Posted in

Dua bulan setelah surat pembatalan pernikahan kami resmi ditandatangani, mantan suamiku melihatku di bangsal maternitas dan menertawakanku karena aku datang sendirian. Aku hanya menyentuh perutku dan mengucapkan satu kalimat. Sejak saat itu, seluruh keluarganya jatuh ke dalam kekacauan.

Dua bulan setelah surat pembatalan pernikahan kami resmi ditandatangani, mantan suamiku melihatku di bangsal maternitas dan menertawakanku karena aku datang sendirian. Aku hanya menyentuh perutku dan mengucapkan satu kalimat. Sejak saat itu, seluruh keluarganya jatuh ke dalam kekacauan.

Dua bulan setelah kami menandatangani dokumen pembatalan pernikahan, aku kembali bertemu mantan suamiku di rumah sakit.

Saat itu aku baru saja keluar dari ruang USG di departemen kandungan. Satu tanganku memegang amplop cokelat berisi hasil pemeriksaan, sementara tangan satunya secara refleks berada di atas perutku.

Kehamilanku sudah memasuki minggu ke-15.

Perutku memang belum terlalu terlihat, tetapi setiap kali melewati koridor yang ramai, langkahku otomatis melambat. Seolah-olah benturan kecil saja bisa melukai dua kehidupan mungil yang sedang tumbuh di dalam rahimku.

Hari itu rumah sakit swasta di Manila sangat ramai.

Ada seorang ibu yang menggendong bayi menangis, seorang pria yang membantu ibunya yang sudah lanjut usia berjalan, dan beberapa perawat yang tergesa-gesa mendorong troli obat di lorong.

Aroma disinfektan bercampur dengan wangi kopi dari kios kecil di lobi. Kombinasi itu membuatku sedikit mual.

Aku menunduk untuk mencari ponsel dan memesan kendaraan online ketika tiba-tiba sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari belakang.

— Mira Santos?

Aku langsung terdiam.

Hanya tiga kata, tetapi punggungku seakan membeku.

Aku tidak langsung menoleh.

Tiga tahun hidup bersama Adrian Reyes mengajariku satu hal: ada suara-suara yang tidak perlu berteriak untuk membuatmu mengingat setiap malam ketika kau menangis tanpa suara.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik.

Adrian berdiri beberapa langkah dariku. Ia mengenakan kemeja polo putih, jam tangan perak di pergelangan tangan, dan rambut yang tertata rapi seperti baru selesai menghadiri rapat penting.

Di sampingnya berdiri seorang wanita muda mengenakan gaun krem dengan rambut sedikit bergelombang. Tangannya melingkar erat di lengan Adrian.

Aku mengenalinya.

Bianca.

Wanita yang pernah dipuji mantan ibu mertuaku sebagai sosok yang jauh lebih pantas menjadi menantu keluarga Reyes dibandingkan anak penjual roti keliling seperti diriku.

Bianca menatapku dari ujung kepala hingga kaki.

Pandangannya berhenti pada sandal datarku dan tas kanvas lama yang tergantung di bahuku.

Sudut bibirnya sedikit terangkat.

Adrian juga tersenyum.

Senyuman yang sama seperti dulu.

Dingin, sombong, dan selalu membuat orang di hadapannya merasa lebih rendah.

— Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.

Aku meremas ujung amplop cokelat itu dan menjawab dengan tenang.

— Hanya kebetulan.

Bianca memiringkan kepala sedikit. Suaranya terdengar manis, tetapi tatapannya tajam.

— Adrian, siapa dia?

Adrian menoleh ke arahku dan menjawab tanpa emosi.

— Mantan istriku.

Kata “mantan istri” terasa jatuh begitu dingin di atas lantai keramik rumah sakit.

Aku justru tersenyum.

Tiga bulan lalu, ketika aku masih menjadi istrinya, ibunya menyebutku wanita tak berguna karena setelah tiga tahun menikah aku belum juga memiliki anak.

Dua bulan lalu, saat kami menandatangani surat pembatalan pernikahan, Adrian berkata agar aku tidak lagi mengganggu hidupnya.

Dan sekarang, ketika kami bertemu kembali, aku hanyalah mantan istri.

Aku tidak marah.

Sebaliknya, aku semakin yakin bahwa keputusanku meninggalkan rumah itu sebelum kehilangan kewarasanku adalah keputusan yang benar.

Tatapan Adrian jatuh pada amplop yang kupegang.

— Untuk apa kamu ke sini?

Aku tidak menjawab.

Ia melirik papan petunjuk bertuliskan “OB-GYN”, lalu tertawa kecil.

— Ah, bagian maternitas.

Bianca langsung menutup mulutnya dan ikut tertawa.

Adrian melangkah mendekat. Sengaja ia mengeraskan suaranya agar beberapa orang yang lewat bisa mendengarnya.

— Kamu datang sendirian ke bangsal maternitas? Setelah keluar dari keluarga Reyes, hidupmu jadi menyedihkan seperti ini? Bahkan tidak ada seorang pun yang menemanimu?

Aku menatapnya.

Tiba-tiba aku teringat malam ketika aku menyeret koper keluar dari apartemen di Pasig.

Saat itu hujan turun sangat deras.

Mantan ibu mertuaku berdiri di ruang tamu dengan tangan bersedekap.

— Pergi saja. Kami tidak akan memberi makan wanita yang tidak bisa memberi keturunan.

Adrian duduk di sofa.

Ia bahkan tidak memandangku.

Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya.

— Mira, hentikan dramanya. Tidak ada yang menahanmu.

Saat itu aku merasa akan mati karena patah hati.

Namun ternyata manusia tidak semudah itu mati.

Aku tetap hidup.

Aku menyewa kamar kecil di belakang toko kelontong milik seorang kenalan.

Aku menerima pekerjaan les privat untuk anak-anak di lingkungan sekitar.

Aku pergi ke dokter sendirian, minum vitamin kehamilan sendirian, dan belajar sendiri bagaimana tidur menyamping agar tidak menekan perutku.

Aku memang sudah kehilangan rumah keluarga Reyes.

Tetapi aku masih memiliki diriku sendiri.

Dan aku masih memiliki kedua anakku.

Ketika Adrian melihat aku tetap diam, ia semakin percaya diri.

— Apa aku salah? Dulu saat masih tinggal di rumah keluarga Reyes, setidaknya ada sopir yang mengantarmu kontrol ke dokter. Sekarang? Kamu berdiri di lorong rumah sakit menunggu taksi online seperti orang yang tidak punya tempat bergantung.

Bianca menyandarkan kepala ke bahunya dan berkata dengan suara manja.

— Adrian, jangan begitu. Nanti Kak Mira sakit hati.

Aku memandangi mereka berdua yang sedang berakting di depanku.

Anehnya, rasa mualku tiba-tiba hilang.

Mungkin karena dibandingkan bau disinfektan, bau kepura-puraan jauh lebih ampuh membuat orang sadar.

Aku meletakkan tangan di atas perutku.

Gerakannya sangat ringan.

Namun tatapan Adrian langsung terpaku di sana.

Senyumnya menghilang.

Aku berkata:

— Siapa bilang aku tidak punya teman?

Bianca juga menatap perutku.

Untuk sesaat suasana di sekitar kami mendadak sunyi.

Kening Adrian berkerut.

— Apa maksudmu?

Aku tersenyum dingin.

— Persis seperti yang kamu dengar.

Ia menatapku seolah ingin melihat apa yang tersembunyi di balik pakaian longgarku.

— Mira… kamu hamil?

Aku tidak menjawab.

Aku berbalik hendak pergi.

Namun Adrian tiba-tiba melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tanganku.

Pegangannya sangat kuat.

Aku meringis kesakitan.

— Lepaskan aku.

Ia tidak melepaskan.

Suaranya merendah. Ada kegugupan yang belum pernah kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.

— Anak itu… anakku?

Wajah Bianca langsung berubah.

— Adrian!

Aku menatap tangannya yang masih mencengkeram pergelangan tanganku lalu berkata perlahan:

— Apa kamu lupa? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahkan satu detik bersamaku saja sudah membuatmu muak?

Wajah Adrian mengeras.

— Mira, aku bertanya padamu. Apakah anak itu anakku?

Aku berusaha menarik tanganku.

Tetapi pada saat yang sama, amplop cokelat yang kupegang ikut terseret.

Beberapa lembar hasil pemeriksaan medis jatuh ke lantai.

Salah satu foto USG meluncur dan berhenti tepat di depan sepatu kulit Adrian.

Aku hendak membungkuk untuk mengambilnya, tetapi ia lebih cepat.

Ia memungut kertas itu.

Matanya membaca beberapa baris tulisan dalam bahasa Inggris.

Lalu seluruh tubuhnya membeku.

Bianca juga melihatnya.

Di hasil pemeriksaan itu tertulis dengan jelas:

**”Twin Pregnancy – 15 Weeks.”**

Kehamilan kembar.

Lima belas minggu.

Adrian mengangkat kepala dan menatapku.

Matanya perlahan memerah.

— Mira…

Suaranya serak.

— Kamu mengandung anak kembar?

Aku mengulurkan tangan untuk mengambil kembali hasil pemeriksaan itu, tetapi ia memegangnya erat.

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuatku tersenyum tipis.

**Mama.**

Adrian menatapku, lalu menatap hasil USG di tangannya.

Beberapa detik kemudian, ia menjawab panggilan itu.

Suara mantan ibu mertuaku terdengar nyaring dari seberang telepon. Bahkan dari tempatku berdiri, aku bisa mendengarnya dengan jelas.

— Adrian, kamu di mana? Bianca sudah selesai diperiksa? Dokter bilang dia hamil atau tidak?

Wajah Bianca langsung pucat.

Sementara Adrian hanya menatapku, seolah seseorang baru saja menamparnya keras-keras di tengah lorong rumah sakit.

Aku melangkah maju, merebut lembar hasil USG itu dari tangan Adrian yang mendadak lemas, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat.

Adrian masih menempelkan ponsel di telinganya. Suara ibunya kembali melengking dari seberang, tidak sabar menanti jawaban.

Adrian? Kenapa diam saja? Mama sudah tidak sabar. Hasil tes kesuburan klinik kemarin menyatakan spermamu sangat sehat, jadi tidak mungkin kalian belum punya anak kalau bukan Bianca yang bermasalah. Cepat katakan, Bianca hamil, kan? Mama ingin cucu laki-laki untuk meneruskan warisan keluarga Reyes!

Setiap kata dari mantan ibu mertuaku terpancar jelas di lorong yang sunyi itu. Wajah Bianca kini tidak hanya pucat, tetapi juga dilingkupi ketakutan yang luar biasa. Ia tahu benar bahwa hasil pemeriksaannya hari ini menyatakan rahimnya mengalami penyumbatan kronis yang membuat peluang kehamilannya sangat tipis.

Adrian menatapku dengan mata memerah, bibirnya bergetar, seolah baru saja menyadari harta paling berharga yang telah ia buang ke tempat sampah. Tiga tahun mereka menuduhku mandul, padahal Tuhan hanya sedang menjagaku dari keluarga toxic mereka sampai waktu pembatalan pernikahan itu tiba.

Aku menatap Adrian lurus-lurus, menyentuh perutku yang berisi dua kehidupan mungil, lalu mengucapkan satu kalimat dengan nada paling tenang namun mematikan:

“Spermamu memang sehat, Adrian, tapi sampaikan pada Mamamu… dua cucu laki-laki kembar pewaris darah Reyes ini lahir dari rahim wanita ‘tak berguna’ yang sudah kalian usir.”

Setelah mengucapkan itu, aku berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Di belakangku, samar-samar aku mendengar Adrian berteriak histeris memanggil namaku, mengabaikan lengkingan ibunya di telepon yang terus bertanya apa yang terjadi, sementara Bianca menangis keras karena rahasia medisnya kini terancam terbongkar.

Sejak hari itu, kehidupan keluarga Reyes jatuh ke dalam kekacauan yang tak berujung.

Adrian yang dipenuhi penyesalan mendalam mulai bertengkar hebat dengan ibunya. Ia menyalahkan wanita tua itu karena telah menghasutnya untuk menceraikanku. Mantan ibu mertuaku, yang syok mengetahui bahwa akulah yang mengandung cucu kembarnya sedangkan menantu pilihannya—Bianca—ternyata divonis sulit memiliki keturunan, langsung jatuh sakit karena tekanan darah tinggi.

Rumah tangga baru Adrian dan Bianca yang baru seumur jagung hancur berantakan dipenuhi saling tuduh dan caci maki. Adrian berkali-kali datang ke tempat kosku, menangis di depan pintu, memohon agar aku kembali demi anak-anak kami. Ia bahkan membawa akta rumah Pasig atas namaku sebagai jaminan.

Namun, pintu hatiku telah tertutup rapat.

Aku tidak pernah membukakan pintu untuknya. Melalui pengacaraku, aku mengirimkan surat pernyataan tegas bahwa kedua anakku tidak akan pernah memakai nama belakang Reyes, dan mereka tidak akan pernah memiliki hubungan apa pun dengan keluarga yang pernah membuang ibunya.

Kini, aku duduk di dekat jendela toko kelontong, menikmati angin sore sambil meminum susu kehamilanku. Biarlah keluarga Reyes hancur oleh keserakahan dan keangkuhan mereka sendiri. Bagiku dan kedua bayiku, masa depan yang baru dan jauh lebih indah baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.