Posted in

DIPAKSA AKU OLEH IBU TIRIKU MENIKAH DENGAN SEORANG GELANDANGAN MISKIN SETELAH SUAMI PERTAMAKU MENINGGAL. DIA INGIN MEMPERMALUKANKU DAN MENGAMBIL SELURUH WARISANKU UNTUK ANAK KANDUNGNYA. DIA MENGIRA INILAH AKHIR HIDUPKU… TAPI PRIA YANG DIA PAKSA MENJADI SUAMIKU TERNYATA ADALAH DEWA BISNIS YANG AKAN MENGHANCURKAN SELURUH KELUARGA MEREKA.

DIPAKSA AKU OLEH IBU TIRIKU MENIKAH DENGAN SEORANG GELANDANGAN MISKIN SETELAH SUAMI PERTAMAKU MENINGGAL. DIA INGIN MEMPERMALUKANKU DAN MENGAMBIL SELURUH WARISANKU UNTUK ANAK KANDUNGNYA. DIA MENGIRA INILAH AKHIR HIDUPKU… TAPI PRIA YANG DIA PAKSA MENJADI SUAMIKU TERNYATA ADALAH DEWA BISNIS YANG AKAN MENGHANCURKAN SELURUH KELUARGA MEREKA.

Pengusiran Sang Janda

Namaku Clara, dua puluh delapan tahun. Setahun yang lalu, duniaku runtuh. Suami pertamaku, Luis, meninggal dalam kecelakaan mobil yang mencurigakan, meninggalkan aku dan putra kami yang berusia lima tahun, Toby. Ketika ayahku juga meninggal karena serangan jantung, seluruh perusahaan dan mansion keluarga jatuh ke tangan ibu tiriku, Doña Matilda, dan putrinya, Savannah.

Menurut surat wasiat ayahku, seluruh perusahaan hanya akan menjadi milikku ketika aku berusia tiga puluh tahun. Namun jika aku membuat “skandal besar yang mempermalukan keluarga,” warisan itu otomatis akan jatuh ke tangan Doña Matilda.

Ibu tiriku menggunakan aturan itu untuk menghancurkanku.

“Tandatangani kontrak pernikahan ini, Clara!” teriak Doña Matilda sambil membanting dokumen ke meja. “Kau akan menikah dengan pria ini sekarang juga! Atau aku akan mencabut alat bantu hidup nenekmu di rumah sakit!”

Aku memandang pria yang dipaksakan untuk kunikahi. Namanya Gabriel. Dia mengenakan kaus longgar yang lusuh dan kotor. Janggutnya tebal, sepatunya berlubang, dan dia terlihat seperti pemulung jalanan.

“Kasihan sekali kamu, Kak Clara,” ejek adik tiriku, Savannah, sambil tertawa. “Dulu putri keluarga Valderama, sekarang jadi istri tukang sampah! Hahaha!”

Aku menangis dan memohon, tapi demi nyawa nenekku, aku menandatangani dokumen itu. Aku menjual masa depanku sendiri.

Suami yang Dianggap Sampah

Setelah pernikahan paksa itu, Doña Matilda dan Savannah tanpa belas kasihan membuang kami ke sebuah kamar kontrakan kecil dan rusak di pinggir kota. Kami tidak punya uang dan pekerjaan.

Aku mengira Gabriel akan kasar dan mungkin menyakiti kami, tetapi aku salah. Pada malam pertama kami di kamar sempit itu, dia perlahan mendekati Toby dan memberikan satu-satunya bantal miliknya kepada kami.

“Jangan takut, Clara. Aku tidak akan menyakiti kalian,” bisik Gabriel dengan suara dalam dan tenang. Matanya bukan mata orang gila; ada ketajaman, kecerdasan, dan keberanian di sana. “Aku tahu kau dipaksa menikah denganku. Tapi aku janji akan melindungi kamu dan Toby.”

Setiap hari dia pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Katanya dia bekerja di proyek konstruksi. Meski sangat lelah, dia selalu membawa makanan hangat dan lezat untukku dan Toby, bahkan terkadang membawa mainan baru.

Dia menjadi ayah yang sangat baik bagi Toby. Perlahan-lahan, aku mulai merasa aman dalam pelukannya. Walaupun hidup kami miskin, aku kembali merasakan kebahagiaan. Aku mencintai Gabriel karena hati dan perhatian tulusnya.

Pesta Mewah dan Penghinaan

Enam bulan kemudian, aku menerima undangan dari Doña Matilda. Mereka mengadakan “Victory Gala” besar-besaran di hotel paling mewah di kota. Katanya, hari itu adalah saat resmi penjualan perusahaan ayahku kepada investor asing agar mereka menjadi miliarder untuk selamanya.

Mereka mengundangku hanya untuk memamerkan kemenangan mereka dan mempermalukanku sekali

…di hadapan ratusan pasang mata kelas atas.

“Datanglah bersama suamimu yang tampan itu, Clara. Kami ingin memperkenalkan ‘menantu baru’ keluarga Valderama kepada rekan bisnis kita,” tulis Savannah dalam pesan singkat bernada mengejek.

Gabriel, yang melihatku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar, dengan lembut memegang pundakku. “Kita akan pergi, Clara. Pakailah gaun terbaikmu. Malam ini, semuanya akan berakhir.”

Aku bingung dari mana dia mendapatkan kepercayaan diri itu, terlebih saat dia menyerahkan sebuah kotak berisi gaun malam hitam yang sangat elegan—terlalu mewah untuk ukuran seorang pekerja konstruksi. Namun, pancaran matanya membuatku percaya sepenuhnya.


Malam Pembalasan

Aula hotel bintang lima itu berkilau oleh cahaya lampu kristal. Doña Matilda dan Savannah berdiri di panggung utama, mengenakan perhiasan berlian yang dibeli dari uang warisan ayahku. Ketika aku dan Gabriel melangkah masuk, keheningan langsung melanda ruangan, diikuti oleh bisikan-bisikan menghina.

Gabriel malam itu tidak lagi memakai baju lusuh, melainkan setelan jas hitam. Meski janggutnya sudah dicukur rapi dan tubuhnya tegap, Savannah langsung berteriak menggunakan mikrofon agar semua orang mendengar.

“Lihat siapa yang datang! Putri mahkota Valderama yang jatuh miskin bersama suami gelandangan yang dipungut dari jalanan!” ejek Savannah, memicu tawa riuh dari para tamu.

Doña Matilda maju memegang mikrofon dengan senyum kemenangan. “Clara, karena kau telah mempermalukan nama baik keluarga dengan skandal pernikahan menjijikkan ini, malam ini aku resmi menandatangani pengalihan seluruh aset Valderama Group kepada Apex International. Kau tidak punya hak sepeser pun lagi!”

Di saat aku hampir meneteskan air mata, genggaman tangan Gabriel di jemariku menguat. Dia melangkah maju ke depan panggung, menatap Doña Matilda dengan senyuman dingin yang membuat bulu kuduk bergidik.

“Menandatangani kontrak dengan Apex International, Doña Matilda?” suara Gabriel bergema, dalam dan penuh otoritas. “Apakah kau yakin CEO Apex International sudi menerima sampah sepertimu?”

“Berani sekali kau bicara begitu, pengemis!” jerit Matilda murka. “Security! Seret gelandangan ini keluar!”

Namun, tidak ada satu pun petugas keamanan yang bergerak. Sebaliknya, pintu aula terbuka lebar. Belasan pria berjas hitam, dipimpin oleh pengacara paling terkenal di negara ini, masuk dengan tergesa-gesa. Mereka tidak menoleh ke arah Matilda, melainkan langsung berlutut dengan hormat di hadapan… Gabriel.

“Selamat malam, Tuan Gabriel Vance. Seluruh dokumen akuisisi dan bukti kejahatan telah siap sesuai perintah Anda,” ucap sang pengacara lantang.

Suasana aula seketika senyap bagai kuburan. Para pengusaha besar di ruangan itu mulai berbisik histeris. “Gabriel Vance? Dewa Bisnis dari Vance Billionaire Group yang dikabarkan hilang setahun lalu karena dikhianati saudaranya?” “Pria yang menguasai setengah perekonomian negara ini?!”


Runtuhnya Istana Kebohongan

Doña Matilda pucat pasi, wajahnya kehilangan seluruh darah. “Ti… tidak mungkin. Kau hanya gelandangan! Aku menemukanmu di kolong jembatan!”

Gabriel memperbaiki kerah jasnya, menatap Matilda dan Savannah dengan tatapan membunuh. “Aku sengaja menyamar untuk mencari tahu siapa yang menjebakku setahun lalu. Tapi siapa sangka, di tengah penyamaranku, aku justru menemukan wanita paling berhati mulia, sekaligus melihat betapa busuknya iblis seperti kalian.”

Gabriel memberi isyarat, dan pengacaranya langsung membacakan dokumen di tangannya.

“Pertama,” suara pengacara itu menggelegar, “Apex International adalah anak perusahaan dari Vance Group. Berdasarkan perintah Tuan Gabriel, proses akuisisi dibatalkan. Valderama Group dinyatakan bangkrut malam ini juga karena seluruh investor menarik saham mereka atas perintah Vance Group.”

Savannah menjerit histeris, “Ibu! Katakan ini tidak nyata!”

“Kedua,” lanjut sang pengacara, memandang Matilda dengan tajam. “Kami telah menyerahkan bukti digital kepada pihak kepolisian bahwa Doña Matilda dan Savannah bersekongkol memotong kabel rem mobil Luis—suami pertama Nyonya Clara—serta memalsukan surat wasiat Tuan Valderama.”

Mendengar hal itu, lutut Matilda lemas. Dia jatuh terduduk di lantai panggung. Detik berikutnya, sepasang polisi masuk ke dalam aula dan langsung memborgol tangan Matilda dan Savannah yang menangis histeris, memohon ampunan.

Gabriel tidak memedulikan jeritan mereka. Dia berbalik ke arahku, berlutut di hadapanku, lalu mengecup punggung tanganku di depan seluruh tamu yang kini menatap kami dengan penuh rasa hormat dan takjub.

“Maaf karena merahasiakannya darimu, Clara,” bisik Gabriel lembut, matanya kembali memancarkan kehangatan yang selama ini menemaniku di kamar kontrakan sempit itu. “Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu dan Toby. Aku mengembalikan istanamu, dan aku akan membangun kekaisaran baru untuk kita.”

Aku menangis, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Ibu tiriku mengira dia telah membuangku ke dalam jurang kehancuran, tanpa menyadari bahwa pria yang dia pilih untuk menghancurkanku justru adalah pelindung tertinggi yang membawa aku dan putraku menuju puncak dunia.lagi…