“Dia Mengira Suaminya Telah Meninggalkannya, Jadi Ia Datang ke Klinik dengan Hati Gemetar—Namun Dokter yang Bertanya Mengapa Ia Ingin Menggugurkan Kandungannya Ternyata Adalah Pria yang Hilang dari Hidupnya Selama Enam Bulan”
Aku mengambil nomor antrean. Duduk. Menunggu namaku dipanggil.
Di dalam klinik, semuanya sunyi—tetapi di dalam dadaku, rasanya seperti sedang berlangsung sebuah pemakaman.
Aku tidak menangis.
Aku sudah lupa caranya.
Karena hari itu, aku mengandung anak dari pria yang selama ini kukira telah membuangku dari hidupnya.
“Nomor 47, Nona Mira Villanueva.”
Aku berdiri seperti robot. Masuk ke ruang konsultasi kecil di lantai dua San Gabriel Medical Center di Quezon City. Aroma alkohol, kertas, dan udara dingin pendingin ruangan memenuhi ruangan.
Di balik meja, seorang dokter sedang menunduk. Ia mengenakan masker dan kacamata, sibuk menulis di berkas pasien.
Ia bahkan belum melihat ke arahku.
“Sudah berapa lama usia kehamilannya?” tanyanya dengan nada profesional.
“Delapan minggu,” jawabku.
“Kehamilan pertama?”
Aku terdiam sejenak.
“Iya.”
“Apakah Anda ingin melanjutkan konseling untuk permohonan penghentian kehamilan? Apakah ada alasan khusus?”
Aku memejamkan mata.
Pertanyaannya sederhana.
Tetapi bagiku, rasanya seperti pisau yang perlahan diputar di dalam dada.
“Karena…” Aku menarik napas panjang. “Suami saya sudah tidak membutuhkan saya lagi.”
Pena di tangannya berhenti bergerak.
Kupikir dia hanya akan mencatat jawabanku.
Kupikir dia sudah terbiasa mendengar alasan seperti itu.
“Apakah dia mengatakan itu secara langsung?” tanyanya.
Suaranya kini terdengar lebih pelan.
“Dia tidak perlu mengatakannya,” aku tersenyum pahit. “Kalau seorang suami sudah enam bulan tidak menyentuhmu, tidak menanyakan kabarmu, tidak menjawab teleponmu, tidak membaca pesanmu… dan seluruh gajinya dikirim langsung kepada ibunya…”
Aku menggenggam tas lebih erat.
“Dokter, menurut Anda, apakah dia masih perlu mengatakannya?”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Aku bisa mendengar dengungan AC dan suara kertas dari luar.
Tetapi dokter di depanku tidak bergerak sedikit pun.
“Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?” tanyanya.
“Kalau belum yakin, saya tidak akan berada di sini.”
Saat itulah ia perlahan mengangkat wajahnya.
Aku melihat matanya.
Dan dunia seolah berhenti berputar.
Tidak mungkin.
Tidak.
Mata itu—
Meski tertutup masker.
Meski terlihat lelah.
Meski berusaha menjadi orang asing.
Aku mengenalnya.
Itulah mata yang setiap malam kutunggu untuk menatapku selama enam bulan terakhir.
Mata yang selalu kucari di ambang pintu setiap menjelang subuh.
Mata yang kucintai jauh sebelum aku menyandang nama keluarganya.
Ia tiba-tiba berdiri.
Kursinya bergeser keras di lantai.
Lalu ia melepas maskernya.
“Ya Tuhan… Mira.”
Napas di paru-paruku seolah menghilang.
Dr. Gabriel Monteverde.
Suamiku.
Pria yang telah kutangisi selama enam bulan saat tidur sendirian di ranjang kami.
Pria yang kukira sudah bosan denganku.
Pria yang menjadi alasan mengapa aku berada di tempat ini hari ini.
Aku mundur beberapa langkah. Tanganku gemetar memegang tas.
“Gabriel…”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Urat di lehernya menegang.
Namun itu bukan hanya kemarahan.
Ada ketakutan.
Keterkejutan.
Dan rasa sakit.
“Apa maksudmu dengan aku sudah tidak membutuhkanmu?”
Aku tidak mampu menjawab.
Aku berbalik hendak keluar.
Tetapi ia segera meraih pergelangan tanganku.
Tidak menyakitkan.
Namun kuat.
Putus asa.
“Mira, jawab aku.”
Semua emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
“Apa yang ingin kamu dengar?” teriakku. “Bahwa aku bahagia menunggu sendirian di rumah tanpa kabar darimu? Bahwa aku senang hidup dari sisa-sisa perhatianmu? Bahwa tidak apa-apa suamiku punya lebih banyak waktu untuk pasiennya daripada untuk istrinya yang sedang hamil?”
Matanya memerah.
“Hamil?”
Aku tersenyum pahit sementara air mata mulai mengalir.
“Baru sekarang kamu tahu?”
Ia berpegangan pada meja seolah kehilangan keseimbangan.
“Mira… aku tidak tahu.”
“Tentu saja kamu tidak tahu,” jawabku. “Kamu tidak pernah menjawab teleponku.”
“Aku mengirim uang setiap bulan.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Rp23 juta setiap tanggal lima. Selama enam bulan.”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku pikir kamu tidak ingin berbicara denganku, tapi kamu tetap menerima uang itu. Aku pikir… aku pikir kamu hanya sedang marah.”
Aku membeku.
“Uang apa?”
Kami saling menatap.
Dan dalam satu detik, kami berdua memikirkan orang yang sama.
Wanita yang setiap hari datang ke apartemen kami.
Membawakan makanan.
Mengusap punggungku.
Dan selalu berkata:
“Maklumi saja Gabriel, Nak. Dia hanya lelah. Dia sangat mencintaimu.”

Wanita yang memegang kartu ATM rekening gaji Gabriel.
Ibunya.
Wajah Gabriel perlahan memucat.
“Ibu…”
“Ibu?” bisikku, suaraku nyaris hilang tersapu udara dingin ruang klinik.
Gabriel melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tanganku, namun bukan untuk menjauh. Kedua tangannya beralih memegang bahuku, gemetar hebat.
“Mira… demi Tuhan, dengarkan aku,” suaranya serak, matanya yang memerah kini digenangi air mata yang siap tumpah. “Enam bulan lalu, Ibu meneleponku sambil menangis. Dia bilang kamu butuh ruang, kamu ingin berpisah sementara karena stres dengan tekanan pekerjaanku. Ibu bilang kamu tidak mau bicara denganku, dan meminta semua uang bulanan ditransfer ke rekening Ibu agar dia yang mengaturnya untukmu.”
Aku menggelengkan kepala, air mataku mengalir semakin deras. “Tidak… Ibu tidak pernah bilang begitu. Setiap hari Ibu datang, Gabriel. Dia selalu bilang kamu terlalu sibuk dengan pasienmu, kamu tidak ingin diganggu, dan kamu mengirimnya untuk mengawasiku agar aku tidak merepotkanmu!”
“Ya Tuhan…” Gabriel menyisir rambutnya dengan frustrasi, napasnya memburu. “Teleponmu… setiap kali aku menelepon, Ibu yang mengangkat atau nomor keesokannya selalu sibuk. Ibu bilang kamu memblokir nomorku!”
“Aku tidak pernah memblokir nomorku, Gabriel! Ponselku… ponsel lama yang sering dibawa Ibu dengan alasan ingin diperbaiki!”
Kesadaran itu menghantam kami berdua seperti gada besi. Ibu mertuaku—wanita yang selalu tampak lembut dan penuh perhatian di depanku—telah membangun tembok kebohongan yang sangat tebal di antara kami. Dia memanipulasi situasi, memotong semua jalur komunikasi, dan menguras sisa uang Gabriel sementara membiarkanku hidup dalam penderitaan dan kesepian yang menyiksa.
Gabriel tiba-tiba berlutut di depanku, di atas lantai klinik yang dingin. Pria yang biasanya tampak begitu berwibawa sebagai dokter spesialis, kini menangis di hadapanku, menyandarkan dahinya di tanganku yang gemetar.
“Maafkan aku, Mira… Maafkan kebodohanku,” isaknya, bahunya terguncang hebat. “Aku begitu bodoh mempercayai kata-katanya hanya karena dia ibuku. Aku menderita setiap malam di mes rumah sakit ini, mengira istriku membenciku. Aku tidak tahu… aku tidak tahu kamu sedang mengandung anak kita.”
Perlahan, Gabriel mendongak. Ia menatap perutku yang masih rata dengan tatapan penuh keajaiban, kerinduan, dan rasa bersalah yang teramat dalam. Tangannya yang hangat naik, menyentuh perutku dengan sangat hati-hati, seolah takut makhluk kecil di dalam sana akan terluka.
“Kamu ingin menggugurkan dia karena mengira aku membuangmu?” tanyanya dengan suara patah.
Aku tidak bisa menjawab, hanya isak tangis yang keluar dari bibirku.
Gabriel berdiri, menghapus air mataku dengan jemarinya yang hangat. Tatapan matanya yang tadi penuh kerapuhan seketika berubah menjadi tajam dan penuh ketegasan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Keputusan konseling ini dibatalkan,” kata Gabriel, suaranya kembali terdengar mutlak, bukan sebagai dokter, melainkan sebagai seorang suami dan ayah.
Ia melepas jas putih dokternya, menyampirkan mantelnya ke bahuku, lalu menggenggam tanganku dengan sangat erat.
“Kita pulang ke rumah kita sekarang, Mira. Kita akan menyelesaikan ini dengan Ibu malam ini juga. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu, menyentuh anak kita, atau memisahkan kita lagi. Aku bersumpah.”
Saat kami melangkah keluar dari ruang klinik bergandengan tangan, rasa dingin yang membekukan hatiku selama enam bulan terakhir perlahan mencair. Badai kesalahpahaman itu memang telah memporak-porandakan kami, namun di balik reruntuhannya, sebuah kebenaran baru telah lahir—dan kali ini, kami akan menghadapinya bersama.