Posted in

Saya pulang lebih cepat dari rencana sambil membawa kue mangga favorit putri saya. Namun saat membuka kamarnya, saya melihat seorang anak yang tidak saya kenal mengenakan pakaian putri saya dan berbaring di tempat tidurnya. Dengan dingin ia berkata

Saya pulang lebih cepat dari rencana sambil membawa kue mangga favorit putri saya. Namun saat membuka kamarnya, saya melihat seorang anak yang tidak saya kenal mengenakan pakaian putri saya dan berbaring di tempat tidurnya. Dengan dingin ia berkata:

**“Kak Anika tidak boleh tinggal di sini lagi. Kata Daddy Rafael, kamar ini sekarang milikku.”**

## Bagian 1

Saya pulang pada suatu sore yang hujan ke sebuah kawasan perumahan di pinggiran Manila.

Roda koper saya masih basah. Di tangan saya ada sekotak kue mangga yang sangat disukai Anika. Saya memesannya dari toko langganan kami—krimnya lembut, dihiasi mangga matang di atasnya, dan selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Selama sepuluh bulan saya berada di Cebu untuk menyelesaikan pelatihan manajemen di rumah sakit yang dibiayai perusahaan.

Sebelum berangkat, sebenarnya saya ingin membawa Anika. Usianya baru tujuh tahun dan ia sangat dekat dengan saya. Namun Rafael, suami saya, menggendongnya dan berkata dengan penuh keyakinan:

— Belajarlah dengan tenang. Aku ayahnya. Aku tidak akan membiarkan putri kita kekurangan apa pun.

Saat itu, saya mempercayainya.

Saya percaya karena rumah di kawasan perumahan ini kami bangun bersama sebagai sebuah keluarga. Saya percaya karena dulu Rafael selalu begadang saat Anika demam. Saya percaya karena ia pernah berkata bahwa seburuk apa pun pertengkaran kami, putri kami adalah batas yang tidak akan pernah ia lewati.

Namun hari itu, begitu saya masuk ke rumah, yang menyambut hanyalah keheningan yang dingin dan menakutkan.

Tidak ada suara sandal kecil berlari di lantai.

Tidak ada suara Anika yang berteriak:

— Mommy, Mommy sudah pulang!

Rafael juga tidak ada di ruang tamu.

Yang ada hanyalah aroma parfum asing yang tidak saya kenal, manis namun menyengat, seperti bunga melati yang terlalu lama terkurung di dalam kamar tertutup.

Saya meletakkan koper lalu memanggil:

— Anika?

Tidak ada jawaban.

Saya berpikir mungkin ia sedang tidur. Sejak saya pergi, Rafael sering mengatakan bahwa Anika lelah sepulang sekolah, sudah tidur, atau tidak bisa melakukan panggilan video karena ada kelas tambahan atau mereka sedang keluar.

Berkali-kali saya menyalahkan diri sendiri karena terlalu sibuk. Karena jadwal kami tidak pernah cocok. Karena setiap kali saya menelepon, selalu ada alasan mengapa saya tidak bisa berbicara lama dengan putri saya.

Sambil membawa kotak kue, saya perlahan naik ke lantai dua.

Pintu kamar Anika sedikit terbuka.

Saya mendorongnya, lalu langsung terpaku.

Kamar itu sudah berubah.

Tirai baru berwarna merah muda. Lampu tidur berbentuk bintang. Stiker putri kerajaan dan huruf-huruf berkilau menempel di dinding. Di samping meja belajar ada tas sekolah baru dan beberapa boneka mahal yang tidak pernah saya belikan untuk Anika.

Sekilas, siapa pun mungkin akan mengira Rafael merawat putri kami dengan sangat baik.

Namun semakin lama saya memandang, dada saya semakin terasa sesak.

Foto keluarga sudah tidak ada di atas meja.

Selimut bordir bertuliskan nama “Anika” masih ada, tetapi di atasnya terdapat boneka yang bukan miliknya. Lemari pakaian sedikit terbuka dan di dalamnya tergantung pakaian yang ukurannya tidak cocok untuk putri saya.

Perlahan saya mendekati tempat tidur.

Di bawah selimut merah muda, ada seorang anak yang sedang tidur.

Untuk sesaat hati saya melunak.

Saya pikir itu Anika.

Saya pikir jika saya membungkuk, saya akan melihat wajah bulat yang selama sepuluh bulan ini sangat saya rindukan.

Namun ketika saya sedikit menarik selimut itu, seluruh tubuh saya membeku.

Anak yang berbaring di sana bukan putri saya.

Usianya sekitar enam atau tujuh tahun. Rambutnya diikat rapi dengan pita baru. Ia mengenakan piyama putih milik Anika, piyama yang saya belikan sebelum berangkat ke Cebu.

Pikiran saya mendadak kosong.

Saya menarik selimut itu sepenuhnya.

Anak itu terbangun. Ia memandang saya dengan kesal tanpa sedikit pun rasa takut di wajahnya. Bahkan tampak seolah saya yang mengganggu kamarnya.

Saya berusaha menenangkan suara saya.

— Siapa kamu? Kenapa kamu tidur di kamar Anika? Di mana Anika?

Anak itu mengucek matanya lalu mengangkat dagu.

— Kak Anika sudah tidak boleh tinggal di sini lagi.

Jantung saya berdegup kencang.

— Apa yang kamu katakan?

Ia duduk sambil memeluk bonekanya dan menjawab dengan suara nyaring:

— Daddy Rafael bilang Kak Anika egois, suka menyakiti orang, dan tidak pantas tinggal di kamar yang bagus. Sekarang kamar ini milikku. Namaku Mika.

Jari-jari saya terasa dingin.

— Daddy Rafael?

Ia menatap saya dari atas sampai bawah.

— Memangnya kamu siapa? Kenapa masuk ke rumah ayahku? Keluar sekarang juga, atau aku akan menyuruh Daddy mengusirmu dari kompleks ini.

Saya memandang pakaian yang dikenakannya. Saya memandang tempat tidur putri saya. Saya memandang dinding yang dulu penuh gambar buatan Anika, namun kini bersih seolah semua jejak keberadaannya telah dihapus.

Perasaan takut yang luar biasa memenuhi dada saya.

Saya mendekat dan memegang tangannya.

— Di mana Anika?

Ia melepaskan diri dengan wajah memerah.

— Jangan sentuh aku! Kamu jahat seperti dia!

Saya menggenggam lengannya lebih erat. Suara saya mulai bergetar karena marah.

— Aku bertanya, di mana putriku?

Ia hendak berteriak, tetapi tiba-tiba melihat ke belakang saya. Dalam sekejap, sikap angkuhnya lenyap. Bibirnya bergetar dan air mata mengalir begitu cepat seolah sudah lama ia latih.

— Daddy… aku takut…

Saya bahkan belum sempat menoleh ketika sebuah tangan menarik saya dari belakang.

Saya kehilangan keseimbangan dan bahu saya menghantam sisi lemari.

Kotak kue mangga jatuh ke lantai. Krimnya hancur, potongan mangga kuning berserakan, meninggalkan noda kotor di atas ubin.

Rafael segera menghampiri dan memeluk anak itu.

— Mika, jangan takut. Daddy ada di sini.

Seorang wanita masuk setelahnya.

Ia mengenakan gaun warna krem, berambut sebahu, dan berwajah pucat seolah selalu sakit-sakitan. Saat melihat saya, ia menunduk dan berkata dengan suara pelan:

— Kak Mara, saya tahu Kakak tidak menyukai saya dan anak saya. Tapi Mika masih kecil. Bukankah yang Kakak lakukan tadi terlalu berlebihan?

Saya menatapnya.

Saya belum pernah melihatnya seumur hidup.

Namun ia memanggil nama saya seolah sudah lama tinggal di rumah saya.

Saya menoleh kepada Rafael.

— Siapa dia?

Rafael menghindari tatapan saya.

Wanita itu buru-buru menjawab:

— Nama saya Clara. Saya hanya membawa Mika ke sini untuk bermain beberapa hari. Rafael kasihan pada anak itu, jadi…

— Aku tidak bertanya kepadamu.

Saya memotong ucapannya dan tetap menatap Rafael.

— Di mana Anika?

Rafael memeluk Mika lebih erat. Kekesalan terlihat jelas di wajahnya.

— Baru saja pulang sudah membuat keributan. Anika berada di tempat yang memang seharusnya untuknya.

Saya mendekat dan mencengkeram kerah bajunya.

— Aku bertanya, di mana putriku?

Rafael menelan ludah. Untuk sesaat, saya melihat ketakutan di matanya.

— Aku mengirimnya ke pusat disiplin.

Seolah ada ledakan di telinga saya.

— Pusat disiplin apa?

— Batang Matatag.

Rasanya seperti disiram air es.

Batang Matatag adalah pusat disiplin swasta di provinsi tetangga. Mereka menerima anak-anak yang dianggap “bermasalah”. Sebulan sebelumnya, video mereka viral di media sosial karena memperlihatkan anak-anak dipaksa berlutut di bawah terik matahari, dikurung di ruangan gelap, dan dimarahi hingga pingsan.

Saya pernah menonton berita itu di asrama saya di Cebu.

Saat itu saya berpikir tidak ada ibu yang waras yang akan mengirim anaknya ke tempat seperti itu.

Namun Rafael mengirim Anika saya ke sana.

Suara saya bergetar.

— Kamu mengirim anak berusia tujuh tahun ke tempat seperti itu?

Rafael mengerutkan kening.

— Dia harus belajar. Dia mendorong Mika dari tangga. Dia juga membentak Clara di depan para tetangga. Seluruh lingkungan sudah tahu betapa nakalnya dia.

Clara langsung menangis.

— Kak Mara, ini salah saya. Mika hanya ingin bermain dengan Anika. Tapi Anika bilang Mika mencuri ayahnya, lalu mendorong anak saya. Saya tidak ingin Rafael kesulitan.

Mika menyembunyikan wajahnya di dada Rafael sambil menangis.

— Daddy, tanganku masih sakit. Aku takut kalau Kak Anika pulang, dia akan menyakitiku lagi.

Rafael menatap anak itu dengan penuh belas kasih.

Tatapan itu seharusnya diberikan kepada Anika.

Saya melepaskan kerah bajunya dan mundur selangkah.

Lalu saya mengambil kunci mobil yang terjatuh di lantai.

Rafael memanggil:

— Mau ke mana?

Saya menoleh kepadanya.

Saat itu, saya tidak lagi melihat pria yang pernah berjanji melindungi putri kami. Yang saya lihat hanyalah seorang asing berdiri di rumah saya, memeluk anak perempuan lain sementara putrinya sendiri ia buang ke neraka.

Saya berkata perlahan, kata demi kata:

— Berdoalah semoga Anika masih baik-baik saja.

Rafael terdiam.

Saya berjalan keluar.

Di belakang saya, Clara masih menangis, sementara Mika bertanya dengan suara kecil:

— Daddy, apakah dia akan membawa pulang Kak Anika?

Saya tidak mendengar jawaban Rafael.

Karena saat itu ponsel saya bergetar.

Sebuah nomor tak dikenal mengirim video berdurasi dua belas detik.

Saya membukanya.

Di dalam video, Anika mengenakan seragam abu-abu. Ia berlutut di atas semen yang basah. Di depannya berdiri seorang pria memegang penggaris kayu.

Putri saya menangis sambil berulang kali berkata:

— Aku tidak punya Mommy. Aku salah. Aku tidak akan memanggil Mommy lagi.

Kemudian pria itu mengangkat penggarisnya.

Layar menjadi hitam bersamaan dengan jeritan putri saya.

Bagian 2 (Selesai)

Dunia di sekitar saya mendadak sunyi, menyisakan deru darah yang berpacu kencang di pelipis. Jeritan Anika di akhir video itu seperti pisau yang menguliti kesadaran saya. Detik itu juga, ketakutan saya menguap, berganti menjadi kemarahan yang dingin dan mutlak.

Saya berbalik. Langkah kaki saya tidak lagi gemetar.

Rafael, Clara, dan Mika masih berdiri di ambang pintu kamar saat saya kembali mencengkeram lengan Rafael. Saya menyodorkan layar ponsel tepat di depan wajahnya.

“Lihat ini,” desis saya, suara saya begitu rendah hingga terdengar mengerikan. “Ini yang kamu sebut ‘belajar’? Ini tempat yang ‘seharusnya’ untuk putrimu?!”

Rafael tersentak melihat video itu. Kilat keterkejutan melintas di matanya—dia mungkin tahu tempat itu tegas, tetapi dia tidak menyangka akan sebrutal ini. Namun, egonya menolak tumbang.

“Mara, mereka hanya mendisiplinkannya! Anika terlalu keras kepala, dia perlu diajar agar menghormati Clara dan Mika—”

“Dia baru tujuh tahun, Rafael!” teriak saya, meledak akhirnya. “Dia kehilangan ibunya yang pergi bekerja, lalu kamu membawa perempuan asing dan anaknya ke rumah ini, mengambil kamarnya, mengambil pakaiannya, dan saat dia memberontak, kamu membuangnya ke neraka?!”

Clara melangkah mundur, wajah pucatnya semakin memutih. “Kak Mara, kami tidak tahu kalau tempatnya seperti itu… Rafael hanya ingin yang terbaik…”

“Diam kamu,” potong saya tanpa menoleh. Saya menatap Rafael lurus-lurus. “Rumah ini atas nama saya dan dibangun dengan uang warisan keluarga saya. Tanah ini milik saya. Dalam waktu 24 jam, angkat kaki dari sini. Bawa selingkuhanmu dan anak sialan ini keluar dari rumah saya.”

“Mara, kamu tidak bisa mengusirku! Aku suamimu!” Rafael balas membentak, mencoba membusungkan dada.

“Kita lihat saja nanti,” kata saya dingin. Saya memutar tubuh dan berlari turun ke lantai bawah, mengabaikan teriakan Rafael yang memanggil nama saya.

Hujan badai mengguyur Manila saat saya memacu mobil membelah jalanan menuju provinsi tetangga. Jarak ke Batang Matatag seharusnya memakan waktu tiga jam, tetapi saya menginjak pedal gas sedalam mungkin. Pikiran saya hanya tertuju pada satu hal: Anika, bertahanlah. Mommy datang.

Sambil menyetir, saya menghubungi pengacara keluarga saya dan mengirimkan video penyiksaan tersebut, bersama dengan instruksi tegas untuk memproses gugatan cerai, hak asuh penuh, dan perintah pengusiran Rafael dari rumah. Saya juga mengirimkan video itu ke seorang teman jurnalis di stasiun televisi nasional. Jika hukum berjalan lambat, biar kekuatan publik yang menghancurkan tempat itu.

Pukul delapan malam, mobil saya berhenti mendadak di depan sebuah gerbang besi tinggi yang dikelilingi kawat berduri. Papan nama bertuliskan “Pusat Disiplin Batang Matatag” tampak suram di bawah guyuran hujan.

Saya keluar dari mobil, membiarkan tubuh saya basah kuyup, dan menggedor gerbang besi itu dengan brutal.

Seorang penjaga pria paruh baya membukanya dengan wajah gusar. “Hei! Siapa kamu? Ini jam kunjungan sudah lewat!”

“Saya ibu dari Anika Santos. Buka gerbangnya atau saya tabrak pagar ini dengan mobil saya!” seru saya, mata saya menyala penuh ancaman.

Penjaga itu mundur selangkah, terkejut oleh histeria saya, namun segera memasang wajah keras. “Anak-anak sedang istirahat. Kembali besok pagi.”

Saya tidak membuang waktu. Saya mendorong tubuh pria itu hingga terhuyung, lalu menerobos masuk ke dalam kompleks bangunan tua yang mirip penjara itu. Penjaga itu berteriak memanggil bantuan. Dua orang pria bertubuh tegap berpakaian seragam abu-abu muncul dari dalam koridor, mencoba menghadang saya.

“Di mana anak saya?!” teriak saya, meronta saat salah satu dari mereka mencengkeram lengan saya.

“Nyonya, harap tenang, atau kami akan memanggil polisi!” bentak seorang pria berkacamata yang tampaknya adalah kepala pengawas.

“Panggil! Panggil polisi sekarang juga!” Saya melempar ponsel saya yang masih menampilkan video penyiksaan Anika ke dada pria itu. “Panggil polisi agar mereka tahu kalian menyiksa anak-anak di bawah umur! Teman saya di media sedang menyiarkan video ini secara live sekarang juga!”

Mendengar kata ‘media’ dan melihat bukti di layar ponsel, wajah kepala pengawas itu langsung berubah panik. Ia memandang ke arah dua penjaga dan memberi isyarat pelan. “Bawa dia ke ruang isolasi bawah tanah. Cepat.”

Mereka membawa saya ke sebuah ruangan sempit di bagian belakang kompleks. Pintu besi dibuka, memancarkan bau lembap dan apek.

Di sudut ruangan, di atas sebuah tikar tipis tanpa bantal, seorang anak kecil sedang meringkuk sambil memeluk lututnya. Tubuhnya yang kurus gemetar hebat. Pakaian abu-abunya kotor dan basah oleh keringat dingin.

“Anika…” suara saya tercekat di tenggorokan.

Anak kecil itu tersentak. Mendengar suara yang sangat ia kenal, ia perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembap dan penuh ketakutan menatap saya dengan ragu, seolah mengira ini hanyalah mimpi buruk lainnya.

“Mommy…?” bisiknya, suaranya parau dan nyaris hilang.

“Iya sayang, ini Mommy…”

Saya berlari dan langsung berlutut di lantai yang dingin, menarik tubuh kecilnya ke dalam pelukan saya. Anika membeku sesaat, sebelum akhirnya tangisnya pecah dengan histeris. Ia mencengkeram kemeja saya yang basah begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya, saya akan lenyap lagi.

“Mommy, maaf… Anika nakal… Anika tidak akan panggil Mommy lagi, tapi tolong jangan tinggalkan Anika di sini…” isaknya di sela napas yang memburu. “Di sini gelap, Mommy… sakit…”

Hati saya hancur berkeping-keping mendengarnya. Saya menciumi puncak kepalanya, air mata saya bercampur dengan air hujan di wajah saya. “Tidak, sayang. Anika tidak salah. Mommy yang salah karena pergi terlalu lama. Mulai sekarang, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Mommy bersumpah.”

Saat saya mengangkat tubuhnya, saya melihat memar kebiruan di lengan kecilnya. Amarah saya kembali membubung. Saya membalikkan badan, menggendong Anika dengan satu tangan, dan menatap kepala pengawas yang berdiri di pintu dengan wajah pucat.

“Jika sampai ada satu saja luka permanen atau trauma psikologis yang merusak putri saya,” kata saya dengan nada yang begitu dingin hingga membuat pria itu bergidik, “saya akan memastikan tempat ini rata dengan tanah, dan kalian semua membusuk di penjara.”

Kami berjalan keluar dari tempat terkutuk itu. Malam itu, sirine polisi dan lampu kilat dari kamera wartawan mulai berdatangan di gerbang depan, menanggapi laporan yang telah menyebar luas.

Satu bulan kemudian.

Matahari pagi Manila bersinar cerah, menghangatkan beranda rumah kami.

Di atas meja, sebuah kue mangga yang utuh dan segar baru saja disajikan. Anika duduk di kursinya, mengenakan gaun kuning cerah favoritnya. Pipinya sudah kembali berisi, dan senyumnya yang sempat hilang kini telah kembali, meskipun sesekali ia masih enggan jauh dari sisi saya.

Rumah ini sudah kembali menjadi milik kami sepenuhnya. Foto-foto keluarga lama telah diturunkan, digantikan dengan foto-foto baru hanya kami berdua. Kamar tidur Anika telah dirombak total—semua barang milik Mika dan dekorasi yang dipaksakan oleh Clara telah dibuang ke tempat sampah.

Rafael sempat mencoba memohon, datang ke tempat kerja saya sambil menangis dan meminta maaf, menggunakan alasan “khilaf” dan demi masa depan keluarga. Namun, bagi saya, pria itu sudah mati sejak ia membiarkan orang lain merebut kebahagiaan putrinya. Surat cerai telah ditandatangani, dan pengadilan memberikan hak asuh mutlak kepada saya, lengkap dengan tuntutan pidana kelalaian anak yang kini tengah menjerat Rafael. Clara dan anaknya pun pergi entah ke mana setelah Rafael kehilangan segalanya.

Anika mengambil sepotong kue mangga, lalu menyuapkannya ke mulut saya sambil tertawa kecil.

“Enak, Mommy?” tanyanya dengan mata berbinar.

Saya mengunyah kue itu, merasakan manisnya buah mangga yang matang, dan memeluk bahu kecilnya dengan erat.

“Sangat enak, sayang,” jawab saya, mencium pipinya. “Sangat manis. Dan mulai sekarang, rumah ini hanya akan punya cerita yang manis untuk kita berdua.”

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.