Diterjang badai di Pier 3 saat aku duduk menggigil di samping lemari jaket pelampung yang sengaja dikunci. Kata anak perempuan suamiku, itu cuma “small PR issue”. Tapi dompet yang ditemukan dari laut itu berisi foto lamanya saat dia berusia tujuh tahun.
## Bagian 1
Lama aku duduk di semen dingin Pier 3 di Cebu City.
Hujan masih terus menghantam atap pelabuhan.
Bau laut, oli mesin, dan jaket pelampung basah menempel di tenggorokanku.
Empat jam sebelumnya, feri kami Santa Lorena hampir tenggelam di luar Mactan karena pintu dek bawah macet, sistem peringatan tidak berfungsi, dan lemari jaket pelampung cadangan terkunci.
Aku Maya Santos.
Direktur Operasi Keselamatan di Isla Azul Ferries.
Aku juga perempuan yang baru saja berteriak di ruang kontrol, hampir merobek suaraku lewat radio, demi menyelamatkan 43 penumpang yang seharusnya tidak diizinkan berangkat dari pelabuhan hari itu.
Tanganku masih gemetar.
Bukan karena badai.
Tapi karena marah.
Aku mengangkat ponsel dan menelpon Paolo Villanueva—suamiku, CEO perusahaan.
Lama dia baru mengangkat.
Begitu tersambung, tidak ada suara laut, tidak ada sirene ambulans, tidak ada tangisan keluarga.
Yang terdengar musik lembut.
Suara staf penjualan.
Dan tawa kecil seorang perempuan muda.
“Singkirkan Trisha Dizon.”
Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan.
“Aku hanya akan bilang sekali.”
Beberapa detik dia diam.
Lalu dia menghela napas, seolah aku hanya mengganggu waktu belanjanya.
“Maya, ini lagi?”
Tanganku makin erat menggenggam ponsel.
“Kamu tahu apa yang dia lakukan?”
“Aku tahu ada insiden kecil di feri.”
“Insiden kecil?”
Aku tertawa, tapi terasa seperti tersumbat di tenggorokan.
“Santa Lorena hampir tenggelam. 43 orang terjebak. Tiga di UGD. Seorang nenek pingsan dan keluarganya belum bisa dihubungi. Dan semuanya dimulai karena Trisha melepas tag peringatan merah di dek bawah.”
Suara Paolo jadi dingin.
“Jangan jadikan masalah PR intern sebagai kelemahan kerja kamu.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Kamu Safety Director. Kalau ada kejadian di feri, kamu yang bertanggung jawab. Trisha hanya urusan image dan branding. Dia masih muda, mungkin salah. Tapi tidak bagus kalau kamu menyalahkannya.”
Aku jelas mendengar suara Trisha di sampingnya.
Suara lembut, seperti dibuat-buat.
“Pak Paolo, tidak apa-apa kok. Mungkin Ma’am Maya sedang stres. Biarkan saja kalau beliau mau memarahi saya.”
Aku memejamkan mata.
Trisha Dizon.
23 tahun.
Mantan model iklan online.
Dimasukkan Paolo ke perusahaan dengan jabatan indah: Strategic Communications Intern.
Dia tidak bisa membaca peta cuaca laut.
Dia tidak tahu perbedaan tag inspeksi hijau dan tag peringatan merah.
Dia tidak paham kenapa saat Philippine Coast Guard mengeluarkan peringatan badai, feri tidak boleh berangkat.
Tapi dia tahu cara tersenyum.
Tahu cara memanggil Paolo “Sir” dengan suara manis.
Tahu cara berdiri terlalu dekat di setiap rapat.
Dan tahu cara membuat suamiku yang dulu hampir tidur di pelabuhan demi membangun perusahaan ini, perlahan tidak lagi terlihat di kantor—tapi selalu ada di story-nya.
Aku tidak buta.
Tapi selalu ada alasan dari Paolo.
“Dia seperti adik saja.”
“Masih muda, kasihan.”
“Kamu istriku. Kamu partnerku membangun perusahaan. Kenapa harus bersaing dengan anak muda?”
Aku percaya.
Atau lebih tepatnya, aku memilih percaya.
Karena kami kekurangan orang.
Karena setiap hari kami mengoperasikan rute feri ke Cebu, Bohol, Leyte, dan Siquijor.
Karena aku sibuk dengan jadwal perawatan, pelatihan kru, dokumen MARINA, pengecekan jaket pelampung, inspeksi rakit penyelamat, dan drill keselamatan dek.
Kupikir selama dia tidak menyentuh keselamatan operasional, biarkan dia urus video, foto, dan caption manis.
Tapi sekarang dia menyentuhnya.
Dia melepas tag peringatan merah di dek bawah untuk syuting “kampanye komunitas feri” saat musim hujan.
Dia mengunci lemari jaket pelampung dan memberi kunci pada staf baru karena dianggap “tidak bagus di kamera”.
Dia menyimpan kunci itu di tasnya sendiri.
Dan saat kapten melapor pintu dek macet, air masuk, penumpang panik, dia malah menangis di depan semua orang dan berkata:
“Saya kira sudah disetujui Ma’am Maya.”
Aku menggigit setiap kata di telepon.
“Paolo, dia mengunci lemari jaket pelampung.”
“Ada bukti?”
“Ada CCTV di pelabuhan.”
“Kalau begitu tunggu investigasi.”
Suaranya tajam.
“Dan sekarang diam dulu. Aku tidak mau ini sampai ke media. Kalau keluarga penumpang menggugat, urus sendiri. Jangan seret nama perusahaan.”
Seolah aku salah dengar.
“Kamu menyuruhku diam?”
“Aku hanya menunjukkan cara orang yang bertanggung jawab bertindak.”
Aku berdiri dari tangga.
“Ada nenek yang pingsan karena jaket pelampung dikunci. Kamu paham itu?”
Dia tertawa dingin.
“Maya, setiap hari ada orang tua naik feri di Cebu. Jangan pakai drama untuk menakutiku.”
Aku menatap pelabuhan.
Ada tandu yang didorong di tengah hujan.
Selimut darurat perak bergetar ditiup angin.
Aku hampir tersedak napasku sendiri.
“Kamu tahu siapa perempuan itu?”
Tiba-tiba Trisha menyela di telepon.
Suaranya pura-pura gemetar.
“Ma’am Maya, maaf ya. Aku cuma mau bantu image perusahaan. Kalau kamu marah karena aku dipercaya Pak Paolo, marahi aku saja. Tapi jangan bilang ini kesengajaan.”
Punggungku dingin.
Dia tidak takut.
Karena dia tahu Paolo akan melindunginya.
Paolo berbicara lagi, tiap kata seperti paku.
“Cukup, Maya. Mulai sekarang kamu diskors dari ruang kontrol keselamatan. Akses sistem dicabut sementara. Gajimu enam bulan ditahan sampai investigasi selesai.”
Aku sulit bernapas.
“Dengan hak apa kamu mengunciku?”
“Dengan hakku sebagai CEO.”
“Kamu tahu siapa yang membangun perusahaan ini?”
“Aku yang tanda tangan izin. Aku yang dapat investor. Jangan kira karena kamu training safety, kamu adalah perusahaan.”
Aku menatap air gelap yang menghantam sisi pelabuhan.
Lima tahun pernikahan.
Tujuh tahun membangun Isla Azul Ferries.
Aku menolak posisi besar di Manila.
Aku menolak tawaran grup transportasi di Singapura.
Karena dia dulu berkata:
“Maya, aku ingin membangun feri yang punya hati untuk rakyat Filipina.”
Aku percaya mimpi itu.
Aku jadikan itu sistem.
Aku jadikan itu prosedur.
Aku jadikan itu operasi tanpa kecelakaan besar selama bertahun-tahun.
Dan sekarang, hanya karena perempuan cantik yang pandai menangis, akulah yang akan dijadikan kambing hitam.
Paolo menurunkan suara.
“Aku masih harus menemani Trisha pilih gaun untuk acara investor nanti. Pulanglah dan buat laporan. Rapikan tulisanmu. Jangan paksa aku memperketat posisimu.”
Dia menutup telepon.
Di saat yang sama, seorang petugas dari Philippine Coast Guard mendekat.
Jas hujannya basah kuyup.
Tangannya memegang kantong plastik bening. Di dalamnya ada dompet kulit, rosario, dan sebuah foto lama yang basah.
“Ma’am Maya.”
Suaranya berat.
“Kami menemukan ini dari barang penumpang lansia di Santa Lorena. Belum ada keluarga yang mengklaim. Tapi ada foto di dompetnya.”
Aku menerimanya.
Foto itu sudah tua.
Seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun berdiri di depan Basilica del Santo Niño, memegang mobil mainan kecil berwarna biru.
Di belakangnya, seorang nenek memakai blus bunga, tersenyum lembut.
Walau buram oleh air laut, aku langsung mengenali wajah anak itu.

Paolo.
Di bawah foto, ada tulisan tangan tinta biru:
“Untuk cucuku Paolo. Jangan lupa jalan pulang. — Lola Nena”
Bagian 2: Batas Kesabaran
Duniaku serasa berputar.
Hujan yang menghantam Pier 3 mendadak terdengar senyap, digantikan oleh detak jantungku yang berpacu liar. Aku menatap foto basah itu, lalu beralih ke arah ambulans yang baru saja pergi membawa wanita tua itu ke Rumah Sakit Umum Cebu.
Lola Nena.
Nenek yang selalu diceritakan Paolo dengan mata berkaca-kaca di awal pernikahan kami. Wanita yang menjual tanah satu-satunya di Bohol demi memberi Paolo modal pertama untuk membeli kapal feri bekas. Wanita yang mendadak “hilang kontak” sejak Paolo memilih bergaul dengan para investor elite Manila dan menganggap masa lalunya yang miskin sebagai aib yang harus dikubur.
“Jangan pakai drama untuk menakutiku, Maya,” kata-kata Paolo tadi kembali terngiang, berbaur dengan suara tawa manja Trisha.
Aku menghapus air mata yang bercampur air hujan di pipiku. Rasa sedihku menguap, digantikan oleh dinginnya keyakinan. Paolo ingin bermain dengan citra publik? Aku akan memberikannya panggung terbesar.
Aku tidak pulang ke rumah. Aku tidak menulis laporan yang dia minta.
Dengan dompet kulit itu di genggamanku, aku berjalan menembus badai menuju mobilku. Aku menelepon tiga jurnalis investigasi terbesar di Visayas yang selama ini menghormati integritas Isla Azul Ferries karena aku.
“Ini Maya Santos,” kataku saat sambungan terhubung. “Ada rilis eksklusif tentang insiden Santa Lorena. Datanglah ke Rumah Sakit Umum Cebu sekarang. Bawa kamera kalian.”
Bagian 3: Panggung yang Runtuh
Pukul sembilan malam. Ruang VIP Rumah Sakit Umum Cebu.
Paolo dan Trisha melangkah masuk dengan terburu-buru. Paolo masih mengenakan setelan jas mahal, sementara Trisha mengenakan gaun koktail merah yang tertutup jaket desainer. Wajah mereka pucat, bukan karena khawatir pada korban, melainkan karena lobi rumah sakit sudah dipenuhi kilatan lampu kamera wartawan.
“Maya! Apa-apaan ini?!” Paolo setengah berbisik, matanya berkilat marah saat menemukanku berdiri di depan ruang ICU. “Kenapa media bisa tahu? Aku sudah menyuruhmu bungkam!”
Trisha bersembunyi di belakang lengan Paolo, berbisik dengan suara gemetar yang dibuat-buat, “Ma’am Maya, tolong jangan hancurkan reputasi Pak Paolo hanya karena Anda cemburu padaku…”
Aku tidak memandang Trisha. Bagiku, dia hanya kerikil kecil. Musuh asliku adalah pria di depanku—pria yang telah kehilangan jiwanya demi angka di rekening bank.
Aku berjalan mendekati Paolo, lalu menyodorkan kantong plastik bening berisi dompet basah itu tepat di depan dadanya.
“Apa ini?” bentak Paolo kasar.
“Buka,” kataku, datar tanpa emosi. “Lihat dokumen korban yang hampir mati tenggelam karena ‘anak emasmu’ mengunci lemari jaket pelampung demi estetika kamera.”
Paolo merenggut plastik itu, membuka dompetnya dengan kasar, berniat melemparkannya kembali ke wajahku. Namun, gerakan tangannya mendadak membeku saat selembar foto tua yang setengah hancur jatuh ke lantai lantai rumah sakit yang putih.
Paolo berlutut perlahan. Tangannya yang gemetar memungut foto itu.
Matanya melebar. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, seketika berubah pucat pasi seperti mayat.
“L… Lola?” bisik Paolo. Suaranya mendadak pecah.
“Wanita tua yang kamu sebut ‘drama’ itu adalah Nenek Nena,” kataku, memastikan setiap kata mengiris harga dirinya. “Dia naik feri kelas ekonomi hari ini untuk mengejutkan cucunya yang sudah sukses di Cebu. Dia terjebak di dek bawah yang terendam air. Dia tidak mendapatkan jaket pelampung karena kuncinya ada di dalam tas Trisha.”
Trisha tersentak, wajahnya memucat. “P-Pak Paolo… saya tidak tahu… saya bersumpah saya tidak tahu kalau dia…”
“Diam!” Paolo meraung, suaranya menggema di koridor rumah sakit. Dia menatap Trisha dengan pandangan menjijikkan yang belum pernah memperlihatkan kekejaman seperti itu sebelumnya. Trisha mundur selangkah, ketakutan melihat pria yang biasanya memanjakannya kini berubah menjadi monster yang hancur.
Akhir dari Isla Azul
Pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar dengan wajah letih, menggelengkan kepala perlahan.
“Kami sudah mencoba segalanya, Pak, Bu. Tapi paru-parunya terlalu banyak kemasukan air laut, ditambah hipotermia berat karena usia lanjut. Ibu Elena Villanueva baru saja tiada.”
Paolo terjatuh di lantai, menangis meraung-raung sambil memeluk foto masa kecilnya. Dia mencoba meraih kakiku, memohon. “Maya… tolong aku… katakan pada media ini kecelakaan biasa… tolong selamatkan perusahaan kita…”
Aku melangkah mundur, melepaskan cengkeraman tangannya dari sepatuku.
“Tidak ada lagi ‘kita’, Paolo,” kataku sambil meletakkan kartu identitas korporatku dan kunci ruang kontrol di atas tubuhnya yang bersimpuh.
“Rekaman CCTV Pier 3 saat Trisha mengunci lemari pelampung sudah kukirim ke MARINA dan Philippine Coast Guard. Besok pagi, izin operasional Isla Azul akan dicabut secara hukum. Dan sebagai Direktur Keselamatan, aku telah memberikan kesaksian penuh atas kelalaian sengaja yang dilakukan oleh CEO dan staf komunikasimu.”
Aku berbalik, berjalan meninggalkan koridor rumah sakit tanpa menoleh lagi.
Di luar, badai di Cebu mulai mereda, menyisakan udara malam yang bersih. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku bisa bernapas lega, meninggalkan pria yang tenggelam oleh keserakahannya sendiri, di samping lemari pelampung yang ia kunci sendiri.