bahkan tidak membukakan pintu. Dari balik jendela, aku melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Xavier turun, memberikan berkas pembagian aset dan perceraian yang telah diurus tim pengacaranya untuk membantuku.
Saat Eric berteriak frustrasi, aku hanya tersenyum tipis. Mereka mengira aku polos dan mudah dibodohi, tetapi mereka lupa bahwa badai terbesar sering kali datang setelah keheningan yang paling tenang.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.